
Sudah tiga hari ini Al tidak keluar dari kamar yang ada di mall. Semua keperluan Al, Surya yang mengurusnya termasuk makan dan loundry. Dia hanya memantau CCTV yang di pasang khusus dari pintu masuk sampai Butik AA.
Selama tiga hari Al melihat Neng datang ke Butik AA dua kali. Dia hanya memperhatikan gerak-gerik Neng saat jalan memasuki mall atau pulang dari mall. Ucapan dari Isya benar-benar membuatnya down dan tidak percaya diri untuk bertemu dengannya.
Surya yang memperhatikan Tuannya selalu murung dan tidak bersemangat, akhirnya memberanikan diri untuk mengajaknya bicara. "Ada apa sebenarnya yang Anda rasakan dan pikirkan,Tuan?"
"Sekarang dia berbeda, Surya; aku tidak percaya diri untuk bertemu dengannya, apakah dia masih mau menerima aku apa adanya?"
"Mengapa Anda tidak percaya diri Tuan, Anda masih terlihat tampan, dokter juga mengatakan Anda masih bisa memiliki keturunan, apalagi?"
"Aku takut dia menolakku!"
"Jangan menyerah sebelum perang Tuan; ingat jodoh, maut, pertemuan, perpisahan itu rahasia Tuhan yang tidak bisa kita ketahui."
Al mulai mengerutkan keningnya memikirkan ucapan Surya, Jodoh tidak akan kita dapat tanpa berusaha. Masalah diterima atau ditolak yang penting sudah berusaha. Kini Al mulai memikirkan cara untuk bisa bertemu dengannya.
"Ayo semangat, Tuan; ingat Anda juga memiliki keturunan darinya itu yang terpenting, apakah Anda tidak ingin memeluk putra Anda sendiri, memberikan kasih sayang selayaknya seorang ayah kepada putranya?"
"Kamu betul Surya, aku ingin sekali memeluk putraku, aku ingin memberikan kasih sayang padanya, aku ingin menebus dosa yang pernah aku lakukan."
"Baiklah, apa yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Bagaimana caranya dia bisa datang ke kantorku?"
"Aku saja yang mengaturnya Tuan, Anda hanya mempersiapkan diri, ok!"
"Iya aku serahkan semua padamu."
Hari ini tidak ada jadwal Neng datang ke Butik AA, tetapi dia akan datang besok setelah istirahat siang. Al sudah memiliki keyakinan lagi untuk bertemu dan merebut hati istri siri dan putranya. Surya bekerja sama dengan Desi untuk mengundang Neng ke kantor, yaitu menggunakan alasan pemilik mall ingin bertemu dan memesan baju untuk karyawan mall.
__ADS_1
Neng yang sibuk merawat Alfian yang mengalami cidera tidak memperhatikan pemilik mall yang baru. Dia hanya tahu jika pemilik mall yang baru memiliki istri seorang artis. Dia tidak sempat bertanya kepada Desi karena padatnya jadwal pekerjaan dan sibuk merawat Alfian putranya, sehingga sampai saat ini Neng tidak mengetahui jika pemilik mall yang baru adalah papi dari putranya.
Saat Desi memberikan kabar jika pemilik mall ingin bertemu dan akan memesan seragam dari Butik AA, Neng langsung menyetujuinya dan berniat menemuinya setelah istirahat siang. Desi juga sudah mengkonfirmasi jika Neng akan datang setelah istirahat siang.
Keesokan harinya Surya sudah mendapatkan kabar dari Desi bahwa owner Butik AA bersedia mengunjungi kantor milik mall yang baru setelah istirahat makan siang. Persiapan demi persiapan sudah Surya kerjakan dan Al juga sudah mempersiapkan hati untuk bertemu dengan pujaan hati. Tinggal menunggu waktu yang terasa berjalan lambat di tambah lagi debaran hati yang tidak menentu.
Pukul sebelas siang Al ada tamu yang tidak terduga. Dokter Harry mampir ke kantor Al saat dia sedang mencari keperluan dokter. Mereka berbincang di kantor sekalian makan siang bersama dengan menu kesukaan opor ayam kesukaan Al.
"Mengapa istri dan putramu tidak kamu ajak ke sini, Harry?"
"Mereka sedang di rumah adik perempuanku, putra dari adikku sedang mengalami cidera."
