
Dokter Atha memberikan penjelasan kepada ke dua ayah mertua Alfian, Zain dan Alfian serta Rania bersamaan. Tentang penyakit Ibu Titin Suhartin yaitu kanker serviks. Setelah di periksa dari gejala Ibu Titin Suhartin sudah memasuki stadium dua.
Dokter Atha menjelaskan kanker serviks adalah kanker yang tumbuh pada sel-sel di leher rahim. Kanker ini umumnya berkembang perlahan saja pada awalnya. Dan baru menunjukkan gejala ketika sudah memasuki stadium lanjut.
Serviks atau leher rahim adalah bagian rahim yang terhubung ke organ intim wanita. Berfungsi untuk memproduksi lendir yang membantu menyalurkan spe*ma dari organ ke rahim saat berhubungan dengan lawan jenis. Serviks juga berfungsi melindungi rahim dari bakteri dan benda asing dari luar.
Dokter Atha menjelaskan lebih rinci jika kanker ini adalah salah satu jenis kanker yang paling sering terjadi pada wanita. Penyebabnya karena adanya mutasi sel-sel yang tumbuh tidak normal. Sel yang tumbuh tidak terkendali sehingga mengakibatkan tumbuh sel kanker.
"Maksudnya mutasi sel itu bagaimana, Nak. Ayah tidak faham?" tanya Ayah Doni.
"Maksudnya begini Ayah, ini terjadi berhubungan dengan gaya hidup seseorang, sering berganti pasangan dengan lawan jenis, daya tahan tubuh yang lemah ini akan mengakibatkan sel normal tertular virus dengan mudah."
"Kanker serviks Ibu Titin sudah memasuki stadium berapa Nak Dokter?" tanya Bapak Endang Kusnandar.
"Kanker itu sudah memasuki stadium dua, Pak."
"Bagaimana dengan harapan hidup Ibu, Kak?" tanya Alfian.
"Angka harapan hidup pada penderita kanker serviks tergantung stadium yang dialaminya."
"Apa pengobatan yang tepat untuk Ibu setelah di ketahui sudah memasuki stadium dua, Kakak Cantik?" tanya Rania.
"Pengobatan kanker serviks tergantung pada stadium kanker yang dialami pasien dan kondisi kesehatannya. Tindakan yang dilakukan dokter meliputi kemoterapi, radioterapi, bedah, atau kombinasi dari ketiganya."
"Kalau cara mencegahnya gimana Kak?" tanya Alfian lagi.
"Setiap wanita disarankan untuk menjalani skrining kanker serviks secara berkala sejak usia 21 tahun atau sejak menikah. Selain itu, pencegahan infeksi HPV yang dapat memicu kanker ini juga dapat dilakukan dengan vaksin sejak usia 10 tahun."
Selesai mendengarkan penjelasan Dokter Atha, Ayah Doni dan Bapak Eendang Kusnandar menemui Ibu Titin Suhartin. Rania dan Alfian pulang ke Bogor. Di ruang pribadi milik Dokter Atha hanya berdua dengan Zain.
__ADS_1
"Maksunya apa memanggil Adik Al dengan sebutan adik ipar?" tanya Dokter Atha dengan suara tegas dan jutek.
"Memang kenapa?"
"Jangan bilang kamu menyukai adik cantikku Elfa?"
Zain tergelak dan menggelengkan kepalanya. Wanita yang di hadapannya terbiasa menggunakan bahasa ingrris untuk percakapan sehari-hari. Kemungkinan dia kurang memahami apa yang di maksud tadi.
"Saudara Al bukan cuma Elfa, "kan?" tanya ZAin sambil mengedipkan matanya dan meninggalkan ruangan Dokter Atha.
Dokter Atha langsung tertegun dan terpaku, mengerutkan keningnya sambil berpikir. Hanya dirinya saudara Alfian walaupun hanya saudara tiri, "Jangan mimpi ya!" teriak Dokter Atha, hanya sayangnya Zain sudah tidak mendengar teriakannya.
Ayah Doni dan Bapak Endang Kusnandar duduk di kursi dekat brankar tempat tidur Ibu Titin Suhartin. Wajahnya yang pucat membuat ke duanya merasa iba. Ingin menyalahkan diapun percuma sekarang ini sudah terjadi.
"Bagaimana keadaan elu?" tanya Bapak Endang Kusnandar.
