Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Dua Ledakan


__ADS_3

Suara keras yang menggelegar di luar sana sangat terdengar jelas sampai kamar milik Elfa. Dengan spontan Neng menggendong putrinya yang sedang terlelap tidur dan keluar menyusul Alfarizi, "Papi ... suara apa tadi?"


"Tidak tahu Mami, Papi keluar mencari tahu ya. Mami masuk aja ke kamar Abang!"


"Ya Papi, cepatlah tetapi jangan lama-lama Mami takut!"


"Tenang Honey, Papi segera kembali."


Alfarizi berlari menuruni tangga menuju pintu keluar. Di luar ada serpihan kayu, kertas dan debu yang berterbangan di halaman dan taman yang ada di depan rumah. Seluruh pegawai yang bekerja di rumah Alfarizi, Doni dan Ibu Ani sedang berdiri di dekat gerbang. Sebagian security berjaga di luar gerbang.


Alfarizi tidak melihat Junaidi dan Pak Min berada diantara yang berdiri di luar gerbang, "Ibu ... Bang Doni ada apa?" tanya Alfarizi sambil berlari mendekati pintu gerbang.


"Ada ledakan yang jaraknya empat rumah dari sini," jawab Ibu Ani.


"Di mana Junaidi dan Pak Min?"


"Mereka ke sana untuk mencari inormasi, Tuan." Security menjawab dengan cepat.


Alfarizi ingin membuka pintu gerbang, rasa penasarannya membuatnya tidak berpikir panjang tentang keselamatannya. Security langsung mendekat dan menahan gerbang agar tidak terbuka, "Sebaiknya Anda jangan keluar Tuan, akan sangat berhaya jika ini siasat dari pasien rumah sakit jiwa!"


Alfarizi memundurkan kakinya sambil mengangguk, dia hanya menengok dari balik gerbang yang terlihat ada kilatan api yang padam. Terdengar suara sirine mobil polisi dan Ambulance seolah saling bersautan. Lampu kendaraan yang yang terlihat terang saat datang di TKP.


Terlihat Junaidi berlari mendekati gerbang dengan napas yang terengah-engah, "Tuan, mengapa Anda di sini?"


"Apa yang terjadi di sana, Jun?"


"Sebaiknya duduk dulu atau masuk saja nanti saya ceritakan?"


"Sebaiknya masuk saja, sekalian memanggil maminya Alfian."


"Ya Tuan."

__ADS_1


Alfarizi masuk kamar Alfian, ke dua buah hati kesayangan ternyata sudah tertidur pulas. Alfian di tempat tidurnya sendiri sedangkan Elfa ada di gendongan Neng. Ada juga Bibi Siti yang sedang menemani Neng di kamar Alfian.


"Mami, Elfa biar Bibi yang mengantar, ayo sudah d tunggu Junaidi di ruang keluarga!"


"Ada apa di luar sana, Pi?" tanya Neng sambil memberikan Elfa kepada Bibi Siti.


"Nanti kita dengarkan cerita Junaidi, ayo kita menemui dia!"


Sambil menggandeng istrinya turun ke lantai satu, Alfarizi terus saja memikirkan tentang Mario Sanusi yang belum di temukan. Masih menduga ledakan yang tidak jauh dari rumahnya itu ada hubungannya dengan Mario. Hanya saja Alfarizi masih belum bisa menemukan benang merah antara ledakan dengan orang sakit mental.


"Cepat ceritakan Jun!" perintah Alfarizi kepada Junaidi setelah mereka duduk di sofa.


"Baik Tuan."


Junaidi bercerita rumah yang kosong dan tidak berpenghuni itu meledak karena ada orang yang melempar bahan peledak rakitan. Ada dua laki-laki berkendara motor bernomor polisi yang berasal dari Jawa Tengah yang melemparkan ke rumah itu. Bahkan ledakannya terdengar sampai mencapai radius dua kilometer.


Rumah kosong itu milik seorang pejabat yang sedang liburan ke luar kota. Sampai Junaidi kembali ke rumah belum di temukan identitas dua laki-laki yang melempar bahan peledak rakitan. Belum di ketehui juga motif mereka nelakukan pelemparan itu.


Mobil yang terparkir dekat rumah yang meledak juga ikut rusak parah. Ada tiga pejalan kaki yang terkena serpihan kayu yang menimpa mereka. Untungnya tidak ada korban jiwa dari peristiwa itu.


