Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Resepsi Pernikahan Surya dan Desi


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Surya dan Desi di gedung hotel yang tidak jauh dari mall milik Alfarizi. Akad nikah di laksanakan pukul sembilan pagi dengan saksi dari pihak pengantin laki-laki Alfarizi. Dan dari pihak pengantin wanita Neng.


Saat akad nikah berlangsung Alfarizi matanya berkaca-kaca mulai terbawa perasaan seperti biasa akibat sindrom Pak Mil, "Papi, mengapa mau menangis begitu, Surya yang menikah tertawa lepas Papi malah menangis?" tanya Neng yang sedang duduk di sampingnya.


"Papi teringat akad nikah kita mengapa akad dua kali tidak sesakral ini ya, apakah boleh kita ulang akad nikahnya biar seperti ini, Honey?"


"Tidak perlu Papi, semua orang mengalami peristiwa dan takdir masing-masing, Mami bahagia kok walaupun akad nikah hanya memakai baju pasien rumah sakit seperti kemarin."


"Terima kasih Mami, I love you so much."


Neng Tersenyum dan mengangguk mengusap tangan Alfarizi yang menggenggam tangan Neng dengan erat. Setiap orang pasti akan mengalami peristiwa sakral akad nikah. Hanya saja pasti akan berbeda peristiwa dan situasinya yang penting sah menurut agama dan negara.


Pukul sebelas siang para tamu mulai berdatangan baik relasi bisnis, keluarga, sahabat dan tetangga dari kedua pasangan pengantin. Pada waktu istirhat siang tamu undangan mayoritas pegawai mall seolah mall berpindah ke gedung resepsi pernikahan. Bahkan mereka memanfaatkan menyalami owner mereka yaitu Alfarizi.


Surya mengerutkan keningnya karena para pegawai mall setelah mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin langsung menyalami pasangan Alfarizi dan Neng. Yang menjadi pusat perhatian bukannya ke dua mempelai tetapi bos dari kedua mempelailah yang menjadi bintangnya. Mereka selalu mengidolakan ownernya yang terlihat galak dan jutek tetapi saat bersama istrinya bucin abis.


Neng jadi cemberut dan sedikit kesal karena karyawan mall yang berebutan menyalami ownernya. Yang di jadikan rebutan juga senyum-senyum dan menanggaminya dengan santai. Tidak memperhatikan istrinya yang cemberut dan di tekuk wajahnya.


Alfian yang awalnya duduk manis bersama Ibu Ani dan Doni berlari mendekati ke dua orang tuanya setelah melihat Neng setengah hati menyalami para pegawai mall yang mengoidolakan papinya, "Papi, lihatlah wajah Mami!" bisik Alfian d telinga Alfarizi.


Alfarizi hanya tersenyum devil melihat Neng yang cemberut dan muka yang di tekuk, "Mami cemburu ya?" tanyanya sambil mentowel dagu Neng dan mengedipkan matanya.


"Tidak, Mami hanya lagi kesel aja pingin melempar Papi ke Antartika!"


Alfian tertawa lepas mendengar ucapan maminya teringat Oma Anna yang selalu mengucapkan itu saat kesal dengan papinya, "Ha ha ha, Mami sudah ketularan Oma sadis banget."


"Tega banget sih Mami, Papi hanya mencoba ramah seperti Mami." Alfarizi mengerucutkan bibirnya sambil memeluk istrinya dengan erat.


Pada sore harinya tamu mayoritas rekan bisnis, kolega dan teman Surya. Alfarizi banyak berbincang dengan mereka yang mayoritas laki-laki. Di temani Surya juga ikut berbincang sambil menikmati hidangan yang di sediakan.

__ADS_1


Selama hamil Neng sering mudah lelah, belum sampai acara selesai kaki rasanya tidak kuat untuk berdiri. Meminta izin untuk pulang terlebih dahulu dan meminta Alfian untuk memanggilkan papinya, "Al, panggikan Papi sebentar bisa Nak!"


"Tentu Mami, Al panggil Papi sekarang."


Alfian berjalan dengan langkah panjang mendekati Alfarizi dan berbisik di telinganya, "Papi, di panggil Mami sekarang!"


"Ok ayo kita temuai Mami, permisi semua." Alfarizi pamit kepada rekan bisnisnya dan menggandeng Alfian berjalan mendekai Neng.


