
Dokter Atha semakin bingung dengan keadaan Zain. Dia semakin menggigil tetapi suhu tubuhnya semakin panas. Di periksanya kembali menggunakan termometer.
Suhu tubuhnya 39,5°C giginya mengerat badannya menggigil. Brankar tempat tidur terlalu sempit untuknya. Badannya yang jangkung dan kekar seolah dia sedang meringkuk di tempat tidur Mini.
Karena obat yang di minum tadi tidak beraksi dan tidak menurunkan demam Zain. Terpaksa Dokter Atha memanggil petugas dan perawat rumah sakit. Meminta mereka untuk membantu memindahkan ke ruang rawat inap VVIP.
Memanggil dokter yang sesuai dengan keahliannya untuk memeriksa lebih lanjut. Harus diperiksa juga darah di laboratorium. Sampai pemeriksaan lengkap agar segera di ketahui penyakit dan cara pengobatannya.
Setelah berada di ruang rawat inap saat ini dua perawat sedang mengambil darah di lengan Zain. Dokter Atha menunggu di samping Zain. Setelah selesai dan perawat meninggalkan kamar, Zain spontan menarik tangan Dokter Atha. "Jangan pergi ...."
Dokter Atha hanya mengangguk sambil mengambil napas panjang. Melihat dia terlihat lemah rasanya tidak tega, "Beristirahatlah, jangan berpikir macam-macam."
Mata Zain terpejam tetapi mulutnya terus mengigau, "Jangan pergi, tolong jangan tinggalkan aku!"
Walau suara terdengar lemah tetapi masih bisa terdengar. Kata-kata itu terus di ulang olehnya sampai lama-kelamaan suaranya mengecil. Setelah di pasang infus dan obat di masukkan melalui selang infus akhirnya dia mulai terlelap.
Dokter Atha merasa lega setelah mendengar napas Zain yang teratur. Mengambil satu foto dan di kirim pada Alfian dan di tambah dengan satu pesan dibawahnya, "Dik, tolong kabarkan kepada orang tua Dokter Zain. Dia demam tinggi sekarang ini ada di ruang rawat inap."
Hanya dalam waktu singkat ruang rawat inap Zain penuh dengan keluarga. Termasuk Papi Alfarizi dan Mami Mitha. Mereka ingin melihat langsung keadaan Zain.
Dokter mengatakan Zain terkena demam berdarah. Suhu badannya tinggi trombosit sangat rendah. Beberapa hari sebenarnya sudah dirasakan. Hanya saja Zain tidak memperhatikan dikira hanya panas biasa.
Malam ini Alfian datang bersama Julio. Setelah keluarga berkumpul tadi sore Dokter Atha pulang untuk beristirahat. Dokter Harry dan Mama Rianti sedang di kantin untuk makan malam.
Keadaan Zain sudah mulai membaik kerena kesigapan Dokter Atha. Membuat Alfian dan Julio semakin senang mengganggu dia, "Cie ... cie yang di rawat oleh jodohnya Sun Go Kong, bahagia banget roman-romannya," goda Alfian dengan tersenyum devil.
"Gue semakin yakin dia memang jodoh gue. Dia sangat khawatir dan panik."
"Namanya juga Dokter pasti akan khawatir kepada semua pasiennya, dodol lu tidak usah GR!" Alfian melempar tisu kearah Zain yang terbaring di brankar tempat tidur.
"Beda dong, Adik Ipar. Kakak elu tadi nyuapin bubur dan buah sama gue, emang ada dokter seperti itu pada setiap pasien?"
"Yang bener. Dokter Atha nyuapi elu, Bro?" tanya Julio.
"Iya ... dia sangat perhatian sam gue."
"Jangan berharap banyak dulu, sebelum Kakak Atha menerima elu 100%."
"Berharap lebih boleh dong, sebagai semangat diri."
Malam ini hanya Mama Rianti yang menemani Zain di ruang rawat inap. Papa Harry harus tetap menjalankan tugas sebagai seorang dokter di Bekasi. Menerima tamu yang menengok Zain silih berganti.
__ADS_1
Pagi harinya Mama Rianti pulang ke Apartemen Zain yang tidak jauh dari rumah sakit. Mengambil baju ganti, berbelanja keperluan selama di rumah sakit.
Dokter Atha langsung melihat keadaan Zain sesaat dia tiba di rumah sakit, "Bagaimana keadaan Anda, Dok?"
Zain hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan pujaan hati. Dia terpaku pada barang yang dibawa dan di letakkan di meja. Perhatikan kecil dari dia membuat Zain sangat bahagia.
"Dok, bagaimana keadaan Anda hari ini?" pertanyaan Dokter Atha semakin
meninggi saat Zain terus termenung sambil tersenyum.