"Jun, seragam rumah sakit jika itu juga abu-abu, mungkinkah salah satu dari dua laki-laki itu Mario Sanusi?" tanya Alfarizi setelah selesai Junaidi bercerita.


"Tetapi kemungkinannya kecil, Tuan."


"Mengapa kemunginannya kecil?" gantian Neng bertanya.


"Motor yang mereka gunakan bernomor polisi dari Jawa tengah."


"Mungkin saja mereka mencuri motor itu, atau menyewanya." Alfarizi memberikan analisa yang masuk akal.


"Sebaiknya tunggu Pak Min saja, Tuan. Dia tadi masih mencari informasi tentang tersangka yang masih di selidiki oleh pihak kepolisian.

__ADS_1


Sambil berbincang dan berdiskusi, mereka juga mencari informasi yang beredar di media sosial. Ada juga keterangan di situs resmi kepolisian. Belum selesai mencari tahu tentang peristiwa itu ada lagi suara ledakan yang keras tetapi masih keras yang pertama, " Duuuuaaar!"


Suaranya terdengar tidak dari gerbang rumah Alfarizi, "Tuan ada lagi ledakan, saya keluar sebentar!" Tanpa menunggu jawaban Junaidi berlari dengan sekuat tenaga dan sekencang-kencangnya menuju pintu gerbang.


Alfarizi dan Neng juga mengikuti Junaidi berlari keluar rumah dengan berlari kencang. Ledakan itu terdengar sangat dekat walaupun tidak sebesar yang pertama. Serpihan bahan peledak itu bahkan sampai teras rumah dan di seluruh halaman rumah.


"Apakah ada yang terluka?" teriak Alfarizi karena sebagian besar pekerja yang bekerja di rumah Alfarizi berada di depah pintu gerbang.


"Hanya terkena sepihan ledakan tetapi tidak ada yang terluka, Tuan." Security langsung menghadap kepada tuannya.


"Di mana ledakan itu terjadi?" tanya Neng sambil melihat keluar pintu pagar.


"Ada di pos kampling yang ada di seberang jalan itu, Neng Mitha." Ibu Ani menjawab dengan cepat.


"Mami jangan keluar gerbang ya!"


"Iya Papi."


Pos kamling yang terkena peledak rakitan terlihat roboh dan rata dengan tanah. Untung kejadiannya tidak jauh dari TKP yang pertama. Pihak yang berwajib tidak sampai lima menit tiba di TKP dengan cepat.


Kali ini yang melempar bahan peledak rakitan tidak menggunakan motor melainkan mengendarai mobil pik-up berwarna hitam. Ada dua orang laki-laki yang ada di dalam mobil pik-up. Satu orang menyetir dan satu lagi melempar peledak rakitan kearah pos kampling.


Kaca mobil pik-up itu tertutup rapat, terbuka sedikit saat dia melemparkan peledak ke pos kamling. Kejadian yang sangat cepat dan mobil juga langsung meninggalkan tempat dengan kecepatan tinggi. Membuat orang yang melihat kejadian itu tidak bisa melihat wajah para pelakunya. Para saksi hanya bisa melihat dan mengingat nomor kendaraan yang terlihat sekilas.


Junaidi dan Alfarizi langsung keluar gerbang mendekati petugas kepolisian. Mencari keterangan tentang kejadian dua ledakan yang kejadiaannya tidak berjarak lama. Sekalian mencari Pak Min yang dari tadi belum pulang.


Belum sempat Junaidi bertanya kepada polisi yang sedang mengamankan TKP. Pak Min berlari dari TKP pertama sambil melambaikan tangannya kepada Junaidi, "Jun, mengapa Tuan Al kamu ajak keluar, sangat berbahaya masih ada tersangka komplotan pelempar peledak rakitan berkeliaran!" teriak Pak Min dengan keras.


"Ada apa Pak Min?" tanya Alfarizi kaget dan khawatir.


"Tuan, di TKP pertama pihak yang berwajib sedang mengejar laki-laki yang di duga komplotan pelempar ledakan, sebaiknya Anda pulang, ini sangat berbahaya."

__ADS_1


"Tapi Pak Min ...?"


"Maaf Tuan kali ini percayalah pada saya, Jun antar Tuan pulang!"


__ADS_2