Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Puasa Lagi


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu ini Alfian selalu bercerita tentang mama baru Putri yang ingin bertemu dengan Alfarizi. Alfarizi yang sangat sibuk karena perusahaan kemarin di tinggal selama sepuluh hari sering terlambat menjemput Alfian. Sehingga Mamanya Putri belum pernah sekalipun bertemu dengan Afarizi.


Terkadang hanya Neng yang menjemput Alfian di sekolah tetapi juga belum pernah bertemu dengan mamanya Putri. Alfian tidak pernah berhenti bercerita karena setiap istirahat mamanya Putri selalu menemui Al. Selalu membawakan makanan untuk Al dan teman-temannya.


"Al, besok lagi kalau di tanya sama Mama putri, coba Al gantian tanya mengapa tanya terus tentang Papi!"


"Pernah kok Mi, Al tanya seperti itu tetapi jawabnya tidak usah tahu itu urusan orang tua."


"Ya sudah, pesan Mami lain kali kalau Al di tanya lagi jawab aja tidak tahu, bukan Mami mengajari Al untuk berbohong, sepertinya niat dan tujuan dari Mama Putri tidak baik, jadi lebih baik menghindar saja, Al faham?"


"Iya Mi, Al dari kemarin juga sudah tidak menerima makanan yang diberikan oleh Mama Putri, yang makan teman-teman, Al makan bekal dari rumah."


"Putra Mami memang pintar."


Rencananya hari Sabtu besok Alfarizi mengajak Neng dan Alfian berlibur ke villa milik mereka yang berada di kampung Neng. Ingin memanjakan senjata onta arab yang baru satu minggu berbuka puasa. Rencana tinggal rencana setelah Alfarizi mendapat kabar dari Riyadh.


Umi Anna menghubungi Alfarizi sambil menangis bercerita Abi Ali kembali terkena strok ringan. Yang rencanya akan ke villa mereka langsung berangkat ke Riyadh menggunakan pesawat pribadi. Kekhawatiran Neng dan Alfarizi saat Umi menangis sesungukan membuat mereka langsung berangkat.


Umi bercerita jika perusahaan yang Abi Ali pimpin hampir mengalami pailit selama di tinggal beberapa bulan di Indonesia. Ada orang dalam yang menggelapkan dana perusahaan secara besar-besaran. Abi Ali belum menemukan pelakunya tetapi isu yang terdengar pelaku adalah saudara sendiri.


"Al, apakah Umi boleh pinjem Papi satu minggu saja untuk membantu Opa?" tanya Umi Anna kepada Alfian saat mereka sedang berada di ruang rawat inap Abi Ali yang dirawat di rumah sakit Yang ada di Riyadh.


"Untuk apa Oma?"


"Untuk membantu Opa agar cepat sembuh, Papi akan tinggal di Riyadh satu miggu, bagaimana?"


"Ya Oma boleh tetapi Papi tidak tinggal lama seperti dulu kan?"


"Tidak hanya satu minggu saja, kalau Papi bisa cepat mengatasi masalah di perusahaan Opa, bisa kurang satu minggu sudah pulang."

__ADS_1


"Tetapi Mami tidak ikut, kan?"


"Tidak Nak Minggu sore Mami dan Al pulang, Jum'at depan kita jemput Papi lagi."


"Yang penting Opa cepat sehat, itu harapan Al, biar papi tidak jadi Bang Toyip lagi."


Alfarizi tertawa lepas mendengar ucapan Alfian diikuti Neng dan Umi Anna. Abi Ali yang awalnya masih murung memikirkan perusahaan ikut tertawa. Alfian yang baru ikut tertawa setelah Abi Ali tertawa.


"Naaah begitu dong Opa, Al seneng melihat Opa tertawa," kata Alfian sambil menunjukkan jempolnya.


Dua hari satu malam Neng membantu Ummi Anna merawat Abi Ali dengan telaten. Alfarizi langsung tancap gas menyelidiki perusahaan dengan teliti. Di bantu oleh Surya melalui Zoom, VC ataupun lewat hubungsn telepon dan email.


