
Kehamilan Neng saat ini 28 minggu atau tujuh bulan bertepatan libur tengah semester dan ulang tahun Alfian yang ke 11 tahun. Sudah menjadi rutinitas dan kebiasaan Alfian pasti mengajak untuk mengunjungi kampug halaman Mbah buyut. Umi Anna dan Abi Ali juga akan ikut berkunjung ke sana dan merayakan ulang tahun ala Alfian.
Mbah Buyut sudah berpesan harus datang ke kampung halaman saat mengadakan acara syukuran tujuh bulan kehamilannya. Keluarga di kampung sudah mempersiapkan semua ritual yang akan di lakukan menurut adat dan tradisi jawa.
Berangkat ke Ngawi menggunakan pesawat pribadi dengan keluarga sampai Bandara Internasional Adi Sumarmo Surakara. Diteruskan memakai kendaraan pribadi sampai Kampung halaman.
"Mbah Yut, Mas Onta Arab dataaaaang!" teriak Pakde Sarto.
Dengan tergopoh-gopoh Mbah buyut datang sambil membawa parang untuk memotong kayu bakar. Tanpa sadar parangnya diacungkan karena bahagia, "Mas Onta Arab wes rawuh, ayok masuk!"
"Oew ... Mbah Yut, ampun aku masih pingin hidup," teriak Alfarizi mengangkat ke dua tangannya tanda penyerah.
"Lo iki parang tak nggo motong kayu, ora nggo motong burungmu," sahut Mbah Buyut sambil mengacungkan kembali parangya.
"Mbah Yut parangnya bawa sini bahaya, nanti burung orang tertebas semua!" canda Kang Sarto sambil tersenyum devil.
Baru datang dan masuk rumah seluruh keluarga sudah disambut dengan candaan yang ngeri dan absurd. Setelah beramah-tamah sebentar beristirahat di kamar terutama Neng yang perutnya terlihat mudah membuncit. Alfarizi yang selalu protektif kepada istrinya yang sering mudah lelah walaupun tidak banyak bekerja.
Walaupun umur sudah empat puluh tahun tetapi baru kali ini Alfarizi merasakan dan menglami sendiri menjadi suami siaga untuk istrinya. Membuatnya selalu menjadi suami super siaga, terkadang sikap berlebihannya selalu saja muncul.
Hari ini Mbah Buyut, Bude Marmi dan di bantu oleh ibu-ibu tetangga sekitar sedang membuat rujak dan es dawet untuk acara syukurannya. Alfarizi membeli berbagai macam buah yang cukup di bagikan untuk seluruh kampung.
Saat Pakde Sarto membuat koin pengganti uang untuk membeli rujak dan es dawet dari geteng yang tidak terpakai, Alfarizi menggantinya dengan potongan triplek yang di bulatkan. Alasan Alfarizi karena genteng jumlahnya terbatas sedangkan triplek bisa di beli di toko bangunan.
Semua keluarga dan tetangga mendapatkan dua koin tripek pada setiap kepala keluarga. Bahkan Kang Sarto memberikan tanda khusus dari dua koin itu, yang satu diwarnai dengan cat warna pink dan satu lagi dengan warna putih.
Neng yang tidak faham untuk apa koin triplek di warnai langsung bertanya kepada Kang Sarto, "Untuk apa Kang buat bulatan triplek segini banyaknya?"
"Yang warna putih nanti akan di tukar dengan es cendol dan rujak, dan yang warna pink kata mas Onta Arab akan mendapatkan hadiah yang lain tetapi belum tahu apa."
__ADS_1
Neng hanya menggelengkan kepalanya saja, "Maksudnya seluruh tetangga di beri hadiah?"
"Iya ... itu orangnya sedang berbincang dengan juragan beras di sana!" Kang Sarto menunjuk Alfarizi yang ada di pojok teras rumah berdua dengan laki-laki paruh baya juragan beras.
"Papi, lagi ngapain?" panggil Neng berjalan mendekatinya.
"Mami hati-hati jalannya, mengapa tidak memakai alas kaki?"
Neng hanya tersenyum dan duduk di bangku panjang, "Papi lagi merencanakan apa?"
