Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Isya Melahirkan


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu Alfarizi mulai jarang mual dan muntah. Emosi juga sudah mulai stabil jarang baper dan mulai stay cool seperti sedia kala. Hanya bucinnya sekarang semakin besar, kemanapun Neng pergi harus selalu di kawal.


Malam ini pukul sebelas malam setelah menengok dikbay, senjata onta arabnya bergoyang. Ada panggilan telepon dari Fano adik iparnya. Dengan santai Alfarizi mengambil ponsel yang berada di atas nakas di samping lemari padahal badannya masih polos tanpa mengenakan sehelai benangpun.


"Ya halo ngapain malam ...?" tanya Afarizi tidak menyelesaikan ucapannya.


" .... "


"Ya, kami ke sana sekarang!"


Alfariizi langsung mengamabil kunci mobil dan mendekati Neng, "Honey, Isya akan melahirkan katanya. Sekarang ini dia dalam perjalanan ke rumah sakit, ayo kita nyusul!"


"Iya Papi, tetapi lihatlah penampilannya dulu, Papi mau ke rumah sakit polos begitu?"


"Eee lho ... iya lupa belum pakai baju." Alfarizi langsung berjalan mendekati lemari, mengambil satu stel baju untuk di kenakannya.


Neng hanya terkekeh melihat Alfarizi berjalan tanpa canggung. Neng langsung ke kamar mandi dengan melilitkan selimut di tubuhnya. Berteriak dari pintu kamar mandi, "Papi, jangan lupa hubungi Umi dan Abi, jemput saja beliau untuk datang menggunakan pesawat pribadi biar cepat sampai!"


"Ok Honey, perintah di laksanakan."


Sambil menunggu Neng berganti baju, Afarizi menghubungi Umi Anna, Surya dan kru pesawat. Turun dari lantai atas ke kamar Ibu Ani dan mengetuk pintu, "Tok ... tok ... tok!"


Pintu langsung terbuka, "Ada apa, Nak?" tanya Ibu Ani.


"Kami mau ke rumah sakit, Isya akan melahirkan. Tolong kalau Alfian sewaktu-waktu bangun mencari kami."


"Tentu Nak, semoga Neng Isya lahirannya lancar."


"Aamiin."


Doa orang tua pasti akan di ijabah oleh yang maha kuasa. Saat Alfarizi dan Neng datang sampai depan pintu ruang bersalin bergabung dengan ke dua orang tua kandung Fano. Bersamaan pula Fano keluar ruang bersalin dengan rambut yang acak-acakan, tangan terlihat banyak cakaran dan memerah.


"Fano, mengapa penampilamu seperti itu, apakah kamu habis berantem dengan Isya?" tanya Alfarizi heran.


"Tidak Bang, ini karena Isya kesakitan saat melahirkan aku dijambak, dicakar dan dipegang kuat-kuat tanganku, lihatlah satu lagi, punggungku perih karena di gigit olehnya." cerita Fano sambil menunjukkan luka bekas gigitan yang memerah.


"Mengapa sampai seganas itu, apakah sakit sekali Honey saat melahirkah?"


"Tidak tahu Papi, Mami belum pernah mengalami melahirkan normal."


Ibu kandung Fano datang mengusap pundak Fano, "Melahirkan ibarat kata seperti dua puluh tulang sehat dipatahkan sekaligus, kamu hebat Fano bisa menemani istrimu melahirkan dan bisa mengurangi rasa sakitnya, tetapi setelah kalian memeluk bayi sehat yang baru lahir sakit itu akan hilang dan berganti kebahagiaan."

__ADS_1


"Terima kasih, Mama."


Alfarizi mengerutkan keningnya, berulang kali mengulang ucapan ibunya Fano, Seperti dua puluh tulang sehat dipatahkan bersamaan. Rasa ngilu dan sakit teramat sangat di bayangkan olehnya. tidak mungkin tega jika itu dialami oleh istri tercintanya.


"Honey, yang ngidam Papi, kalau bisa nanti saat melahirkan Papi aja yang merasakan sakitnya ya?"


Neng hanya tersenyum mendengar pertanyaan suaminya yang nyeleneh. Ibunya Fano juga hanya menanggapi dengan tersenyum. Ungkapan itu merupakan ungkapan rasa cinta suaminya terhadap istri tercinta yang tak terbatas gumamnya dalam hati.


"Tidak bisa dipindah Bang, yang hamil istri walaupun yang ngidam Abang tetap aja bayinya ada di perut Kak Mitha," jawab Fano.


