
Saat Neng dan Ibu Ani berbincang tidak jauh dari rumah yang sudah di jual oleh Doni, ada dua orang wanita paruh baya yang lewat sambil menengok ke kanan dan ke kiri mencari seseorang.
"Aku seperti mendengar suara Ibu Ani?"
"Dimana dia, tidak ada gitu lo, atau karena kamu selalu memikirkan dia sampai suaranya seperti ada di hadapanmu?"
"Entahlah, sudah dua hari ini aku tidak melihat dia, kemana dia sekarang, apa benar Doni mengusir ibunya?"
"Kabarnya begitu kemungkinan Ibu Ani sudah pergi dari kampung kita."
Ibu Ani menutup mulutnya sendiri karena melihat ada dua tetangganya yang mendengar suaranya tetapi mereka tidak mengenalinya, Neng hanya bisa meletakkan jari telunjuknya di bibir agar Ibu Ani tidak berbicara lagi.
Setelah dua tetangga Ibu Ani kembali berjalan menjauh, kembali Ibu Ani menangis tetapi hanya mengeluarkan air matanya tanpa mengeluarkan suara, takut di kenali oleh tetangga yang sewaktu-waktu lewat.
"Bu, ayo kita lebih dekat lagi kesana?" ajak Neng sambil menggandeng tangan Ibu Ani.
Saat Neng dan Ibu Ani sampai di depan rumahnya bersamaan Doni dan Titin keluar rumah bergandengan tangan sambil berbincang dengan bahagia, "Bang, betulkan apa kataku, sekarang kita punya apartemen, mobil baru dan bisa liburan, coba dari dulu Abang mendengarkan aku!" Kata Titin dengan bergelayut manja di lengan Doni.
"Iya Sayang, terima kasih kamu memang pintar." jawab Doni mengusap lengan Titin dengan mesra.
Walaupun Ibu Ani menatap nanar kearah dua pasangan suami istri yang sedang bahagia, tetapi mereka tidak mengenali sama sekali keberadaan Ibu Ani yang berjalan perlahan.
Neng berusaha menenangkan Ibu Ani yang mulai emosi melihat tingkah anak dan menantunya dengan menggandeng tangannya dan mengajaknya menjauhi rumah itu, tetapi mobil Doni melewati mereka dengan kecepatan sedang sehingga membuat Ibu Ani tidak bisa mengendalikan diri lagi.
"Breng sek, kalian memang tidak punya hati, mengapa tega sekali dengan Ibu hu hu hu!" teriak Ibu Ani sambil menunjuk tangannya kearah mobil Doni yang sedang berjalan.
"Bu, sabar dulu, jangan memancing keributan, takutnya kita ketahuan masyarakat sekitar, kendalikan diri Bu!"
Ibu Ani langsung mengambil nafas panjang, untung saja mobil Doni terus berjalan kemungkinan dia tidak mendengar teriakan Ibu Ani, tetapi sayangnya banyak masyarakat yang mendengar teriakan Ibu Ani dan banyak yang mengira ada jambret yang sedang beraksi.
"Ada apa Bu?" tanya seorang laki-laki yang sedang lewat.
"Ibunya kenapa Mbak?" tanya anak perempuan memakai seragam SMU.
__ADS_1
"Dimana jambretnya Bu?" tanya tukang ojek online sambil memarkirkan motornya.
Neng jadi gelagapan karena banyak orang yang mendekati mereka ingin menolongnya, "Maaf semua, Ibuku baik-baik saja, tadi ada Avanza putih yang menyerempet kami, tetapi dia langsung pergi tanpa meminta maaf, sehingga Ibuku emosi."
"Ooo, apakah ada yang luka Bu?" tanya seorang wanita paruh baya yang membawa belanjaan sayur.
Ibu Ani hanya menggelengkan kepalanya, tidak berani menjawab takut penyamarannya ketahuan oleh terangga sekitar.
"Kami baik-baik saja, terima kasih semua, kami permisi dulu," jawab Neng kembali menggandeng tangan Ibu Ani meninggalkan kerumunan.
Untuk mengalihkan pikiran Ibu Ani akhirnya Neng berniat mengajak membeli rujak bebeg yang di inginkan tadi sebelum berangkat.
"Bu, sebelah mana penjual rujak bebeg itu, aku sudah ngiler ingin makan?"
"Oya aku sampai lupa, ayo kita kesana!"
