Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Tamu Bulanan


__ADS_3

Yang awalnya menangis dan terisak menjadi tertawa lebar setelah Alfian menyebut papinya tidak pulang selama delapan lebaran. Bahkan Abi Ali yang awalnya hanya menunduk berdiri dan mengajak Alfian berjoged karena lagu Bang Toyib adalah lagu favoritnya. Fano juga ikut bergabung berjoget dengan goyangan khas dangdut koplo.


"Al siapa yang mengajarkan Papimu itu Bang Toyib?" tanya Isya sambil tertawa melihat Abi Ali dan suaminya berjoget.


"Pakde Sarto, Auntie." jawab Alfian.


"Siapa itu Pakde Sarto?" tanya Umi Anna yang duduk di samoing Neng.


"Kang Sarto itu menantu Ibu Ani, Kang Sarto lah yang selama ini di anggap ayah oleh Alfian selain Dokter Harry." jawab Neng sambil tersenyum.


"Kang Sarto itu Mi, kalau memanggil aku Mas Onta Arab." cerita Alfarizi ikut tertawa.


"Ha ha ha, nama Abang jadi antik, Mas Onta Arab." Isya juga ikut tertawa mendengar cerita Alfarizi.


Meraka bercanda sampai waktu berkunjung berakhir. Mulai malam ini Alfian akan ikut pulang bersama Umi Anna dan Abi Ali. Hamir satu minggu Alfian tidak pulang karena di rumah tidak ada yang menjaga.


"Al ikut pulang Oma dan Opa, ada kejutan besar menanti di rumah." kata Alfarizi memeluk putranya sebelum pulang.


"Kejutan apa Papi?"


"Kalau Papi katakan sekarang namanya bukan kejutan dong, lihat saja sampai di rumah, ok!"


"Mami tahu kejutan yang di katakan Papi?"


"Mami cuma tahu dari cerita Papi aja sih, tetapi belum pernah melihatnya."


"Nanti kalau sudah melihatnya, jangan lupa hubungi Papi ya!"


"Iya Pi."


Alfian pulang dengan penasaran di hatinya karena Neng juga tidak mau bercerita. Satu minggu yang lalu Alfarizi meminta izin kepada Neng untuk menjebol tembok yang membatasi antara rumah yang di pakai untuk mas kawin dengan konfeksi AA. memindahkan kamar Neng dan Alfian ke rumah yang lebih besar, Rencana rumah lama akan di tempati oleh para karyawan konfeki AA.


Kamar Alfian lebih besar tiga kali lipat dari kamar lama. Fasilitas yang sangat lengkap sesuai keingin dan impian Alfian. Desain interior perpaduan warna putih biru yang sesuai dengan kamar anak laki-laki. Kamarnya ada di lantai dua di sebelah kamar utama milik Alfarizi dan Neng.


Kamar utama Alfarizi dan Neng juga sangat mewah dan nemiliki fasilitas yang kengkap. Hanya saja karena saat ini Neng sedang mengalami cidera untuk sementara Mereka tidak akan menempatinya. Sekarang ini Alfarizi mempersiapkan kamar cadangan yang ada di lantai bawah untuk sementara waktu.


Bersamaan pula Alfarizi sedang memperbaiki makam Ibu kandung Neng yang di Jawa Barat di percayakan langsung kepada Junaidi dan Lilis. Neng hanya melihatnya melalui foto yang di kirim dari ponsel milik Junaidi ke ponsel milik Alfarizi.


Saat Neng sedang melihat foto yang di kirim Junaidi ada nada dering masuk, vedio call dari Alfian yang sudah sampai kamar barunya, "Mami ... Papi terima kasih. Al suka sekali kamarnya bagus, terima kasih kado ulang tahunnya." Alfian menunjukkan kejutan yang berikan papi untuknya, yaitu game model terbaru yang berada di pojok kamarnya.


"Sama-sama, Nak. Papi senang kalau Al bahagia."

__ADS_1


"Tapi Al tidak boleh bermain terus lo ya, harus ingat tetap belajar, tidak boleh nilai sekolahnya turun, ok!"


"Iya Mami, love you!"


"Love you too Nak."


"I love you too Mamy my Honey!" sahut Alfarizi cepat.


Neng mengerucutkan bibirnya saat Alfarizi selalu saja mengucapkan kata cinta di sela perbincangan mereka. Neng selalu saja gugup dan salah tingkah walaupun semakin hari ke duanya semakin dekat. Dia juga belum bisa menunjukkan secara langsung rasa yang ada di dalam hatinya.


