
Alfarizi, Neng dan Umi Anna masuk ke ruang praktek Dokter Maria setelah di panggil oleh suster, "Selamat pagi, Dok," kata Alfarizi.
Umi Anna juga akan mengucapkan salam langsung tercengang melihat dokter yang sedang berdiri menyambut pasiennya. Wajahnya tidak asing baginya walaupun umur sudah tak lagi muda. Dia langsung merentangkan tangannya sambil mendorong putranya sendiri.
"Maria, kamu tugas di sini?" Umi Anna memeluk Dokter Maria erat.
Alfarizi langsung memeluk Neng karena dorongan Umi Anna sambil menggerutu, "Umi main seruduk aja, jadi kaget!"
"Papi, tidak usah peluk-peluk juga kali, malu aaah." bisik Neng di telinganya.
Alfarizi hanya nyengir kuda dan mengedipkan matanya. Kembali memperhartikan Dokter Maria dan Umi Anna yang terlihat akrab. Neng hanya memberikan kode kepada suaminya bertanya mengapa dan sejak kapan mereka saling kenal.
"Umi, kenal dengan Ibu?" tanya Neng setelah mereka melepaskan pelukannya.
"Nak Mitha, Maria ini teman sekolah SMA Umi saat dulu kita tinggal di Jakarta," cerita Umi Anna.
"Dia Ibu mertuamu, Nak Mitha?" tanya Dokter Maria.
"Iya Bu ...."
"Ok ... ok, nanti kita bernostalgia lagi, tetapi sekarang ayo kita kerja dulu!"
Di mulai dengan pemeriksaan awal tensi darah, berat badan, denyut nadi, sampai pemeriksaan datak jantung bayi. Kemudian mulai pemeriksaan USG tiga dimensi. Setelah Neng berbaring di brankar tempat tidur.
"Ayo Oma nya mau lihat cucunya, kemarilah!" panggil Dokter Maria.
"Tentu, kalau bisa pingin lihat jenis kelaminnya."
Dokter Maria mulai menggerakkan mouse yang di pegangnya. Digesernya ke kanan, ke kiri, depan ataupun belakang, "Waaah selamat Oma ... Mami, babynya cantik sekali ini nanti."
"Bayinya permpuan Dok, terima kasih." Spontan Alfarizi menggenggam tangan dan mengecup punggung tangannya.
"Komplit sudah cucu Umi, terima kasih."
"Ini di cetak ya USG nya, bagaimana kabarnya Alfian?" tanya Dokter Maria sambil kembali menggerakkan tombol mause.
__ADS_1
"Al sehat Bu, semakin banyak kegiatannya di sekolah," Cerita Neng setelah turun dari brankar tempat tidur.
"Maria kenal cucu tampanku juga?" tanya Umi Anna.
"Saat Al lahir aku yang menangani, kami sangat dekat karena Mitha sudah seperti putriku sendiri. Satu lagi kamu ingat Tanti adikku, dia adalah dokter Al mulai dari bayi sampai sekarang."
"Terima kasih sudah menyayangi menantuku, ternyata dia selalu di kelilingi orang yang sangat menyayanginya."
Dokter Maria hanya tersenyum melihat Umi Anna berkaca-kaca ingin menangis. Dia hanya menebak mungkin teringat sebelum pertemuannya dengan cucunya Alfian. Terigat bagaimana menantunya berjuang membesarkan Alfian seorang diri tanpa di dampingi papinya.
"Ok sudah selesai, ini foto USG-nya, saya buatkan resep untuk vitamin, apakah masih ada keluhan?"
"Ini Dok, saya sering mudah lelah padahal setiap hari minum obat dan minum susu," cerita Neng.
"Baiklah, di tambah vitaminya, untuk sementara di kurangi kegiatannya, banyak istirahat, jalan-jalan refresing kalau perlu, percayakan semua pekerjaan kepada asisten saja." nasehaat Dookter Maria sambil melirik Alfarzi.
"Sebaiknya Mami tidak usah bekerja, sampai tujuh turunan sepuluh tanjakan dan dua puluh belokan Papi masih sanggup memberikan nafkah apalagi nafkah batin," bisik Alfarizi mendekati telinganya.
Neng hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya. Ini bukan masalah harta dan nafkah tetapi tentang memberikan kontribusi kepada orang yang selama ini selalu bersamanya saat dulu masih berjuang. Tentang masa depan seluruh karyawan yang masih menggantungkan kebutuhan dari hasil bekerja di konfeksinya.