Neng memilih langkah panjang sambil menarik tangan Ibu Ani karena tidak ingin membuat kerumunan masa yang lebih banyak lagi, hanya dalam seperempat jam mereka tiba di sebuah taman kota yang terlihat ramai pengunjung dan ada berjajar food court.
"Neng Mitha itu Si Abang rujak bebeg ada di paling ujung!" tunjuk Ibu Ani tidak bersemangat.
"Siap Nona cantik," jawab Si Abang tukang rujak.
Saat Neng antusias menunggu rujak bebeg nya siap, melirik Ibu Ani yang melamun dan masih bersedih membuat Neng menjadi sangat khawatir.
"Bu, mengapa masih memikirkan orang yang telah menyakiti dan melupakan kita, apakah bayi dalam kandunganku tidak akan mendapatkan kasih sayang neneknya?" kata Neng sambil meletakkan tangan Ibu Ani diatas perutnya.
"Aaah betul juga, aku berjanji mulai sekarang aku hanya akan memperhatikan putri dan cucuku, hanya kalian sekarang yang aku punya."
"Ini baru Ibuku, mari kita mulai berjuang bersama, lupakan masa lalu yang kelam dan songsong hari esok bertiga sebagai satu keluarga!"
"Iya Nak, terima kasih mulai sekarang kita adalah keluarga yang saling mendukung dan menguatkan."
Setelah menikmati segarnya rujak bebeg mereka kembali ke hotel untuk bersiap-siap cek-out untuk menuju Bekasi dan nencari sahabat Ibu Ani yang tinggal disana.
__ADS_1
Pukul tujuh malam Bu Ani dan Neng tiba di Bekasi, memasuki daerah perindustrian dan banyak perusahaan besar yang berjajar membuat hati Neng merasa lega, semoga di sinilah bisa mengadu nasib dan mencari keberuntungan sesuap nasi dan rejeki bisa di dapatkannya doa Neng dalam hati.
Rumah teman Ibu Ani terlihat sepi saat mereka memasuki halaman yang luas, rumah sederhana khas joglo terbuat kayu yang kokoh, dan di samping pintu ada tulisan "Ketua RT 71."
Sampai di depan pintu mereka langsung mengetuk pintu, "Tok ... tok."
Keluar seorang wanita paruh baya seumuran Ibu Ani menggunakan daster dan jilbab panjang dengan menyipitkan matanya karena baru bangun tidur.
"Kamu jam segini sudah tidur, Yuli?" tanya Ibu Ani mengagetkan orang yang membuka pintu.
"Kamu Ani, waaah sudah lama kita tidak bertemu."
Mereka langsung berpelukan melepas rindu, sudah hampir dua tahun tidak bertemu, mereka bertemu dua tahun yang lalu saat suami dari Ibu Ani meninggal dunia.
"Jadi kamu sekarang jadi Bu RT, Yul?" tanya Ibu Ani saat mereja sudah duduk di ruang tamu.
"Iya warga baru memilihku dua bulan lalu, oya siapa Neng Geulis ini, apakah dia putrimu?"
"Oya sampai lupa kenalkan dia Neng Mitha,"
"Saya Mitha Bu, salam kenal."
Bercerita panjang lebar sampai lupa waktu, Ibu Ani menceritakan tentang putranya Doni dan menantunya Titin, pertemuannya dengan Neng dan niatnya untuk bekerja dan mencari kontrakan di sekitar wilayah RT Ibu Yuni.
"Kalian bisa kontrak di rumahku saja di samping masih ada dua mesin jahit yang nganggur, aku sudah tidak punya modal untuk melanjutkan usaha jahitan, Neng Mitha bisa lanjutkan," kata Bu Yuni.
"Kamu tinggal dimana kalau rumah ini di kontrakkan?"
"Nanti di sekat saja aku memakai pintu samping, putriku Atun suaminya meninggal dunia satu tahun yang lalu, dia bekerja serabutan yang penting halal," cerita Ibu Yuni sambil berkaca-kaca.
"Baiklah Bu, sepakat ya aku kontrak rumah Ibu, aku bayar satu tahun dulu, dan sebaiknya Mpok Atun bergabung saja nanti menjahit dengan kita," jawab Mitha dengan antusias.
"Aku juga boleh jadi karyawan kamu Neng Mitha, aku juga ingin memiliki penghasilan sendiri?" pinta Ibu Yuni.
__ADS_1
"Tentu Bu, semakin banyak yang bergabung akan semakin ramai."