Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Menyadari


__ADS_3

Hampir tiga hari Alfarizi dan Junaidi hanya mengawasi saja kegiatan keluarga Ayah Asep di Bandung. Tinggal di perumahan pinggir kota bersama istri dan anak angkatnya. Ayah Asep bekerja sebagai sopir online dan istrinya bekerja di salon.


Setelah diawasi selama tiga hari mereka mulai mengetahui jika istri dari Ayah Asep memiliki kekasih gelap. Kekasihnya sering menemuinya di salon saat istirahat atau pulang kerja. Mereka sering menghabiskan waktu berdua tanpa sepengetahuan Ayah Asep.


Hari ini rencana sebelum pulang kembali ke Jakarta Alfarizi memerintahkan Junaidi untuk menemui istri Ayah Asep untuk menyamar sebagai langganan salon. Salon itu selalu ramai karena menawarkan pijat untuk para pelanggannya. Ada juga yang menduga bahwa salon itu melayani pijat plus-plus.


"Selamat siang Teteh Cantik." kata Junaidi saat baru masuk ke salon.


"Akang Ganteng selamat siang, Akang mau melakukan perawatan apa?" tanya istri dari Ayah Asep.


"Aku mau pijat, rasanya tubuhku remuk, siapa tahu Teteh bisa menyatukan lagi tubuhku dengan hatimu."


"Si Akang bisa saja."


Setelah melakukan persiapan beberapa saat Junaidi sudah berbaring tengkurap. Sesaat setelah mulai memijit, Junaidi memulai aksinya untuk bertanya dan mengorek keterangan tentang keluarga Ayah Asep. Dengan sedikit rayuan gombal agar Junaidi bisa mendapat keterangan yang diinginkannya.


"Sudah lama kerja disini, Teh?"


"Setelah menikah lagi aku bekerja di sini."


"Menikah lagi, maksud Teteh suami kedua?"


"Iya, yang pertama aku tendang karena kantongnya tipis, ha ha ha."


"Waaah berarti suami Teteh sekarang berkantong tebal dong?"


"Begitulah."


Junaidi menjadi teringat dengan cerita Bibi Minah dulu bahwa saat menikah siri dengan Neng, Tuannya Alfarizi memberikan uang mahar yang fantastis. Yang menikmati uang itu ternyata istri baru dari ibu tiri Neng. sungguh nasip yang tidak beruntung bagi Neng.


"Suami Teteh yang kedua bujangan atau duda?"


"Duda beranak satu."


"Berarti Teteh merawat anak tiri, hebat dong biasanya banyak yang mau ayahnya tetapi tidak mau dengan anaknya."

__ADS_1


"Aku tidak merawat anak dari suamiku, dia pergi sebeum kami menikah."


"Kemana anak dari suami Teteh?"


"Tidak tahu dia sekarang ada di mana, suamiku sudah mencarinya lebih dari lima tahun."


"Jadi sekarang Teteh tinggal bersama siapa di sini?"


"Suami yang sekarang dan anakku dari suami pertama."


"Aku juga mau dong tinggal di hatimu, apakah masih ada ruangan yang kosong?"


"Ha ha, Akang bisa aja, nanti ada yang marah lo."


"Aman, yang penting orang rumah tidak tahu."


Untungnya istri dari Ayah Asep tidak mengenali Junaidi padahal waktu awal Neng meninggalkan villa dia sering mengawasi saat masih tinggal di dekat villa. Junaidi berusaha mengorek keterangan sebanyak mungkin tentang Ayah Asep. Sayangnya tidak ada keterangan penting yang keluar dari mulutnya.


Alfarizi dan Junaidi kembali pulang ke villa dengan perasaan kecewa. Tidak menemukan orang yang dicarinya di keluarga Ayah Asep. Di perjalanan Alfarizi ingin mencari charger handphone untuk membuka handphone milik Neng.


"Jun, mampir dulu di konter, aku mau beli charger handphone!"


"Handphone model lama,"


"Kalau yang itu harus di toko besar Tuan, karena sudah langka orang memiliki hanphone jadul."


"Jadi di mana aku bisa membelinya?"


"Kita harus ke Bogor, Tuan."


"Baiklah, kita kesana!"


Tidak semua toko handphone besar menjual charger model lama. Junaidi harus mengunjungi beberapa toko handphone baru mendapatkannya. Membuat mereka tiba di villa hampir tengah malam.


