
Pagi ini Alfarizi, Neng, Ibu Ani sedang duduk di ruang tamu sedang mendengarkan Doni bercerita. Saat di jalan tadi Alfarizi memutuskan untuk bercerita di rumah saja setelah Doni makan dan membersihkan diri berganti baju dengan baju Alfarizi. Ibu Ani juga berhak tahu tentang keadaan putranya tentang kejadian hari ini.
Doni bercerita satu minggu yang lalu dia menyaksikan ke dua preman yang mengejarnya tadi pagi telah memukuli rekannya sesama pemulung karena tidak mau membayar uang keamanan di tempat pembuangan sampah akhir. Doni mengejak para pemulung yang lain untuk melawan para preman itu. Semenjak ada Doni semua pemulung melawan dan tidak ada yang mau membayar uang keamanan.
Doni di kejar dan di buru para preman itu di ancam akan di bunuhnya karena sejak ada Doni di tempat pembuangan akhir para preman tidak memiliki pendapatan. Saat Doni di kejar oleh dua preman itu dia baru saja pulang dari kantor polisi melaporkan adanya preman yang sering memeras para pemulung. Polisi sudah menangkap para preman yang berkeliaran di sekitar tempat pembuangan sampah.
"Abang dulu seorang sopir, kan?" tanya Alfarizi setelah Doni selesai bercerita.
"Iya Tuan, tetapi sekarang SIM sudah mati saya hanya punya KTP saja itupun masih berdomisili di Bekasi."
"Ok begini saja Bang, aku membutuhkn sopir saat ini untuk konfeksi AA atau sewaktu-waktu jika kami sibuk bisa untuk antar jemput Alfian."
"Tapi Nak, selama ini konfeksi AA tidak pernah ada keryawan laki-laki," jawab Ibu Ani.
"Itu dulu sebelum ada aku Bu, karena memang istriku tidak bisa. Sekarang berbeda, bagaimana, Bang?"
Doni menarik napas panjang rasanya sangat bahagia masih ada orang yang membutuhkan tenaganya, "Baiklah Tuan, tetapi bagaimana dengan SIM-nya saya tidak punya?"
"Itu bisa diatur, kamu butuh berapa untuk mengurus semua itu, nanti Surya yang akan mengurusnya."
"Tunggu Nak, sebaiknya Ibu saja yang akan memberikan uang untuk membuat SIM untuk Doni."
"Ok kalau itu niat Ibu, saya akan menghargainya. Silahkan bicara berdua untuk membicarakan tentang hal itu, Ayo Mami kita ke kamar!"
"Sebentar Papi, Mami mau bertanya apakah Abang Doni mau tinggal bersama kita?"
"Neng Mitha ada kamar kosong dekat kamar tukang kebun, untuk sementara biar Doni tinggal di sana." Ibu Ani menjawab dengan cepat.
"Lo kok kamar belakang?" Neng bingung sambil memandangi wajah suaminya.
"Saya setuju Nyonya, eee Neng Mitha kamar belakang saja itu sudah sangat membahagiakan buat saya, terima kasih."
"Baiklah ...."
Alfarizi tersenyum menggandeng Neng menuju lantai atas dengan mesra. Membiarkan ibu dan anak berbicara dari hati ke hati. Sekarang saatnya untuk melalukan rencana buka puasa yang sempat tertunda karena adanya kasus Doni.
"Honey, kita punya waktu empat jam sebelum jemput Alfian, Mami minta berapa ronde?"
"Satu aja ...."
"Mana bisa satu ronde seharusnya sesuai hari Papi di hukum."
__ADS_1
"Enak aja emangnya ayam, tinggal cus semenit sudah, ini harus pemanasan dulu, harus menunggu on dulu."
"Honey, coba pegang ini sudah on dari tadi pagi!" Alfarizi menarik tangannya tepat kearah senjata onta arabnya yang sudah menegang.
"Iiiih Papi nanti di lihat Ibu sama Bang Doni."
"Tidaklah, ini kita sudah di depan pintu kamar, tidak mungkin mereka melihatnya. Ayo cepat masuk!"
Hari ini pembalasan senjata onta arabnya karena di hukum puasa sudah terlaksana dengan memuaskan walau hanya dua ronde. Senjata onta arab bisa bergoyang tanpa gangguan bejalan dengan mulus. Kegiatan mereka harus berhenti karena waktunya menjemput sekolah Alfian.
Kebahagiaan tersendiri bagi Alfian saat melihat mami dan papinya menunggu di depan gerbang sekolah sampil tersenyum. "Bagaimana hari pertama sekolah, Nak?" tanya Alfarizi sambil menggandeng tangannya.
"Kelas baru, guru wali kelas baru, ada juga teman satu kelas baru, seru pokoknya, Pi."
"Masih satu kelas dengan Zain, Al?" tanya Neng ikut menggandeng tangan Alfian.
"Masih Mami, ada satu lagi yang baru Mami."
"Apa lagi yang baru, Mami jadi penasaran?"
"Putri mempunyai Mama baru masih muda lagi orangnya."
