Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Ampuni Aku Ibu


__ADS_3

Alfarizi sampai di parkiran mall miliknya menghubungi Neng sebelum masuk pintu mall, "Honey, sekarang ada di mana?"


"Ada di kantor butik, ada apa Papi?"


"Mami sudah makan?"


"Sudah, Papi belum makan?"


"Belum ... makan Mami, ha ha ha!"


"Iiiiih Papi kebiasaan, sudah Mami mau kerja lagi!"


"Tut ... tut ...tut!"


Alfarizi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat Neng mematikan ponselnya. Hanya membayangkan pasti bibirnya di monyongkan karena kesal. Itu yang selalu membuat Alfarizi sangat bahagia karena berhasil menggoda istrinya.


"Surya, tolong belikan makan Doni setelah itu baru aku akan menemui dia!" perintah Alfarizi sambil berjalan menuju ke arah butik.


"Baik Tuan. Eee Anda mau ke mana jalannya lewat sini!"


"Aku mau makan dulu."


"Bukankah tadi Anda sudah makan?"


"Makan istriku ...."


"Tuan, bikin ngiri aja mentang-mentang sekarang sudah punya istri!" gerutu Surya sambil berjalan ke kantornya.


"Aku dengar Surya, sana nikahi Desi segera kalo ngiri!"


Alfarizi masuk Butik AA untuk pertama kali serelah dia resmi menjadi suami Neng. Seluruh karyawan menyapa dengan sopan sambil membungkukkan badannya. Dia hanya membalas dengan tersenyum sekilas sambil berlalu berjalan dengan langkah panjang menuju kantor istrinya.


"Honey ...." Alfarizi langsung mendorong pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Papi, cepat banget sampainya, tadi sampai mana saat menelpon?"


"Parkiran, apakah sudah menerima pesan dari Surya?"


"Ini baru Mami baca."

__ADS_1


"Sudah semua?" Alfarizi langsung meraih dagu Neng dan mencium bibirnya dengan lembut.


Desi yang tidak mengetahui jika Alfarizi sedang ada di kantor langsung masuk tanpa mengetuk pintu, "Oiw ... maaf maaf, ada adegan dewasa di sini, bikin ngiri saja!" kata Desi sambil membalikkan badannya.


Alfarizi langsung melepas tautannya dan teringat Surya juga berkata seperti Desi barusan, "Kalian kompak sekali, cepetan nikah aja sana!"


"Siapa yang kompak Papi?"


"Itu Desi dan Surya, tadi dia juga mengatakan persis seperti Desi saat Papi mau ke sini."


"Desi, ada yang perlu di tanda tangani?"


"Iya ini Bu ada dua berkas." Desi meletakkan dua map di atas meja kerja milik Neng.


Neng menandatangani berkas sambil membaca sekilas.Tangan Alarizi tetap saja usil mengusap tangan dan punggung Neng. Desi hanya menunduk tanpa berani melirik bosnya yang sedang bermesraan.


"Ini sudah selesai, Desi."


"Terima kasih, permisi." Desi langsung bergegas keluar dari kantor Neng.


Alfarizi kembali mengulang meraih dagu istrinya dan kembali ingin mencium bibirnya. Kali in yang membuka pintu tanpa mengetuk adalah putranya Alfian dan Ibu Ani yang baru pulang dari sekolah, "Mami ...eee ada Papi, kapan Papi datang katanya ada di kantor pusat?" tanya Alfian tanpa merasa bersalah telah menggagalkan aksinya untuk yang ke dua kalinya.


"Tidak ada, Papi. Satu minggu ini hanya kegiatan eskul saja."


"Al sudah makan, Nak?" tanya Neng kemudian.


"Sudah Mami, tapi Al ingin beli es krim."


"Ini uangnya, Papi juga belikan rasa vanilla ya!"


"Papi juga pingin makan es krim?"


"Iya, otak Papi butuh pendingin, dari tadi gagal terus," jawab Alfarizi sambil melirik Neng yang tersenyum sambil menutup mulutnya.


Alfian berlari keluar kantor, kesempatan sedang duduk bertiga Alfaizi langsung di manfaatkan untuk berbicara dengan Ibu Ani tentang Doni. Memberikan kode kepada Neng sambil mengedipkan matanya sambil melirik Ibu Ani. Neng langsung mengangguk memahami maksud suaminya.


"Bu, kami ingin berbicara penting dengan Ibu sebentar," kata Alfarizi mengawali pembicaraan.