Sampai di villa Alfarizi langsung masuk kamar dan memasang charger yang baru saja dibelinya di handphone milik Neng. Di tinggalnya sebentar untuk membersihkan diri di kamar mandi. Tidak lebih dari setengah jam Al di kamar mandi, karena ingin mengetahui isi dari handphone milik istri sirinya.

__ADS_1


Alfarizi membuka perlahan handphone milik Neng. Dia mulai memeriksa satu persatu isi data dari handphone jadul itu, yang pertama dilihatnya adalah SMS masuk yang tidak pernah dibalas oleh Neng. Dari Ayah Asep, Lilis Dariyani dan masih banyak lagi SMS dari teman sekolahnya.


Berpindah di Galeri foto milik Neng, ada banyak foto yang ada disana terutama bersama teman sekolahnya. Ada dua yang membuat Al tertarik dan memandangnya tanpa berkedip. Yang pertama saat Neng masih terlihat imut sedang di peluk oleh seorang wanita yang wajahnya mirip dengan Neng dan satu lagi foto Neng saat menerima sertifikat saat lulus SMK.


"Ini foto saat dia menikah denganku, setelah diperhatikan dia manis dan anggun, aaah mengapa baru sekarang aku menyadarinya, b*d*hnya aku!"


Sudah hampir menjelang pagi Alfarizi tetap mengotak-katik handhone milik Neng. Foto yang ada di dalam galeri sebagian besar sudah di pindahkan di laptop dan handphone miliknya. Banyak sekali rencana yang ada di pikirannya setelah melihat semua isi handphone nya.


Tanpa terasa air mata menetes saat Alfarizi berbaring di tempat tidur mengingat apa yang telah terjadi. Mengambil keputusan bersama Sinta ternyata membuatnya hari ini sangat menyesal. Rasa penyesalan memang selalu datang terlambat.


Hari demi hari Alfarizi fokus mencari Neng dan anaknya tanpa mencari infornasi tentang istri sahnya Sinta. Dia semakin jarang berkomunikasi dengan Sinta dan putri angkatnya Marta. Lebih banyak tinggal di villa jika saat week and sambil mencari informasi tentang Neng dan anaknya.


Hampir dua tahun berlalu tanpa terasa tetapi Alfarizi tetap tidak bisa menemukan Neng dan anakya, bahkan sudah setahun ini Alfarizi menyewa seorang detektif untuk mencari keberadaan istri sirinya. Surya, Junaidi dan istrinya juga membantu mencari tetapi hasilnya tetap nihil.


Bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami bagi Alfarizi dan Junaidi ketika nencari Neng karena tudak memiliki petunjuk sedikitpun. Akhirnya Alfarizi memutuskan untuk menyelidiki istri sahnya terlebih dahulu. Ini disebabkan Alfarizi sering mendengar rumor jika Sinta memiliki selingkuhan.


Hanya dalam tiga bulan saja Alfarizi mendapatkan kabar dan bukti lengkap tentang hubungan gelap istri sahnya dengan seorang dokter yang bekerja di salah satu rumah sakit ternama di Indonesia. Yang lebih parah lagi dokter itu juga yang memalsukan surat keterangan tentang dirinya yang tidak bisa memiliki keturunan.


"Brengs*k kamu Sinta, ternyata kamu selama ini membohongi aku, bruuuak!"


Emosi Al mulai menuncah setelah selesai membaca laporan dari anak buahnya tentang istri sahnya. Berkali-kali barang yang ada di depannbanting dan dilemparkan entah kemana. Surya harus berkali-kali menenangkan bosnya untuk bersabar.


"Tuan bersabarlah, Anda sudah berhasil menahan diri selama dua tahun ini, jangan gegabah!"


"Tetapi dia keterlaluan Surya, sudah bertahun-tahun lamanya dia membohongi aku,"


"Sebaiknya Anda melanjutkan rencana semula, Tuan; temukan Nona dan anaknya terlebih dahulu, setelah itu baru membuat perhitungan dengan Nyonya Sinta!"


"Apa gunanya mempertahankan wanita itu, Surya?"


"Banyak Tuan, Anda tidak akan terganggu dengan berita gonjang-ganjing keretakan rumah tangga, Anda bisa lebih fokus mencari Nona."


"Ke mana lagi aku harus mencari istriku, sudah dua tahun lebih aku mencarinya, sampai sekarang belum juga ketemu?"


_________________

__ADS_1


Promisi novel yang bagus untuk shobat semua jangan lupa mampir ya



__ADS_2