Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Makam Ibu


__ADS_3

"Mami baik-baik saja Papi, hanya teringat masa lalu saja tunggu dulu Mami masih menguatkan hati, tolong peluk Mami agar kuat!"


Kembali Alfarizi memeluk Neng, memberikan energi positif, dukungan dan kekuatan. Neng mengambil napas pajang dan menghembuskannya perlahan dalam pelukan Alfarizi. Berangsur-angsur hatinya bisa menerima dengan ikhlas.


Semua harus dihadapi, harus dilalui tidak dihindari agar semakin bisa mengerti makna hidup yang sesungguhnya. Hidup adalah perjuangan dan pengabdian untuk keluarga sesama dan yang maha kuasa. Semoga setelah ini akan bisa menghadapi dan bertemu dengan ayah gumam Neng dalam dekapan suaminya.


"Sudah Pi, Mami baik-baik saja. Ada siapa di sini Mami haus apakah ada teh hangat?"


Junaidi dan Lilis yang dari tadi berdiri di dapur mengawasi bosnya yng sedang berpelukan mengatasi gejolak hati. Lilis langsung mempersiapkan teh hangat yang diinginkah sahabat sekaligus istri dari bosnya. Tidak kurang dari lima menit, dua gelas teh hangat sudah tersedia di meja.


"Tuan, ini teh hangatnya?"


"Terima kasih, kemana Bibi mengapa kamu yang buat teh?" tanya Alfarizi kepada Lilis.


"Bibi sedang belanja sebentar lagi mungkin datang."


"Terima kasih Lilis." Neng mengangguk dan tersenyum.


Alfian turun dari lantai atas sambil memperhatikan keadaan villa yang baru saja di ketahuinya, "Papi ... Mami, mengapa Al sudah ada di kamar?"


"Al tadi pules banget tidurnya Papi tidak tega banguninnya."


"Jadi dulu Mami tinggalnya di sini?"


Neng hanya tersenyum dan mengangguk lagi, mencoba untuk bersikap sewajar mungkin agar putranya tidak khawatir. Di kelilingi orang yang sangat menyayangi dan mencintai ternyata sangat berpengaruh besar dalam menghadapi kenyataan hidup. Rasa syukur dan lega kini mulai dirasakan di dalam hati.


"Mau makan dulu atau langsung berkunjung ke makam, Mami?"


"Makan aja dulu Papi, Al lapar!"


"Ikut Al saja Papi, ayo kita makan dulu, Mami juga lapar!"


Makan bersama di meja makan utama membuat Neng teringat saat dulu dia selalu bergabung dengan Bibi Minah di meja makan yang ada di belakang. Sambil menikmati hidangan di meja makan sesekali Neng melirik ke arah belakang. Teringat Almarhum Paman Tono yang dulu sering menasehatinya untuk tegar dan tabah.


Alfarizi duduk di saamping Neng sesekali mengusap pundaknya menggunakan tangan kiri walaupun tangannya menyuapkan makanan ke mulutnya. Mereka makan dengan lahap tanpa mengeluarkan suara sepatah katapun hanya sendok dan garpu yang berdenting karena saling beradu. Sampai habis menu makan yang ada di piring masing-masing.

__ADS_1


Setelah beristirahat sejenak dan berganti baju mereka menuju pemakaman Ibu yang tidak jauh dari villa. Mereka hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk tiba di sana. Langsung masuk ke pemakaman mengikuti Junaidi dan Lilis yang berjalan di depan.


Neng langsung bersimbuh dan berdoa di pusaran ibunya, yang dulu hanya di tandai dengan dua kayu yang ada di ke dua ujung makam itu. Sekarang sudah terlihat rapi ada juga nama ibu yang tersemat di ujung makam. Berdoa dengan khusyuk dan meminta maaf karena tidak pernah bisa berkunjung membuaat Neng kembali terisak.


"Mami, jangan menangis nanti Al juga ikut menangis, Enin sudah bahagia di sana!" Alfian memeluk Neng dengan erat.


"Maaf Nak, Mami jadi baper ya?" jawab Neng tersenyum sambil mengusaap air maatanya.


"Semoga Enin husnul khotimah, Papi juga akan selalu berdoa untuk Enin."


"Aamiin Yarobbal Alamiin." jawab mereka serentak.


