Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Berulah


__ADS_3

Neng hanya mengerucutkan bibirnya sambil mengambil jaket untuk persiapan keluar. Baru membuka pintu Alfariz melihat Alfian berdiri di depan pintu sambil memejamkan matanya, "Al, mengapa tidur sambil berdiri di sini?"


"Mami, perut Al bunyi terus lapar tetapi matanya ngantuk tidak bisa di buka," jawab Al denga suara malas.


Alfarizi tersenyum dan jongkok mensejajarkan tubuhnya pada putranya, "Begini nich caranya agar matanya bisa di buka!" Alfarizi mengelitiki perut Alfian sambil dipeluknya.


"Ha ha ha Papi geli ... iya Al sudah tidak ngantuk lagi." Suara Alfian tertawa renyah membuat Neng ikut tertawa.


"Al ganti baju dulu, Nak. Papi juga lapar katanya pingin makan cotto Makasar!"


"Iya Mami, ayo temani Al ke kamar!"


"Ini namanya ngidam berjamaah, satu keluarga namanya," celoteh Alfarizi.


Malam ini keluarga kecil itu hunting kuliner hampir di tengah malam. Dari cotto Makasar, es krim untuk Alfian sampai roti bakar dan camilan kecil sudah masuk ke dalam perut mereka. Kembali ke hotel dalam keadaan perut kenyang dan bahagia.


Pagi harinya Surya dan Desi berangkat berbulan madu dengan pesawat pribadi plus akomodasi lengkap hadiah dari Alfarizi dan Neng selama satu minggu. Tanpa adanya asisten membuat pekerjaaan sepasang suami istri itu semakin sibuk dan tidak banyak memiliki waktu luang. Neng sementara di bantu oleh Mpok Atun karena mengingat dia sedang hamil dan mudah lelah.


Seperti prediksi Doni kemarin, pasangan ibu dan anak yang kemarin hadir di pernikahan Surya datang ingin bertemu dengan Neng. Neng sedang mengadakan pertemuan dengan para wali murid teman Alfian yang akan membuat seragam. Bahkan wanita muda itu langsung masuk dan menemui Neng walaupun sudah di larang oleh ibunya.


Semua wali murid serempak menatap seorang wanita seksi dengan dandanan menor dan memakai rok pendek diatas lulut. Ada suara gaduh dari wali murid laki-laki terutama karena melihat penampilannya. Neng langsung teringat ucapan Alfian dan Alfarizi yang mengatakan ada orang yang ingin bertemu dengannya.


"Maaf, apakah Anda wali murid yang akan ikut rapat di sini?" tanya Neng.


"Tidak Bu, saya akan melamar pekerjaan," jawab wanita itu.


Neng hanya memandang sekilas wanita itu dan teringat dengan perkataan suaminya. Dia mengatakan wanita seperti itu adalah tipe wanita racun dunia. Ibu dari wanita itu datang tergopoh-gopoh mendekati Neng, "Maaf Bu, putri saya tidak sopan." katanya sambil membungkukkan badannya.


"Tidak apa-apa Bu, silahkan Ibu menemui asisten saya yang ada di kantor, kami sekarang ini sedang rapat!" perintah Neng dengan tegas.


"Tetapi Bu, saya sangat membutuhkan ...?" wanita muda itu tidak melanjutkan ucapannya karena sudah di tarik tangannya oleh ibunya keluar ruangan rapat.


"Ini ruang rapat bukan kantor Bu Mitha, cepat ayo keluar!" Ibu itu terus menarik keluar sampai mendekati mobil box yang ada di depan pintu utama konfeksi AA.

__ADS_1


Doni yang sedang mengangkat baju hasil produksi ke dalam mobil box hanya menggelengkan kepalanya melihat ibu dan putrinya berjalan sambil tarik-tarikan. Melihat pakaian wanita muda itu Doni semakin menggeleng dan tersenyum devil. Sampai mereka mendekati Doni, Ibu itu baru melepaskan tangan putrinya.


"Kamu itu bikin malu Ibu saja, masuk tanpa permisi!" teriak Ibu itu dengan emosi.


"Ibu iiih, aku hanya ingin bertemu dengan pemilik konfeksi ini," jawabnya dengan suara manja.


"Sudah kamu diam saja, Ibu mau bertanya kepada Abang itu!"