"Mau ngomong apa Nak?"

__ADS_1


"Ini tentang putra Ibu Doni. Kemarin anak buahku menyelidiki dan dia langsung bertemu dengannya. dia bercerita seperti ini, silahkan ibu dengarkan sendiri!" Neng langsung memberikan ponselnya sebelum Alfrizi membuka ponselnya.


Ibu Ani mendengarkan rekaman percakapan antara Alfarizi, Junaidi, Security dan Surya saat di kantor pusat. Ibu Ani juga melihat foto saat Doni berdiri di samping parkiran mall setiap hari mengawasi Alfarizi datang dan berharap mau menemui dia. Ibu Ani hanya meneteskan air matanya saat selesai dan menyerahkan kembali ponsel milik Neng.


"Bu, kami tahu ini sangat berat tetapi seharusnya dia berhak mendapatkan kesempatan kedua seperti aku mendapatkan putri ibu yang geulis ini, kan?" tanya Alfarizi sambil mencolek pipi Neng.


"Benar Bu, sekarang ini aku bahagia karena Ibu sering mengatakan jika Papinya Al seharusnya diberikan kesempatan ke dua, sekarang aku meminta sebagai putri Ibu, tolong berikan kesempatan ke dua untuk Bang Doni!" Neng juga ikut memberikan saran.


"Eee kok manggil dia Abang?" protes Alfarizi dengan perasaan cemburu.


"Idih Papi ini tidak usah cemburu, dia itu putra Ibunya Mami, berarti dia Abangnya Mami."


Ibu Ani yang awalnya menangis menjadi tersenyum karena mendengar Alfarizi cemburu hanya karena memanggil Doni dengan sebutan abang. Ibu mengusap air matanya dan bertanya, "Sekarang ini dia di mana, Nak?"


"Kita bertemu dengan dia sekarang, Ibu mau?" tanya Alfarizi antusias.


Dengan ragu Ibu Ani menganggukkan kepalanya. Sudah saatnya sekarang ini juga ikut berdamai dengan hati seperti putri angkatnya yang sekarang ini bahagia. Hanya bisa berharap semoga cerita yang baru saja didengarnya itu benar, dan berharap Doni memang benar-benar bertaubat.


"Ayo Bu kita ke kantorku, kemungkinan dia sudah selesai makan!"


"Sejak kapan dia ada di sini, kok Ibu tidak melihat dia?"


"Dari tadi pagi, ayo Bu!"


Menemui Doni yang sedang menunggu duduk di kantor Alfarizi sendirian. Dia terlihat kurus dengan wajah yang sayu dan tidak terawat. Saat Mereka membuka pintu kantor Doni langsung berdiri memandangi wajah ibunyaa dengan berkaca-kaca.


Ibu Ani juga tidak kalah syok saat melihat putranya yang sangat memprihatinkan. Tidak menyangka penderitaan yang di alami selama bertahuh-tahun padahal ibunya tidak kekurangan apapun selama ini. Mereka hanya saling memandang sesaat tanpa bisa berkata sepatah katapun.


Doni langsung terduduk bersimpuh di depan Ibu Ani sambil menangis tersedu-sedu, "Ampuni aku Bu ... ampuni aku hu hu hu!" Doni langsung mencium kaki Ibu Ani berkali-kali.


Ibu Ani hanya terpaku sambil meneteskan air matanya. Ingatannya melayang saat Doni mendorong dirinya di jalanan. Teringat juga pertama kali saat bertemu dengan Neng saat itu. Hanya melirik Neng yang ikut meneteskan air matanya dalam pelukan suaminya.


Neng semakin ikut tergugu saat melihat dan mendengar putra dari ibu angkatnya itu menangis tergugu. Dia teringat Ayah Asep yang sudah lama tidak ditemuinya. Rasa rindu dan kesal kini dirasakannya saat melihat ibu dan anak bertemu setalah lama berpisah.


"Ampuni aku Bu, ampuni aku, tolong ampuni aku Bu!" Tangisan Doni semakin tergugu, hanya kata itu yang sanggup di ucapkan di kaki ibu yang sejak kecil menyayanginya.


Ibu Ani masih terpaku belum bergerak sama sekali, kemudian badannya membungkuk ingin membantu putranya bangun. Tiba-tiba pintu kantor terbuka lebar membentur dinding dengan suara keras, "Daaaar ...!" membuat mereka tersentak kaget dan menengok kearah pintu.


" ...?"

__ADS_1


__ADS_2