
Hari Sabtu pukul sepuluh pagi, di rumah Alfian sangat ramai. Ini momen yang di tunggu oleh Zain. Yaitu hari bersejarah baginya akad nikah dengan pujaan hati.
Saat ini Pak penghulu sedang mengulang data wali dan saksi. Yang awalnya Paman dari Marta Inayah sebagai wali.
Ternyata saudara dari Mama Sinta tidak bisa menjadi wali. Yang boleh adalah garis keturunan dari saudara ayah. Jadi Pak Penghulu memutuskaan yang akan menikahkan pengantin adalah wali hakim. Akan di wakilkan langsung pada Pak penghulu sendiri.
Paman yang datang akan menjadi saksi nikah bersama Papi Alfarizi. Saksi nikah untuk pengantin laki-laki adalah Alfian dan Asisten Surya.
Acara segera di mulai sesaat rombongan Keluarga Zain sudah datang. Pengantin wanita masih ada di kamar. Belum boleh keluar sampai ijab qabul di laksanakan.
Acara di mulai dengan pembukaan yang di pandu oleh pembawa acara. Dilanjutkan dengan senandung tilawah ayat suci. Dan khutbah dikah di wakili oleh Bapak Endang Kusnandar.
Di lanjutkan dengaa ijab qabul oleh Zain dan wali hakim yaitu Pak penghulu. Sengaja Mempelai wanita hanya menunggu di kamar agar tidak mengganggu konsentrasi Zain. Jika Zain terpana melihat kekasih hati otaknya akan bleng dan tidak bisa mengucapkan ikrar ijab qabul.
"Baik saudara Zain Malik Turmudzi, apakah Anda sudah siap?" tanya Pak Penghulu.
"Siap, Pak."
Zain dan Pak penghulu berjabat tangan. Diawali dengan bacaan basmalah dan doa, "Saudara Zain Malik Turmudzi bin Harry Turmudzi saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Martha Inayah binti Almarhum Mario Sanusi dengan mas kawin uang tunai 151.223 $ di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Martha Inayah binti Almarhum Mario Sanusi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Zain mengucapkan dengan satu napas.
"Bagaimana Bapak Ibu, Sah?" tanya Pak Penghulu.
"Saaah!" jawab keluarga dan para tamu undangan serempak, dilanjutkan dengan doa nikah oleh Pak Penghulu.
Dokter Atha keluar kamar di gandeng Mami Mitha Dan Rania yang memakai baju kebaya warna putih. Ketiganya sangat cantik dan anggun walaupun berbeda usia. Yang memadang pasti akan terpana terutama pasangan masing-masing.
Terutama Zain yang menengok ke pengantin wanita. Wajah yang bersinar. Senyum yang mengembang dan riasan yang pas. Zain menjadi semakin terpana.
Tanpa sadar mulut Zain ternganga seolah pengantin turun dari langit. Jodoh yang di gadang-gadang turun dari langit sekarang berjalan menuju kearahnya. Ingin sekali merentangkan tangan dan membawanya dalam dekapan.
Zain tersadar saat Alfian dan Papa Harry yang tepat di sampingnya langsung menyenggol bahu kanan dan kiri, "Awas ada lalat masuk mulut," bisik Alfian.
"Bukan cuma lalat, cicaknya sekalian ikut masuk," jawab Papa Harry.
Spontan Zain menutup mulutnya. Membayangkan ada cicak masuk ke dalam mulut. Bahkan orang yang mendengar juga ikut tertawa mendengar Papa Harry bercanda.
__ADS_1
Pengantin wanita duduk di samping Zain saling berhadapan. Mempelai wanita langsung mencium punggung tangan mempalai pria. Bergantian mempelai pria mencium kening mempelai wanita. Wajah dua mempelai berseri-seri.
Membacakan sumpah pernikahan, penyerahan buku nikah dan penyerahan mas kawin. Dilanjutkan dengan meminta restu pada orang tua, keluarga dan sahabat. Tamu undangan di persilahkan menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
Acara hanya berlangsung sampai istirahat siang saja. Yang hadir hanya keluarga inti, Sahabat dan petinggi rumah sakit dan pimpinan perusahaan yang ada di Bogor.
Pasangan pengantin langsung terbang ke Australia bersama keluarga yang datang dari sana. Bulan madu Dokter Atha memilih pulang kampung. Dengan menggunakan fasilitas pesawat pribadi milik keluarga Zulkarnain.
Yang mengantar ke bandara hanya Julio dan Eki Darsono. Alfian dan Rania kan berangkat ke villa. Untuk mengantar Ibu Titin yang rindu dengan kampung halaman.
