Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Kolam Es Cendol


__ADS_3

"Eeee ... siapa itu Akang Gundul?"


Rania hanya diam dan terus menikmati pancake dengan toping mangga dan madu. Alfian memandangi wajah Rania yang cuek tidak mau menjawab pertanyaannya. Padahal di hatinya mulai ada rasa cemburu yang membara.


Kaki Alfian menginjak perlahan kaki Rania. Memberikan kode agar mau menjawab pertanyaannya, "Siapa yang suka merayu Rani?"


"Abang Tuan cemburu ya?"


"Wajar dong suami cemburu mendengar istrinya di rayu orang, betul tidak, Kakek?"


Abah hanya tersenyum sambil menikmati nasi goreng petai kesukaan. Membayangkan kepala pelontos Akang Gundul dan tubuh tambunnya. Laki-laki paruh baya yang hobinya merayu pelanggan yang sebagai besar adalah ibu-ibu.


"Akang Gundul itu umurnya sudah tua, memiliki dua istri dan dua lusin anak, apakah Abang Tuan masih cemburu?"


"Oooo tapi tetap saja Rani harus berhati-hati dengan laki-laki seperti itu. Abang sudah melihat sendiri dua laki-laki yang merayu Rani kemarin."


"Siapa? perasaan kemarin Tuan Abang hanya melihat si Aa tukang maksa yang bekerja di Bandung itu saja."


Abah langsung menjawab, "Saat kemarin Neng Rani di rias sebelum akad nikah, datang Karjo dengan membawa satu truk seserahan."


"Karjo gelo, Bah?"


"Iya ... sampai suamimu harus mengeluarkan uang 100 juta untuk ganti rugi."


"100 juta, Abang Tuan ... itu uang semua?"


"Apa Rani tidak pernah melihat uang 100 juta?" tanya Alfian cepat.


"Boro-boro ... Rani hanya punya seperempatnya saja selama menjadi sopir angkot, itupun Abah yang pegang."


Alfian tersenyum kecut mendengar kejujuran Rani. Teringat perjuangan Mami Mitha saat belun bersama Papi Alfarizi. Saat itu Mami Mitha juga mengumpulkan uang dengan penuh perjuangan.


"Seandainya Rani memiliki uang 100 juta buat apa?"

__ADS_1


"Tadak tahu, hanya membayangkan kalau 100 juta buat beli es cendol semua, Rani bisa berenang sesuka hati, ha ha ha!"


"Rani mau?"


"Enggak ah ... nanti Rani di kerumuni semut berenang di es cendol."


"Rani manis sih makanya di kerumuni semut," Rayu Alfian.


"Kalian ini pagi-pagi sudan ngepombal aja, memang semalam masih kurang?" tanya Abah dengan cepat agar Rania menjawab jujur.


"Tadi malam tidak ...!" Rania belum sempat melanjutkan ucapannya karena kakinya diinjak lagi oleh Alfian, "Aaauw sakit ... Abang Tuan!" teriaknya.


"Tidak usah di sembunyikan, Bang. Kakek sudah bisa menebak dari perkataan Neng Rani barusan."


"Kami memutuskan untuk menunda dulu, Kek. Sampai menikah resmi dan Abah serta Rani bertemu Mami dan Papi."


Abah langsung berkaca-kaca bahagia dengan keputusan cucunya. Merasa lega cucu angkatnya tidak mengalami penderitaan seperti putri kandungnya dulu. Saat ini Abah merasa seperti telah menebus dosa yang pernah di lakukan dulu dengan bisa menolong Rania.


"Apa alasan Abang menundanya padahal sekarang kalian sudah sah walaupun hanya nikah sirri?"


Abah tersenyum mendengar ucapan Alfian yang memiliki pendirian kuat. Dia mulai bisa mengenali sifat Alfian yang bertanggung jawab dan memegang teguh ajaran agama. Putrinya berhasil mendidik Alfian dengan pendidikan tinggi dan agama yang selalu di pegang teguh.


"Baiklah ... Kakek menghargai keputusan kalian. Abah mau menemui sopir yang akan membawa angkot Neng Rani."


"Tunggu Kakek, sebaiknya bareng Abang saja!"


"Abang mau ke mana?" tanya Abah juga.


