Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Titik Terang


__ADS_3

Alfian yang baru selesai meeting bersama Papi Alfarizi dan jajaran direksi di kantor pusat. Papi Alfarizi selesai memperkenalkan Alfian sebagai CEO perusahaan yang berada di Bogor dan sekitar jawa barat. Mulai saat ini akan di pimpin oleh Alfian dalam pengawasan papinya dan bimbingan Surya.


Berjalan beriringan keluar ruang meeting, Alfian mendapatkan notivikasi suara pesan WA. Alfian langsung membuka dan membaca pesan itu sambil berjalan. Tersenyum simpul setelah membaca pesan, rasanya tidak sabar ingin segera bertemu dengan gadis itu.


Alfian langsung menjawab pesan dari Julio, "Abang tunggu di rumah yang ada di Bogor!"


"Siap Bang!" jawab tulisan pesan WA Julio.


Dalam perjalanan lebih dari satu jam rasanya setahun bagi Alfian. Ingin sekali terbang dan kembali melihatnya setelah satu tahun berlalu. Berharap tidak jauh dari tempat tinggal yang kini dia tempati.


Sampai di rumah sudah di tunggu oleh Julio yang duduk di ruang keluarga bersama Umi Anna dan Abi Ali. Mereka berbincang sambil menunggu Alfian datang, "Abang mau masuk kantor hari ini?" tanya Umi Anna.


"Tidak Oma, Abang dan Julio akan masuk kerja hari Senin besok, kami akan mempersiapkan segala sesuatu di kantor atas."


"Ya sudah sana ke atas, nanti Oma akan bawakan camilan untuk kalian!"


"Terima kasih, Oma. Kami ke atas dulu."


Alfian dan Julio langsung berlari menuju lantai atas menuju kantor pribadinya. Belum sempat duduk Alfian sudah tidak sabar mengetahui kabar dari gadis itu, "Mana Julio laporannya, cepatlah!"


"Tidak sabaran banget sih, Bang. Ini silahkan lihat sendiri!"


Alfian mengerutkan keningnya saat melihat seorang gadis yang berjuang untuk menyambung hidup dengan menjadi seorang sopir angkot. Melihat penampinan yang sederhana, masih seperti dulu saat bertemu pertama kali. Hanya bedanya sekarang terlihat lebih dewasa dan wajah yang terlihat serius.


"Sopir angkot ... tidak salah Julio, dia jadi sopir angkot?" tanya Alfian setelah selesai foto yang di ambil oleh Julio.


"Iya Bang, hampir setengah hari gue mengikuti dia."


Alfian masih membolak-balik foto dan berkonsentrasi memperhatikan kemungkinan kegiatan Rania. Dia langsung membelalakan matanya setelah melihat foto laki-laki tua yang bersama gadis itu sedang mencium tunggung tangannya berada di samping angkot.


"Julio ... elo yakin gadis ini tinggal bersama laki-laki dalam foto ini?"


"Iya Bang, sebentar gue bukakan kegiatan di media sosial gadis itu, lihatlah!" Julio memberikan ponsel miliknya setelah membuka media sosial Rania.

__ADS_1


"Ya Allah ya Tuhanku!" Seolah Alfian tidak percaya apa yang di lihatnya.


"Kenapa Bang, apakah Abang mengenal laki-laki tua yang di panggil Abah oleh gadis itu?"


"Sangat mengenalnya, elo cetak foto yang ada di galeri ponsel Abang sekarang. Sudah saatnya kucing-kucingan ini berakhir."


"Apa maksud Abang?"


"Kerjakan saja dulu!"


"Siap laksanakan."


Alfian menarik napas panjang mengingat kegiatan yang di lakukan oleh mami dan papinya selama bertahun-tahun. Mulai dari SMP sampai lulus SMA, dia dan Elfa sering di ajak mengawasi dan mengikuti kegiatan kakek tua secara diam-diam. Kegiatan itu rutin di lakukan hampir dua bulan sekali sampai akhirnya Papi Alfarizi memutuskan membeli rumah di Bogor.


Alfian jarang mengikuti kegiatan rutin ke dua orang tuanya setelah kuliah di Riyadh. Sering dia bertanya mengapa mami dan papi tidak pernah menemui langsung kakek. Mengapa hanya selalu melihatnya dari kejauhan.


