
"Papi yakin?"
Alfarizi menggelengkan kepalanya dengan ragu. Dia teringat saat Neng mengatakan ada jalan lain saran yang di berikan Umi Anna untuk mengatasinya, "Apakah Papi boleh meminta cara lain yang di ajarkan Umi waktu itu, Mami?"
Neng tersenyum dan mengangguk sambil memeluk suaminya dengan erat, "Baiklah tetapi jangan tertawa, Papi sebaiknya memejamkan mata, cukup Papi membayangkan dan merasakan sentuhan tangan Mami, ok!"
"Ok, Papi sudah siap."
Kali ini Neng harus agresif dan memulai terlebih dahulu sesuai petunjuk Umi Anna sambil mengingat kutipan ustatd yang membacakan sebuah hadist, "Kemudian tidak boleh meletakan inti tubuh wanita di senjata suami pada saat haid dan nifas, selain itu dibolehkan”
Neng mulai memengusap dada suaminya dengan lembut, mengangkat kepalanya memandang mata Alfarizi yang masih terpejam. Mulai mencium bibirnya yang sedikit terbuka karena dia mulai terbawa suasana yang di ciptakan oleh Neng. Alfarizi langsung membalas ciuman Neng dengan mengabsen yang ada di dalamnya sampai pasokan oksigen hampir habis tautan itu baru terlepas.
"Awas jangan di buka mata ya, Pi. Papi cukup merasakan dan membayangkan saya!"
"Hhhmmm ...."
Neng mengambil tangan kanan Alfarizi untuk di letakkan di salah satu gunung kembarnya setelah dia membuka beberapa kancing baju untuk di daki boleh memanjat dan boleh menuruni lembah. Tangan Alfarizi mulai liar terus saja beraksi di sana sampai tidak sadar dia mengeluarkan suara yang dulunya sering di keluarkan oleh Neng. Neng perlahan membuka baju Alfarizi tanpa sisa.
Perlahan tapi pasti Neng memainkan senjata onta arab suaminya perlahan. Masih tetap dengan mata terpejam Alfarizi mulai menggeliat mulai merasakan sensasi yang berbeda, Neng mulai mempercepat gerakannya dengan naik turun bergerak menggunakan alat peraba sampai Alfarizi semakin keras men*esah tanpa sadar.
Saat dirasa suaminya sudah hampir sampai puncaknya Neng melempar bajunya bagian bawah entah kemana. Neng membimbing Alfarizi agar bisa berada diatas tubuhnya dengan perlahan. Di letakkan senjata onta arab di sela ke dua kaki bagian atas agar suaminya bisa menyalurkan hasratnya sampai puncak negeri awan.
Alfarizi langsung tumbang di samping Neng setelah puas dan membuka matanya. Memandangi wajah Neng yang tersenyum dengan perasaan lega. Kemudian memeluk Neng dengan erat sambil menciumi pundaknya, "Terima kasih Mami."
"Bagaimana Papi, apakah senjata onta arab bisa terobati rasa rindunya?"
__ADS_1
"Walaupun tidak senikmat langsung bergoyang dengan milik Mami, tetapi ini cukuplah, terima kasih Mami semakin pintar membuat Papi mabuk kepayang."
"Syukurlah ... "
"Mami memang yang terbaik, I love you. Papi ke kamar mandi dulu." Neng mengangguk saat Alfarizi berjalan ke kamar mandi dengan tubuh yang masih polos.
Neng termenung dan melamun saat Alfarizi ada di kamar mandi teringat nasehat Umi Anna saat berada di Ngawi. Yang baru saja di lakukan untuk memuaskan hastrat suaminya itu hanya salah satu dari tips yang di sarankan oleh Umi Anna menurut agama ataupun pengalaman pribadi. Pada umumnya suami istri melakukan dengan cara yang berbeda, sehingga suami dan istri akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa walaupun tidak berhubungan bercinta secara normal.