Tanpa terasa waktu sudah berlalu tiga minggu, Neng sudah di izinkan untuk bangun dan turun dari tempat tidur. Hanya saja belum di izinkan untuk berdiri terlalu lama. Harus menggunakan penyangga pengaman seperti korset setiap Neng berdiri atau beraktifas lainnya.


Neng mulai bisa beraktifitas seperti biasa sendiri, ganti baju, makan, sudah bisa melakukan sendiri tanpa bantuan. Saat ke kamar mandi bisa sendiri tetapi Alfarizi tetap saja mendampingi saat dia sedang buang air kecil atau BAB. Bagi Alfarizi ini adalah kesempatan dia untuk bisa merayu dan membuat dia semakin dekat.


Malam ini Neng berniat ke kamar mandi mau sikat gigi dan buang air kecil sebelum tidur. Dia merasa ada nyeri di pinggang dan perut terasa mulas karena tamu bulanan datang. Waktu sudah malam tetapi dia membutuhkan pembalut saat itu juga. Sedangkan hanya ada Alfarizi saja di kamar.


Neng keluar dari kamar mandi dengan berjalan perlahan sambil memegangi pinggang. Alfarizi yang menunggu di depan pintu menjadi khawatir langsung memegangi lengannya membantunya berjalan menuju brankar tempat tidur. Neng hanya berdiri di samping brankar tempa tidur tanpa berani duduk atau berbaring.


"Mami, mengapa berdiri terus ayo duduklah?"


"Eee Mami eee ...?"


"Apakah masih ada supermarket yang buka jam segini, Papi?"


"Ada yang buka 24 jam, Honey perlu apa?"


"Bantal kecil."


Alfarizi mengerutkan keningnya mendengar permintaan Neng. Setahu dia bantal kecil itu untuk baby yang baru lahir. Dia teringat dulu Marta selalu membawa bantal kesil itu jika dia menginap di rumah opa dan omanya.


"Mengapa beli bantal kecil, kita belum punya baby, proses bikin baby aja belum?" tanya Alfarizi sambil menahan tawa.


"Papi mulai lagi kan, bukan bantal yang itu maksudnya. Mami sedang kedatangan tamu bulanan."


"Eee malam-malam bertamu tidak boleh dong, Honey!"


"Iiiih ... Papi, bukan tamu orang, tapi tamu bulanan."


"Tamu bulanan?" Alfarizi berpikir lagi sambil mengerutkan keningnya, "Oooo datang bulan?"


"Hhhmm."

__ADS_1


"Mau di belikan pembalut?" tanya Alfarizi baru mulai faham.


"Iya tetapi kalau Papi malu, Mami senfiri aja yang beli!"


"No no, Papi saja yang beli, merknya apa?"


"Nanti Mami kirim lewat WA, jangan lupa jamu penghilang rasa nyeri juga!"


"Ok, Papi tinggal sebentar."


Dalam waktu kurang dari satu jam Alfarizi sudah kembali di kamar ruang rawat inap karena supermarket berada di lantai dasar rumah sakit. Neng menunggu Alfarizi hanya duduk di pinggir brankar tempat tidur. Gantian Neng yang mengerutkan keningnya saat dia kembali dengan membawa body pack berukuran besar.


"Kok besar banget, Pi; beli apa aja?"


"Cuma pembalut dan jamu anti nyeri aja."


"Kok banyak banget?"


"Mami tidak bilang belinya berapa, ini kalau satu bungkus satu hari, jadi belinya Lima bungkus. dan jamunya sehari minum tiga kali jadi Papi beli lima belas botol."


Neng hanya terkekeh melihat belanjaan yang dibawa Alfarizi. Dia mengambil satu bungkus dan di bawanya ke kamar mandi. Alfarizi ikut berjalan ke kamar mandi mengikuti Neng dari belakang.


"Papi tidak usah ikut mau ngapain?"


"Mau lihat bagaimana cara pakainya?"


"Idih, emang Papi mau pakai juga?" tanya Neng sambil terkekeh.


"Emang rasanya seperti apa kalau pakai begitu, kalau Papi yang pakai nanti tambah menonjol dong ini aja sudah menegang!"


"Iiih Papi, nggilani!" jawab Neng memalingkan wajahnya sambil masuk kamar mandi dan menutupnya.


"Ha ha ha!"


hari ini author promo milik sendiri ya


jangan lupa mampir di sebelah, ingat gratis juga lo


Harus mampir lo ya ... ingat harus mampir


__ADS_1


__ADS_2