Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Mengantar Sampai Tujuan


__ADS_3

Ada Empat Al sedang berfoto bersama saat ini Abi Ali, Papi Alfarizi, Abang Alfian dan si Kasep Alshraf yang baru lahir. Empat generasi keturunan Arab yang terkenal tampan dan menjadi idola pada masanya. Menjadi kebanggaan keluarga dari masa ke masa.


Umi Anna hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suami, putra dan cucunya yang sedang mengabadikan momen penting kehadiran generasi ke empat. Putra Alfian sangat membanggakan bagi seluruh keluarga besar Zulkarnain.


Yang menggendong Si Kasep Alashraf adalah Papi Alfarizi saat berfoto. Tiba-tiba bayi itu menangis kencang sambil kepala di miringkan ke kanan dan ke kiri. Lidahnya seolah sedang mmencari sesuatu, "Abang, Si kasep Al haus ini, nanti lagi fotonya."


Alfian langsung menggendong putranya mendekati Rania. "Mami ... Kasep Al haus!"


Rania ingin membuka baju, tetapi diurungkan karena masih banyak keluarga yang berkumpul, "Abang, Rani malu kalau di sini banyak orang," bisik Rania di telinga Alfia.


"Sebentar mereka Abang usir dulu!"


Alfian menyerahkan Si Kasep Alashraf kepada Rania. Mendekati keluarga terutama duo Al yaitu Papi Alfarizi dan Abi Ali, "Ayo keluar dulu sebentar, Si Kasep malu kalau sedang haus di lihat Opa dan Opa buyut!"


"Kenapa sih, Abang. Apakah Abang juga mau minta ASI seperti si Kasep Al?" goda Papi Alfarizi.


"Tidak dong, Papi. ASI khusus untuk putra Abang aja, untuk sementara Papinya harus mengalah."


"Itu namanya Papi teladan, tidak seperti Papi Alfarizi tidak mau mengalah," celetuk Mami Mitha.


Semua keluarga berkumpul di ruang tamu kantor Alfian. Berbincang sambil berbagi kebahagiaan. Sambil bercerita saat Alfian masih kecil tetapi sekarang memiliki bayi kecil.


Setelah si Kasep Alashraf kenyang, dia tidur terlelap di box bayi. Alfian membuka pintu kamar dan mereka berbincang kembali sambil menemani Rania. Masih berbincang bahagia menyambut putra Alfian yang sudah lahir.


Sedang berbagi kebahagiaan pintu terbuka tanpa di ketuk. Bibi Esih datang sambil menangis tersedu-sedu. Membuat semua kaget dan bertanya-tanya, "Esih ... ada apa?" tanya Umi Anna kaget.


"Ibu Titin ... itu Ibu ...!" Bibi Esih terbata-bata dan tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Esih ngomong yang jelas ada apa dengan Ibu Titin?" Kembali Umi Anna.


"Bibi Esih, ada Apa dengan ibunya Rani?"


"Ibu Titin tidak ada di ruangannya, Neng. Bibi sudah mencarinya ke mana-mana tetapi tidak ketemu."


Rania yang masuh lemah langsung terduduk. Sambil meringis menahan perih diarea intinya yang belum kering dan masih perih. Tadi saat Rania akan melahirkan Ibu Titin ikut menunggu di luar kantor Alfian walau duduk di kursi roda.


Setelah menyapa si Kasep lahir, Ibu Titin kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ibu Titin sempat mengeluh tidak kuat untuk duduk terlalu lama. Dia meminta Bibi Esih mengantar ke kamar rawat inap lagi.


"Abang, tolong carikan Ibunya Rani, ke mana Ibu pergi?"

__ADS_1


"Tunggu sebentar, Sayang. Jangan khawatir."


Alfian langsung menghubungi Zain yang ada di kantornya. Memerintahkan untuk mencari Ibu Titin di sekitar rumah sakit. Zain bergerak cepat mencari Ibu Titin di area rumah sakit menggunakan CCTV.


Hanya dalam sepuluh menit mencari petunjuk di CCTV. Zain sudah menemukan posisi Ibu Titin. Ibu Titin sedang ada di masjid yang ada di samping rumah sakit.


Ibu Titin sedang bersimpuh mengucapkan syukur karena dikaruniai cucu tampan. Hatinya tergerak setelah melihat putra yang dilahirkan Rania sehat walafiat. Karena Ibu Titin tidak bisa naik kembali ke kursi roda, dia hanya menunggu orang datang membantunya ke ruang rawat inap.


Bibi Esih langsung berlari menuju masjid setelah mendapat kabar dari Zain. Rasa khawatir Bibi Esih takut terjadi sesuatu pada ibu yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri, "Lain kali bilang Esih, Bu. Kalau ingin ke mana-mana!"


"Kenapa, Esih?"


