Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Dua Pertimbangan


__ADS_3

"A ... Ayah ...?" kata Rania terbata-bata memanggil ayahnya yang bernama Doni Surya.


Ibu Ani dan Doni tersentak kaget berdiri dan menghadap kearah Rania. Terutama Doni langsung memandang wajah Rania yang matanya sembab karena dari tadi menangis. Wajah yang terlihat tidak asing baginya walaupun sudah lebih dari 15 tahun berlalu.


Dengan suara bergetar Doni bertanya, "Siapa namamu, Nak?"


"Ra ... Rania Kirana."


"Ya Allah ya Tuhanku Berarti cucu Nenek!" teriak Ibu Ani langsung memeluk Rania dengan erat sambil berlinang air mata.


Doni hanya terpaku melihat ibu dan putrinya berdiri sambil berpelukan dan terisak. Kakinya seolah kaku dan tidak bisa untuk berjalan mendekati ibu dan putrinya. Padahal jarak hanya tidak lebih dari tiga langkah saja.


Ibu Ani berkali-kali mencium pipi dan kening Rania sambil terus berlinang air mata, "Kamu sudah sebesar ini, Nak. Ya Allah terima kasih!"


Tidak hanya Ibu Ani, Doni dan Rania yang meneteskan air mata. Mami Mitha, Papi Afarizi, Alfian dan Abah juga ikut menanggis. Pertemuan antara ayah dan putri yang tidak di duga membuat keluarga hujan tangis. Tangisan bahagia dan terharu antara Mami Mitha dan Abah serta antara Rania dan Doni Surya.


Yang awalnya Alfian ingin memberikan kejutan untuk Mami Mitha kini yang sangat terkejut adalah istrinya. Pertemuan tanpa ada rencana dan tidak di sangka sama sekali, pertemuan dengan ayah dan neneknya membuat Rania bahagia. Perjuangan keras Alfian dan Julio kini terbayar sudah setelah hari ini bisa mempertemukan Mami Mitha dengan Abah serta bisa menemukan ayah kandung dari Rania.


Ibu Ani langsung menarik tangan Doni yang masih terpaku melihat Rania dalam pelukan, "Nak kemarilahah!"


Doni langsung memeluk Ibu Ani dan Rania sekaligus dengan tergugu dan air mata yang berlinang. Rasa rindu yang di pendam selama bertahun-tahun ingin memeluk putrinya kini tercapai sudah. Rasa terharu dan bahagia memuncak di hati dan di tuangkan dengan mengeratkan pelukan kepada kedua wanita yang berbeda usia yang sangat di sayangi.


"Rara ... maafkan Ayah," Doni mengecup dahi Rania dengan lembut.


"Panggil Rani saja, Ayah!" Rania memeluk kemudian mencium punggung tangan Doni.


Semakin ramai percakapan dua keluarga yang semakin akrab. Abah yang paling terlihat lelah akhirnya meminta izin untuk beristirahat. Diantar oleh bibi di ruang tamu yang ada di lantai satu.


Rania, Ibu Ani dan Doni melanjutkan percakapan mereka untuk saling melepas rindu masih di ruang tamu. Sedang Alfian kini di sidang Mami Mitha dan Papi Alfarizi di ruang keluarga, "Mengapa Abang tidak menghubungi Mami saat bertemu dengan mereka?"

__ADS_1


"Maaf Mami ... semua serba mendadak, Abang harus bertindak cepat agar Kakek dan Rania tidak menghilang lagi."


"Apa maksudnya, Bang?" tanya Papi Alfarizi bingung.


"Semua serba mendadak Papi, dari permintaan Kakek untuk saat itu menikah sampai bersamaan ada seorang sopir yang melamar Rani sesaat akan di langsungkannya nikah sirri."


"Seharusnya tidak perlu menikah sirri, Bang. Itu sama saja mengulangi kesalahan yang sama seperti yang Papi lakukan dulu."


"Justru ini sengaja Abang lakukan, Papi. Karena dengan Abang dan Rani menikah sirri Kakek tidak akan berani pergi lagi dari kita, kemungkinan Kakek akan semakin merasa bersalah jika tidak bisa menikahkan cucu angkatnya secara resmi."


"Betul juga ... Abang pintar sekali. Tetapi Papi masih tidak habis pikir mengapa Abang mengabulkan permintaan Rani untuk menunda malam pertama?'