Setelah Dokter Maria memberikan resep dan Alfarizi bersama Neng mengantri di apotik Umi Anna masih berbincang bernostalgia dengan sahabatnya. Alfarizi dan Neng ke apotik yang letaknya tidak jauh dari ruang Dokter Maria, "Honey, duduk sini Papi saja yang mengantri di apotik!"
"Tidak bisa dong, Papi. Bagaimana dengan karyawan Mami, tidak mungkin kan mereka akan langsung kehilangan pekerjaannya."
"Kata Dokter Maria tadi Mami harus banyak beristirahat, kan?"
"Iya Mami tahu, Papi. Mami janji akan mengurangi kegiatan tetapi tidak berhenti juga, ini bukan tentang nafkah atau harta tetapi ini demi masa depan keluarga karyawan Mami. Papi faham maksud Mami."
"Iya Honey, Papi tahu. baik banget sih istri Papi ini, Papi jadi pingin makan Mami sekarang," jawab Alfarizi sambil memeluk Neng dari samping.
Umi Anna datang dengan langkah panjang mendekati putranya yang sedang memeluk menantunya, "Al, awas minggir jangan buat menantu Umi kecapean, sono ambil obatnya!" Umi Anna duduk diantara Alfarizi dan Neng.
"Umi, mengapa menganggu kemesraan kami sih, tidak asyik deh!" Alfarizi mengerucutkan bibirnya karena harus mengalah bergeser menjauhi istrinya.
"Ingat Al, awas saja jangan sampai menantu Umi mengalami kejadian saat melahirkan Alfian, kalau perlu setiap minggu ajak Nak Mitha babymoon!"
__ADS_1
"Tentu Umi, Setiap hari juga mau, asyik lagi honeymoon," jawab Alfarizi dengan terkekeh dan mengedipkan matanya.
"Gelo ... bukan honeymoon tetapi babymoon, kalau honeymoon yang suka kamu, cucu cantik Umi yang kelelahan, enak saja!" Umi Anna memukul pundak putranya menggunakan tas.
Beberapa hari kemudian yaitu hari Sabtu adalah hari yang di tunggu oleh Isya dan Fano. Mereka mengadakan syukuran aqiqah putranya setelah baby berumur satu minggu. Semua keluarga berkumpul di kediaman Fano dan Isya. Memesan cattering dengan menu dua kambing yang di masa gulai dan sate.
"Siapa nama adik Al, Auntie?"
"Namanya Faiz Stefano Darwan di panggilnya baby Faiz," jawab Isya.
"Abang Al boleh panggil dengan baby Faiz." Fano juga ikut penjawab pertanyaan Alfian.
"Iya Auntie, bagus nama panggilanya baby Faiz, apa boleh Al ajak baby Faiz pulang bobok di kamar Al?"
"Nanti Al, kalau baby Faiz sudah besar boleh menginap di sana, tetapi sekarang ini jangan dulu kasihan kalau baby Faiz haus bagimana?"
"Kalau haus boleh kok minta ASI adik bayi Al yang masih di perut Mami."
Alfarizi yang merasa memiliki yang di bicarakan Alfian mulai jelous, "Tidak bisa dong Al, baby Faiz sudah punya ASI sendiri."
"Iiih Papi ini pelit banget sih, baby Faiz juga adik Al, mengapa tidak boleh sih?"
Neng yang mendengar perdebatan antara Alfian dan Alfarizi menggelengkan kepalanya. Dia langsung duduk di samping putranya memeluknya dari samping. Harus bisa memberikan pengertian yang sesuai logika anak seumuran Alfian.
"Al, adik bayinya Al masih di perut Mami, jadi ASI nya belum ada nanti kalau adik bayi sudah lahir ASI juga baru keluar, kalau Al pingin ketemu sama baby Faiz boleh berkunjung ke sini."
"Iya Mami, apakah baby Faiz boleh minum susu yang biasa Al minum, Mami?"
"Belum dong Nak, itu untuk yang sudah besar. Papi yang boleh minum susu yang Al minum."
Alfarizi merasa kesal karena di bilang pelit oleh putranya langsung nyeletuk, "Papi juga punya susu sendiri dong, Mami. Tidak mau aaah minum susu yang biasa Al minum."
BERSAMBUNG
*******
__ADS_1
Author promo novel teman ya, mampir yok