
Ibu Ani dan Ibu Yuni mondar mandir di depan ruang UGD rumah sakit sudah hampir setengah jam menunggu belum juga ada kabar tentang keadaan Neng, padahal prosedur sudah mereka penuhi semua termasuk pendaftaran pasien.
Setelah satu jam menunggu datang seorang suster dengan langkah tergesa-gesa sambil membawa berkas pasien, "Keluarga Nyonya Ningtiyas Paramiitha."
"Iya Suster, saya ibunya bagaimana dengan putriku?" tanya Ibu Ani dengan khawatir.
"Mari Bu, ikut saya bertemu dengan Dokter di ruangannya!"
Karena Ibu Yuni juga khawatir, akhirnya mereka mengikuti suster dengan langkah panjang sampai ruang dokter tanpa banyak tanya.
"Selamat malam Dok, apa yang terjadi dengan putri kami Dok?" Ibu Yuni menjadi lebih khawatir karena di panggil oleh dokter.
"Silahkan duduk dulu Bu, ini kemana suaminya, mengapa hanya Ibunya, ini siapa yang Ibu kadung dan siapa yang Ibu mertua?" Dokter memberondong pertanyaan kepada kedua ibu paruh baya yang ada di depannya.
"Suaminya menjadi TKI di Arab Saudi, Dok, dan kami ini Ibu angkat Neng Mitha lebih tepatnya kami karyawannya," jawab Ibu Ani jujur.
"Baiklah Bu, ini keadaan bayi dalam kandungan pasien sangat kritis, sehingga harus segera operasi ceasar untuk menyelamatkan nyawanya, kami membutuhkan persetujuan keluarga agar Ibu dan bayinya bisa di selamatkan," keterangan Dokter panjang lebar.
"Baik Dok, lakukan yang terbaik untuk putri dan cucu kami, aku yang akan tanda tangan," jawab Ibu Ani dengan cepat.
"Sebelum pasien pingsan apa sebenarnya yang terjadi, karena prediksi Dokter ada yang memicu emosi pasien, membuat syok dan tegang?"
Ibu Ani dan Ibu Yuni saling pandang karena saat terjadi Neng pingsan mereka tidak memperhatikan Neng, mereka sedang makan bersama sambil menonton televisi infotaiment dengan riang.
"Saat itu kami sedang makan bersama setelah acara tujuh bulan kehamilannya, tetapi saat itu Neng Mitha sedang menonton televisi," cerita Ibu Yuni.
"Baiklah Bu, ini tanda tangan, kami akan segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan pasien dan bayinya!" kata Dokter Obgym sambil menyodorkan berkas kepada Ibu Ani.
Hampir dua jam Ibu Ani dan Ibu Yuni menunggu di depan ruang operasi, bahkan sebagian karyawan juga ikut datang untuk memberikan dukungan kepada orang yang berjasa bagi mereka.
__ADS_1
Mpok Atun ikut khawatir setelah mendengar cerita Ibunya, termenung mengingat kembali sebelum Neng Mitha pingsan dia sedang melihat tayangan infotaimant di televisi.
Saat ada seorang suster keluar dari ruang operasi dengan cepat mereka berlari mendekatinya, "Bagaimana Suster, apakah sudah selesai operasinya?" tanya Ibu Ani.
"Belum Bu, ini pasien membutuhkan dua kantong darah, apakah salah satu dari keluarga bisa mengambil di PMI?"
"Saya bisa Sus, sini surat keterangannya!" jawab Mpok Atun.
"Ini Bu surat keterangannya, Anda tinggal memberikan surat keterangan ini kepada petugas PMI, cepatlah kita berpacu dengan waktu!"
"Ok siap."
Satu jam berlalu rasanya seperti sehari, setelah Mpok Atun datang dan menyerahkan darah yang diambilnya dari PMI, bersamaan lampu merah yang ada diatas pintu ruang operasi berganti hijau, Ibu Ani bangkit dari tempat duduknya mendekati pintu berharap ada yang keluar dari sana.
Satu dokter dan dua suster keluar bersamaan sambil terseyum, mereka dengan cepat mendekati dokter dan suster itu karena ingin segera mengetahui keadaan Neng Mitha dan bayinya.
