
Alfarizi dan Neng saat ini sedang berada di kamar hotel bintang lima. Dari Siang sampai sore mereka hanya menghabiskan waktu berdua di kamar. Bercengkrama, bergoyang dan beritirahat untuk menghilangkan rasa lelah setelah setengah hari berada di dalam perjalanan.
Sambil merebahkan tubuhnya di pangkuan Neng yang duduk meluruskan kakinya diatas tempat tidur, Alfarizi melihat berita sekilas info di televisi. Seorang pembawa acara perempuan sedang membacakan kabar ada kebakaran di sebuah rumah sakit jiwa ternama. Kebakaran itu belum di ketahui penyebabnya, isunya karena ada pasien yang sengaja membakar kamar pasian.
Terdapat dua korban meninggal dunia, lima belas yang mengalami luka bakar sekitar 90%. Yang luka ringan lebih dari lima puluh orang termasuk karyawan rumah sakit. Ada juga yang melarikan diri sekitar ada lima orang pasien.
Mata Alfarizi semakin tidak berkedip setelah pembawa acara itu membacakan berita tentang identitas pasien yang melarikan diri. Salah satunya beridentitas seorang mantan dokter berinidial MS. Alfarizi langsung teringat Dokter Mario suami dari mantan istri pertamanya.
"Mami ...!" teriak Alfarizi.
"Ada apa, Pi?"
"Coba dengar dan lihatlah berita sekilas itu!"
Neng yang awalnya konsentrasi pada ponselnya akhirnya ikut melihat dan mendengarkan berita sekilas info. Apalagi saat keterangan pasien yang melarikan diri adalah mantan seorang dokter. Pasien yang melarikan diri di kabarkan masih menggunakan seragam rumah sakit.
"Apakah itu Dokter Mario, Papi tahu siapa nama belakangnya?"
"Tidak tahu, Mami."
"Marta siapa nama belakangnya, Pi?"
"Waktu kecil memakai nama belakang Zulkarnain tetapi saat sekolah sudah di ganti oleh Mario, tetapi Papi tidak tahu."
"Saat kemarin berkunjung ke rumah bukankah Papi yang yang membelikan tiket ke Australia?"
"iya sih, tetapi Surya yang membelikan. Papi hanya memerintahkan saja, sebentar Papi hungungi Surya dulu."
Alfarizi menghubungi Surya menggunakan ponselnya. Kemungkinan besar sekarang ini dia sudah berada di rumah karena sudah jam lima sore lebih, "Halo Surya ...."
" ... "
__ADS_1
"Coba kamu kirm biodata Marta yang kemarin saat kamu membelikan tiket pulang ke Australia, dan tolong kamu cari informasi tentang kebakaran rumah sakit jiwa."
" ... "
Alfarizi langsung menekan tombol merah ponselnya. Perintah singkat tegas dan cenderung arogan ketika berbicara dengan anak buahnya sangat terlihat nyata. Membuat Neng menggelengkan kepalanya mendengar perintah Alfarizi kepada Surya.
Tidak sampai lima menit data Marta terkirim di ponsel milik Alfarizi melalui email. Dibaca berdua oleh Alfarizi dan Neng dengan cepat. Nama lengkap Marta Marlina Sanusi, ibu bernama Sinta Marlina dan ayahnya bernama Mario Sanusi.
"Inisial pasien yang melarikan tadi MS, berarti Mario Sanusi dong, Mami?"
"Kemungkinan itu dia yang melarikan diri, Ayo Mami kita pulang sekarang!"
"Iya Papi ayo."
Dalam perjalanan pulang Alfarizi dan Neng menghubungi security rumahnya untuk meningkatkan penjagaan. Menghubungi Ibu Ani dan Doni untuk menjaga Alfian dan Elfa. Dan melarang keluarga untuk keluar rumah hari ini jika tidak ada keperluan mendesak.
Mereka juga menghubungi Junaidi untuk meningkatkan kewaspadaan terutama di mall, konfeksi AA dan rumah. Menambah keamanan karena belum tahu kondisi terkini tentang kesehatan pasien yang melarikan diri. Semua kemungkinan harus di perhitungkan karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan keluarganya.
"Iya Papi."
