Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Mendadak Akad Nikah


__ADS_3

Neng hanya terbengong tidak menjawab pertanyaan Umi Anna mas kawin apa yang di inginkan olehnya. Alfarizi menjadi gemas langsung menowel hidungnya, "Katakan Honey, mas kawin apa yang paling kamu inginkan?"


Neng hanya menggelengkan kepalanya, cemberut dan memegangi hidungnya yang baru saja di towel olehnya, "Aku tidak tahu, aku tidak pernah memikirkan itu bahkan membayangkan saja aku tidak pernah."


"Aduh kasihannya putri cantik Umi, sekarang kamu harus memikirkannya, kalau perlu sekali-kali kerjain tuuh putra Umi yang gelo itu, mintalah pesawat, helikopter, pesawat tempur, kapal pesiar kapal selam kalau perlu sekalian perusahaannya untuk mas kawin." Umi Anna berkata sambil memukul bahunya.


"Umi, yang anak Umi istriku atau aku sih, kok jahat banget!" Alfarizi mengerucutkan bibirya seperti Neng karena kesal.


"Mulai sekarang Al hanya anak tiri Umi, kalau tidak bisa memberikan mas kawin yang membuat putri cantik Umi terkesan!"


"Umi tega sekali aku jadi anak tiri, Honey please mau mas kawin apa?"


Neng kembali menggelengkan kepalanya, bingung harus menikah dalam keadaan seperti ini. Badannya belum bisa di gerakkan, baru saja selesai di operasi tiga jam lalu. Rasanya otak buntu antara percaya dan tidak percaya jika akan mendadak akad nikah.


"Umi pulang dulu, akan mempersiapkan semua dari sekarang."


"Umi tapi aku ...! Neng masih ragu untuk acara yang mendadak.


"Nak Mitha, Umi sudah bilang tidak menerima penolakan, penundaan atau alasan apapun, pukul delapan malam nanti kalian akan menikah resmi titik."


Umi Anna keluar ruang rawat inap setelah menyambar tas yang tadi di ketakkan di lantai. Tanpa menoleh ke belakang lagi langsung membuka pintu, sudah di tunggu oleh Surya, Desi, Dokter Harry, Rianti dan Abi Ali. Mereka langsung bekerja mewujudkan perintah dan rencana Umi Anna, melakukan pembagian tugas yang sudah di rencanakan sebelumnya.


Hanya Surya yang sangat sibuk hari ini karena mendapatkan dua tugas, dari Umi Anna dan dari Alfarizi. Untungnya dibantu oleh Desi, Junaidi dan Lilis untuk mempersiapkan semua rencana Alfarizi. Sampai menjelang petang tugas mereka semua selasai hampir bersamaan, hanya Rianti yang akan melakukan memepersiapkan ruang rawat inap pada pukul tujuh malam.


Rianti masuk ruang rawat inap di temani oleh Isya untuk mempercantik ruang rawat inap yang satu jam lagi akan di lakukan acara akad nikah. Alfarizi yang awalnya hanya duduk mendapingi Neng sesekali mengusap tangannya langsung di tarik keluar oleh Dokter Harry, "Ayo keluar jangan di kekep aja tuuuh adikku, kamu harus bayar pajak padaku!"


"Aku pernah bonyok kamu pukuli itu pajaknya, apa lagi sekarang yang harus aku bayar?"


"Pokoknya ada, ayo keluar,"

__ADS_1


Sementara mereka keluar, Isya dan Rianti menghias ruang rawat inap dengan cantik, paduan warna putih dan hijau daun kesukaan Neng. Dari horden meja yang di letakkan di depan brankar tempat tidur bunga mawar putih menghiasi sudut ruang. Sampai permadani yang di pasang di lantai juga berwana senada.


Sampai saatnya Neng harus berganti baju kebaya yang sudah di persiapkan oleh Umi Anna. Baju itu ukurannya pas di badan, karena ada perban bekas operasi di punggung membuat Neng tidak nyaman dan menekan jahitan bekas operasi. Rasa nyeri dan sakit membuat Neng kembali meneteskan air matanya.


"Kak Ria, aku tidak tahan sakit sekali, tolong dibuka saja bajunya!" Neng terus saja mengeluarkan air mata.


"Ooo ya buka saja, takutnya nanti jahitan bekas operasi terbuka kembali," jawab Rianti dengan cepat mengganti baju kebaya dengan baju pasien rumah sakit.


Isya sampai panik melihat kakak iparnya terus menangis tergugu padahal baju kebaya sudah di buka dan kembali memakai baju pasien rumah sakit, "Aduh Kak maaf, bajunya melukai punggungnya ya, maaf!"


