Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Teruskan Mimpinya!


__ADS_3

Umi Anna yang mendengar pembicaraan mereka langsung menjawab pertanyaan Neng dan Alfian sambil membawa bubur, "Auntie Isya kemarin bercerita sama Oma, Al akan memiliki adik bayi sebentar lagi, semoga Mami juga menyusul memberikan adik untuk Al."


"Oma adiknya Auntie cewek atau cowok?"


"Oma juga belum tahu, niich sekarang makan buburnya dulu minum obat biar cepat sembuh, ok!"


"Ya Oma terima kasih, Mami Al maunya di suapi!"


Neng tersenyum dan mengangguk, langsung mengambil bubur hangat yang ada di meja. Menyuapi Alfian dengan telaten, Minum obat setelah selesai makan dengan menggunakan air putih. Kemudian Al tertidur dengan lelap setelah minum obat.


"Apakah kita harus menemani Al sampai pagi, Mami?" bisik Alfarizi saat Neng mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur dan menylimuti putranya.


"Tidak usah Papi, ayo kita tinggal aja, kalau dia sudah tidur berarti dia sudah merasa enakan, jika dia masih sakit pasti tidak akan bisa tidur dan selalu membuat drama dengan permintaan yang aneh-aneh."


"Apa contohnya drama yang aneh-aneh itu?"


"Dulu waktu dia terkena demam berdarah, setiap hari selalu menghubungi Pakde Sarto saat mau tidur, kadang para pegawai konfeksi harus datang bergantian ke rumah sakit untuk menemaninya saat Mami ada pekerjaan penting."


Alfarizi hanya mengangguk sambil termenung. Akibat tidak ada dirinya Alfian selalu mencari sosok ayah dalam lingkungan keluarga yang dekat dengannya, "Maaf ya Mi, pasti dulu berat banget tanpa ada Papi mengasuh Alfian sendiri."


"Jangan mulai mengungkit masa lalu semua sudah tertinggal di belakang, ayo kita tidur!"


"Iya Mami, maaf aku baper."


Sampai di kamar Neng langsung masuk kamar mandi, Alfarizi hanya menunggunya sambil tiduran dan membuka ponsel membaca pesan WA dari Surya tentang jadwal dan tempat-tempat destinasi wisata yang akan di kunjungi saat bulan madu nanti. Neng keluar kamar mandi, duduk di kursi meja rias untuk membersihkan wajahnya dari makeup. Alfarizi langsung menutup ponselnya setelah melihat Neng datang, jadwalnya masih di rahasiakan darinya, untuk surprise saat berangkat nanti.


"Mami, saat packing nanti jangan lupa baju hangat dan baju muslimnya ya!"


"Ya Papi, apa lagi selain itu yang harus Mami persiapkan?"


"Tidak ada sih Mi, kesehatan Mami aja yang penting, vitamin kalau perlu minum jamu seperti yang di berikan Kang Sarto saat itu juga boleh!"


"Papi aja tidak mau minum itu kemarin, mengapa Mami yang harus minum?"

__ADS_1


"Kalau Papi tidak harus minum itu sudah selalu on terus, Mami tidak percaya kemarilah akan Papi buktikan!"


"Mulai deh modusnya, tidak usah alasan ...!"


"Mami tahu aja, sudah selesai belum membersihkan mukanya?"


"Belum, masih lima jam lagi!"


"Eee sengaja ya ...."


Alfarizi langsung turun dari tempat tidur berjalan mendekati Neng, sesaat kemudian Neng sudah melayang karena langsung di gendong bridal dan di serang dengan ciuman yang bergairah sambil berjalan kembali ke tempat tidur, "Mau Papi buktikan dengan berapa ronde?" tanya Alfarizi setelah puas mengabsen seluruh rongga mulutnya dan melepaskan tautan itu.


"Ampun Pi, tidak perlu di buktikan Mami tahu." jawab Neng setelah mengambil oksigen yang hampir habis karena ciuman Alfarizi yang sangat menggairahkan.


Selesai bercinta pada ronde ke dua malam itu, waktu baru menujukkan pukul satu malam, dan belum sempat mengenakan baju sama sekali pintu kamar Neng di ketuk dari luar, " Tok ...tok ...tok!"