"Eee tadinya terasa lemah tetapi setelah belahan hati datang kini semakin lemah."
Dokter Atha mengerutkan keningnya mendengar ucapan Zain. Hanya bisa bertanya dalam hati tanpa menanggapi. Kebiasaan merayu sekarang ini sering hanya di nikmati tidak pernah di masukkan ke dalam hati.
"Sudah sarapan?" tanya Dokter Atha lagi dan di jawab dengan menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Ini aku bawakan bubur ayam, mau aku ambilkan?"
"Iya ...."
"Ini silahkan sarapan dulu, obatnya di mana aku persiapkan?"
Zain menunjukkan selang infus yang ada di tangan kanannya, "Susah makannya kalau pakai tangan kiri. Apakah boleh pinjam tangannya?"
Zain tersenyum dan berusaha untuk duduk. Pura-pura berusaha sekuat tenaga untuk duduk agar dibantu. Modusnya berhasil setelah Dokter meletakkan bubur dan membantu bangun.
Zain memegagi lengan Dokter Atha saat dia meraih punggung dan menarik duduk seolah seperti berpelukan. Walau masih ada jarak diantara ke duanya.
"Terima kasih." Zain semakin tersenyum lebar.
"Ayo makan dulu, buka mulutnya!" Satu sendok bubur masuk ke dalam mulut Zain.
Mata Zain tidak lepas dari wajah Dokter Atha yang konsentrasi menyuapi. Dokter Atha hanya cuek dipandang dengan penuh cinta. Tetap tidak tertarik untuk menanggapi lebih memilih diam saja.
Pintu terbuka tanpa mengetuk pintu, Alfian yang masuk membawa sarapan buatan Bibi Tiwi dan Rania, "Waaaah pagi-pagi sudah suap-suapan kayak pengantin baru aja," celetuk Alfian sambil meletakkan kotak box diatas meja.
"Zain tersenyum menganggap ucapkan Alfian adalah doa sehingga dia menjawab, "Aamiin ..."
"Ini namanya menyuapi, Dik. Bukan suap-suapan," jawab Dokter Atha.
"Elu bawa apa?" tanya Zain.
__ADS_1
"Ini nasi uduk buatan Rani dan Bibi Tiwi. Salam dari Rani, dia belum bisa datang ke sini."
"Terima kasih, yang penting Teh Rani sehat. Tenang aja sudah ada kakaknya yang menggantikan."
Dokter Atha tetap saja menyuapi Zain sampai ludes bubur ayam satu porsi. Alfian masih berbincang dengan Zain saat Dokter Atha memberikan obat yang harus di minum, "Silahkan di minum obatnya dulu!"
"Terima kasih." Zain langsung mengambil obat dari tangan Dokter Atha.
"Cie ... cie romantis banget sih."
"Romantis apanya sih, Dik. Ini cuma memberikan obat aja lo?"
"Itu namanya romantis, Kak. Sudah aah pamit dulu. Silahkan lanjutkan romantis berdua." Alfian meninggalkan kamar ruang rawat inap Zain.
"Naaah itu baru namanya adik ipar yang pengertian, tidak harus menunggu usir dulu."
Dokter Atha mencuci tangan di wastefel. Menyimpan gelas bersih di meja. Menyiapkan air di meja dekat Zain agar tidak kesulitan saat dia sendirian.
"Anda perlu apabila, Dok? sebelum saya ke ruang operasi."
Zain kembali tersenyum rasanya tidak ingin dia cepat-cepat meninggalkan ruangan. Ingin terus bisa memandang wajah yang manis cantik tetapi jutek, "Dok, Anda Perlu apa lagi?"
"Aku hanya memerlukan satu saja yaitu hatimu?"
BERSAMBUNG
jangan lupa mampir Shobat sambil menunggu AST up
ini rekomen banget lo dari teman author
CEO And The Twins
Author: ingflora
Wajah mungkin sama, tapi tidak dengan hatinya.
Ian Xander terkejut ketika dikhianati kekasihnya yang cantik Elevika Zarin, yang meninggalkannya demi pria yang lebih kaya.
5 tahun kemudian, Ian menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan terkenal di Indonesia. Tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang yang mirip dengan mantan kekasihnya itu walaupun dia berjilbab, berkacamata tebal dan tidak cantik bernama Noura. Ia jatuh cinta dan mengejarnya. Ia pun kemudian melamarnya.
__ADS_1
Namun kemudian ia mengetahui bahwa Noura adalah kembaran Vika, mantan kekasihnya dulu. Saat itu juga ia marah dan berniat balas dendam dengan menyengsarakan Noura.