"Esih kira Ibu kabur, Esih mencari Ibu ke mana-mana tidak ketemu."


Ibu Titin tergelak sambil tersenyum, "Mau kabur ke mana, sekarang Ibu mempunyai cucu tampan. Tidak mungkin Ibu kabur."


"Iya Bu, selamat sekarang sudah di panggil Enin."


Peristiwa hilangnya Ibu Titin yang hanya sebentar. Membuat Zain teringat May yang pernah berkunjung kemarin. Mungkin sudah saatnya untuk menghilang sesaat.


Zain masih memikirkan cara menghilang dan mencari kapan waktu yang tepat. Tidak mungkin di lakukan sekarang ini karena Julio masih berbulan madu. Alfian sedang berbahagia karena Rania sudah melahirkan.


Berjalan ke parkiran ingin mengambil mobilnya. Ternyata ban mobilnya kempes dan kebetulan ban serep juga kempes, "Aaaargh sial!" teriak Zain sambil menendang ban mobilnya.


Ada Dokter Atha yang sedang duduk di mobilnya. Kebetulan mobil mereka bersebelahan. Dia membuka kaca mobil dan berteriak, "Kenapa mobilnya, Dok?"


"Ban mobilku kempes."


"Anda mau ke mana, ayo aku antar!"


Zain tersenyum saat mendengar Dokter Atha menawarkan diri untuk mengantar. Sengaja tidak menjawab, Zain langsung membuka pintu mobil dan meminta Dokter Atha bergeser, "Terima kasih mau mengantar, aku saja yang menyetir."


Tanpa bertanya lagi Dokter Atha menggeser badannya. Zain duduk di kemudi dan melajukan mobil Dokter Atha. Baru berjalan beberapa kilo meter, Zain berbelok ke pom bensin.


"Eee ... tidak perlu diisi bensinnya Dokter!"


"Tidak apa-apa, tapi benar ya, mau mengantar sampai tujuan, janji lo ya?"


"Hhmm ...."

__ADS_1


Kembali Zain tersenyum, tanpa banyak kata yang penting bisa berdua. Hanya itu yang ada dalam pikiran Zain saat ini. Tidak berniat memberi tahu tujuannya sampai dia bertanya dan menyadari sendiri.


Keluar pom bensin Zain melajukan mobilnya perlahan. Tanpa berbincang ke duanya masih balam pikirannya masing-masing. Sampai di pertigaan jalan, jika ke kiri arah apartemen Zain dan ke kanan arah ke Bekasi.


Zain langsung mengambil arah kanan sambil melirik Dokter Atha yang masih termenung merlihat jalan raya. Setelah beberapa meter, Dokter Atha mulai menyadari jalan ini bukan arah menuju apartemen melainkan ke Bekasi.


"Dok, apartemen Anda belok kiri, mengapoa ini belok kanan?"


"Aku tidak bilang akan pulang ke apartemen."


"Jadi Anda akan ke Bekasi?"


"Iya ... bukankah tadi setuju mangantar aku sampai tujuan, aku akan ke Bekasi."


Dokter Atha kaget sambil termenung. Dari tadi niatnya mengantar sampai apartemen. Tanpa bertanya ternyata tujuannya lain.


"Kenapa ... masih tetap menepati janji, "kan?'


Dengan terpaksa Dokter Atha mengangguk. Tidak ingin berdebat dan menyalahkan siapapun. Ini salahnya sendiri tidak bertanya hanya menebak saja.


Dalam pertengahan jalan tanpa terasa Dokter Atha tertidur sambil bersender. Dengan cepat tangan kiri Zain langsung menarik pundak Dokter Atha perlahan dan di senderkan di pundaknya, "Tidurlah bersender di pundakku!"


BERSAMBUNG


ayo mampir di Novel temen yang rekomen banget


jangan lupa sambil menunggu AST up lagi



Penelusuran Gaib Rania


Author: Novi putri ang


Mobil hitam melintas di atas tanah berlumpur, diluar nampak hujan deras yang tak kunjung reda. Dan kilatan guntur terlihat di langit menyambar, dengan gemuruh yang menggelegar.


Malam ini terasa mencekam. Dari kejauhan, bayangan sebuah rumah kuno terlihat di antara pepohonan besar, bersembunyi di balik kegelapan.


"Aah. Perasaan apa ini, kenapa perasaan tidak enak mengganggu pikiranku?" batinku berkata seakan ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini.

__ADS_1


Ya, benar saja. Kisah mistisku belum berakhir. Meskipun aku telah meninggalkan Desa Nenekku, Desa Rawa Belatung. Aku selalu saja berurusan dengan hal-hal gaib. Penelusuran gaib yang terus membawaku bertemu dengan sosok makhluk tak kasat mata, yang terus mengikuti setiap perjalanan hidupku.


__ADS_2