
Alfarizi menghentikan langkahnya saat mendengar Neng memanggilnya. Membalikan badan dan tersenyum cengengesan, "Tega banget sih Papi tampan paripurna begini di tuduh maling," jawab Alfarizi berjalan mendekati istrinya yang sudah terduduk.
"Jalannya seperti orang yang mau maling ayam begitu kok."
Mata Alfarizi langsung menuju baju lingerie tipis yang di kenakan Neng. Teringat saat beranagkat tadi untuk bersiap-siap malam ini akan menghabiskan waktu berdua. Kembali Alfarizi tersenyum devil sambil mentowel hidungnya, "Waaah istri Papi seksi sekali, ayo tancap gas langsung bergoyang!"
"Enak aja, Mami tidak mau Papi bau belum mandi. Mengapa sampai jam segini tidak mengabari Mami, Mami jadi tidak bisa tidur takut terjadi apa-apa dengan Papi?"
"Maaf Mami my Honey, nanti Papi cerita. Tadi suasananya tegang, terpaksa harus melibatkan polisi."
"Terus gimana lagi?"
"Nanti Papi cerita. Papi mandi dulu ok!" sebelum berbalik badan Alfarizi mencium bibir Neng sekilas dan tersenyum lebar.
"Papi ... sana mandi dulu, jangan mesum saja pikirannya!"
Tidak sampai seperempat jam Alfarizi sudah keluar dari kamar mandi. Udara yang dingin membuat dia mandi hanya untuk menghilangkan keringat saja. Berjalan mendekati Neng dengan melilitkan handuk di pinggangnya saja.
Neng turun dari tempat tidur berniat mengambilkan baju tidur dari lemari yang ada di samping kamara mandi sebelum suaminya selesai, tetapi tiba-tiba dia sudah berada di sampingnya "Ini bajunya Pi, pakai dulu!"
Alfarizi tidak mengambil baju tidur yang di sodorkan olehnya, "Papi tidak mau pakai baju, palingan nanti di lempar juga entah kemana," kata Alfarizi langsung menggendong bridal Neng menuju ke tempat tidur.
"Aaaa ... Papi turunkan!"
"Sebentar lagi sampai, Honey."
Alfarizi langsung membaringkan Neng di tempat tidur. Ingin membuang handuk yang melingkar di pinggangnya, tetapi langsung di tahan oleh Neng, "Tunggu Papi, belum boleh minta bergoyang sebelum Papi cerita tentang mantan istri dan anak tiri Ayah!"
__ADS_1
Yang awalnya Alfarizi berada di atas Neng, kini dia berbaring di samping Neng sambil memeluk perutnya. Mengerucutkan bibirnya sambil cemberut, "Mami, nanti saja ceritanya kita bergoyang dulu yok!"
"Tidak mau, Mami maunya cerita dulu." Neng menutup badannya dengan selimut tebal.
"Ok Honey, begini saja. Papi mulai cerita tetapi tangan Papi boleh memulai pemanasan, bagaimana?"
"Baiklah, hanya tangan saja. Papi terus sambil cerita tidak boleh mencium apapun sebelum selesai bercerita."
"OK sesuai perintah Tuan Putri."
Alfarizi bercerita saat dia baru datang di depan rumah Neng. Tangannya mulai mengusap bibir neng dengan lembut. Neng mendengarkan dengan seksama cerita suaminya tidak memperhatikan tangan Alfarizi mengusap bibir dan pipinya dengan lembut.
Melanjutkan cerita saat Cek Kokom mulai gugup karena mengaku miras dari yang punya rumah. Tangannya sudah sampai di puncang gunung kembar dan memperminkan puncaknya dengan nakal. Neng hanya menggeliat merasakan sensasi yang berbeda tetapi masih berkonsentrasi mendengar cerita tentang ibu dan adik tirinya.
Ketika Alfarizi berceita tentang mereka yang di borgol, tangan Alfarizi perpindah ke dua bakpau yang ada di bawah pinggang meremasnya dengan penuh gai*ah. Neng semakin menikmati sentuhan nakal tangan Alfarizi dan mulai memejamlkan matanya.
"Mau di lanjutkan cerita atau kita bergoyang dulu?" tanya Alfarizi tersenyum devil berhasil membuat Neng terhanyut dengan sentuhan tangannya.
