Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Cerita Tentang Ayah


__ADS_3

Surya dan Junaidi memutari area pemakaman untuk mencari rumah yang memiliki CCTV. Dari beberapa rumah yang ada di depan pemakaman hanya ada satu rumah yang memiliki CCTV yang mengarah ke jalan raya menuju pemakaman. Surya dan Junaidi menemui security yang menjaga rumah itu dan meminta izin untuk melihat rekaman pada pagi itu.


Dari sana Junaidi dan Surya langsung mendapatkan petunjuk bahwa orang yang di maksud sering berada di jalan raya tidak jauh dari pemakaman bekerja sebagai tukang tambal ban. Dia bekerja mulai dari pukul delapan malam sampai menjelang pagi. Jika siang hari tambal ban miliknya dijaga oleh orang lain dengan bagi hasil karena sudah berumur dia tidak sanggup bekerja jika banyak pelanggan saat siang hari.


Dengan terpaksa Surya dan Junaidi menunggu di tempat tambal ban itu karena saat mereka datang pak tua itu sedang belanja bahan untuk tambal bannya di bengkel yang ada di dekat pasar. Setelah hampir dua jam menunggu mereka melihat ada motor metik merah datang dari gang yang ada di seberang bengkel. Berbincang dan mengatakan tujuan kepada orang yang di carinya mulai dari sore akhirnya dia mengajak untuk menemui tuannya.


Pukul sepuluh malam mereka sampai di depan pintu gerbang villa ada Abi Ali dan Dokter Harry sedang bermain catur dengan security, "Tuan ...!" panggil Surya.


"Surya ... Jun, kalian dari mana, lo Dia ...?" Abi Ali kaget melihat ada satu motor lagi yang berhenti di belakang motor yang di kendarai oleh mereka berdua.


"Beliau Pak Tua yang di maksud penjaga pemakaman tadi pagi, Tuan," jawab Junaidi.


Yang di panggil pak tua langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman kepada Abi Ali dan Dokter Harry, "Tuan ..."


"Ayo langsung masuk saja, kita berbincang di dalam!" ajak Abi Ali.


Sampai di ruang tamu bersamaan ada Alfarizi menuruni tangga sambil membawa botol air mineral kosong, "Al ada yng ingin bertemu dengan istrimu, apakah Nak Mitha sudah tidur?" tanya Abi Ali.


"Siapa Bi, Jun ... Surya kamu sudah menemukan yang di panggil Pak tua?" tanya Alfarizi.


"Ini orangnya Tuan," jawab Surya dan Junaidi bersamaan.


Alfarizi langsung mengulurkan tangannya menyalami orang yang baru di kenalnya, "Silahkan duduk, saya memanggil istri saya sebentar."


Alfarizi naik tangga kembali dengan langkah panjang masuk ke kamarnya, "Mami my Honey ...."


"Papi, mana minumnya katanya mau mengambilkan air putih, Mami haus ini?"


"Oya Papi lupa, ada Pak Tua seperti yang di maksud penjaga makam tadi pagi sedang menunggu Mami di ruang tamu."


"Siapa Pi, apakah Ayah Asep?"


"Bukan Honey, kalau Ayah Asep pasti Papi mengenalnya, ini lebil tua dari Ayah Asep."

__ADS_1


"Ayo kia temui sekarang!"


Saat ini Neng sedang mengenakan pakaian lingerie tipis tanpa lengan dan panjang selutut. Saat Neng berjalan mendekati pintu Alfarizi langsung memeluknya dari belakang, "Jangan keluar seperti ini dong Mami, pakaian ini hanya khusus Papi yang boleh melihatnya, ayo ganti baju dulu!"


Alfarizi langsung mengambil baju hamil yang menggantung di lemari dan memberikannya kepada istrinya. Neng langsung berganti di depan suaminya. Alfarizi hanya menelan ludah melihat pemandangan indah yang ada di depannya.


"Papi, matanya di jaga awas ngeces!"


"Honey, yang ngeces bukan mata Papi, tetapi senjata onta arab Papi meronta-ronta ingin bergoyang."


"Ha ha ha, diikat aja dulu di tiang, di larang bergoyang,"


"Enak aja jangan diikat di tiang juga dong, tega banget." Alfarizi mengerucutkan bibirnya dan cemberut membuat Neng semakin tertawa lepas.