Masih banyak lagi cara yang bisa di lakukan oleh seorang istri agar suaminya tidak berpikir untuk selingkuh atau melirik wanita lain. Bisa dari saran dokter dan petunjuk agama bisa juga dari pengalaman pribadi seperti saran dari Umi Anna.
Umi Anna memceritakan dengan gamblang jika Abi Ali adalah salah satu laki-laki yang pesrkasa saat di atas tempat tidur. Mulai dari beliau masih muda sampai sekarang ini masalah kebutuhan itu tidak pernah berubah. Beliau selalu melakukan secara rutin untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.
Bahkan Umi Anna sering melakukan perawatan baik dari luar maupun dari dalam tubuh agar bisa membuat suaminya betah di rumah, dan tidak melirik wanita di luar sana. Dengan meminum jamu dan berolah raga juga bisa menambah keharmonisan hubungan suami istri.
Tentunya Neng juga tidak ingin rumah tangganya yang di bangun selama ini akan mendapatkan cobaan dari wanita yang selalu mengincar laki-laki mapan seperti suaminya. Sehingga saat suaminya tidak bisa menahan rasa saran dari Umi Anna yang dia lakukan agar Alfarizi bahagia.
Neng tersentak kaget tersadar dari lamunan saat mendengar baby Elfa menangis dengan keras. Baru saja ingin bangun dan turun dari tempat tidur, Alfarizi keluar dari kamar mandi, "Baby Elfa tugas Papi, Mami ke kamar mandi saja setelah itu berisirahatlah, ok!"
"Baiklah terima kasih."
Dengan tenang Neng tidur pulas setelah dari kamar mandi. Baby Elfa terbangun bukan karena haus melainkan popoknya basah setelah buang air kecil. Dia tertidur kembali setelah popok di ganti oleh papinya, kemudian Alfarizi ikut menyusul Neng tidur pulas sampai pagi.
Minggu pagi ini, Alfarizi, Baby Elfa dan Alfian sedang berjemur di samping kolam renang. ketiganya kompak memakai kaca mata hitam, merebahkan badannya di kursi malas berjajar bertiga seperti sedang berjemur di pantai. Anehnya baby Elfa juga anteng menikmati kebersamaan dengan abang dan papinya tanpa rewel.
Setelah seperempat jam berjemur baby Elfa mulai menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Mencari minuman favoritnya sambil mengeluarkan suara planet yang tidak di mengerti. Alfian memperhatikan adiknya dengan seksama dan mencoba mendengarkan apa yang diucapkan baby Elfa.
__ADS_1
"Papi, baby Elfa ngomong apa, Abang tidak tahu artinya?"
"Dia haus Abang, minta ASI."
"Oo Adik Cantik haus, tunggu ya Abang panggilkan Mami." Alfian mengajak berbincang dengan adiknya sambil menganggukkan kepalanya.
Alfian belum beranjak dari tempatnya untuk memanggil Neng. Datang Umi Anna bergabung dengan mereka, "Waaah ke dua cucu Oma lagi berjemur nich, Oma ikut dong!"
"Oma, tapi baby Elfa haus tuuh Oma, apakah Oma bisa memberikan ASI untuknya?"
"Eee Abang, Oma sudah tidak ada dong ASI-nya."
"Kenapa Oma, itu Auntie Isya dan Mami ada ASI, lihatlah baby Ellfa kehausan."
Alfarizi tertawa lepas mendengar pertanyaan lugu putranya. pikirannya jadi traveling mengingat Neng tadi malam memberikan tips jalan lain menuju Roma. Tepatnya hanya di tempat kenyal favoritnya itu yang di fokuskan Neng agar senjata onta arab bisa terpuaskan.
"Abang punya Oma sudah tidak ada ASI-nya, karena dulu Papi yang minum ASI itu."
"Lo Papi minum ASI juga, kok Abang Al tidak pernah minum ASI, bagaimana rasanya sih?"
"Ha ha ha...!"
BERSAMBUNG
Yok mampir ini punya author sendiri lo di sebelah
__ADS_1