"Masihlah, bisa sampai satu jam Papi bercerita jika di tambah dengan bukti rekaman vedio," jawabnya sambil menahan senyum devil merasa yakin istrinya sudah mulai terbuai.
"Kita bergoyang aja dulu deh!"
"Baiklah, ini atas permintaan Mami ya." Alfarizi langsung melahap Bibir Neng dan mengabsen seluruh rongga di dalamnya. Berpindah memberikan kissmark di leher.
Turun menuju gunung membar favotritnya, mengulangi naik turun sampai tak terhitung berapa kali. Setelah puas kemudian melahap puncaknya bergantian kanan dan kiri. Sampai keduanya melakukan penyatuan dan mencapai ******* hampir bersamaan, Alfarizi baru berhenti beraksi.
Alfarizi tumbang di sampng Neng dan tersenyum manis, "Terima kasih Mami memang yang terbaik, ayo kita tidur!"
__ADS_1
"Enak aja, ayo lanjutkan ceritanya!" Neng menepuk ke dua pipi Alfarizi karena dia mulai memejamkan matanya.
"Iya baiklah sampai mana tadi ceritanya?"
"Sampai mereka di borgol oleh polisi."
Alfarizi kembali bercerita setelah mereka dinaikkan mobil polisi. Mendapatkan laporan dari Roy yanng ada di Bandung. Dan rencana memenjarakan mantan istri Ayah Asep dan putri tirinya.
Alfarizi mengambil ponsel miliknya menunjukkan email laporan Roy. menunjukkan rekaman vedio yang di ambil oleh Junaidi saat penangkapan di depan rumah Neng.
"Ini Mami baca dengan teliti email dari Roy. Setelah itu Mami lihat rekaman vedio kiriman Junaidi."
"Ya sini ponselnya!"
Alfarzi memberikan ponselnya kepada Neng. Dia langsung memeluk dengan erat istrinya sambil mmenyelimuti badannya yang masih polos. Membiarkan Neng membaca dan melihat vedio agar lebih jelas.
Dengan teliti Neng membaca satu persatu laporan dari Roy tentang kehidupan mantan ibu dan adik tirinya. Rasanya ingin marah dan berteriak sekencang-kencangnya setelah Neng selesai membaca laporan itu. Mereka sangat licik selalu memanfaatkan ketulusan Ayah Asep.
Neng melanjutkan melihat rekaman vedio yang diambil langsung oleh Junaidi. Di perhatikan dengan seksama tingkah dan kelicikan dari mantan ibu tirinya. Menelaah dan menangkap maksud dan tujuan membuat ulah di rumah yang baru di renovasi menjadi lebih besar dan bagus.
Dari rekaman vedio itu bisa di simpulkan bahwa mantan istri dari Ayah Asep sudah kehabisan uang untuk memenuhi kebutuhan mewahnya. Mencari keberadaan Ayah Asep tidak di temukan. Membuat Cek Kokom berulah di sana berharap Ayah Asep akan datang.
Berpikir akan menyetuju rencana Encang Ginanjar dan Alfarizi untuk memenjarakan mereka. Berharap suatu saat nanti mereka bisa berubah setelah keluar dari penjara dan mengubah sikap. Mau mencari nafkah dengan cara halal dan mengubah gaya hidup yang berfoya-foya.
Neng menjadi teringat Ayah Asep yang berada di Bogor dalam keadaan sehat dan aman. Berharap Ayah Asep tidak mengetahui tentang kejadian tertangkapnya ibu tiri dan dibawa ke kantor polisi. Kemudian teringat jika Encang Ginanjar tadi siang berusaha menghubungi Ayah Asep.
Neng langsung bertanya kepada Akfarizi yang sedang memeluknya, "Papi, apakah Ayah Asep mengetahui jika mantan istrinya membuat ulah ...?"
__ADS_1
Neng tidak melanjutkan pertanyaannya setelah mendengar suara napas yang teratur Alfarizi. Dia hanya melihat sekilas matanya terpejam dengan wajah yang di tempelkan di pundak Neng. Dia sudah tertidur pulas entah dari kapan Neng tidak menyadarinya.
"Eee malah tertidur pulas, dasar menantunya Ayah gemblung. berjanji akan cerita sampai selesai setelah puas bergoyang malah tertidur pulas," gerutu Neng dengan kesal.