Neng mengambil ponsel milik Alfarizi yang ada di kantong kemeja, membuka email dan membaca dengan keras agar suaminya juga bisa mendengar. Pertama yang di baca adalah tentang kebakaran rumah sakit jiwa yang terjadi satu jam lalu. Di kabarkan ada seorang pasien yang membakar kamarnya sendiri dengan korek yang di curinya dari perawat laki-laki.
Surya mengirim data lengkap nama pasien yang meninggal dunia, luka berat dan luka ringan. Yang menjadi perhatian Neng adalah data lima pasien yang melarikan diri. Di antara lima pasien itu ada nama Mario Sanusi dengan jelas tertulis.
Keterangan tentang perkembangan dan kesehatan Mario Sanusi juga sangat jelas. Dia di rawat di rumah sakit hampir dua tahun. Tidak banyak mengalami kemajuan perkembangan mentalnya.
Akhir-akhir ini Mario mengalami kemajuan yang sangat pesat setelah ada kunjungan putri kandungnya Marta. Padahal saat Marta datang ketika itu Mario seperti tidak mengenalnya, Dia hanya menatap dengan tatapan kosong.
Surya juga melaporkan pihak yang berwajib sudah mencari pasien yang kabur dalam radius sekitar rumah sakit jiwa. Dua pasien di temukan sedang mengais sampah dekat pasar tradidsional. Mereka berdua langsung dibawa kembali ke rumah sakit jiwa yang di tunjuk pemerintah untuk menampung pasien yang selamat dan tidak terdampak kebakaran.
Selesai membaca email bersamaan Alfarizi dan Neng tiba di rumah. Sudah di tunggu oleh Junaidi, Surya dan Pak Min karena sangat khawatir dengan berita yang ada. Alfarizi langsung bergabung dengan orang kepercayaannya, sedangkan Neng menemui Elfa di kamarnya.
__ADS_1
"Bagaimana perkembangan terakhir tentang Mario?" tanya Alfarizi setelah duduk di sofa.
"Banyak sekali kabar yang beredar di media sosial, Tuan," jawab Surya dengan cepat.
"Katakan apa saja!"
"Kemungkinan yang pertama Mario menuju rumah orang tua Almarhumah Nyona Sinta, pihak kepolisian sudah menelusuri jalan menuju ke sana tetapi belum di temukan."
"Apakah ada kemungkinan dia menuju ke sini?"
"Ya Tuan, analisa ke dua menurut pihak yang berwajib dia menuju ke sini."
"Menurut kalian berapa lama dia bisa sampai di sini?"
"Paling cepat besok pagi kemungkinan, Tuan," jawab Junaidi.
Alfarizi mengerutkan keningnya berpikir seandainya dia datang ke sini. Pasti akan membahayakan seluruh keluarganya terutama putra-putrinya. Seharusnya jika Mario dendam cukup hanya padanya saja tidak perlu melibatkan keluarga.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan, pihak kepolisian dan petugas rumah sakit sudah menghubungi saya tadi. Mereka sudah mengkoordinasi seluruh anggotanya yang ada di lapangan untuk stanbye di daerah sini." Surya memberikan keterangan karena bisa melihat kekhawatiran Alfarizi.
"Syukurlah ...."
"Saya dan Pak Min juga akan di sini sampai besok, Tuan." Junaidi juga berniat untuk menginap karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan keluarga tuannya.
"Bagus aku setuju, terima kasih."
Surya pamit pulang setelah selesai melakukan pertemuan mendadak. Junaidi dan Pak Min bergabung dengan security yang ada di pos pintu gerbang setelah makan bersama. Meningkatkan kewaspadaan yang lebih di banding hari biasanya termasuk konfeksi AA yang berada di belakang rumah utama.
Di dalam kamar Alfarizi dan terlihat khawatir bukan takut dengan Mario, tetapi khawatir karena Mario yang belum sembuh dari penyakit mentalnya akan bisa berbuat apa saja, "Papi, Mami ke kamar Elfa saja ya, dan tolong Papi ke kamar bang Al saja karena mami tidak tega kalau mereka tidur sendirian malam ini!"
"Iya betul juga, Papi juga khawatir tentang Elfa dan Alfian."
__ADS_1
Neng masuk ke kamar Elfa sedangkan Alfarizi keluar kamar. Baru saja Alfarizi sampai di depan pintu kamar Alfian ada suara ledakan di luar sana dengan sangat keras, "Duuuaaaaar ...!"