
Alfarizi mengambil langkah panjang keluar rumah setelah memberikan Elfa kepada Bibi Siti. Memerintahkan Neng dan Alfian agar jangan keluar dulu sampai selesai sarapan. Diikuti oleh Junaidi dari belakang dengan langkah panjang juga.
"Selamat pagi, Pak!" kata Alfarizi sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman bergantian.
"Selamat pagi, maaf kami mengganggu pagi Anda, Tuan." Salah satu polisi berkata dengan tegas sambil mengangkat tangannya di dahi membari hormat.
"Tidak masalah, apa yang bisa kami bantu?"
"Kami ingin melihat CCTV yang menuju jalan yang Anda miliki, Tuan."
"Ooo tentu saja, silahkan Anda berdua ke ruang pos CCTV akan di bantu oleh Junaidi dan kepala security."
"Terima kasih, Tuan."
"Sama-sama, kalau begitu saya tinggal dulu."
"Silahkan dan sekali lagi terima kasih."
Alfarizi bergegas meninggalkan dua polisi karena harus segera ke rumah sakit. Beberapa kali di hubungi Surya tentang keadaan terakhir Desi. Setelah sampai rumah sakit langsung bergabung dengan seluruh keluarga Surya.
Menunggu hanya setengah jam Alfarizi dan Neng sudah mendengar tangisan bayi dari dalam ruang bersalin. Bayi laki-laki dengan berat 2,9 kg dan panjang 50 cm. Surya keluar dari ruang bersalin dengan wajah pucat sambil menggendong putranya.
"Mengapa wajahmu pucat begitu, Surya?"
"Waah kepalaku pusing sekali, Tuan. Ternyata seberat itu ya melahirkan, saya sampai pucat saat bayiku keluar."
Alfarizi hanya mengangguk dan mengerutkan keningnya, teringat saat mendengar Desi hamil ingin sekali menambah momongan. Saat teringat betapa beratnya ketika Neng melahirkan Elfa akhirnya niat itu di urungkan lagi. Hanya membayangkan seperti 20 tulang yang di patahkan secara bersamaan hati rasanya ngilu dan ngeri.
"Ya Surya, aku juga masih ngeri dan ngilu saat dia melahirkan Elfa." Alfarizi menujuk Neng yang sedang berbincang dengan ibu kandung Desi.
"Ya Tuan, tetapi setelah melihat putraku ini rasanya sakit dan ngeri itu terbayarkan."
Neng dan kelurga Surya langsung mendekati bayi yang di gendong oleh Surya, "Sini aku pingin gendong!" Neng langsung menggendong bayi Surya dan menciumnya dengan gemas.
Alfarizi bergegas mendekati Neng dan berbisik di telinganya, "Mami mau memiliki bayi lagi?"
__ADS_1
Neng hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia lebih berkonsentrasi memandang wajah bayi laki-laki yang sedang tertidur lelap. Membuat Alfarizi kembali mendekati istrinya karena merasa di cuekin, "Mami, jangan melihat sampai segitunya juga dong."
"Memang kenapa sih, Papi cemburu juga sama bayi ini?"
"Iya dong, walaupun dia masih bayi tetapi dia laki-laki juga lo."
"Aiis dasar Papi."
Alfarizi hanya terseyum devil karena Neng mengerucutkan bibirnya sambil memberikan bayi Surya kepada ibunya Desi. Rasa cemburunya yang terkadang tidak masuk akal membuat hati jadi kesal. Neng meninggalkan Alfarizi begitu saja setelah melihat Desi di dorong menggunakan brankar tempat tidur untuk di pindahkan di ruang rawat inap.
Berbincang dengan Desi tentang sekitar ibu melahirkan dan pengalaman menjadi seorang ibu. Sedangkan Alfrizi bercengkerama bersama Doktr Harry dan Surya di luar ruang rawat inap. Neng dan Alfarizi perpamitan pulang setelah pukul sepuluh pagi.
Dalam perjalanan Neng masih diam, dia hanya konsentrasi memeriksa email dan pesan masuk dari Mpok Atun di ponselnya. Selama Desi cuti pekerjaan banyak di kerjakan oleh Mpok Atun. Sedangkan konfeksi banyak diambil alih oleh Ibu Ani dibantu oleh Doni.
Alfarizi hanya melirik Neng sesekali sambil menyetir. Mengusap pundak dan pipinya karena dari tadi selalu di cuekin, "Mami ...."
