
Saat ini Encang Ginanjar tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. Baru kali ini Encang Ginanjar melihat adik iparnya mati kutu dan gelagapan karena pertanyaan konyol cucu laki-lakinya. Alfarizi dan Neng hanya tersenyum di tahan tidak berani menertawakan Ayah Asep.
"Cucu Ganteng. Bang Toyib tidak memiliki orang tua, Kakek bukannya tidak pulang tetapi belum sempat saja berkunjuung" jawab Ayah Asep asal.
Encang Ginanjar semakin tertawa lebar mendengar jawban Ayah Asep, "Abang Al, Dia itu hantunya Bang Toyib, lihatlah sebentar lagi pasti dia akan menghilang," katanya sambil terus tertawa.
"Kakek ... malam ini jangan menghilang dulu ya, setiap hari minggu pagi Abang Al, Papi dan baby Elfa berjemur sambil memakai kaca mata hitam. Abang ingin besok Kakek juga ikut berjemur juga, ok!"
"Tentu Bang."
"Terima kasih, Kakek memang yang terbaik." Alfian mencium pipi Ayah Asep sekilas.
Malam ini dengan terpaksa Ayah Asep menginap di villa satu kamar dengan Encang Ginanjar. Sayangnya saat Encang Ginanjar tertidur pulas, Ayah Asep keluar kamar dan bergabung dengan security. Berbincang sampai pagi dengan mereka tanpa tidur semenitpun.
Seperti permintaan Alfian tadi sore saat ini ketika cahaya matahari hangat menyentuh kulit. Di samping kolam renang villa, berjajar Alfarizi, baby Elfa, Alfian dan Ayah asep sedang tidur di kursi santai memakai kaca mata hitam. Momen ini tidak di sia-siakan oleh Neng untuk mendokumentasikan, baik foto ataupun vedio.
Setelah berjemur selesai mereka mandi dan sarapan bersama. Ayah Asep seperti selalu menghindari Neng secara tidak langsung. Dia memilih untuk berbincang dan bercanda dengan Afian saja.
Sampai kembali Alfian berwisata bersama rombongan ke Gedung Sate. Ayah Asep berpamitan pulang, "Neng, Ayah pulang dulu ya, jaga kesehatan, didik putra-putrimu dengan baik. Maafkan Ayah tidak pernah membahagiakan kamu."
"Ayah ikut kami pulang saja, kami ingin Ayah tinggal bersama kami," jawab Neng dengan linangan air mata.
"Tidak Neng, Ayah tidak mau merepotkan kalian. Ayah harus pulang sekarang."
"Neng tidak merasa di repotkan Ayah, Neng ingin berbakti pada Ayah."
"Neng dari dulu selalu menurut pada Ayah, itu berbakti namanya. Salam buat Alfian, tolong mintakan maaf padanya, Ayah pergi." Ayah Asep berjalan keluar villa tanpa menengok ke belakang, hanya ini kesempatan dia pergi karena Encang Ginanjar sedang di kamar mandi saat Ayah Asep keluar kamar.
Neng hanya terpaku melihat Ayah pergi dengan terburu-buru. Mulutnya seolah kelu tanpa sanggup memanggil ayahnya. Neng hanya mengusap air mata berkali-kali sambil menatap punggung Ayah Asep yang semakin jauh.
Alfarizi langsung berlari menyusul ayah mertuanya setelah mencium pipi istrinya, "Jangan khawatir, Papi yang akan mengantar Ayah pulang, Papi tinggal dulu ya."
Sampai Alfarizi berlari mendekati Ayah Asep, "Ayah tunggu ...!"
__ADS_1
"Ya, ada apa Nak?"
"Al yang akan mengantar Ayah pulang, angkot Ayah sekarang juga sudah ada di depan kontrakan Ayah." Alfarizi langsung berjalan beriringan dengan ayah mertuanya sampai di parkiran.
Ternyata Junaidi sudah stanbye di mobil karena mendapatkan pesan WA dari Neng sesaat Alfarizi meninggalkannya tadi. Dia langsung memajukan mobilnya saat Ayah Asep dan Alfarizi sampai di halaman villa. Mereka langsung berangkat menuju rumah kontrakan Ayah Asep.