Amanah terakhir dari Kakek Ginanjar yang masih di pegang teguh oleh Mami Mitha sampai sekarang ini. Tidak boleh menemui ayah kandungnya sendiri sampai beliau berniat sendiri ingin menemui putri kandungnya. Hanya boleh mengawasi dari jauh tanpa pernah menemuinya sama sekali.


Alfian sering mengambil foto atau vedio kegiatan saat sedang mengawasi dan mengikuti kegiatan kakek. Sering memperhatikan Mami Mitha yang selalu menangis diam-iam sambil menatap wajah kakek dari kejauhan. Selalu melihat kepedihan di wajah Mami Mitha selama bertahun-tahun tanpa ada solusi seperti berjalan tanpa ada ujung yang tak bertepi.


Perjuangan Mami Mitha saat masih muda selalu terngiang di telinga Alfian. Dia dan adiknya sering mendengarkan cerita Nenek Ani bagaimana beratnya mami berjuang setelah pergi dari desa sendirian. Kisah pertemuan nenek dan mami tanpa sengaja.


Memulai merintis usaha dalam keadaan hamil tanpa di dampingi papi. Kuliah sambil mengembangkan usaha sampai kembali tertemu dengan papi dan kembali bersatu. Hanya sayangnya sampai sekarang antara kakek dan mami masih saja dalam pendirian masing-masing.


Kini Alfian bertekad saatnya menyatukan antara ayah dan putrinya setelah ada titik terang dan peluang. Apapun akan di lakukan agar penderitaan yang selama ini mami simpan dalam hati berakhir. Saatnya kini meruntuhkan dinding yang memisahkan dua hati.


Yang awalnya hanya berniat mencari gadis yang selalu mengisi relung hati. Sekarang ini berubah menjadi ingin menyatukan hati tidak hanya dengan gadis itu. Juga ingin menyatukan hati satu keluarga seperti harapan mami.


Julio datang membawa foto-foto yang baru saja di cetak, "Ini Bang, fotonya sudah gue cetak semua."


"Bagus, foto yang baru saja di dapatkan tadi juga kamu cetak sekarang!"


"Siap Bang, permisi."

__ADS_1


"Setelah selesai antar Abang ke pangkalan angkot!"


"Iya Bang, gue persiapkan mobilnya setelah mencetak foto ini."


"Jangan bawa mobil, pakai motor kamu saja biar cepat sampai sana!"


"Ok Bang siap."


Alfian mempersiapkan diri baik penampilan ataupun hati, Mandi, berganti baju memakai parfum dan menata hati. Terutama menenangkan debaran hati yang seolah berpacu dan gelisah tak menentu ingin segera bertemu. Kerinduan yang tak pernah hilang yang di rasakan selama ini berharap hari ini bisa terobati.


"Sudah siap Bang?"


"Ayo kita berangkat!"


Setelah berpamitan dengan oma dan opa, Alfian dan Julio melajukan kuda besinya membelah jalanan kota Bogor dengan kecepatan sedang. Hanya kurang dari satu jam Julio melewati trayek yang biasa di lewati oleh angkutan kota Bogor - Parung. Sambil melihat satu persatu angkot yang lewat dengan memperhatikan nomor polisi yang ada di depan ataupun di belakang.


Julio melambatkan jalan motornya saat melihat ada angkot yang berhenti di pinggir jalan. Posisi angkot ada di seberang jalan berlawanan dengan arah motor yang sedang berjalan saat ini. Ada banyak orang yang berkerumun di depan angkot sehingga mereka tidak bisa melihat nomor kendaraan.


"Bang, elo bisa lihat nomor polisi angkot itu?" tanya Julio dengan suara keras.


"Tidak bisa, ada banyak orang yang berdiri di sana."


"Seperti habis terjadi kecelakaan, Bang."


"Cari jalan putar arah, kita lihat apa yang terjadi!" perintah Alfian.


"Siap Bang."


BERSAMBUNG


Jangan lupa mampir ya shobat di novel teman author


Rekomen banget lo sambil menunggu AST? up lagi.

__ADS_1



__ADS_2