
Alfarizi langsung berteriak setelah melihat penjual ketoprak yang tidak asing baginya, "Bang Doni ...!"
"Lo Tuan, Neng Mitha jam segini mengapa keluar?"
"Kami dari rumah sakit Bang, Isya melahirkan. Apakah Abang jualan ketoprak kalau malam?" tanya Neng.
"Tidak Neng, saya hanya membantu teman saja, itu dia sedang cuci piring," jawab Doni sambil menunjuk seorang laki-laki sedang jongkok mencuci piring.
Laki-laki itu langsung berlari mendekati Neng dan Alfarizi dengan tergopoh-gopoh dan tersenyum, "Apakah Anda dewa penolong dan idolanya Bang Doni, Tuan Alfarizi dan Nyonya Mitha?"
"Idola ... apa maksudnya Bang Doni?" tanya Alfarizi penasaran.
"Duduk aja dulu, nanti saya ceritakan. Pak Man tolong buatkan ketoprak spesial dua piring ya!" Doni berkata sambil cengar-cengir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ok siap Bang," jawabnya.
Setelah Alfarizi dan Neng duduk berdampingan, Doni duduk di hadapan mereka. Tidak lama kemudian dua piring ketoprak spesial sudah tersaji di meja. di tambah dua gelas teh hangat langsung siap.
"Silahkan Tuan, Nyonya. Selamat menikmati."
"Terima kasih." Neng langsng menyantap ketoprak yang sangat menggugah selera.
"Pak Man ini teman saya saat jadi pemulung, sekarang sudah lumayan bisa jualan ketoprak," cerita Doni.
"Bang Doni yang memberikan saya modal jualan Tuan, katanya meniru Nyonya Mitha yang membantu para ibu-ibu tulang punggung keluarga yang bekerja di konfeksi AA. Tidak cuma saya yang di bantu modal dan rombong untuk berjualan masih banyak lagi teman pemulung yang mendapatkan bantuan dari dia." Pak Man dengan semangat bercerita tentang Doni.
"Ooo syukurlah aku senang mendengarnya," jawab Alfarizi sambil menikmati ketoptrak.
"Mengapa tidak bercerita Bang, aku kan juga bisa membantu?" tanya Neng.
"Mami, grop Bang Doni laki-laki semua, Papi saja yang membantu, Mami tidak usah terlibat!"
"Mulai lagi nich Papi," gerutu Neng sambil mengerucutkan bibirnya dan diikuti Doni dan Pak Man terkekeh.
Sebenarnya saya mempunyai tujuan mencari istri dan putri saya Tuan, semua teman yang berjualan di berbagai daerah sekalian mencari informasi tentang mereka."
__ADS_1
"Apakah Ibu tahu tentang ini, Bang?"
"Tidak Neng Mitha, saya tidak berani cerita sama Ibu, saya tidak mau menyakiti Ibu lagi takutnya kalau saya mencari Titin, Ibu akan sakit hati teringat dengan kelakuan dia."
Neng hanya mengangguk dan teringat wajah Titin istri Doni yang baru sekali di lihatnya. Wajahnya manis rambutnya panjang dan terlihat terawat tetapi sayangnya dia serakah dan kurang bersyukur, "Semoga Abang bisa menemukan mereka." Doa Neng dengan tulus.
"Aamiin, terima kasih do'anya."
Alfarizi sudah menghabiskan satu piring ketopraknya, sedangkan Neng baru menyantapnya setengah piring, "Papi mau nambah?"
"Tidak Honey, sudah kenyang. Papi mau tambah krupuk dan sambal kacangnya saja."
"Tentu Tuan, sebentar saya ambilkan." Doni mengambil satu piring kerupuk dan sambal kacang di mangkuk untuk Alfarizi.
Setelah selesai makan Alfarizi meletakkan uang merah lima lembar untuk Pak Man. Berjanji akan membantu mereka yang ingin membuka usaha. Karena Neng dan merekalah Alfarizi mengenal makanan selain restoran.
Setelah Neng hamil, Alfarizi sering hanting makanan seperti masyarakat pada umumnya. Padahal dulu dia tidak pernah melalukan itu, seringnya makan di restoran langganan atau di kantin perusahaannya. Hidupnya berubah hampir 360°, semakin bisa menikmati hidup dan bahagia sekarang ini.