Minggu sore Neng dan Alfian terpaksa harus pulang kembali ke Jakarta tanpa di dampingi Afarizi. Alfarizi melepas kepergian Neng dengan setengah hati. Baru saja balas dendam memanjakan senjata onta arabnya sekarang harus puasa lagi.


Mengingat pekerjaan yang sangat banyak, Alfarizi hanya mengantar Neng sampai keluar pintu rumah Umi Anna. Menggandeng dan memeluknya sesaat yang bisa dilakukan Alfarizi bahkan ingin mencium bibirnya saja tidak ada kesempatan. Afian selalu mengikuti orang tuanya sehingga Alfatzi tidak memiliki waktu untuk sekedar berbincang mesra.


Dalam satu minggu rencananya setiap hari Alfian diantar jemput sekolah oleh Doni. Alfian sering menghindari Mama Putri saat beristirahat tiba. Setelah maminya mengatakan kemungkinan dia memiliki niatan yang tidak baik Alfian sering menghabiskan waktu di perputakaan.


"Iya betul," jawab Doni singkat.


"Kemana ke dua orang tua Al, biasanya mereka yang jemput?"


"Tuan Al sedang ke luar negeri sedangkan istrinya ada rapat."


Mama Putri memandangi wajah Doni dengan seksama. Dia tidak mengenalinya sama sekali identitas laki-laki yang ada di depannya. Suaminya tidak memberikan penjelasan dan foto orang yang baru saja diajaknya berbincang.


"Apakah Anda saudara dari orang tua Alfian?"


"Bukan, saya hanya sopir dan pegawainya beliau saja."

__ADS_1


"Ooo sopirnya."


Kelas terlihat ramai dan satu persatu para siswa keluar. Putri keluar terlebih dulu dan mendekati mamanya, "Mama sudah bertemu Papinya Al?" bisik Putri di telinganya.


"Belum, kata sopirnya dia sedang ke luar negeri, ayo kita pulang!"


Doni yang mendegar pembicaraan mereka hanya mengerutka keningnya. Hanya bertanya dalam hati siapa mereka belum pernah sekalipun mengenalnya. Dia hanya memandangi wanita muda tetapi memiliki anak gadis seumuran Alfian.


"Om ... lihatin Mama Putri sampai tidak lihat Al datang sih?"


"Eee Ganteng bikin kaget saja, siapa mereka kok membicarakan Papi?"


"Iya Om dari kemarin Mama Putri pingin ketemu Papi, Al juga bingung."


Hampir lima hari berlalu, hari yang berat bagi duo Al yang tinggal berjauhan. Setiap Al mau tidur harus VC dulu dengan papi, oma dan opanya sebagai pengobat rindu. Waktu yang berbedaan antara Riyadh dan Jakarta yang membuat komunikasi agak sulit.


Alfarizi selalu VC Neng hampir menjelang pagi karena rasa rindu yang tak tertahankan. Saat itulah waktunya Alfarizi istirahat dari pekerjaannya yang sangat menyita waktu. Terkadang memohon dan meminta yang aneh-aneh kepada Neng dari phone s*x, sampai meminta Neng harus polos tanpa sehelai benangpun. Jika tidak di turuti Alfarizi akan selalu mengganggu Neng tidak boleh tidur.


Hari Jum'at setelah Alfian pulang sekolah, Neng dan Alfian bersiap untuk menyusul Alfarizi ke Riyadh. Menghubungi Surya rencananya pesawat akan siap pukul lima sore. Neng mempersiapkan semua yang akan di bawanya termasuk koper dan makanan pesanan Abi Ali yaitu rendang jengkol dan rendang daging.


Doni sudah siap di depan pintu mobil bersiap untuk membukakan pintu setelah selesai mengangkat koper yang akan dibawa dan rapi di dalam bagasi mobil. Neng dan Alfian baru saja ingin masuk ke mobil setelah Doni membuka pintu.


"Permisi ... permisi Alfian!" teriak dua wanita yang berdiri di depan geebang.


"Waduh ngapain mereka ke sini, Mami itu ada yang teriak memanggil Al, bagaimana?"


"Kita sudah hampir terlambat Al, biar Nenek Ani saja yang menemui mereka, ok!"


"Ya Mami, Om ayo jalan!"

__ADS_1


"Siap Ganteng."


__ADS_2