Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Ingin Wisata Bertiga


__ADS_3

"Ha ... tapi Tuan?"


"Tidak ada tapi-tapian Neng Geulis, kamu boleh pulang setelah sehat, nanti Surya yang akan menghubungi Ibu Ani."


"Aku sudah sehat, Tu ...!"


"Neng Geulis stop, percayalah padaku, besok pagi kita pulang, ok!"


Dengan terpaksa Neng mengangguk setuju, selalu saja pikirannya tidak sejalan dengan hatinya. Setelah melihat ke samping ada putranya yang masih terlelap tidur hatinya merasa sedikit lega, setidaknya ada putranya yang bisa membuat jarak di antara keduanya. Akhirnya Neng miring menghadap putranya, membelakangi Alfarizi dan memejamjamkan matanya.


Alfarizi duduk di sofa panjang sambil tersenyum memandangi sosok istri dan putranya yang selalu membuatnya rindu dan bahagia. Kini buah kesabarannya hampir terwujud, secara perlahan kekerasan hati mami dari putranya itu sudah mulai terkikis. Butuh kesabaran ekstra untuk menyatakan cinta padanya agar tidak terjadi peristiwa seperti hari ini.


Menjelang senja Ibu Ani datang membawa baju ganti untuk Neng dan Alfian. Ingin mengetahui kesehatan putri angkatnya yang sedang mengalami peristiwa seperti kejadian saat akan melahirkan dan saat di dekati secara personal oleh Reza. Cuma bedanya peristiwa hari ini Neng tidak sampai pingsan seperti dulu lagi.


"Neng Mitha, bagaimana keadaanmu sekarang, di mana Alfian?"


"Aku baik-baik saja Bu, cuma pusing sedikit, Al mencari makan bersama Papinya."


"Istirahatlah, ingat buka hatimu Neng, sudah saatnya kamu bahagia, jangan membuat putramu khawatir."


"Mengapa semua orang menyuruhku buka hati, tidak semudah buka pintu, Bu!"


"Ha ha ha, bisa aja sih Neng ngebodornya, sekarang tanya saja pada hatimu, mulut masih bisa bilang tidak, tetapi hati hanya Neng Mitha yang tahu, faham kan maksud Ibu?"


Neng mengangguk tanpa menjawab, selalu saja seorang ibu nasehatnya tepat mengenai hati. Rasa yang selalu di sembunyikan rapat-rapat tetap saja bisa di baca oleh Ibu Ani. Hanya saja rasa ego sangat susah di tembus dan pecahkan saat mengingat bertahun-tahun sakitnya di pendam sendiri.


"Sudah aaah, Ibu jangan bahas itu dulu, pusing nichh pala!"


"Yeeeh sudah dapat pelukan, di gendong juga mengapa masih pusing?"


Alfarizi dan Alfian datang membawa menu makan malam, camilan, air mineral, buah dan cake. Mereka datang dengan ceria, semakin hari Alfian semakin dekat dengan papinya. Neng dan Ibu Ani langsung terdiam saat mereka membuka pintu kamar.


"Ibu ...!" panggil Alfarizi


"Nenek, apakah Nenek juga mau menginap di kantor Papi?"

__ADS_1


Ibu Ani terkekeh dan menggelengkan kepalanya sambil melirik Neng. Hanya berniat mengantar baju ganti yang di minta Alfarizi saat satu jam yang lalu ketika menghubunginya. Alfarizi menceritakan kejadian tadi siang serta meminta izin agar Neng dan Alfian menginap sampai keadaanya pulih.


"Nenek masih ada banyak pekerjaan, ganteng; Al jangan lupa jaga Mami, ingat sekarang Al sudah tambah besar!"


"Iya Nek, sekarang ada Papi juga yang jaga Mami, Al sangat bahagia."


Malam ini selesai makan malam, Al dibantu Papi mengerjakan PR, belajar dan melakukan hafalan dari guru agama berdua di sofa. Neng hanya diam, mendengar dan memperhatikan keduanya tanpa ikut membantu mereka. Dia hanya memberikan kesempatan kepada putranya bisa merasakan kebahagiaan seperti teman sekolahnya yang bercerita belajar dibantu papinya.


Selesai belajar Alfian masih belum mengantuk masih ingin berbincang bertiga dengan kedua orang tuanya. Al berpindah duduk di samping Neng yang sedang mencorat-coret membuat sketsa baju menggunakan ponselnya, "Apakah Mami sedang membuat gambar baju baru?"