"Bagimana Dokter, kami berharap putri dan cucuku baik-baik aja?" tanya Ibu Ani.
"Bagaimana dengan cucu kami Dok?" tanya Ibu Yuni
"Karena lahir prematur berat badan bayi hanya 1,9 kg; sekarang ini ada di ruang bayi dan di tempatkan di inkubator,"
"Apakah bayinya sehat Dok?"
"Bayinya sehat hanya kurang berat badannya saja,"
"Terima kasih Dok,"
"Sama sama, maaf ya Ibu, hanya satu atau dua orang saja yang menunggu pasien, sisanya besok boleh kembali, ini sudah malam."
__ADS_1
Dokter dan suster meninggalkan mereka dengan perasaan yang lega, walaupun Neng masih belum melewati masa kritisnya tetapi operasinya berjalan lancar sudah mengurangi kekhawatiran sedikit.
"Syukurlah, semoga besok pagi Neng Mitha sadar dan kita bisa berkumpul kembali terutama dengan putranya." ucap Ibu Sumi.
"Aamiin." jawab mereka semua serempak.
Malam ini Ibu Ani dan Mpok Atun yang menunggu Neng di rumah sakit, disanya kenbali ke rumah masing-masing besok mereka akan kembali menjenguk ke rumah sakit.
Menjelang subuh Ibu Ani berdiri di balik jendela kaca, memandang Neng yang belum tersadar dari tadi sore, tanpa terasa air mata menganak sungai, melihat gadis belia yang hidup berjuang seorang diri, tanpa adanya dukungan dari keluarga, bahkan ayah dari bayinya yang tidak mengetahui kehamilannya.
Membuat Ibu Ani teringat sudah hampir tiga bulan ini tinggal satu rumah dengan Neng, saat bersama dia akan terlihat ceria dan bahagia tetapi sudah beberapa kali Ibu Ani memergoki Neng yang sedang termenung saat dia sendirian sambil mengusap perutnya yang semakin membesar.
Hampir satu Minggu terakhir ini Neng sering melamun, sering duduk di ruang tamu sambil mengusap perutnya, tetapi saat Ibu Ani ikut bergabung duduk di sampingnya Neng selalu menyembunyikan kesedihannya, dan dia selalu menghindar jika di tanya.
Terkadang Ibu Ani juga melihat Neng mengusap air matanya, menangis diam-diam, jika di tanya jawabnya hanya menjawab terbawa perasaan atau baper, terkadang jawabannya bawaan bayi, padahal Ibu Ani tahu betul jika Neng selalu teringat dengan ayah bayinya.
Saat termenung Ibu Ani menjadi teringat putrinya yang ada di kampung, bagaimana kabar mereka sekarang sudah hampir sepuluh tahun tidak bertemu, kembali dia berlinang air mata sambil memandang lurus ke tempat tidur Neng.
Tangan Neng terlihat bergerak-gerak, Ibu Ani langsung berlari mendekati suster yang berada di lobi ruang pengawasan, "Suster apakah aku boleh masuk, aku melihat putriku tangannya bergerak?"
"Ayo Bu kita lihat kesana!" ajak salah satu suster sambil berlari kecil sambil membawa peralatan lengkap.
Ibu Ani berlari mengikuti suster tanpa membangunkan Mpok Atun yang masih terlelap di kursi panjang yang ada di samping pintu masuk ruang pengawasan.
Sampai di dalam Ibu Ani melihat Neng sudah tersadar, matanya berair dan pandangan matanya terlihat kosong, tangannya meraba perutnya yang sudah mengecil, terlihat syok dan bingung.
"Neng Mitha lihat aku Nak!" kata Ibu Ani menarik tangan Neng yang akan membuka infusnya karena masih bingung.
Neng semakin bingung dan menangis tergugu setelah menyadari perutnya sudah mengecil pikirannya semakin kalut karena tidak tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
"Nak, putramu sudah lahir dengan operasi ceasar, dia sehat terlihat tampan, hidungnya mancung dan rambutnya lebat jabrik naik keatas," hibur Ibu Ani sambil menggenggam tangan Neng dengan erat.