"Hhmm ...!"
"Idih Mami, mengapa dari tadi cuek banget sih sama Papi?"
"Tidak apa-apa," jawab Neng masih konsentrasi pada ponselnya.
Neng menggelengkan kepalanya tanpa menengok kearah Alfarizi. Mata dan pikirannya masih tertuju pada ponsel. Masih membaca dan membalas satu persatu pesan WA yng masuk.
Alfarizi yang kurang fokus tanpa di duga ada binatang kecil yang melintas di depan mobil, membuat Alfarizi kaget dan mengerem bendadak, "Ciiiiiiiiit ...!" Untung jalan yang baru dia lewati tidak banyak kendaraan yang kewat.
Ponsel Neng terjatuh di bawah, kepala hampir membentur mobil bagian depan, "Papiii ...!" teriak Neng kaget.
"Maaf Mami ada binatang yang melintas, sebentar Papi lihat dulu!"
Alfarizi turun dari mobil melihat ban mobil depan. Ada darah yang menempel di ban tetapi tidak terliha binatangnya. Dia jongkok di samping ban untuk melihat lebih jalas binatang yang baru saja di tabraknya. Ternyata seekor tikus besar yang terlindas dan mati di samping ban mobil bagian dalam.
"Tikus besar yang tertabrak, Mami."
"Papi kalau sedang menyetir yang konsentrasi dong, mengapa tikus Papi tabrak?"
__ADS_1
"Maaf Honey, dari tadi Mami cuek terus, Papi jadi tidak konsentrasi."
Neng yang awalnya mau mencari ponselnya yang terjatuh, tidak jadi mengambilnya memandang wajah suaminya yang terlihat khawatir, "Mengapa sensitif sekali sih?, kayak wanita yang sedang PMS aja, Mami tidak marah dan tidak cuekin Papi, Mami hanya konsentrasi memeriksa email dari Mpok Atun."
"Papi itu paling takut kalau Mami marah."
"Eee Mami tidak marah, Papi."
Alfarizi mengangguk dan meraih tangan Neng dan di ciumnya berkali-kali, "I love you ...!"
"Tidak usah modus di pinggir jalan, Mami mau ambil ponsel yang terjatuh. Apakah mau Mami marah ponsel Mami jatuh entah di mana gara-gara Papi mengerem mendadak?"
"Jangan marah Honey, sebentar Papi ambilkan."
Untungnya ponsel tidak rusak hanya tergores sedikit paperglass yang ada di pojok ponsel, "Papi belikan yang baru ya, lihatlah tergores sedikit gara-gara terjatuh?"
"Tidak usah Papi, Mami buru-buru karena sudah di tunggu Mpok Atun di butik."
Alfarizi kembali melajukan mobilnya menuju mall miliknya dengan kecepatan sedang. Neng tidak lagi konsentrasi pada ponselnya, pemperhatikan jalanan dan suaminya yang terkadang melirik. Membalas mengusap tangan Alfarizi saat dia menggenggam tangan Neng.
Memasuki parkiran mall ada kerumunan pengunjung mall yang berada di depan pintu mall. Ingin melihat tetapi tidak terlihat saat mobilnya memasuki area mall, "Ada apa itu, Papi?"
"Tidak tahu Mami, nanti saja kita lihat berdua ya, Mami jangan melihat sendiri!"
"Baiklah ...."
Alfarizi memarkirkan mobilnya di parkiran khusus seperti biasa. Yang biasanya melewati lift khusus sampai kantornya, kini lebih memilih lewat pintu utama mall. Ingin mengetahui ada apa yang terjadi di depan pintu utama mall.
Dua security berlari mendekati Alfarizi dan Neng, mereka langsung membungkuk hormat, "Selamat pagi Tuan, Nyonya," kata salah satu Security.
"Selamat pagi, ada apa Pak?" tanya Alfarizi.
"Maaf Tuan, Pak Jun memerintahkan saya untuk memberitahukan kepada Anda sebaiknya Tuan dan Nyonya jangan lewat pintu utama mall!"
"Memangnya ada apa tadi aku melihat ada kerumunan banyak pengunjung di depan pintu mall?"
__ADS_1
"Ada orang gila yang merebut makanan di gerai yang ada di depan pintu mall, Tuan."
"Orang gila ...?"