
Alfarizi tersenyum setelah mendapatkan surprise di pagi hari. Selama ini di fokus untuk mebahagiakan istri, putra dan senjata onta arabnya sampai dia lupa kalau hari ini adalah hari lahirnya. Hari ini adalah tepat umurnya memasuki usia 40 tahun tanpa terasa.
"Terima kasih Alfian, Mami dan semuanya," jawab Alfarizi memeluk Afian dan Neng bersamaan.
Ucapan selamat bergantian di terima sambil di berikan hadiah oleh mereka. Yang paling pertama memberikan hadiah tentu saja Alfian, "Ini hadiah dari Al, Papi khusus dari uang tabungan Al sendiri." Alfian meberikan bungkusan kado kecil khusus untuk papinya.
"Terima kasih Al, boleh Papi buka?"
"Boleh dong, silahkan Papi buka."
Alfarizi membuka kado yang di bungkus rapi, ini kado pertama dari putranya. Ada jam tangan bermerk ada di dalam bungkusan kado kecil. Dia langsung memakainya di tangan kiri setelah melepas jam tangan miliknya.
"Bagus sekali, Al. Papi sangat menyukainya. Terima kasih Nak."
"Sama-sama Papi."
"Al pintar memilih jam tangannya, siapa yang bantu?"
"Auntie Isya pesan jam tangan itu lewat online, tetapi ingat lo Papi, belinya pakai uang tabungan Al sendiri!"
"Iya Papi ngerti, nanti Papi ganti isi tabungan Al mau berapa kali lipat?"
Neng yang mendengar perkataan Alfarizi mulai menggelengkan kepalanya. Takutnya dia akan seperti biasanya memberikan dengan jumlah yang berlebihan. Selama ini Neng selalu menanamkan kedisiplinan kepada putranya tentang menabung dan membelanjakan sesuaai kebutuhan.
"Papi jangan mulai lagi, kebiasaannya belum juga hilang ya!"
"Iya Mami, maaf. hadiah dari Mami mana?"
"Mami memberikan ini saja hadiahnya ya."
__ADS_1
Neng mencium pipi kanan dan kiri Alfarizi dengan lembut. Masih merahasiakan hadiah yang di belinya satu bulan yang lalu. Sebelum turun tadi hadiah itu diletakkannya di samping ponsel miliknya yang tertinggal di kamar.
"Terima kasih Honey. ini sudah cukup buat Papi. terima kasih sudah hadir di hidup Papi, kebahagiaan terbesar Papi adalah Mami dan putra putri kita, I love you," bisik Alfarizi memeluk Neng dengan mesra.
"Love you too, Papi."
Di lanjutkan sarapan bersama dan berbincang dengan akrab. Mendapatkan kado dari ke dua orang tua, adik sampai teman dan karyawan. Tidak lupa menikmati kue ulang tahun yang di buat oleh Lilis dan Bibi Tinah di ruang keluarga.
Saat Neng sedang bercanda di ruang keluarga bersama putranya, Alfarizi teringat ponselnya ketinggalan di kamar. Dia langsung naik tangga dengan langkah panjang menuju kamar. Saat ingin mengambil ponselnya ada kado kecil di samping ponselnya membuatnya tersenyum.
Alfarizi langsung bergegas membuka kado itu sambil bergumam lirih, "Mami memang penuh kejutan hari ini, terima kasih kadonya Papi buka ya!"
Ada sepasang kalung dengan liontin berbentuk hati dan ada foto Neng dan Alfarizi di dalamnya. Ada sepasang cincin yang terbuat dari emas putih dengan tulisan inisial AM. dan ada juga dompet kulit asli yang sudah diisi foto Neng saat hamil Alfian, dan foto Neng sambil memeluk Alfian saat berumur dua bulan.
Yang lebih membuat Alfarizi bahagia ada tulisan di bawah foto Neng yang sedang hamil Alfian, "Aku mencintaimu sejak dia ada dalam kandunganku."'
Berkali-kali Alfarizi mencium foto Neng masih terlihat muda dan perut membuncit. Walaupun bibirnya tersenyum air matanya menetes, pernyataan cinta yang tidak biasa itu sangatlah menyentuh hatinya yang paling dalam. Baru menyadari depresi yang di hadapinya selama ini kemungkinan karena rasa cinta yang tak pernah di ungkapnya kepada siapapun.