"Papi hanya meneruskan kebiasaan Mami berbagi, koin yang di buat Kang Saro yang warna pink nanti bisa di tukar dengan beras sepuluh kilogram dan yang warna putih bisa di tukar dengan es cendol dan rujak."
Mbah Buyut yang baru daang ikut nyeletuk dan memberikan usul, "Mas Onta Arab, ngopo ora ditambah minyak goreng sisan, saiki minyak goreng longko, wingi Mbah Yut melu ngantri di surung uwong ko mburi langsung ngambung tembok supermarket (Mas Onta Arab, mengapa tidak di tambah minyak goreng sekalian, sekarang ini minyak lagi langka, Mbah Yut kemarin ikut antri di dorong dari belakang nyusruk cium tembok supermarket).
Neng menutup mulutnya dengan cepat mau tertawa takut berdosa, tidak tertawa ucapan Mbah Buyut menggelitik perut. Alfarizi yang kurang faham maksud Mbah Buyut malah mengerutkan keningnya sambil berbisik di telinga istrinya, "Mbah Yut ngomong apa Mami?"
"Mbah Yut reques minyak goreng, kemarin ikut antri terdorong sampai cium tembok," jawab Neng sambil menahan tawa.
"Ora level, senengaku ngambung Brad Pitt karo Van Damme."
"Jeeeh Mbah Yut keren, ayo kita nonton 007!" semangat Alfarizi sambil mengajungkan dua jempol.
"Emooh, aku wes bosen ..."
"Lo emangnya Mbah Yut nonton di mana mengapa bosan?" tanya Alfarizi lagi.
"Di sana di lapangan layar tancap setiap malam minggu."
"Waduh, kirain di gedung bioskop." gerutu Alfarizi sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
__ADS_1
Setelah istirahat siang, di rumah Mbak Buyut di buat seperti supermarket dadakan olerh Alfarizi. Antrian panjang masayarakat dan tetangga untuk mengambil rujak dan es dawet dengan bonus beras 10 kg dan minyak 2 liter mengular sampai sungai dan sawah belakang rumah. Doa terus saja mengalir deras untuk kelancaran dan kesehatan si jabang bayi yang masih dalam kandungan.
Abi Ali yang pertama kali mengunjungi desa, tidak henti-hentinya kagum dengan kebersaaan mereka. Sangat ramah dan bersahaja selalu tersenyum dan menyapa saat bertemu dengan tetangga. Tidak henti-hentinya bibirnya menyunggingkan senyuman saat menyaksikan masyarakat yang antri untuk mendapatkan hadiah beras dan minyak.
"Umi, Abi baru satu hari di sini bibirnya sudah capek banget, senyuuum terus," kata Abi Ali duduk di samping Umi Anna yang sedang membagikan rujak.
"Asal jangan kebablasan aja Abi senyumnya, nanti tidak ada orang Abi tersenyum sendiri, nanti di bilang sedeng sama Mbah Yut."
"Apa itu sedeng, Umi?"
Umi Anna belum sempat menjawab pertanyaan suaminya, Mbah Yut yang ada di samping Ibu Ani langsung nyahut, "Ngene lo sedeng kui!" Jari telunjuk tangan kanan Mbah buyut menyilang di dahinya sambil tersenyum devil.
"Ooo gelok maksudnya, Umi?" tanya Abi Ali penasaran.
Umi Anna hanya mengangguk dan tersenyum, tetapi Mbah Buyut yang tidak tahu arti dari gelok malah salah paham dengan mengartikan golek yang artinya mencari, "Abi, koe arep golek opo, ayo tak kancani?" (Abi, kamu mau cari apa ayo tak temani?")
Abi Ali hanya menggelengkan kepalanya karena tidak tahu arti dari pertanyaan Mbah Buyut, Alfarizi yang mulai mengerti sedikit ucapan Mbah Buyut jadi senang menggodanya, "Hayo Mbah Yut mau mengajak Brad Pitt jalan-jalan, hati-hati ada yang cemburu!"
"Pundi to Mas, Brad Pitt-te tak ambunge saiki?" tanya Mbah Yut sambil memonyongkan bibirnya. (Mana sih Mas, Brad Pitt-nya aku cium sekarang?)
"Eeee ... ha ha ha!"
BERSAMBUNG
*****
Ayo mampir novel rekomen ini
__ADS_1