Dalam mobil saat perjalanan pulang, Alfarizi berusaha berbicara dari hati ke hati. Ingin mengakrabkan diri agar Ayah Asep bercerita. Ingin sekali mengurangi beban yang ada di dalam pikirannya, tetapi sayangnya Ayah Asep membatasi diri dan tidak ingin mengakrabkan diri dengan menantunya.
Sampai di gang masuk kontrakan, Ayah Asep meminta mobilnya berhenti, "Sebelum gang berhenti ya."
"Tuan ...?" Junaidi bertanya kepada Alfarizi.
"Tidak apa-apa berhenti saja, Jun!"
"Baik Tuan." Perlahan mobil berhenti di tempat yang di minta.
Ayah Asep langsung turun dengan cepat, "Kalian tidak usah turun dan langsung pulang tidak perlu mengikuti Ayah!" katanya dengan tegas.
Junaidi terpana saat melihat Alfarizi yang sabar dan tersenyum. Biasanya saat di kantor bosnya itu tegas, mudah marah dan jarang mau di perintah ataupun di bantah. Junaidi sampai mengucek mata dan mencubit tangannya sendiri karena seperti mimpi.
"Tuan, mengapa ayahnya Nona, Anda biarkan pulang sendirian. Bagaimana kalau nanti Nona bertanya?"
"Tenang Jun, ada anak buah Surya sedang berada di samping rumah kontrakan Ayah."
"Ooo Bang Surya memang cekatan."
"Ada mantan istri dan anaknya sedang menunggu Ayah sekarang ini, makanya Beliau tidak mau kita antar atau ikuti," jawab Alfarizi sambil fokus melihat ponselnya.
"Ada Cek Kokom dan Esih di sana, Tuan. Dari mana Anda tahu?"
"Ini baru saja di kirimi foto mereka sedang duduk di depan taras." Alfarizi menunjukkan foto dari ponselnya ke Junaidi.
Junaidi langsung menghadap ke belakang melihat ada dua orang wanita yang berbeda usia. Yang lebih tua sedang menggendong balita laki-laki berumur tiga tahun lebih, "Siapa anak kecil yang di gendong Cek Kokom itu, Tuan?"
__ADS_1
"Entahlah atau itu anak dari si serangga itu ya, Jun?"
"Mungkin saja. Oya ini kita ke mana lagi, Tuan?"
"Kita tunggu saja di sini sampai orang suruhan Surya menemui kita di sini!"
"Siap Tuan."
Sambil menunggu Alfarizi mengirim foto yang baru saja di dapatnya dari anak buah Surya kepada Neng. Menceritakan juga jika dirinya di larang mampir ke rumah kontrakan Ayah Asep. Meminta untuk menceritakan kepada Encang Ginajar tentang yang terjadi baru saja.
Neng terus-menerus berpesan untuk mencari tahu mengapa ada mantan istri Ayah Asep di sana. Mencari tahu juga balita yang sedang di gendong oleh ibu tirinya. Jika di lihat umur balita itu sekitar tiga tahun, Neng menduga tidak mungkin itu adalah putra dari Rangga Siregar.
Hampir satu jam Alfarizi menunggu kabar dari orang yang sedang mengawasi rumah Ayah Asep. Dia hanya bertanya lewat pewan WA saja agar tidak mengganggu penyelidikan.
Terkadang Alfarizi tersenyum sambil membaca pesan jawaban istrinya karena di sela-sela pesan yang membuat tegang. Alfarizi menyelipkan candaan dan rayuan receh yang membuat Neng sewot. Hanya meberikan candaan dan rayuan kecil membuat Neng menjadi tenang dan tidak mengalami trauma lagi.
Datang seorang laki-laki yang berpakaian hitam langsung mengetuk kaca mobil Alfarizi, "Tuan ...!"
"Ya masuklah ... siapa namamu?" tanya Alfarizi.
"Nama saya Roy, Tuan."
"Kamu tahu kapan datangnya tamu ayah mertuaku?"
"Tahu Tuan, mereka datang pukul tujuh pagi."
"Posisi kamu berada di mana saat mereka datang?" tanya Junaidi.
"Saya sedang duduk di teras kontrakan samping rumah mertua Tuan Al, betulan kontrakan itu kosong dan saya menyewa selama satu minggu."
"Ok, mana laporan lengkap menyelidikan kamu, apakah bisa kamu kirim sekarang?"
"Baik Tuan, saya kirim sekarang, dari vedio percakapan mereka sampai latar belakang tamu ayah mertua Anda lengkap di sana."
__ADS_1