Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Barang Rongsokan


__ADS_3

Julio dan Alfian menghentikan langkahnya setelah mendengar teriakan Karjo. Alfian kembali berbalik badan, berjalan dangan langkah panjang mendekati dua sopir yang tersenyum mengejek. Mereka menebak tidak mungkin bisa menyediakan uang 100 juta cesh.


"Baiklah kalian tunggu di sini, tidak sampai setengah jam uangnya sampai di hadapan kalian!" Alfian berkata dengan penuh keyakinan.


"Ya ... jika uangnya terlambat datang sebaiknya tinggalkan Neng Rani," ejek Karjo dengan percaya diri.


"Dasar bod*h kalian, tidak tahu siapa sebenarnya Tuanku, sebentar lagi kalian akan tahu saat uang itu aku lemparkan ke wajah kalian," jawab Julio ikut kesal.


Abah sampai membelalakkan matanya mendengar ucapan dan amarah Alfian dan Julio. Takut pernikahan sirri yang akan di lakukan sebentar lagi gagal. Uang ganti rugi yang di minta terlalu besar dan mendadak membuatnya khawatir.


"Abang ... mengapa harus menuruti permintaan mereka?" tanya Abah dengan khawatir.


Alfian tersenyum menyeringai sambil melirik Karjo. Mungkin Karjo belum tahu siapa sebenarnya dirinya dan bisnis papi maminya. Ibarat kata hanya menjentikkan tangannya uang berpuluh kali lipat 100 juta akan ada di hadapannya.


"Kakek jangan khawatir, sebaiknya temani tamu dan lihat apakah Rania sudah selesai di rias. Dua sopir itu biar Abang dan Julio yang mengatasi!"


"Baiklah, Kakek percaya pada kalian. Kakek masuk dulu."


Setelah Abah masuk rumah, Alfian langsung menghubungi seseorang menggunakan ponselnya, "Antar uang 100 juta sekarang juga dan aku beri waktu seperempat jam sudah harus sampai di sini, Aku share loc alamatnya!"


Alfian langsung menekan tombol merah tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya. Mengirim share loc dengan cepat agar masalah cepat selesai. Hanya melirik dua orang sopir yang masih tersenyum seolah mereka yakin dirinya tidak bisa mengganti rugi uang 100 juta yang mereka minta.


hanya berjarak 1,5 kilometer dari kediaman Kakek ada bank swasta cabang yang sangat terkenal. Sebagian besar saham dari bank itu adalah milik Papi Alfarizi dan baru satu minggu yang lalu pengelolaannya di serahkan kepada Alfian. Hanya dengan menghubungi direktur bank itu semua akan teratasi permasalahan saat ini.


Hanya dalam waktu sepuluh menit mobil berlogo bank dan direktur sendiri datang bersama asisten dan sopir membawa paper bag berisi uang 100 juta. Julio mengambil uang itu dengan cepat, "Terima kasih Pak, uang cesh ini sudah Tuan Al ganti lewat tranfer online, jadi tidak perlu masuk di pembukuan laporan."


"Ya Asisten Julio, senang bisa membantu. Tuan Al, kami permisi dulu."


"Ya Pak terima kasih."

__ADS_1


Julio langsung mendekati Alfian sambil membuka paper bag, "Silahkan Tuan!"


Karena kesal dan emosi yang memuncak Alfian mengambil segebok uang dan melemparkannya di hadapan Karjo, "Silahkan ambil uang yang kamu inginkan, setelah itu enyah dari sini!"


Karjo terpaku setelah uang itu berhamburan jatuh di hadapannya. Tanpa berani menjawab atau mengambil uang yang berhamburan. Tidak menyangka jika orang yang mengaku suami Rania bisa mendapatkan uang 100 juta dengan mudah.


"Sekarang kalian tahu siapa yang kalian hadapi, ini silahkan ambil semua uangnya dan enyah dari sini!" teriak Julio sambil ikut melemparkan uang ke hadapan mereka.


"Dan satu lagi bawa barang-barang kalian dari sini, aku tidak butuh barang rongsokan kalian!" teriak Alfian lagi.


"Barang rongsokan ...?" Karjo semakin terpaku ternyata orang dia hadapi adalah bukan orang sembarangan.


