Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Sono Lo Minggat!


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu Rania selalu menghindari Abang Gondrong yang selalu mengejarnya. Dia sering kucing-kucingan tidak ingin bertemu dengan laki-laki tonggos yang sangat menyukainya. Tidak ingin mencari keributan dan masalah secara langsung dengan pemuda aneh itu, tetapi sudah menyampaikan kepada Abah jika dia sudah menolak lamaran mereka.


Dengaan terpaksa kali ini Rania harus menghadapi Abang Gondrong ketika dia menemuinya di pangkalan. Biasanya Abang di dampingi oleh babenya, kini dia sendiri mendatangi Rania sendirian, "Ngapain lo ke sini?"


"Aku pingin ketemu Neng Rania."


"Gue lagi kerja, pulang sono ogah banget gue ketemu elo!"


"Neng Rania ayo kita pulang temui Babe, aku mau mengajak Neng Rania belanja emas segunung!"


"Ogah, gue tidak suka sama elo, minggat sono ... kesal gue lihat wajah elo!" Rania menjadi emosi saat melihat Abang Gondrong tidak mengerti jika dia sudah menolaknya.


"Tapi Neng Rania, ini aku sudah bawa uang banyak."


"Elo dengar ya, gue sudah mempunyai suami. Jangan sampai suami gue marah dan menghajar elo, cepat sono minggat!" Rania mengusir dan berbicara dengan ketus.


Awalnya Abang Gondrong hanya diam saja mendengar ucapan Rania yang ketus. Semakin lama wajah Abang Grondrong cemberut dan di tekuk. Kakinya di hentakkan di tanah secara bergantian membuat Rania kaget sambil menahan tawa.


"Babe ...!" teriak Abang Gondrong mulai berteriak sambil menangis.


Sopir angkot dan para penumpang bingung sambil tertawa. Ada juga yang meledek dan ada juga yang menyalahkan Rania.


"Hayo ... Rani cepat diberi susu atau empeng biar tidak mewek!" teriak Sopir Angkot.


"Rani ... siapa dia, apakah dia pacarmu?" tanya Tukang Parkir.


"Anaknya Babe ... ogah amat punya pacar si tonggos!" teriak Rania masih kesal.


Abang Gondrong semakin kencang menghentakkan kakinya sambil memanggil nama babe sambil berlinang air mata. Para sopir dan penumpang semakin tertawa lebar melihat tingkah laki-laki dewasa yang bersifat anak kecil.


"Rani ... cepat beri dia susu murni!" teriak Sopir Angkot paruh baya.


"Susu murni pala lo!" Rania semakin naik pitam.


"Babe ... Babe!" Abang Gondrong semakin kencang menangis memanggil nama babenya.

__ADS_1


"Sana pulang, Babe di rumah, Gue mau jemputin laki gua!"


"Babe ...Neng Rania sudah mempunyai laki, aku gimana?" Tambah Abang Gondrong semakin menangis kencang.


"Iya gue sudah punya laki, sono lo minggat!"


Rania langsung naik di kemudi angkot, tidak perduli Abang Gondrong menangis histeris. Harus di berikan ketegasan agar dia tidak mengikutinya lagi. Padahal penumpang belum penuh dan belum waktunya angkot berangkat.


Bayak sopir angkot yang berteriak, memanggil dan menyalahkan Rania. Dia tidak memperdulikan lagi karena emosi dan teringat masa lalu yang terjadi satu tahun yang lalu. Teringat saat dia lari dari rumah dan sampai bertemu dengan ibu kandung.


Rasanya ingin berteriak saat ini, tetapi apa daya ada penumpang yang sedang duduk di angkotnya sekarang. Saat ini harus berkonsentrasi dan mengutamakan keselamatan penumpang. Parkir sampai di ujung trayek termening setelah seluruh penumpang turun dan membayar ongkos angkotnya.


Mengunci pintu angkot dan parkir di ujung terminal pemberhentikan angkot. Memutar topi dan duduk di kursi calon penumpang.Termenung teringat dengan ibu yang telah tega untuk menikahkan sirih hanya demi materi. Sisi feminim Rania sangat jarang di tunjukkan kepada Abah atau teman sesama sopir.