Alfariizi bergegas turun dari temat tidur hanya memakai celana pendek saja. Dia membukan pintu sambil bergumam sendiri pasti itu Alfian yang mengetuk pintu, "Ada apa Nak?" tanya Al sesaat setelah membuka pintu.


"Ee Abi, menganggu aja, ada apa?"


"Mengapa cuma pakai kolor aja lagi ngapain?"


"Abi kayak tidak tahu pengantin baru aja sih, nanti kalau di ceritakan Abi malah ngiri, Abi ada apa mengganggu ini baru jam satu malam?"


"Abi mau bicara dengan Al peting banget, apakah Nak Mitha sudah tidur?" tanya Abi Ali ingin melongok ke dalam kamar Alfarizi.


"Eiiit, di larang ngintip, nanti mata Papi timbilan, kita bicara di kantor saja!"


"Ok cepatlah!"


Alfarizi mencium kening Neng dan berpamitan keluar untuk membicarakan hal penting dengan abinya. Keluar kamar menyusul Abi Ali di kantor pribadinya dan duduk di sofa panjang. Sudah ada koper besar dan Umi Anna yang duduk di sana sambil menguap karena ngantuk.


"Mi, coba lihatlah putramu pakai kolor aja, mana terlihat menonjol lagi itu kolor!" celoteh Abi Ali bercanda agar Umi Anna tidak mengantuk.

__ADS_1


Benar saja Umi Anna langsung terbuka lebar melihat Alfarizi yang hanya memakai celana pendek, "Iiiih Umi, jangan melihat kolor Al juga dong, lihat aja tuuuh kolor Abi!" Alfian ikut bercanda.


"Kalian ini, masih jam satu bercanda aja." jawab Umi Anna kesal.


"Ada apa Abi, ini kok ada koper besar siapa yang mau pulang kampung?"


"Ada masalah di perusahaan yang ada di Riyadh Abi harus pulang sekarang!"


Alfarizi melirik jam dinding yang ada di atas pintu, "Ini baru jam satu malam mana ada pesawat yang terbang ke sana?"


"Maka itu Abi terpaksa menggedor pintu kamar kamu, padahal Abi tahu kamu sedang ngerjain istrimu, Abi mau pakai pesawat yang baru kamu beli kemarin, cepat hubungi pilot dan krunya sekarang!"


"Ok, Umi juga pulang sekarang?"


"Tidak, Umi nanti bareng kalian saja hari jum'at."


Lebih dari tengah malam akhirnya Alfarizi menghubungi Surya untuk mempersiapkan pesawat yang sudah stanbye di bandara. Setelah menunggu Surya menghubungi pilot, pramugari dan kru pesawat selama satu jam, akhirnya Abi Ali berangkat malam itu juga ke Arab Saudi. Alfarizi dan Umi Anna hanya mengantar Abi Ali sampai depan pintu gerbang setelah kru pesawat menjemput Abi Ali di rumah.


Pukul tiga dini hari Alfarizi baru selesai dengan pekerjaan mendadaknya, kembali masuk kamar melihat Neng yang sudah tertidur pulas dengan napas yang teratur. Dia membaringkan tubuhnya di samping Neng dan memeluknya dengan erat, sambil memejamkan matanya rasa kantuk mulai menyerang.


Neng yang terbangun saat alfarizi memeluknya dengan erat langsung membalasnya ikut memeluk Alfarizi dengan erat pula. Neng yang belum memakai sehelai benangpun di badannya tanpa sadar dua gunung kembar itu menempel sempurna di dada Alfarizi. Suara Neng juga terdengar mendesah manja di telinga Alfarizi kemungkinan Neng sedang bermimpi bercinta dengan suaminya.


Mata Alfarizi tetap terpejam karena mengantuk mulai menderanya. Kembali Neng mendesah dengan suara manja sembil tangannya menyenggol senjata onta arab. Spontan Alfarizi membuka mata dan memandangi wajah Neng yang masih terpejam dan kembali mendesah manja.


Sambil tersenyum devil Alfarizi membuka celananya dan menarik tangan Neng ke senjata onta arabnya yang sudah menegang, "Ayo Mi teruskan mimpinya, semoga kali ini Mami yang memimpin bergoyang!"



Ayo mampir dong, seru lo


gratis juga jangan khawatir, trims


Selalu jaga kesehatan I love you all

__ADS_1


__ADS_2