Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Ke Bandung


__ADS_3

Malam ini hampir tengah malam Alfarizi berhasil mengajak senjata onta arab bergoyang dua ronde langsung tanpa ada rintangan. Baby Elfa sedang anteng tidur terlelap di kamar miliknya. Rasa rindu yang teramat sangat kini sudah terobati dengan perasaan yang bahagia.


Sesaat setelah tumbang selasai mencapai puncaknya, Alfarizi memeluk dan menciumi seluruh wajah Neng, "Terima kasih, Mami memang yang terbaik."


Sambil tertawa geli karena wajah di cium oleh Alfarizi, Neng menganggukkan kepalanya. Rasa lega bisa menghilangkan kegelisahan suaminya yang menahan rasa selama nifas. Tidak di pungkiri dirinya juga merindukan sentuhan Alfarizi yang membuatnya melayang dan bahagia.


"Mami ...!"


"Apalagi Papi, jangan bilang minta tambah ya, karena sebentar lagi jadwalnya baby Elfa minta ASI."


"He he he, mau sih tapi tidak sekarang. Papi mau ngomong tentang Ayah Asep."


"Ada apa dengan Ayah, apakah beliau membuat kesalahan lagi?"


"Tiidak Honey, tadi sore Encang bicara sama Papi. Begini ceritanya."


Alfarizi bercerita tentang maksud dan tujuan Encang Ginanjar datang diantar oleh Junaidi. Keadaan Ayah Asep yang mengalami imsomnia berkelanjutan membuat Encang Ginanjar khawatir. Hanya sayangnya gengsi dan rasa bersalah yang besar membuat ayahnya tidak berani menemuinya.


Setelah Alfarizi menceritakan tetang Ayah Asep, Neng hanya melamun dan mengingat ayahnya. Semua sudah berlalu, sudah lama Neng menghilangkan rasa sakit hati dan kecewa terhadap ayahnya. Semua manusia tidak ada yang sempura, sudah saatnya kini mengikhlaskan agar hati lebih tenang dan bahagia.


Jika memang di pikir Ayah Asep sangat kejam saat itu tega menikahkan dirinya dengan paksa hanya karena tergiur uang yang sangat banyak. Hanya saja saat ini orang yang menikahi sirilah yang menjadi jodohnya. Kini sudah saatnya saling memaafkan dan tidak ada lagi sakit hati ataupun dendam.


Neng sangat menyadari, walau bagaimanapun juga orang tua tetaplah orang tua. Seorang anak wajib menghormati orang tua dan harus merawatnya saat beliau sudah tua. Saat ini memang seharusnya tidak menghindar lagi dan mengalah untuk lebih dahulu menemui Ayah Asep.


"Bagaimana Honey, apakah mau Papi ajak bertemu dengan ayah Asep?"


"Kapan Papi?"


"Nanti Papi bicara lagi sama Encang Ginanjar."

__ADS_1


"Terserah Papi saja, Papi yang atur nanti Mami tinggal ngikut."


"Ok, sudah saatnya kita ikhlas dan tidak dendam lagi, Honey. Semua tidak sepenuhnya salah Ayah, Papi juga ikut andil dalam kisah kita saat itu, tetapi saat ini justru Papi sangat bersyukur." Alfarizi mulai mengeluarkan rayuannya tanpa Neng sadari.


"Mengapa Papi bersyukur?"


"Saat ini Papi hidup bahagia dengan belahan jiwa yang sangat Papi cintai. Walaupun jalan dan cara bertemu kita salah tetapi saat ini Papi sangat beruntung memiliki Mami, terima kasih sudah hadir di hidup Papi dan memberikan Papi keturunan yang dulu hampir tidak mungkin di pikiran Papi, I love you so much." Kembali Alfarizi mulai melakukan aksinya unuk mengajaknya bergoyang dengan senjata onta arab.


Ada suara tangisan yang sangat keras terdengar di kamar baby Elfa, "Papi tugas negara memanggil. sana ambil baby Elfa ke sini sudah waktunya dia minum ASI!"


Alfarizi tidak jadi melanjutkan aksinya untuk ronde ke tiga. Mengambil baju yang tadi berserakan di lantai, memakainya dengan cepat. Berlari menuju kamar baby Elfa sambil berkata, "Iya Nak, Papi datang hauskah?"


Menggendong putrinya setelah memastikan popok tidak basah dan membawanya ke kamar, "Mami, El haus mau minum ASI."


