
Hari demi hari dilalui Neng dengan tenang setelah pulang dari Ngawi. Kegiatannya mulai terbatas karena semakin besar dan bertambah umur kehamilannya. Sebagian besar pekerjaannya sudah di kerjakan oleh Desi dan Mpok Atun.
Semakin hari Alfarizi juga semakin protektif pada istrinya. Dia selalu melarang saat Neng ingin mekakukan pekerjaan apapun. Selalu dilayani apapun keinginannya dan kemananpun tujuannya.
Seperti sore ini setelah tiga kali naik turun tangga Neng mengambil napas panjang karena rasanya sangat lelah dan menguras tenaga. Alfarizi yang baru saja pulang dari kantornya langsung menggendong bridal istrinya saat Neng baru sampai di anak tangga paling atas. Neng menjadi kaget dan menjerit saat tiba-tiba tubuhnya melayang dalam gendongan suaminya.
"Aaaah ... Papi!" teriak Neng sambil melingkarkan tangannya di lehernya.
"Sudah di bilang jangan terlalu capek, mengapa napasnya sampai ngos-gosan gini?"
"Mami cuma naik-turun tangga tiga kali, Papi."
Alfarizi tetap menggendongnya sampai tempat tidur dan membaringkan dia di tempat tidur. kemudian mencium bibirnya sekilas, "Hhhmm ... Papi bau asem, sana mandi dulu!" perintah Neng sambil mendorong Alfarizi.
"Apakah Mami sudah mandi?, bareng yok!"
Neng menggelengkan kepalnya sambil mengerutkan keningnya. Ketika Alfarizi mengajaknya mandi pasti akan berakhir mengajaknya bergoyang bersama senjata onta arab. Sekarang ini rasanya kakinya terasa pegal dan kaku juga dia tidak pernah bisa menolak jika suaminya selalu membuatnya melayang di atas awan.
"Papi mandi duluan sana, Mami capek rasanya kakinya kaku dan pegal."
"Apakah pegal sekali, sini Papi pijitin?"
"Papi mandi saja dulu sana!"
"Baiklah, Nak yang pintar ya jangan buat Mami capek ok!" Alfarizi mengusap dan mencium perut Neng dengan lembut.
Keesokan harinya setelah pulang dari rumah sakit memeriksakan kesehatan kehamilan Neng yang sudah berumur 34 minggu. Dalam perjalanan Alfarizi senyum-senyum sendiri sambil mengusap perut buncit Neng. Teringat ucapan Dokter Maria yang menyarankan harus sering menengok bayi dalam kandungan untuk membantu jalan keluar bayi nanti saat lahir.
Pasalnya semenjak beriringnya waktu dan membesarnya ukuran perut Neng, Alfarizi mengurangi kegiatan senjata onta arabnya bergoyang. Sekarang ini dia selalu tersenyum bisa kembali bergoyang setiap hari, "Papi, mengapa dari tadi senyum-senyum sendiri?"
"Papi sangat bahagia Mami."
__ADS_1
"Apa yang membuat Papi sebahagia ini?"
"Papi bisa menengok dia sesuka Papi seperti saran Dokter Maria tadi," jawab Alfarizi sambil mengusap perut Neng dengan lembut.
"Jangan sesuka Papi juga dong, nanti kalau Mami gempor gimana?"
"Ha ha ha tidak juga Honey, Papi tetap akan selalu menjaga Mami selalu sehat dan tidak kelelahan, kalau perlu nanti Papi buka sendiri, Papi modus sendiri, dimasukkan sendiri kalau sudah selesai di tutup sendiri."
"Iiiih, Papi aneh!"
Menunggu hari yang sangat membahagiakan buat Alfarizi, hampir setiap hari bisa mengajak senjata onta arabnya bergoyang. Menjadi suami super siaga bahkan sudah sekitar lima hari ini Alfarizi lebih memilih untuk bekerja di rumah. Sudah lima hari ini juga dia selalu belajar cara mengurus bayi melalui media sosial atau langsung belajar dengan Ibu Ani.
Pagi hari saat Alfarizi akan bangun tiba-tiba merasakan nyeri pinggangnya, padahal tadi malam dia hanya mengajak istrtinya bergoyang bersama senjata onta arabnya hanya satu ronde, "Aduuuh ... Mami!" rintih Alfarizi saat akan turun dari tempat tidur.