"Apakah itu benar, Mama?" tanya Alfarizi kepada mamanya Fano.


"Kalau di pikir secara logika benar kata Fano, tetapi ada juga suami yang mengalami mulas dan sakit pinggang saat istrinya melahirkan," jawab Mama.


Alfarizi tersenyum dan mengelus perut Neng, "Jangan menyusahkan Mami ya Nak, cukup Papi saja yang merasakan sakitnya saat kamu lahir nanti, ok!"


Neng mengangguk dan tersenyum mengusap pipi suaminya dengan lembut. Merasa beruntung dan bahagia merasakan cinta yang sangat dalam dari suaminya. Rasa cinta semakin hari semakin dalam juga dirasakan olehnya.


Datang suster dengan menggendong bayi mendekati keluarga, "Ini putra Anda, silahkan di gendong!"


"Waaah tampannya putraku," kata Fano dengan bangga.


"Ya Mama."


Sambil mendengarkan dan menunggu Fano selesai, Alfarizi dan Neng memandang wajah bayi dengan berbinar. Rasa bahagia melihat buah cinta mereka lahir dengan sehat. Rasanya tidak sabar ingin cepat mencium pipi dan menggendongnya.


"Wajahnya mengapa lebih mirip kamu Fano?" tanya Alfarizi setelah Fano selesai.


"Bibirnya seperti Isya, Bang. coba lihat!" jawab Fano ingin menyerahkan bayinya agar di gendong oleh Alfarizi.


"Ee aku belum berani menggendongnya."


"Sini Mami saja yang pengendongnya," jawab Neng dengan mengulurkan ke dua tangannya.


Dalam dekapan Neng bayi itu menggerakkan kepalanya sambil membuka mulutnnya, "Eleeh-eleh Ganteng mau minum susu ya?" tanya Neng sambil menowel pipinya.


Alfarizi yang merasa memiliki yang di sebut istrinya langsung waspada dengan mendekati Fano dan berbisik, "Fano, lihatlah putramu dia mau minta susu, ingat ya itu milikku, dilarang keras memintanya!"


"Abang ini jelous aja, aku juga punya kali, malahan lebih besar," jawab Fano sambil melirik Neng.


"Jaga matanya ya, aku colok baru tahu."

__ADS_1


"Apa sih berdua ini kalau bertemu kayak Tom and Jarry aja?" Neng ngomel mendengar omongan suami dan adik iparnya yang unfaedah.


Datang lagi suster yang tadi mengantar bayi dan mendekati keluarga, "Bapak, Ibu mari kita pindah ke ruang rawat inap, babynya mau belajar minum ASI!"


"Apakah tadi babynya sudah skin to skin dengan Mamanya, Suster." tanya Neng.


"Sudah Bu, sebelum dipakaikan baju tadi."


Hampir menjelang tengah malam saat Isya dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Isya berbaring di tempat tidur dengan tersenyum melihat kedatangan abang dan kakak iparnya. Padahal dia juga sedang hamil dan sering kelelahan.


"Abang, Isya baik-baik saja ajak pulang Kak Mitha kasihan nanti kecapean!"


"Kakak baik-baik saja Isya, selamat ya sekarang sudah menjadi Mami."


"Terima kasih Kak, jangan lupa jaga kesehatan biar melahirkannya lancar nanti!"


"Aamiin."


Suster menyerahkan bayi kepada ibunya untuk minum ASI, "Waktunya belajar minum ASi ya Ibu!"


"Abang ayo keluar dulu, mau ada adegan buka-bukaan disini!" ajak Fano sambil menarik tangannya.


"Tunggu, Abang pamit aja sekalian, mau mempersiapkan penjemputan Umi dan Abi dari Riyadh."


Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari saat Alfarizi dan Neng keluar dari rumah sakit. Jalanan masih saja ramai dan banyak pedagang jajanan yang masih ramai di sepanjang jalan yang mereka lewati. Saat melewati rombong ketoprak yang terlihat masih banyak pembelinya Neng langsung mengajak berhenti, "Papi, Mami mau makan ketoprak itu!"


Mobil sudah berhenti sempurna di pinggir jalan dekat rombong ketoprak. Neng langsung turun mendekati rombong dan ingin memesannya. Langkahnya terhenti saat melihat pedagangnya dari kejauhan.


"Mengapa berhenti Mami, ayo kita pesan?"


"Kok dia jualan ketoprak Papi?"


"Siapa Mami?"


BERSAMBUNG


*********


Author promo novel rekomen ya mampir yok


__ADS_1


__ADS_2