"Ada apa Mami, apakah perlu sesuatu?"


"Kaki Mami pegal dan capek, Mami ingin beristirahat pulang."


Dengan spontan Alfariizi berjongkok memijit kaki Neng. Tidak memperdulikan orang yang ada di sekitarnya melihat dengan pandangan mata yang tak bisa di artikan. Banyak juga yang iri dengan sikap romantis seorang Alfarizi terhadap istrinya.


"Papi, mengapa malah memijat kaki Mami, ayo antar pulang nanti Papi bisa kembali ke sini, atau Mami pulang diantar Bang Doni saja, bagaimana?"


"Tidak perlu Honey, ayo kita istirahat di kamar saja!" ajak Alfarizi tetapi tangannya masih memijit kaki Neng dengan lembut.


"Kemarin Papi sudah reservasi untuk menginap di sini, tidak hanya untuk ke dua mempelai saja, Ibu Ani dan Bang Doni juga sudah Papi pesankan kamar hotel di sini," cerita Alfarizi sambil tersenyum devil.


Neng jadi mengerucutkan bibirnya saat melihat Alharizi tersenyum seperti itu. Pasti merencanakan sesuatu dan ada udang di balik bakwan lagi. Kebiasaannya belum juga hilang, dia selalu berlebihan saat membeli atau memesan sesuatu, sekarang ini memesan kamar hotel untuk seluruh keluarga.


"Papi, apakah Al juga di pesankan kamar sendiri?"


"Tentu dong Nak, sudah Papi pesankan kamar khusus untuk Al, ayo kita istirahat!"


Berpamitan kepada ke dua mempelai dan ke dua orang tua mempelai untuk beristirahat. Neng berjalan di gandeng oleh duo Al kanan dan kiri menuju kamar hotel yang ada di lantai atas, "Al, ini kamarnya sebelah sini. Papi dan Mami ada di depan kamar Al yang itu, msu istirahat atau ikut masuk kamar Papi?" tanya Alfarizi sambil menunjuk dua kamar yang seling berhadapan.


"Al mau istirahat sebentar, nanti nyusul menemani Mami istirahat."

__ADS_1


"Ok selamat beritirahat."


Neng meluruskan kakinya di tempat tidur setelah masuk kamar hotel. Rasanya kaki seperti selesai berjalan berpuluh kilometer jauhnya. Memijat kakinya sendiri perlahan saat Alfarizi pergi ke kamar mandi.


Alfarizi langsung duduk di pinggir tempat tidur kembali memijit kaki Neng setelah dari kamar mandi, "Apakah capek banget, Honey?"


"Tidak kok Pi, hanya pegal saja. Papi kembali ke acara resepsi Surya saja pasti banyak yang menanyakan Papi, kasihan Surya."


"Nanti saja Honey, Papi mana tega meninggalkan istri Papi sendirian di kamar," jawabnya sambil mengedipkan matanya.


"Jangan macam-macam Papi, Mami tahu betul yang ada di pikiran Papi, ini masih sore pasti sebentar lagi Al akan mengetuk pintu bergabung dengan kita."


"Mami tahu aja sih, paling tidak Papi mau nyicil aja dulu untuk pemanasan." Tangan Alfarizi mulai memijit area sensitif milik Neng dengan lembut.


Alfian masuk kamar hotel kedua orang tuanya tanpa mengetuk pintu karena kebetulan pintu lupa tidak di kunci. Dengan spontan tangan Alfarizi berpindah tempat kembali memijit kaki Neng. Neng tertawa melihat Alfarizi gugup seperti maling yang ketahuan sedang mencuri sesuatu.


"Mami, apakah kakinya masih pegal?"


"Iya Nak, masih sedikit pegal, mengapa tidak jadi istirahat di kamar Al?"


"Al lupa tadi ada tamu yang menayakan Mami, seorang wanita seumuran Mbok Atun saat Mami sedang ke kamar mandi, apakah sudah bertemu dengan Mami?"


" Belum Nak, siapa orang yang bertemu dengan Mami?"


"Al tidak tahu Mami, Al juga tidak kenal."


BERSAMBUNG


*******

__ADS_1


Author promo milik teman ya, jgn lupa mampir



__ADS_2