"Aku baik-baik saja."
"Bukan urusanmu," jawab Ibu Titin Suhartin tidak kalah jutek.
"Jelas urusanku karena kamu berobat menggunakan uang putriku!" Ayah Doni tambah naik pitam karena jawaban Ibu Titin Suhartin.
"Dia putriku juga."
Bapak Endang Kusnandar berdiri mendengar perdebatan mereka,"Stop ... bukan saatnya untuk ribut dan bersitegang sekarang ini, lebih baik cari solusi bagaimana cara agar tidak usah merepotkan putri kita!" Pak Endang Kusnandar memberikan alternatif lain untuk masalah Ibu Titin Suhartin.
"Tidak perlu, Ayah dan Bapak jangan khawatir semua sudah di persiapkan oleh Bang Al dan Kakek, nanti Bibi Esih yang akan merawat Ibu Titin sampai sehat." Julio datang tiba-tiba memberikan solusi yang terbaik.
Tidak ada yang berani membantah jika Alfian yang memutuskan. Ayah Doni mengangguk diikuti oleh Bapak Endang Kusnandar. Bahkan Ibu Titin juga tidak berani membantah jika Alfian yang memerintahkan.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengan Rani sebelum ...!" Titin suhartin tidak jadi melanjutkan ucapannya karena langsung di potong oleh Ayah Doni, "Sebelum apa, sebelum mati?" tanya Ayah Doni dengan kesal.
"Rani masih dalam perjalanan pulang pasti elu sebentar lagi akan bertemu dia," jawab Bapak Endang Kusnandar dengan suara yang pelan tetapi tegas.
"Setelah itu kamu boleh bertemu yang diatas!" Kembali Ayah Doni berkata dengan ketus.
"Sabar ...." Bapak Endang Kusnandar mengusap pundak Ayah Doni agar tidak emosi.
"Ibu sekarang pingin apa nanti Jul yang akan membelikan?" tanya Julio.
"Aku ingin di belikan baju karena tidk membawa ganti baju, peralatan mandi dan make-up kalau boleh." Ibu Titin melirik Ayah Doni saat mengucapkan permintaan kepada Julio.
"Naah tuh sudah ngelunjak, buat apa make-up segala?" Ayah Doni kembali emosi.
"Tidak apa-apa Ayah, ini semua peritah Abang Al."
Ayah Doni memilih keluar ruangan dari pada semakin emosi. Rasanya ingin mengacak wajah mantan istrinya karena kesal. Dia selalu saja memanfaatkan situasi dengan baik.
Ayah Doni dan Endang Kusnandar berpamitan pulang setelah Esih datang. Mulai saat ini semua keperluan Ibu Titin Suhartin yang akan mengurus dan meperhatikan. Esih akan siap 24 jam untuk memenuhi semua keperluan Ibu Titin Suhartin.
Saat ini Alfian dan Rania dalam perjalanan Bandar Udara Sukarno Hatta menuju rumah sakit yang ada di Bogor. Alfian memerintahkan untuk mempersiapkan kantor pribadi milik Alfian di bersihkan. Malam ini Rania ingin menginap di rumah sakit ingin mememani ibunya yang sedang sakit.
Kamar dan kantor milik Alfian yang ada di rumah sakit di rancang khusus. Rencana saat Rania kelak akan melahirkan di kantor sekaligues untuk ruang bersalin dengan fasilitas yang lengkap. Bahkan jika ada kemungkinan yang terburukpun operasi misalnya semua sudah di persiapkan dengan baik.
Zain harus berkoordinasi dengan Dokter Atha untuk menyambut kedatangan sang owners. Saham kepemilikan ruah sakit 60% milik Alfian sisanya rata milik Julio, Zain, Surya dan Isya. Zain bergegas masuk ruang Dokter Atha tanpa mengetuk pintu.
Saat Zain membuka pintu bertepatan Dokter Atha akan keluar ruangan. Keduanya saling bertabrakan dan bahkan dahi bertemu dahi saling berbenturan. Zain kehilangan keseimbangan dengan spontan tangan kiri memeluk piggang Dokter Atha dan tangan kanan mengusap dahinya.
"Aduuuuh, Dokter Zain apa yang Anda lakukan!" teriak Dokter Atha.
__ADS_1
"Memelukmu ...."