Neng yang masih berbaring di sampingnya dan belum memakai sehelai benangpun di badanya hanya membalikkan badannya memandangi suaminya yang sedang merintih, "Kenapa Papi, apanya yang sakit?"
"Pinggang Papi rasanya mau copot, aduuuuh!"
Neng langsung terduduk dan memeriksa pinggang suaminya yang hanya memakai celana pendek saja. Alfarizi matanya langsung melotot melihat istrinya yang polos sambil nyengir, "Mami, jangan mancing Papi ya, ini pinggang Papi lagi sakit mengapa di suguhi pemandangan yang memabukkan?"
"Tetap saja Mami, senjata onta arab Papi terbangun, eee hilang sakitnya Mami, coba di buka lagi siapa tahu itu menjadi obat mujarab yang ke dua buat Papi!"
"Aaa dasar modus, mana ada sakit pinggang obatnya melihat pemandangan indah," Neng menggerutu sambil memukul pinggangnya.
"Aaauw ... Mami, sakit lagi ...!" teriak Alfarizi dengan keras padahal Neng hanya memukulnya perlahan.
"Aduuuh mana lagi yang sakit Papi?" Spontan Neng memegang tangan Alfarizi dan selimut yang menutupi dua gunung kembarnya terjatuh dan terlihat lagi dengan jelas dua benda kenyal kesukaannya.
"Ha ha ha sudah hilang sakitnya karena sudah melihatnya," jawab Alfarizi sambil terkekeh sambil mencolek keduanya bergantian.
"Dasar gelo, awas Mami mau mandi!" Neng turun dari tempat tidur dan melenggang ke kamar mandi dengan melilitkan selimut di tubuhnya.
__ADS_1
Alfarizi hanya nyengir sebenarnya nyeri di pingganya belum juga hilang, terkadang tiba-tiba nyeri tetapi terkadang hilang begitu saja. Dia tidak ingin istrinya terlalu khawatir sehingga pura-pura tidak terjaadi apa-apa. Sampai sore hari rasa nyeri di pinggang Alfarizi selalu hilang dan muncul lagi.
Alfarizi sesekali meringis menahan nyeri yang teramat sangat saat dia kambuh dan muncul tiba-tiba. Nyeri itu datang dengan jarak waktu semakin sering, yang dari tapi pagi saat mau bangun tidur satu jam sekali. Sekarang ini saat sore hari hampir seperempat jam sekali tiba-tiba rasa nyeri itu terasa dan menghilang.
Alfarizi bercerita kepada Ibu Ani saat Neng sedang mandi sore, membuat Ibu Ani curiga tetapi menurut prediksi dokter masih satu minggu lagi melahirkan, "Apakah benar prediksi dokter satu minggu lagi melahirkan Nak?" tanya Ibu Ani.
"Iya Bu, apakah hubungannya sakit pinggang dengan melahirkan, Bu?"
"Nanti saja Ibu jawabnya tunggu Umi Anna mungkin sebentar lagi beliau datang, Nak Al jaga saja Neng Mitha, di mana dia sekarang?"
"Dia sedang mandi Bu."
"Ya sudah nanti kalau sudah selesai mandi ajak turun kita sambut Umi Anna datang!"
"Iya Bu."
Ummi Anna datang tanpa di temani oleh Abi Ali sore itu setelah semua berkumpul di ruang keluarga di jemput oleh Doni di bandara Sukarno Hatta. Baru saja Umi Anna menginjakkan kaki memasuki rumah di sambut oleh seluruh keluarga, Neng mulai merasa mulas dan melilit. Saat di peluk oleh Umi Anna, Neng mengeluarkan keringat dengan deras, "Eee Nak Mitha, mengapa berkeringat begini ini udaranya dingin lo?"
"Tidak apa-apa Umi, malah sehat," jawab Neng sekenanya.
"Ya sudah ayo duduk, kita ngobrol!"
"Ya Umi ..."
Baru saja Neng ingin berjalan tiba-tiba air mengalir tanpa sadar di sela-sela pahanya dengan deras. Mulas dan melilit padahal baru saja di rasakannya lima menit yang lalu., "Umi .... Papi, aduuuh ini apa ada air mengalir di sini?"
Spontan Alfarizi berjongkok memeriksa akan membuka baju hamil Neng, "Papi jangan dibuka di sini juga dong!"
BERSAMBUNG
******
__ADS_1
yok mampir shobat ini rekomen banget lo