"Tuan, sebaiknya Anda masuk saja, biar saya yang menangani dua orang yang tidak tahu malu ini!" perintah Julio.


"Baiklah kamu tangani mereka, jika mereka masih tidak enyah dari sini dalam lima menit, hubungi polisi saja dengan tuduhan pemerasan dan mengganggu ketertiban umum."


"siap Tuan."


Julio melihat sopir dan kernet yang mulai bingung harus berbuat apa. Mereka hanya menunggu perintah dua sopir yang telah menyewanya untuk mengangkut barang yang di beli oleh sopir angkot. Julio mendekati sopir itu dan berteriak, "Pir ... bawa barang dan truknya keluar dari halaman rumah bosku sebelum aku laporkan ke polisi!"


"Siap Bos ...."


Sopir dan kernet truk naik dan duduk di kemudi truk, bersiap keluar halaman rumah Abah. Julio mendekati dua sopir yang masih berdiri terpaku dan bingung apa yang harus di lakukan. Membuat Julio semakin naik pitam, "Kalian ini benar-benar tidak tahu bahasa manusia, Cepat ambil uang kalian dan pergi dari sini!" teriak Julio dengan kesal.


"Uangnya hamburan bagaimana kita bawanya?" bisik teman Karjo.


"Bod*h ... ambil dan masukkan ke angkot sekarang, tidak perlu di rapikan nanti saja setelah keluar dari sini baru kalian rapikan, cepatlah!"


Karjo dan temannya mengambil uang yang berhamburan di lantai dan di lemparkan di jok angkot bagian depan samping kemudi. Mereka harus berkali-kali bolak balik meraup uang dan melemparkan di jok mobil. Untungnya tidak ada yang melihat kejadian itu kecuali sopir truk dan kernetnya.

__ADS_1


Julio masih memperhatikan ke dua sopir yang sibuk meraup uang ratusan ribu yang berserakan di lantai halaman rumah Abah. Wajahnya yang serius dan terlihat memerah karena marah membuat dua sopir itu ciut nyalinya. Mereka memunguti uang dengan cepas sambil sesekali melirik Julio.


Awalnya truk meninggalkan halaman rumah setelah mendapatkan kode dari Karjo. Karjo dan temannya juga langsung tanjap gas meninggalkan halaman rumah setelah selesai memunguti uang yang berhamburan di lantai.


Julio bernapas lega setelah mereka meninggalkan kediaman rumah Abah. Satu masalah yang muncul sudah bisa teratasi walau di ikuti drama yang menguras emosi. Bergegas bergabung dengan Alfian dan para tamu di ruang tamu.


Julio duduk di samping Afian sambil melihat seluruh ruangan, "Bang, mengapa pengantin wanita belum ada?"


"Kata Kakek sebentar lagi."


"Berarti Nona tidak tahu keributan yang terjadi di halaman rumah tadi?"


"Tidak ...."


"Syukurah gue ikut lega."


"Apakah dua sopir itu sudah pergi?"


"Sudah Bang, mereka sudah pergi semua."


Abah berdiri setelah melihat cucu angkatnya keluar dari kamar diapit oleh dua perias. Berjalan mendekati Alfian yang terlebih dulu duduk di sofa untuk pengantin pria.


Alfian menatap Rania yang berjalan sambil menunduk mendekatinya. Gadis lugu yang awalnya terlihat tomboi dan jarang berdandan kini terlihat cantik. Padahal perias hanya merias pengantin dengan riasan minimalis dan sederhana.


Wajah Rania yang terlihat bersinar dan anggun sekilas memang seperti gaya Mami Mitha saat berdandan. Terlihat cantik alami membuat Alfian memandangi wajah Rania tanpa berkedip. Seolah wajah itu menghinoptis hati dan pikirannya.


Dari kemarin Rania yang selalu memandang wajah suami halu sampai terpana. Kini gantian Alfian-lah yang terlena karena kecantikan calon istrinya, "Tuan, jangan pandangi Rani separti itu, Rani malu tahu, cepat menghadap sana!" Rania berbisik di telinga Alfian.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Sambil menunggu up dari AST, jangan lupa mampir di novel teman yang rekomen ini ya, di Noveltoon juga lo!



__ADS_2