"Abang mau mengajak Rani ke salon."


"Eee Rani tidak mau potong rambut, Abang Tuan!"


Alfian tersenyum dan mengelengkan kepalanya, "Ke salon tidak hanya cuma potong rambut, Rani Sayang. Abang ingin Rani semakin cantik saat bertemu Papi dan Mami, tidak seperti sekarang ini. Memakai celana tiga perempat dan kaos saja."

__ADS_1


"Oooo tidak boleh ya, biasanya setelah begini Rani pakai topi dan handuk kecil di leher."


"Ha ha ha Neng Rani mau menghadap mertua jangan di samakan sedang narik angkot dong!"


Rania hanya nyengir kuda, tidak pernah memikirkan siapa dan bagaimana kehidupan mertuanya. Dia hanya membayangkan sudah satu tahun hidup bersama Abah yang sederhana. Kemungkinan putri Abah juga hidup sederhana seperti kebanyakan ibu rumah tangga yang lainnya.


Pukul sepuluh pagi, Alfian mengantar Rania di rumah kecantikan terbesar yang ada di daerah dekat pangkalan angkot. Menemui owner dari rumah kecantikan dan memerintahkan untuk merawat Rania dengan me-make over penampilan Rania. Dari wajah, rambut, kulit serta baju yang sudah di pesannya dari butik yang tidak jauh dari rumah kecantikan.


"Sayang, nanti Abang ke sini lagi. Dandan yang cantik ya," bisik Alfian di telinga Rania.


"Abang jangan lama-lama ya, nanti kalau sudah selesai Abang Tuan belum datang bagaimana bayar salonnya, Abang Tuan?"


Alfian mengambil dompet dan membukanya. Mengambil salah satu ATM black card, "Nanti bayar saja pakai ini!"


"ATM black card, isinya berapa, Bang?"


"Nanti Rani cek sendiri, passsword Abang kirim lewat pesan WA."


"Kalau mau buat beli es cendol, Rani bisa berenang tidak?"


Alfian tersenyum dan mengacak rambutnya karena gemas, "Jangankan kolam renang es cendol, Rani bisa menggunaan kartu itu untuk membeli sepuluh pesawat."


"Apa ... Abang Tuan tidak bercanda?"


Alfian mengelengkan kepalanya sambil melihat wajah Rania yang terlihat kaget dan tegang. Kartu ATM itu langsung Rania sodorkan kepada suaminya kembali, "Ini Abang Tuan saja yang memegang kartunya, Rani takut."


"Takut kenapa? pegang saja. Abang masih punya tiga lagi kartu seperti itu, sudah ya Abang mengantar Kakek dulu!"


Rania hanya menjawab mengangguk dan termenung melihat suaminya berlalu keluar dari rumah kecantikan. Masih membayangkan kartu ATM black card milik Alfian yang isinya selangit. Membayangkn saja membuatnya linglung dan gagal fokus karena memikirkan jumlah uang yang ada di dalamnya.


Rania melakukan perawatan satu persatu sambil melamun. Tidak mengenal siapa dan latar belakang suaminya sama sekali. Setelah mengetahui jumlah uang yang di milikinya kini membuat dia penasaran.


Sambil perawatan Rania membuka ponselnya dan membuka media sosial mencari informasi tentang Alfian. Hanya dengan menulis nama belakang suaminya Alfarizi Zulkarnain, mata Rania terbelalak dengan sempurna. Dia membaca seorang pengusaha besar dan terkenal dan memiliki usaha di sekitar Jakarta dan sekitarnya.

__ADS_1


Yang lebih mencengangkan lagi saat Rania melihat istri dari pengusaha terkenal itu adalah idolanya. Wanita cantik dan anggun yang berasal dari satu desa yang sangat sukses dan terkenal di desanya. Bahkan idolanya itu sering membantu warga desa yang kurang mampu saat momen idul fitri atupun idul adha atau hari-hari tertentu.


Ibu Mitha adalah nama yang sangat familier dan terkenal di kalangan ibu-lbu di desanya dari Rania kecil sampai lulus sekolah, "Ya Allah ... ternyata Engkau mengabulkan doa Rani saat dulu Rani bertemu beliau dan memberikan uang pada Rani dua puluh ribu." gumam Rani dengan lirih.


__ADS_2