"Ada dua pertimbangan tentang itu, Papi. Yang pertama Abang tidak ingin Rani mengalami seperti yang di alami oleh Mami. Yang ke dua Abang berpikir pernikahan akan lebih bahagia jika akad nikah langsung di lakukan oleh wali kandung daripada wali hakim."


Ada rasa bangga di hati Mami Mitha dan Papi Alfarizi dengan keputusan putranya yang mengedepankan aqidah dan amanah. Tidak mengikuti hasrat hati yang membara demi kebahagian dan keinginan istri dan maminya. Putranya berhasil mengambil pelajaran dari pengalaman masa lalu yang mereka alami.


"Abang tidak memaksa Kakek, Mami. Kakek kemarin mengatakan sendiri jika ingin bertemu Mami, Beliau juga berniat tinggal antara dengan Mami atau Abang."


"Syukurlah kalau begitu. Apakah Kakek akan mengatakan akan ikut siapa setelah pernikahan kalian?"


"Kata Kakek akan memutuskan setelah bertemu dengan Mami."


"Baiklah ... di tunggu saja keputusan Kakek, tetapi kali ini sebaiknya jangan izinkan Kakek tinggal sendiri setelah Abang membawa istri Abang tinggal di rumah yang ada di Bogor."


"Oya Mami, Abang lupa cerita satu hal lagi," jawab Alfian teringat anak tiri Kakek yang tanpa sengaja bertemu di restoran langganan Mami Mitha.


"Masih ada yang belum Abang ceritakan apa itu?"


Alfian bercerita pertemuan Esih Suprihatin yang bekerja di restoran hampir satu tahun yang lalu. Tentang suami Esih dan istri ke dua Kakek yang sudah meninggal. Tentang penyesalan Bibi Esih dan memberikan sedikit untuk cucu tiri dari Kakek.

__ADS_1


"Bagaimana jika nanti Kakek memilih tinggal bersama anak tirinya, Mami?" tanya Papi Alfarizi.


Alfian yang yakin tentang Abah langsung menjawab keraguan Papi Alfarizi, "Tidak mungkin Papi, untuk kali ini Abang yakin Kakek akan tinggal bersama Abang atau Mami."


Mami Mitha termenung teringat saat Esih harus ikut menjalali hukuman ketika membuat keributan di rumah miliknya. Jika di perhatikan dari cerita saat itu adik tirinya adalah seorang yang tidak punya pendirian dan mudah di pengaruhi oleh orang lain. Dia selalu mengikuti gaya hidup dan selalu menuruti semua perintah ibunya.


"Bang, Mami punya usul, seandainya rumah Kakek yang ada di Bogor di tempati oleh anak tiri Kakek, Abang setuju tidak?"


"Ide bagus, Mami. Abang setuju sekali, nanti Abang bilang ke Kakek."


Abah datang dan mendengar percakapan antara putri dan cucunya dengan jelas. Yang awalnya ragu ingin ikut dengan siapa setelah pertemuannya dengan Mami Mitha. Kini sudah yakin dan sudah bisa mengambil keputusan yang akan di ambil.


"Kakek setuju juga."


"Eee Kakek, silahkan duduk!" Alfian menepuk sofa yang ada di sampingnya yang masih kosong.


Setelah duduk Abah langsung mengatakan rencana dan harapannya, "Kakek sudah memutuskan akan tinggal di sini, Abang."


Mami Mitha tersenyum dan mengangguk setuju sambil melirik Papi Alfarizi. Rasa bahagia mendengar keputusan ayah kandungnya yang selama ini di rindukan. Walau terlambat bisa berbakti dan merawatnya, setidaknya bisa berbagi kebahagiaan bersama keluarga.


"Alhamdulillah ... Abang sangat bahagia dan setuju dengan keputusan Kakek. Abang ingin Kakek dan Mami bisa bahagia."


"Apakah Kakek bisa meminta satu hal sebelum Kakek pindah ke sini?"


"Apapun permintaan Ayah, akan kami usahankan. Katakan apa itu?" tanya Papi Alfarizi.


"Malam ini juga Kakek minta Abang Alfian dan Neng Rani menikah secara resmi dengan wali ayah kandungnya."


"Kakek ...?"

__ADS_1


__ADS_2