Hadiah sederhana tetapi berhasil membuat Alfarizi seolah mendapatkan harta karun yang sangat berharga. Sungguh Alfarizi tidak pernah menyangka jika istrinya sangat mencintainya. Rasanya hampir tidak percaya ternyata istrinya sangat pandai menyembunyikan perasaannya.
Menyimpan dompet, cincin dan kalung itu di kantong celananya berlari keluar kamar mendekati istrinya yang ada di ruang keluarga. Duduk di sampingnya dan langsung memeluknya dari samping, "Terima kasih hadiah khususnya, Papi sangat bahagia, Papi sangat menyukainya," bisiknya di telinga Neng.
Neng melihat mata Alfarizi yang berkaca-kaca, dia bisa merasakan haru dan bahagia yang ada di hati suaminya. Neng hanya mengusap pipi suaminya dengan lembut tanpa kata. Tak perlu di ucapkan sudah bisa merasakan betapa bahagiannya dia saat ini.
Neng merasa lega setelah Alfarizi mengetahui kebenaran hatinya yang bertahun-tahun di pendamnya. Rasa cinta yang dulu di pendamnya kini di ungkapkan setelah sekian lama pernikahan. Semoga setelah ini akan semakin terbuka dan bisa mengungkapkan tanpa harus di pendamnya.
Pukul sepuluh pagi Alfarizi mengajak Neng berziarah ke makam ibu kandung Neng. Hanya Abi Ali dan Umi Anna yang ikut berziarah di dampingi Junaidi dan Lilis. Masuk dalam area pemakaman bersama setelah mobil di parkir di depan pintu pemakaman umum.
Neng tertegun dan bingung setelah sampai di depan nisan milik ibunya. Ada bunga yang masih segar di sebarkan di atas makam itu. Kemungkinan baru satu jam yang lalu ada orang yang mengunjungi makam ibunya.
__ADS_1
"Papi ...?" Neng hanya mampu memanggil suaminya tanpa bisa melanjutkan ucapannya.
"Sabar Honey, ayo kita duduk dan berdoa terlebih dahulu." Alfarizi menuntun Neng duduk di samping makam diikuti oleh Umi Anna dan Abi Ali.
"Abi ayo pimpin do'a!" perintah Umi Anna.
"Baikalah."
Menundukkan kepalanya berdoa kepada yang maha kuasa untuk ibu, Neng dengan khusuk mengikuti doa Abi Ali yang fasih. Sampai doa selesai Neng masih bingung dan bertanya-tanya siapa yang telah mengunjungi makam ibunya. Selama ini Neng tidak pernah tahu keluarga ibu atau ayah yang memang tidak tinggal satu desa.
Setelah selesai berdo'a, Umi Anna juga bertanya, "Siapa yang baru saja mengunjungi makam ibumu Nak MItha?"
"Tidak tahu Umi, aku juga bingung ini,"
"Coba tanyakan kepada penjaga makam saja, siapa tahu dia mengetahui siapa yang baru saja datang ke sini!" perintah Abi Ali kepada Alfarizi.
"Betul juga, Jun ... kamu tahu di mana penjaga makam sekarang ini, bisa kamu panggil ke sini sekarang?"
"Ya Tuan, sebentar saya panggilkan."
Junaidi berlari ke makam bagian belakang menuju rumah penjaga makam. Sambil berjalan dia hanya teringat dengan Ayah Asep yang selama ini belum tahu keberadaannya. Sudah hampir tiga bulan terakhir ini diam-diam mencari keberadaannya tetapi belum pernah menemukannya.
Dalam sepuluh menit Juaidi datang bersama penjaga makam mendekati keluarga majikannya, "Tuan, perkenalkan dia penjaga makam di sini."
"Selamat pagi, Pak. Apakah Anda tahu siapa yang baru saja berkunjung di makam Ibu kami?" tanya Alfarizi.
BERSAMBUNG
*******
__ADS_1
ayo mampir novel teman, rekomen banget lo