Ibu itu mendekati Doni dan bertanya, "Abang di mana saya bisa menemui asisten Bu Mitha?"


"Asisten Bu Mitha sedang berbulan madu, Ibu bisa temui Mpok Atun di kantornya,"


Belum sempat Ibu itu menjawab wanita muda itu langsung mendekati Doni, "Bang, yuk bulan madu denganku ke Bali!"


Doni kembali menggelengkan kepalanya mendengar ajakan itu. Dia tidak akan bisa tertipu untuk yang ke dua kalinya tentang seorang wanita. Tidak ingin lagi menikah dengan wanita seperti Titin istrinya yang sampai sekarang ini tidak tahu keberadaannya bersama putri kesayangnnya.


"Maaf ya, saya memiliki istri dan anak, Anda salah target Nona."


"Sombong banget sih," gerutu wanita itu.


"Ya Neng Mitha apakah ada yang bisa saya bantu?"


"Apakah Bang Doni melihat dua wanita yang tadi mau melamar pekerjaan?"


"Iya Neng Mitha, mereka sedang menghadap Mpok Atun."


"Bagaimana menurut Bang Doni tentang mereka?"


"Sebaiknya terima ibunya saja jangan putrinya, wanita racun dunia seperti itu akan berbahaya."


"Ha ha ha Abang bisa aja." Neng tertawa lepas sambil berlalu ingin masuk kantor pribadinya.


Ibu dan wanita muda keluar dari kantor Mpok Atun berpapasan dengan Neng yang akan masuk ke kantornya. Melihat wajah wanita itu yang di tekuk dan mendekati Neng. Doni langsung berlari dan berdiri diantara keduanya.

__ADS_1


"Bu, ini tidak adil karena pegawai yang di dalam itu sok kuasa menolak lamaran aku!" teriaknya sambil ingin menarik tangan Neng.


Doni langsung menepis tangan wanita itu perlahan. Tidak ingin terjadi sesuatu dengan adik angkatnya, "Jaga sikap Anda ya, keputusan pegawai yang Anda temui sudah tepat, coba lihat penampilan Anda seharusnya introspeksi diri, Anda mau melamar pekerjaan atau mau ke bar?"


"Memang kenapa dengan penampilan aku, cantik cetar membahana begini?"


"Sudah ya, tidak usah di perpanjang, Ibu sebaiknya ajak putri Ibu pulang. Dari dulu peraturan konfeksi ini sudah jelas hanya menerima pegawai yang sudah tidak di terima oleh perusahaan besar, kalau kamu masih muda masih bisa melamar pekerjaan di tempat lain," kata Neng dengan bijak.


"Tetapi Bu aku ...?" Wanita muda itu tidak sempat melanjutkan ucapannya karena dipotong oleh Doni, "Cukup Nona silahkan Anda pergi dari sini, Neng Mitha lebih baik Anda masuk saja, biar Abang yang mengatasi dia!"


"Terima kasih Bang, permisi semua."


Neng meninggalkan tempat itu sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Teringat Alfarizi yang mengatakan bahwa wanita yang baru saja di temuinya itu racun dunia ternya tidak salah. Duduk di kursi kebesarannya dan melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk.


Tidak sampai seperempat jam Neng duduk di kantornya pintu terbuka dengan keras. Neng langsung menengok kearah pintu melihat Alfarizi datang dengan raut wajah yang khawatir, "Papi, bikin kaget saja ada apa?"


"Honey tidak apa-apa, Mami tidak terluka, kan?"


"Mami baik-baik, mengapa Papi khawatir begitu ada apa sih sebenarnya?"


Alfarizi duduk jongkok mengusap perut Neng dengan lembut. Mencium perutnnya dengan mesra, "Tadi Papi telpon Bang Doni menanyakan wanita racun dunia itu, dia cerita tentang wanita racun dunia itu berulah katanya, jadi Papi takut Mami kenapa-napa."


"Mami baik-baik saja Papi, tidak usah khawatir."


"Papi mungkin akan lebih yakin dan percaya kalau sudah menengok dikbay-nya sekarang."


"Eeee dasar modus ...."


BERSAMBUNG


*******


Author promo milik teman ya, jangan lupa mampir. trims

__ADS_1



__ADS_2