Malam harinya setelah Neng menemani Alfian tidur di kamarnya, dia tidak langsung ke kamaarnya sendiri. Dia berkeliling di belakang villa yang dulu jarang di kunjunginya. Ada kursi kayu panjang di tengah taman kecil yang di terangi cahaya lampu dan sinar rembulan yang terlihat syadu. Ada kolam ikan kecil yang ada di samping bangku kayu yang airnya terkadang terlihat bercahaya saat ikan yang ada di dalamnya berenang mengelilingi kolam.


Duduk termenung sambil menikmati sejuknya udara pegunungan yang masih asri terasa menyejukkan hati. Sekarang ini hatinya mulai terisi dengan kebahagiaan yang haqiqi. Sedikit demi sedikit hatinya mulai bisa menerima semua masa lalu yang kelam sebagai pelajaran hidup yang berharga.


Alfarizi yang menunggu lama di kamar dengan harap-harap cemas akhirnya memutuskan untuk menyusul istrinya di kamar putranya. Membuka perlahan ternyata lampu kamar terlihat redup dan Alfian sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Menutupnya kembali pintu kamar Alfian, turun dari latai atas mencari di lantai bawah baik di dapur atau di ruang keluarga.


"Tuan sedang mencari Nyonya?" tanya Bibi mengagetkan Alfarizi.


"Beliau ada di kursi taman dekat kolam ikan yang ada di belakang viila, Tuan."


"Terima kasih, Bibi."


Alfarizi langsung berlari ke belakang villa. Hatinya serasa bergemuruh takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Seolah dia sedang naik roller coaster jantungnya terasa berpaju dengan cepat karena sangat mengkhawatirkannya.


Setelah melihat Neng baik-baik saja rasa lega di rasakan di hati Alfarizi, langsung duduk di sampingnya, "Honey ...."


"Eee Papi, bikin kaget aja sih, Mami kirain sudah tidur."


"Mana bisa Papi tidur sendirian, tega banget sih!"


"Aaah Papi gombal aja, kata Papi harus menciptakan suasana yang baru sekarang, tidak boleh mengenang masa dulu, ini Mami sedang menikmati indahnya malam yang tenang di sini."


"Harusnya berdua dong, Honey." Alfarizi mendekati Neng dan memeluknya dari samping.

__ADS_1


"Maaf Mami kira Papi sudah tidur."


"Mi ...Mami!"


"Hhhmm."


"Masuk yuk, dingin di sini!"


"Sebentar naaah Papi, Mami lagi menikmati indahnya malam yang sepi seperti ini, lama sudah tidak pernah menikmati suasana sepi begini."


"Baiklah, Papi tunggu satu jam ya, atau sebaiknya kita ciptakan suasana barunya berawal dari sini ya?" tanya Alfarizi tangannya mulai menyelinap ke balik baju.


"Tidak boleh Papi, ngawur aja, ada Bibi dan suaminya di sana tuuuh lihat!" Neng memukul tangan Alfarizi sambil menggerakkan kepalanya untuk menunjuk Bibi dan suaminya yang sedang duduk kursi yang ada di teras dapur sambil menikmati kopi panas.


"He he he cuma menyapa sedikit aja tidak boleh, tega banget sih."


"Malu atuuuh Papi!"


"Mi, nanti malam Mami yang memimpin ya?"


"Memimpin apa, Papi mau meeting dengan siapa?"


"Meeting dengan sarungnya senjata onta arab, katanya Mami mau menciptakan suasana dan memori yang indah, jadi nanti malam senjata onta arab hanya akan mengikuti nada iramanya sarung cantik."


"TIdak aaaah, sarung cantik tidak bernada, dia tidak bisa bergoyang."


"Nanti Papi ajarin jangan khawatir."


Sedang asyik berbincang dengan suasana yang syadu membuat senjata onta arab mulai mengajak bergoyang. Bibi datang sambil berjalan dengan langkah panjang dengan wajah yang khawatir, "Maaf Tuan, di luar gerbang ada dua orang laki-laki yang ingin bertemu Nyonya."


Neng dan Alfarizi sambil memandang sesaat pikirannya kembali teringat Ayah Asep yang pernah berkuntung ke villa, "Bibi tahu siapa yang datang?"


"Yang satu Pak RT, tetapi yang satu lagi laki-laki tua saya tidak mengenalnya, katanya tadi pagi Beliau ke Bekasi, dan sekarang menyusul ke sini"


"Laki-laki tua ...?"

__ADS_1


__ADS_2