Setelah istirahat siang nanti Umi Anna dan Abi Ali tiba di bandara, Neng hanya malas-malasan santai duduk di ruang keluarga malas bekeja sambil menunggu waktu. Alfarizi memilih bekerja dari rumah dan melakukan meeting lewat online. Neng hanya merebahkan badannya di pangkuan Alfaizi yang sibuk memeriksa dokumen di laptopnya.
"Papi awas salah klik lo kalau tangan kirinya suka nangkring di sisni!"
"Tidak dong honey, tangan Papi bisa bekerja dengan baik."
Neng akhirnya membiarkan tangan suaminya berselanjar ke mana saja. Dia lebih memilih melihat tayangan televisi yang sedang berlangsung. Sampai tanpa sengaja tangannya mengusap bibir Neng dengan lembut, membuat Neng usil menggigitnya dengan cepat.
"Aaaauw ... Mami mengapa di gigit sih sakit, Honey?"
"Tangan Papi menghalangi Mami nonton sih," jawab Neng sambil terkekeh.
Sampai Umi Anna dan ABi ALi tba di kediaman rumah mereka, Alfarizi masih konsentrasi mengerjakan tugasnya. Neng tertidur pulas di pangkuan Alfarizi. Membuat Umi Anna saat melihatnya langsung meletakkan telunjukknya di bibir agar tidak membangunkan menantunya yang sedang tidur pulas.
"Umi, belum di jemput kok sudah sampai rumah?" bisik Alfarizi setelah mencium punggung tangan ke dua orang tuanya bergantian.
"Iya kebetulan semua lancar jadi Umi dan Abi satu jam lebih cepat dari jadwal."
__ADS_1
"Umi dan Abi mau langsung ke rumah sakit atau istiraghat dulu?"
"Kami mandi aja dulu sambil menunggu istrimu bangun, nanti kita bareng aja ke rumah sakit."
"Iya Umi, aku selesaikan dulu pekerjaannya, sedikit lagi selesai nich."
Setelah makan siang bersama, Alfarizi dan Neng mengantar ke dua orang tuanya ke rumah sakit untuk bertemu cucu yang baru lahir. Kini Umi Anna dan Abi Ali sudah memiliki dua cucu laki-laki dan berharap cucu yang masih dalam kandungan Neng akan lahir cucu perempuan.
"Abi berdoa semoga adiknya Alfian perempuan, agar komplit cucu Abi," kata Abi Ali saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Aamiin Abi, kami juga berharap itu," jawab Alfarizi.
"Tiga hari lagi jadwal control ke dokter, kalau Umi mau ikut?" Gantian Neng memberikan usulan.
"Waaah Umi mau, tiga hari Umi menginap di rumah Isya dulu, nanti saat Nak Mitha mau kontrol ke dokter Umi ikut," jawab Umi Anna dengan antusias.
"Umi ini gimana sih, Abi belum bertemu Alfian mengapa menginap di sana?"
"Nanti setelah pulang sekolah pasti ketemu Abi, Al juga ingin bertemu dengan adik barunya, dari tadi pagi dia sudah antusias ingin memberikan kado untuk adiknnya," jawab Alfarizi.
Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit, Isya dan babynya perbolehkan pulang. Umi Anna menginap dua hari di rumah Isya membantu merawat cucunya. Malam ini pindah menginap di rumah Alfarizi karena besok ingin menemani Neng kontrol ke rumah sakit.
Hari ini kehamilan Neng berumur empat bulan, jadwalnya untuk periksa kandungan. Membuat janji dengan dokter Maria dan bertemu dengan Dotker Harry. Baru pukul delapan pagi Umi Anna sudah bersiap-siap mengantar menantunya periksa kandungan, padahal jadwal bertemu Dokter Maria pikul sepuluh pagi.
"Al, mengapa belum siap-siap katanya mau ke rumah sakit?" tanya Umi Anna.
"Umi ini baru jam delapan, aku saja baru selesai bertemu dengan bayiku, tanya dia laki-laki atau perempuan, sayangnya dia tidak menjawab jadi aku sering menengoknya," jawab Alfarizi sekenanya.
"Eee dasar gelo ...!"
BERSAMBUNG
*********
Jangan lupa mampir ke novel temannya, ini di NT juga lo.
__ADS_1