Dari rumah Alfian, rombongan Zain menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta hanya menggunakan satu mobil saja. Julio yang mengemudi, dan Eki Darsono ada di sebelahnya.
Zain hanya memandang Atha dengan penuh cinta. Tanpa memperdulikan sopir dan yang duduk di sampingnya. Matanya selalu tertuju pada wajah istrinya yang selalu tersenyum manis.
Terkadang mengusap lengan dengan lembut. Mengusap pipi dengan lembut sambil mengedipkan mata. Tatapan mata yang memuja dan cinta tanpa kata.
"Zain ...!" teriak Julio sambil melirik spiosn yang ada di atas kepala.
Zain kaget dan langsung menghadap kearah Julio, "Ada apa bikin kaget aja sih?"
"Elu ini masih berada di bumi, bukan di langit, mengapa asyik sendiri dengan otak elu yang ngeres?" tanya Julio.
"Elo berdua tidak nyadar kalu hanya ngontrak, karena dunia hanya milik Zain dan Nyonya Zain?"
"Kebalik dodol, Elu belum merasakan indahnya dunia, elu yang masih kontrak!" teriak Eki Darsono.
"Betul kata Eki, elu belum pernah melayang berdua, jadi jangan mengaku dunia milik elu, belum sah." Julio ikut menambahkan cuitan Eki Darsono.
"Terserah kalian saja, yang penting saat ini gue berdua."
Pesawat langsung terbang setelah saudara Dokter Atha tiba di bandara dengan diantar oleh Ayah Doni. Mereka menikmati penerbangan dengan nyaman. Menikmati fasilitas yang lengkap dan pelayanan dari kru pesawat yang sangat ramah.
Awalnya Atha berbincang dengan keluarga sesaat pesawat mulai mengudara. Ada kamar khsus tamu yang di tempati oleh Zain dan Atha dalam pesawat. Atha izin untuk beristirahat menyusul Zain yang dari naik pesawat tadi beristirahat di kamar.
Saat pintu di buka, Zain merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil memandangi langit-langit pesawat. ke dua tangannya di letakkan di bawah kepala. Pikirannya sudah traveling sendiri entah ke mana.
"Darling ... Mengapa lama sekali sih?"
__ADS_1
"Baru seperempat jam kok, Bang. Atha berbincang dengan mereka."
"Bagi Abang sudah seperempat abad menunggu."
"Atha mandi dulu ya, Bang."
Tanpa menunggu jawaban Zain, Atha langsug menuju kamar mandi kecil di pojok kamar. Dengan mengambil langkah panjang agar tidak terlihat gugup di hadapannya.
Mandi dengan sengaja di lama-lamain sambil menata hati yang semakin berdegup kenjang. Memakai ganti baju juga sengaja di dalam kamar mandi. Keluar kamar mandi sudah dalam keadaan bersih dan rapi.
Atha keluar dari kamar mandi, Zain bangun dan duduk di pinggir tempat tidur, "Ayo duduk sini, Darling!" Zain menepuk sisi tempat tidur sebelah kiri.
Atha semakin gugup dan malu. Padahal sudah menata hati saat keluar dari kamar mandi. Harus mencari alasan agar gugupnya bisa hilang.
"Sebentar ya, Bang. Atha mau membersihkan make-up dulu!" Sengaja Atha membersihkan wajahnya perlahan.
"Lama betul sih, Darling?"
BERSAMBUNG
Ayo mampir Shobat
jangan lupa sebelum AST up lagi, seru banget lo Novel temen author ini
Nama Pena : AdindaRa
Judul Karya : Kurebut Suami Kakakku
Ecca sangat terkejut saat mendengar kabar pernikahan kakak kandungnya, Nuna dengan seorang lelaki yang sudah lama ia cintai, Belva Quiero.
Terlebih saat kakaknya mengandung dan memaksanya untuk ikut tinggal bersamanya di rumah milik suaminya dengan alasan Nuna ngidam masakan buatan Ecca.
Penolakan Ecca untuk tinggal bersama kakaknya sama sekali tidak diindahkan oleh orang tuanya sendiri dan bahkan mereka sangat setuju jika Ecca tinggal bersama Nuna dan membantunya di masa kehamilannya.
"Semua sudah gila! Aku tidak mungkin melebur rasa cintaku pada Mas Belva jika seperti ini keadaannya. Jangan salahkan aku jika nantinya aku bertindak di luar batasku!" batin Ecca menahan rasa geram.
__ADS_1