"Putri siapa, kok Papi tidak kenal?"
Alfarizi mulai emosi mendengar nama serangga yang dulu mendekati istri tercinta. Dengan cemberut memandangi wajah Neng yang biasa saja. Rasa cemburu mulai merasuki pikiran Alfarizi tanpa bisa di kendalikan.
"Anehnya Papi, Mamanya Putri saat istirahat langsung mencai Al, mengajak ngobrol, Al di kasih burgur dan tanya terus tentang Mami dan Papi."
"Eee Al mau di kasih burgur, jangan menerima makanan dari orang yang tidak di kenal, Nak!"
"Banyak kok Papi, yang ikut makan Zain juga ikut makan, cuma yang di tanyain hanya Al terus."
"Lain kali tidak usah di terima jika diberi makanan, Papi masih sanggup memberikan apa yang di inginkan Al, ok!"
"Iya Pi, sekarang makan es krim yok, Al pingin makan es krim yang campur rujak yang ada di taman kota!"
"Ayo kalau perlu sekalian rombongnya Papi beli." Alfarizi rasanya ingin menunjukkan siapa dirinya, diikuti Neg yang hanya menbgelengkan kepalanya.
Mereka menuju ke taman kota yang jaraknya tidak jauh dari sekolah Alfian. ALfarizi tidak terlau berkonsentrasi saat menyetir. Dia selalu melirik Neng yang bersikap biasa saja setelah mendengar cerita Alfian tentang istri dari serangga pengganggu.
Sampai di taman kota Alfian langsung turun dari mobil dan berlari mendekati rombong rujak es krim yang bejualan di ujung taman. Alfarizi membuka sabuk pengamannya sambil terus memandangi wajah istrinya, "Honey ...!"
__ADS_1
"Ada ada sih Papi, kok jadi gelisah begitu?"
"Mami tidak memikirkan apa yang diceritakan Al tadi?"
"Untuk apa sih Papi, kalau laki-laki itu sudah menikah berarti sudah move on dong, terus apa yang harus dipikirkan?"
"Rasanya janggal aja, mengapa istri barunya si serangga itu harus bertanya tentang kita."
Neng hanya mengerutkan keningnya memikirkan apa yang di katakan Alfarizi. Jika dipikirkan dengan logika memang janggal jika dia bertanya tentang keluarganya, "Mungkin saja Papanya Putri cerita tentang kita Pi, jadi dia penasaran."
Alfarizi kembali mengerutkan keningnya rasanya masih ada yang mengganjal di hati. Alfian cerita jika dia selalu bertanya tentang keluarga sangatlah aneh baginya. Tetap saja cerita Alfian membuat Alfarizi mencurigai ada yang di rencanakan oleh serangga pengganggu.
"Ayo Papi, itu Al sudah menesan es krim rujak!"
"Ya ya ayo," jawab Alfarizi kaget karena masih memikirkan cerita Alfian.
Neng dan Alfarizi mendekati Alfian yang sedang menunggu es krim rujak yang baru di buat oleh pedagangnya, "Al, ini Nak uangnya."
"Terima kasih Papi."
Al mengambil tiga cup es krim rujak dibagikan untuk mami dan papinya satu persatu, "Pi ... ayo kita duduk di sana, itu tempat favorit Al dan Mami saat ke taman ini!"
Setelah mereka duduk di bangku panjang sambil menikmati es krim Alfian bercerita lagi tentang mamanya Putri, "Oya Mami, tadi Mamanya Putri cerita dia ingin bertemu dengan Papi lo!"
Calista Zalfa Olina, kaget saat melihat Elvan Rafisqy Fathaan, kekasihnya sedang bercinta di apartemen dengan wanita lain.
Merasa dikhianati, Calista mendatangi orang tua Elvan. Calista mengadu pada Ghali Daniyal Bramantio, ayah dari Elvan tentang pengkhianatan anaknya.
Om Tio, ayah dari Elvan mendengarkan semua curhatan Calista tentang anaknya dengan penuh perhatian. Melihat perhatian Om Tio, Calista menjadi simpati.
Sejak pertemuan pertama itu, Om Tio sering menghubungi Calista hanya sekedar mengajak makan siang atau makan malam.
Lama kelamaan, rasa cinta mulai tumbuh diantara keduanya, Om Tio yang tidak pernah mendapatkan perhatian dari istrinya merasa mendapatkan cinta baru.
Ibu Elvan yang hanya sibuk dengan dunianya. Berkumpul dengan ibu sosialita, dan menghabiskan waktu hanya untuk jalan ke luar negeri membuat cinta diantara Calista dan Om Tio dengan cepat tumbuh subur.
Om Tio dan Calista memutuskan untuk menikah secara siri.
Tari, istrinya Tio marah dan mengusir Calista, saat tau wanita telah menikah.secara siri dengan Tio.
__ADS_1
Calista yang terus menerus mendapat teror dari Tari akhirnya memutuskan pergi dari rumah.
Saat Calista udah pergi, dia baru menyadari jika dirinya sedang hamil.