"Ayo kita keluar!"


Neng menggandeng tangan suaminya keluar kamar. Baru sampai di pertengahan tangga Neng melihat sosok laki-laki tua yang langsung berdiri saat Neng dan Alfarizi menuruni tangga, "Encang Ginanjar ...!" teriak Neng langsung mencium punggung tangannya.


"Neng Geulis, Mitha ini kamu?"


"Mami, siapa dia?" bisik Alfarizi di telinga Neng.


"Encang Ginanjar ini kakak kandung Ibu," jawab Neng juga berbisik.


Neng bercerita Encang Ginanjar dulu merantau ke Kalimantan dan menikah di sana. Encang tidak pernah pulang ke kampung halaman. Neng terakhir bertemu dengan Encang Ginanjar lima bulan sebelum ibu meninggal dunia.


"Encang sudah tiga tahun kembali ke sini Neng, istri dan putri Encang sudah meninggal dunia di Kalimantan."


Encang bercerita menikah dengan gadis Kalimantan suku Dayak dan memiliki satu putri. Saat putrinya baru berumur lima belas tahun meninggal dunia karena malaria. dan tiga tahun yang lalu istrinya meninggal dunia karena corona.


"Encang sudah bertemu dengan Ayah?" tanya Neng.


"Sudah, apakah dia tidak menemui kamu?"

__ADS_1


"Tidak pernah Cang, di mana Ayah sekarang?"


"Waduh benar-benar itu laki-laki gemblong, ayahmu sekarang ada di Bandung, tetapi dia tidak pernah memberikan alamat dengan jelas," gerutu Encang Ginanjar.


"Tapi Cang, kami dengar Ayah sudah bercerai dengan istrinya, mengapa sekarang masih di Bandung sekarang?" tanya Alfarizi.


Akhirnya Encang Ginanjar bercerita tentang Ayah Asep. Awalnya ayahnya Neng iu tinggal berdua dengannya di rumah kecil yang sekaligus sebagai tempat tambal ban. Saat mengetahui makam ibu Neng di perbaiki oleh Junaidi atas perintah Alfarizi. Dia langsung kembali ke Bandung tidak ingin bertemu dengan Neng.


"Mengapa ia tidak ingin bertemu dengan putrinya sendiri?" tanya Abi Ali.


"Dia tidak berani bertemu dengan putrinya sendiri karena merasa bersalah, laki-laki gemblong itu selalu dihantui oleh wasiat istrinya yang menginginkan putrinya menjadi desainer terkenal."


"Encang tahu mengapa Ayah bercerai dengan istrinya yang kemarin?" tanya Neng lagi.


Encang Ginanjar bercerita lagi jika istri dari Ayah Asep selalu hidup dengan glamaur. uang yang di dapatnya untuk hidup mewah. Ayah Asep hanya bekerja sebagai sopir taksi online.


Pendapatan dan pengeluaran yang tidak seimbang membuat keluarga itu semakin lama semakin tidak harmonis setelah tabungan mulai habis. Sampai akhirnya Ayah Asep mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol dan mobilnya ringsek. Akhirnya mobil di jual dan Ayah Asep menjadi pengangguran.


Puncaknya istri Ayah Asep selingkuh dengan teman kerjanya. Ayah Asep mengetahui perselingkuhan itu dari putri tirinya yang berterus terang bercerita. Kemudian Ayah Asep menuntut cerai setelah itu kembali ke kampung halaman dan tinggal bersama Encang hampir satu tahun.


"Dari mana Ayah tahu saya tinggal di Bekasi, Cang?"


"Dia tahu dari televisi saat kamu menikah di siarkan di televisi, waktu itu sudah Encang marahi dia, Encang suruh dia menemui kamu, Encang suruh dia minta maaf."


"Tetapi Ayah belum pernah bertemu dengan kami, Encang. Apa yang terjadi?" tanya Alfarizi lagi.


"Laki-laki gemblong itu tidak pernah berubah, gengsinya saja yang di gedein, sudah tahu salah malah menghindar dan memilih jadi sopir angkot di Bandung."


"Sopir angkot ...?"


BERSAMBUNG


*******

__ADS_1


Ayok mampir di novel teman yang rekomen ini, di NT juga lo



__ADS_2