"Mitha, ayolah kami bingung mengapa kamu malah menangis terus, ini hari bahagia kamu?"


Neng semakin tergugu dan menggelengkan kepalanya setelah Isya memanggil abangnya Alfarizi masuk ke ruang rawat inap menggunakan jas senada dengan kebaya yang seharusnya dipakai oleh Neng. Di tambah lagi keluarga inti masuk hampir bersamaan bersama Alfarizi dan Isya termasuk Alfian yang memakai jas sama seperti papinya.


Alfarizi dan Akfian berlari mendekatinya bersamaan, "Honey, mengapa menangis?"


"Mami, mengapa menangis, apakah punggungnya masih sakit?"


"Ini hari bahagia kita, Honey; bukan cuma kita yang bahagia, lihatlah putra kita juga bahagia, mengapa sekarang menangis?" Alfarizi mengusap dan menghapus air mata dengan lembut.


"Tidak apa-apa, aku hanya teringat dulu aku akad nikah menggunakan baju toga, sekarang aku harus menggunakan baju rumah sakit, huuuuuu!"


"Ya Allah ya Tuhanku, ampuni aku!" Spontan Alfarizi membuka jasnya, menggulung lengan panjang sampai siku.


Seharusnya ini suasana bahagia semua jadi ikut meneteskan air mata termasuk Alfarizi, "Ampuni aku Honey, ampuni aku; nanti kalau kamu sudah sembuh dari cidera pungung, aku berjanji akan mewujudkan pernikahan seperti impian kamu!"


Alfian juga membuka jasnya dan menggulung lengan bajunya seperti yang di lakukan papinya. Spontan seluruh kekuarga dan teman yang laki-laki juga membuka jasnya sebagai rasa solidaritas.


"Mami, Al sama Papi gantengan mana kalo pakai bajunya samaan begini?" tanya Alfian memeluk Alfarizi yang masih duduk berjongkok di samping brankar tempat tidur.

__ADS_1


Neng mengusap air matanya, dia tahu putranya ingin mengalihkan perhatian dengan cara meminta pendapat agar maminya tidak menangis lagi. Neng hanya memandang lekat-lekat wajah Alfian yang sama persis seperti papinya, "Gantengan Alfian ...!"


"Waaaah, Papi kalah Al tetap nomor satu, ya Mami?"


"Iya, Papi nomor dua juga mau yang penting Mami tersenyum!"


Yang awalya tegang menjadi cair kembali setelah Umi juga ikut mengusap pundak Neng, "Maafkan putra Umi, Nak; apakah sekarang bisa kita mulai, Pak Penghulu suda datang, dia ada di luar?"


"Ok Honey, atau aku ikut ganti baju pasien juga?" Bisik Alfarizi di telinga Neng.


Neng menggelengkan kepalanya sambil mengusap sisa air mata yang masih menggenap di sela mata. Ada dua orang yang masuk dengan membawa berkas di sambut oleh Abi Ali dan di persilahkan duduk di sofa yang di persiapkan di samping brankar tempat tidur berhadapan dengan Alfarizi.


Dari persiapan, pembukaan, pembacaan ayat A-Qur'an, khudbah nikah, istigfar dan syahadat dilalui dengan lancar. dua saksi dari pembelai wanita Junaidi dan Lilis dengan wali hakim. dari pihsk mempelai pria di wakili oleh Dokter Harry dan Surya.


"Bisa kita mulai?" tanya Pak Penghulu.


"Ya silahkan Pak!" jawab mereka serempak.


Alfarizi menjabat tangan Pak Penghulu dengan erat," Alfarizi Zulkarnain bin Ali Zulkarnain, aku dikahkan dan kawinkan engkau dengan Ningtiyas Paramitha binti Asep Darsono dengan mas kawin 100 gram seperangkat perhiasan emas dan satu rumah yang berada di belakang Konfeksi AA di bayar tunai!"


Alfarizi langsung menjawab dengan satu napas, "Aku terima nikah dan kawinnya Ningtiyas Paramitha binti Asep Darsono dengan mas kawin tersebut di atas di bayar tunai."


"Bagaimana sah?" tanya Pak Penghulu.


"Saaaaaah" jawab mereka serempak.


"Alhamdulillah...."


Neng merasa lega di hati setelah memiliki status yang jelas sekarang. Mengambil napas panjang sambil memejamkan mata. Saat Alfafizi meliriknya dia menjadi khawatir takut terjadi sesuatu, "Eee ...Honey jangan pingsan dong?"

__ADS_1



ayo mampir di novel teten, seru looo


__ADS_2