"Haus ya , kasihan sini di samping Mami!"


Neng memberikan ASI saat Alfarizi membersihkan badannya di kamar mandi. Keluar daria kamar mandi bertepatan baby Elfa selesai minum ASI dia kembali terlelap, "Papi yang memindahkan baby Elfa, Mami ke kamar mandi setelah itu beristirahatlah!"


Pagi harinya Alfarizi melarang Encang Ginanjar untuk pulang. Dia berencana dua hari lagi yaitu hari Sabtu pagi mereka berangkat ke Bandung. Karena Alfian ingin berwisata Trans Studio Bandung untuk bermain salju.


Satu hari sebelum hari H, Alfarizi memanggil Lilis dan putranya Julio. Bibi Tinah dan suaminya serta seluruh keluarga Dokter Harry untuk di ajak ke Bandung. Terutama putra mereka bisa menemani Alfian bermain salju saat Neng bertemu dengan ayahnya.


Dokter Harry datang sore hari sambil mengajak dua baby sister yang akan di seleksi untuk mengasuh baby Elfa. Saat mereka datang Neng hanya memperhatikan dua baby sister itu dari dapur sambil menggendong putrinya. Satu orang masih sangat muda dengan berpakaina seksi dan yang satu lagi berhijab dan umurnya lebih dari 30 tahun.


Mereka berdua memiliki sertifikat pendidikan yang di rekomendasikan oleh rumah sakit di mana Dokter Harry bekerja. Alfarizi hanya memperhatikan sambil duduk menumpuk kakinya sambil memutar polpen. Yang mewawancarai adalah Kak Rianti dan Ibu Ani.


Setelah selasai wawancara Alfarizi memanggil istrinya, "Mami ... kemarilah!"


"Ya Papi apakah Papi sudah memutuskan siapa yang di terima?"

__ADS_1


"Belum , Mami duduk sini!" perintah Alfarizi menepuk sofa kosong yang ada di sebelahnya.


"Hhmm ...."


"Kamu saja Mitha yamg memutuskan, atau ada lagi yang ingin di tanyakan?" tanya Dokter Harry.


"Tidak Bang, biar Papi saja yang memutuskan," jawab Neng dengan tegas.


"Coba kalian gendong baby Elfa bergantian!" perintah Alfarizi.


"Baik Tuan," jawab ke dua Baby Suster itu bersamaaan.


Yang pertama menggendong adalah baby sister yang muda, Dia dengan cekatan dan terampil menggendong tetapi baby Elfa langsung menangis. Neng menggelengkan kepalanya dengan wajah yang datar.


Bergantian baby sister yang umurnya lebih tua, baby Elfa langsung di letakkan menghadap ke badannya. Smpil di peluk dan di tepuk punggungnya dengan lembut. Baby Elfa terlihat nyaman dalam gendongan baby sister itu. Bahkan tangannya mulai memainkan hijab yang di kenakan. Neng mengangguk dan tersenyum melihat putrinya terliat nyaman.


"Ok, kamu yang akan bekerja sebagai baby sister, siapa nama kamu?" tanya Alfarizi.


"Terima kasih Tuan. Nama saya Siti."


"Bibi Siti biasanya dia di panggil saat di rumah sakit." Rianti ikut memberikan keterangan.


"Bibi Siti, nanti ikut Ibu untuk di tunjukkan kamar yang akan dipakai selama bekerja di sini," kata Neng.


"Ya Nyonya, terima kasih."


Hari Sabtu pagi rombongan bertolak dari bandara Sukarno Hatta menuju bandara Husain Sastranegara Bandung. Alfarizi sengaja menyewa dan menginap di resort yang ada di dekat tempat wisata yang Alfian tuju. Beristirahat sampai siang dan menikmati akan siang bersama.


Dari mulai berangkat tadi pagi, Neng banyak diam dan sering melamun saat tidak berada di dekat Alfarizi. pikirannya tidak menentu, antara bahagia dan cemas menjadi satu. Padahal dari dulu sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan ayahnya, tetapi saat tiba waktunya kini dia mulai gelisah dan berkeringat dingin.

__ADS_1


Alfarizi datang mendekati Neng dan duduk di sampingnya. Langsung ingin mengecupnya saat mereka ada di kamar resort, "Lo Mami, mengapa badannya dingin begini, apakah Mami sakit, ayo kita ke rumah sakit saja tidak jadi bertemu Ayah?"


__ADS_2