Al mengerutkan keningnya teringat tiga hari lalu gagal bertemu dengan Neng juga karena putranya sedang mengalami cidera saat main bulu tangkis. Al teringat saat masih SMP Harry hanya memiliki adik laki-laki dan tidak memiliki adik perempuaan.
"Bukannya kamu tidak memiliki adik perempuan?"
"Mengapa pasien menjadi adik?"
"Selama aku menjadi dokter, dia adalah pasien terlamaku, dia tidak pernah berterus-terang tentang masalahnya, dia memilih minum obat depresi saat dia sedang mengalami depresi berat."
Semakin hari persahabatan mereka semakin sholid, saling mendukung dan saling memberikan sport, hanya saja Al belum bisa bercerita tentang masalah pribadinya. Berbincangan mereka berakhir setelah jam istirahat selesai. Dokter Harry harus pamit karena dia harus ke rumah sakit tugas sore.
Harry berpamitan dari kantor Al sesaat kemudian Neng datang mengetuk pintu kantor Al. Di bukakan pintu oleh Surya dan di persikahkan masuk. Setelah Neng masuk kantor, Surya sengaja meninggalkan mereka berdua untuk bisa bicara dari hati ke hati, Surya hanya menunggu mereja di depan kantor.
"Selamat Siang Tuan!" ucap Neng saat memasuki kantor Al.
Al sengaja pura-pura fokus menunduk menghadap laptopnya sehingga wajahnya tidak terlalu terlihat oleh Neng. Mendengar suara lembutnya Al langsung mendongak sambil tersenyum. "Selamat siang!"
Neng terpaku dan tersentak kaget setelah melihat seorang laki-laki yang sedang duduk di singgasananya dengan tersenyum manis. Laki-laki itu masih terlihat gagah dan tampan apalagi dia membiarkan cambang dan rambut tipisnya tumbuh di dagunya. Apalagi baru kali ini Neng melihatnya tersenyum manis.
__ADS_1
Lidah Neng terasa kelu, kaki mulai lemas, keringat dingin mulai mengucur deras. Sudah delapan tahun berlalu tidak bertemu dengannya secara langsung. Rasanya kejadian delapan rahun itu baru saja dialaminya, seakan terputar secara otomatis peristiwa itu sampai tas yang ada tangan terjatuh tanpa sadar.
Neng mundur beberapa langkah tanpa sadar, Badan dan pikirannya seolah tidak siap menerima pertemuan dengan papi dari putranya. Matanya berkaca-kaca, tidak percaya bertemu dengan orang yang selama ini ingin selalu di lupakannya. Tidak percaya bisa bertemu dengan orang yang selalu membuatnya depresi saat mengingatnya.
Al berdiri menghampiri Neng yang sudah pucat-pasi berjalan mundur. Mencoba ingin menenangkan dia, Neng mundur sampai dinding dekat pintu dengan tubuh menggigil dan badan berkeringat dingin.
Al semakin mendekati Neng yang sudah mepet dinding. "Neng aku ...!" Al tidak melanjutkan ucapannya karena melihat Neng wajahnya semakin pucat-pasi.
Hanya mendengar dua kali Al berucap, Neng semakin lemas. Bayangan masa lalu saat harus melayaninya dengan paksa dan saat dia mabuk, selalu terbayang di pekupuk mata. Neng langsung terkulai lemas pingsan tidak berdaya, dan anehnya pingsan dalam pelukan Al.
Kaki Al menendang pintu dan berteriak. "Suryaaaaa, tok ... tok!"
Pintu langsung terbuka, Surya sangat kaget melihat istri siri tuannya pingsan dalam pelukannya. "Apa yang terjadi Tuan?"
"Nanti saja ceritanya, kamu hubungi Dokter Harry sekarang!"
Al menggendong bridal Neng dan di baringkan di tempat tidur kamarnya yang mirip seperti kamar yang ada di villa. Neng di selimuti tubuhnya dengan selimut sampai dada. Datang Dokter Harry dan Surya dengan berlari kencang masuk kamar.
"Ada apa Al?" tanya Dokter Harry.
"Tolong Harry, istriku pingsan!"
Dokter Harry memandang lekat-lekat wajah Mitha. "Mitha, Dia Mitha, mengapa dia kamu sebut istrimu, kurang aj*r jadi kamu Pohon Pisang itu?"
"Bug ...!"
Promo lagi, rekomendasi novel teman
__ADS_1