"Iya Nak, tapi sudah selesai kok, Al sudah ngantuk?"


"Belum begitu ngantuk sih, Mi; Al masih mau ngobrol bertiga sama Papi dan Mami."


"Mau ngobrol aoa sih Nak?" tanya Neng lagi.


"Papi, sini dulu dong duduk dekat Mami dan Al!"


Alfarizi tersenyum, mengangguk dan berjalan mendekati Neng dan duduk di sampingnya. Saat seperti inilah yang di tunggu dari tadi, sekarang baru bisa terlaksana. Dia hanya diam-diam mencium parfum vanila yang lembut kesukaannya.


"Apakah Al boleh meminta satu permintaan?"


"Tentu Al, Papi akan berusaha semampunya mengabulkan permintaanmu, Al pingin apa?"


"Dua minggu lagi Al ulang tahun, Al tidak ingin di belikan hadiah apapun, Al hanya ingin berwisata bertiga dengan Mami dan Papi, di Ragunan atau hanya taman kota juga boleh."


Alfarizi langsung merangkul putranya sambil terisak, air matanya tidak bisa di cegak mengalir deras bak air bah yang jatuh dari balik gunung. Permintaan yang sederhana dari putranya tetapi menusuk di relung hatinya yang paling dalam. Kerinduan putranya dengan kehadiran papinya terangat sangat dalam Alfarizi rasakan di dengar dari permintaanya yang sederhana.


Putra dari seorang Alfarizi Zulkarnain hanya meminta berwisata di taman kota. Itu sangat membuatnya seperti terkena hantaman benda berton-ton beratnya, Rasa sesak di dada Alfarizi seperti beribu-ribu kali lipat saat merasakan penderitaan Neng. Seperti luka yang tak berdarah tetapi sangat dalam rasa sakitnya.


Neng juga ikut meneteskan air matanya tanpa henti. Teringat setiap tahun saat Alfian ulang tahun selalu mengajak putranya berwisata di tempat wisata yang berada di daerah kampung halaman dari putri kandung Ibu Ani. Selalu merayakan ulang tahun berdua saja membuat putranya sangat ingin merasakan seperti apa bahagianya berwisata lengkap seperti keluarga utuh.


"Tentu Sayang tentu putraku, Al ingin berwisata kemanapun akan Papi kabulkan, bukankah begitu, Mami?" tanya Alfarizi sambil mengusap air matanya agar putranya tidak khawatir.


"Janji ya Papi, Mami setuju kan?"

__ADS_1


Neng mengangguk sambil memejamkan matanya, tidak sanggup menatap wajah putranya yang penuh harap. Alfarizi mengusap lembut pundak Neng untuk memberikan dukungan agar tidak syok atau pusing lagi. Untuk mencairkan suasana Alfarizi langsung bertanya pada putranya, "Selama ini Al sudah berwisata di mana saja?"


"Al saat ulang tahun selalu berwisata berdua dengan Mami tetapi di kampung Bude, di daerah sekitar sana, Kebun binatang Jurug, Pasar Kkewer Surakara. Pernah juga di Waduk Kedung Ombo, di Gerojokan Sewu Wonogiri. yang agak jauh dari kampung Bude itu di Malioboro dan Candi Borobudur."


"Al pernah ke Bali?" tanya Alfarizi.


"Belum Pi. kalau bali terlalu jauh dari kambung Bude."


"Kampungnya Budenya Al di mana sih?"


"Ngawi Papi, kok bisa Papi tidak tahu kampungnya Bude, Mami tidak pernah cerita ke Papi ya?"


"Belum sempat Nak, lain kali saja ya, ayo sudah malam Al bobok dulu!"


"Tapi betul ya Mami, janji lo nanti kita bertiga wisata bertiga?"


"Iy Nak, sekarang boboklah!"


"Al pingin berwisata ke mana?" tanya Alfarizi lagi.


"Belum di pikirkan Papi, nanti saja Al ngantuk." Alfian membaringkan tubuhnya di samping Neng.


Alfarizi mengangguk dan turun dari tempat tidur. Berniat ingin rebahan di sofa panjang yang berada di pojok kamar. Alfian langsung terduduk kembali memanggil papinya dengan suara yang keras, "Papi, mau ke mana?"


"Eee Papi mau istirahat juga."


"Papi harus bobok sini sebelah Al, jangan jauh-jauh!"


promosi ya




jangan lupa mampir ya

__ADS_1


__ADS_2