Selalu di pendamnya sendiri perasaan sakit hati dan perasaan kecewa terhadap ibunya. Sejak kecil tidak pernah ingat siapa ayahnya. Hanya saja ibu sering bercerita sebenarnya ayah masih hidup. Tidak pernah tahu di mana keberadaan ayah kini, ingin mencari tetapi tidak mengenalnya sama sekali.


Banyak sekali yang Rania pikirkan saat ini, ibu yang tega, ayah yang entah kemana dan suami halu yang tak pernah kunjung datang. Di tambah satu lagi pemuda tonggos yang tiba-tiba hadir entah dari mana. Tanpa di ketahui tiba-tiba datang melamar seperti siluman yang tiba-tiba ada di depan mata.


"Neng Rani ...?" Panggilan suara yang tidak asing di telinganya membuat dia tersentak kaget.


Abah langsung ikut duduk di samping Rania. Memandang wajah cucu angkatnya yang terlihat sedih dan murung. Membayangkan peristiwa masa lalu yang membuatnya selalu merasa bersalah seumur hidup.


"Ada apa Neng, mengapa kamu tega meninggalkan Abang Gondrong sampai dia menangis berguling di lantai pangkalan angkot?"


"Rani kesal Abah, sudah di bilang Rani tidak mau dan menolak dia, eee dia masih saja tetap mengejar Rani."


"Pikiran Abang Gondrong itu seperti anak berumur lima belas tahun, Neng. Seharusnya Neng Rani bisa bersabar sedikit saat menghadapi dia!"


"Sabar ada batasnya Abah."


"Ayo kita pulang, untuk sementara Neng Rani jangan narik angkot dulu, biar sopir yang lain yang membawa angkotnya."


"Memangnya apa yang terjadi, Abah?"


Abah bercerita setelah Rania meninggalkan pangkalan angkot dan Abang Gondrong. Babe datang membujuk anaknya dengan berbagai cara tetapi tidak berhasil. Babe hanya bisa membujuk untuk tidak berguling-guling di jalan.

__ADS_1


Abang Gondrong masih menunggu Rania datang dan duduk di pangkalan angkot. Dia tidak mau beranjak dari tempatnya sambil melihat satu persatu angkot yang datang dan pergi. Babe hanya bisa pasrah menemani dan duduk di sampingnya.


"Dari mana dia tahu dan mengenal Rani, Abah?"


"Satu bulan yang lalu dia dan babenya berkunjung ke rumah, Rani berangkat narik angkot saat mereka datang. Abang Gondrong sempat melihat Rani sekilas, sejak saat itu dia suka dan mau melamar Rani."


"Apakah Abah setuju dengan ide gila pemuda tonggos itu?"


"Tidak Neng Rani, berkali-kali Abah juga mengatakan jika Rani pasti akan menolaknya, tetapi dia tetap nekat dan ngotot."


"Terus mengapa Abah menyusul ke sini?"


"Abah di telepon sopir angkot, mereka menyarankan agar Rani tidak datang ke pangkalan, ayo kita pulang!"


"Iya Abah."


Mereka pulang dan beristirahat setelah sampai di rumah. Sesekali masih ada sopir yang menghubungi Abah bahwa Abang Godrong masih menunggu Rania di sana. Sampai Sore hari dia masih bertahan di pangkalan menunggu kedatangan Rani.


Malam harinya pukul sepuluh malam Abah mendapatkan kabar dari sopir yang masih mencari penumpang di pangkalan, "Abah ... Gawat cepat ke sini!" teriak Sopir Angkot dalam suara dari dalam ponsel.


"Ada apa kamu menghubungi Abah jam segini?"


"Abah ... cepat ke sini ada hal gawat, jangan lupa bawa cucumu!" teriak Babe dari samping sopir yang sedang menghubungi Abah.


Sopir angkot itu menghubungi Abah atas perintah Babe yaitu ayah dari Abang Gondrong. Babe hanya berteriak dari kejauhan setelah terhubung dari ponsel sopir dan Abah.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Abah masih bingung.


"Nanti saja ceritanya sudah tidak ada waktu lagi, cepat kemarilah jangan lupa bawa cucumu ke sini!"


BERSAMBUNG


Sambil menunggu AST up yok mampir di novel teman yang rekomen ini yok


__ADS_1


__ADS_2