
Junaidi kaget dengan jawaban seorang wanita yang terlihat tidak mau mengalah. Berpikir harus lebih bersabar dan tegas menghadapi seperti orang Yang ada di depannya, "Maaf Nona, ini sudah malam sebaiknya Anda melihat waktu jika ingin bertamu!" Junaidi berbicara dengan tegas.
Bukan mengerti dan memundurkan mobilnya, wanita itu terlihat marah dan emosi, "Dengar ya Pak, sebaiknya tolong panggilkan Nyonya rumah saja. Jangan sok tahu!"
"Eeee Anda tidak bisa di bilang dengan baik-baik?"
"Jangan bertingkah Pak, kamu hanya seorang security."
Junaidi semakin naik pitam mendengar seorang wanita muda meremehkan profesi seseorang. Mobil di pukul dengan tongkat security perlahan, "Urusan kita belum selesai, Nona. Silahkan mundur dulu setelah itu kita selesaikan!" kata Junaidi sambil bertolak pinggang.
"Apakah yang akan keluar dari dalam rumah yang punya rumah ini, Pak?" tanya wanita itu seolah tidak bersalah.
"Itu bukan urusan Anda, silahkan mundur dan turun dari mobil kita buat perhitungan!" Kembali Junaidi naik pitam dengan ulah wanita itu.
Mobil mundur hanya sekitar dua meter saja. Junaidi mempersilahkan Mobil yang dari dalam rumah keluar. Ada sekitar lima mobil keluar bersamaan.
Tanpa meminggirkan mobilnya wanita itu turun dari mobil. Security lain bergegas menutup pintu gerbang dan berdiri berjaga di pintu bagian luar. Kembali Junaidi mendekati wanita yang berada di samping pintu mobilnya.
"Pak ... apakah mobil yang keluar tadi diantaranya ada Zain?"
"Saya tidak tahu, silahkan pergi dari sini, Tuan dan Nyonya rumah ini tidak menerima tamu tengah malam!" Junaidi menjawab dengan tegas dan cenderung jutek.
Junaidi berbalik badan ingin melinggalkan wanita yang membuatnya kesal. Menunggu Julio juga tidak segera datang membuat Junaidi semakin emosi. Rasanya ingin memukul wanita itu dengan tangannya sendiri.
Baru berjalan beberapa langkah mendengar ucapan kata-kata yang tidak sopan dari wanita itu. Dia mengucapkan sumpah serapah dan nama binatang terdengar jelas dari mulutnya. Junaidi semakin kesal dan berbalik badan, "Apa kamu bilang?"
Julio datang berlari mendekati ayahnya sambil berteriak, "Ayah ... tunggu!"
Junaidi berhenti mendadak sambil menarik napas panjang. Melihat Julio yang bertolak pinggang kepada Putri Siregar, Junaidi hanya tersenyum getir, "Hadapi itu temanmu yang gila itu, Ayah setres karena dia!"
"Ayah masuk saja, Julio yang menghadapi dia."
Putri Siregar tersenyum mengejek saat Julio datang menghampirinya. Mulutnya masih mengeluarkan bahasa kasar walaupun tidak terdengar jelas. Membuat Julio semakin emosi melihat tingkah wanita yang berada di depannya.
__ADS_1
Sampai mendekati Putri Siregar Julio mencium aroma Alkohol dari mulutnya, "Pantas saja mulutnya tidak ada remnya, elo mabuk ya?"
"Eee anak security elo jangan menghalangi gue bertemu dengan Al dan Maminya, Sono pergi!"
Julio berteriak memanaggil ayahanya dari kejauhan, "Ayah ... apakah tadi tidak mencium bau alkohol pada wanita sinting ini!"
Junaidi dan dua security mendekati Julio, "Ayah tidak sempat mendekati dia saat turun tadi, Jul."
Junaidi dan dua security memeriksa mobil milik Putri Siregar saat Julio mengajak wanaita itu berbicara. Julio mengalihkan perhatiannya agar tidak membuat masalah saat mobil di periksa.Yang di ajak berbincang terus saja berbicara tidak karuan dan sesekali tertawa.
"Jul ... Ayah menemukan ada tiga botol alkohol di samping kemudi!" teriak Junaidi menutup pintu mobil milik Putri Siregar kembali.
Julio mengerutkan keningnya berpikir bagaimmana cara mengatasi Putri Siregar tetapi tidak melimbulkan keributan. Berusaha keluarga yang ada di dalam rumah tidak mengtahui tingkahnya. Yang tahu hanya Zain saat dia keluar rumah tadi, itupun Zain tidak mau menemui Putri.
"Di laporkan ke polisi saja, Pak." Salah satu security memberikan usul.
"Jangan Pak, tolong panggilkan Zain saja sekarang!" perintah Julio.
"Ok siap, Bang Jul."
"Bro enaknya di kerjain saja dia," bisik Zain sambil menepuk pundaknya.
"Ya memang itu tujuan gue memanggil elo ke sini, apa idenya?"
Zain teringat dua hari yang lalu membawakan obat tidur untuk pasiennya yang tinggal di sebelah rumah. Obat tidur itu hanya di berikan setengah saja agar tidak ketergantungan. Sisanya dia letakkan di laci yang ada di mobilnya.
"Tunggu sebentar gue ambil dulu di mobil, ajak berbincang aja dulu Putri!"
"Iya tapi jangan lama, engap sudah gue dengan tingkahnya."
Sementara Zain mengambil obat tidur. Satu security di minta untuk membuat teh manis di dapur. Mereka datang bersamaan mendekati Julio yang masih berbincang tidak jelas dengan Putri.
Zain memberikan obat tidur hanya seperempat pil saja. Tidak berniat menyakiti wanita itu hanya ingin membuatnya tertidur sesaat. Agar bisa di berikan pelajaran untuk membuatnya jera dari minuman beralkohol.
__ADS_1
"Ini Put, silahkan di minum dulu sebelum berbincang lagi!" Zain memberikan satu cangkir teh manis yang sudah bercampur seperempat pil tidur.
"Tumben elo baik, Zain ha ha ha!" Putri menerima secangkir teh manis.
"Dari dulu gue selalu baik hati, cepat di minum!"
"Baiklah terima kasih."
Putri Siregar langsung meminum teh manis dalam sekali teguk. Dia tidak merasakan sesuatu dari teh manisnya. Di samping karena terlihat teler dia juga hampir tidak bisa mengontrol diri.
Putri masih ingin berbincang dan masih ingin bertemu dengan Mami Mitha Atau Alfian. Dalam ucapannya terus saja Putri ingin menemui mereka walaupun terus di ajak berbincang oleh Julio untuk mengalihkan pembicaraan. Sampai Putri terlihat mengantuk dan tertahankan lagi.
"Put ... kalau mengantuk cepat masuk mobil!" teriak Julio sambil membukakan pintu.
"Terima kasih, jangan lupa bilang Al jika kekasihnya ingin bertemu!" Putri masuk mobil dan membaringkan tubuhnya di samping kemudi.
Zain dan Julio tertawa lepas diikuti oleh Junaidi dan security, "Kalian ini memang gokil, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?" tanya Junaidi.
"Kita bawa mobil Putri ke pemakaman umum yang ada di ujung jalan dekat rel sana Om," jawab Zain sambil tersenyum devil.
"Ya sudah kalian urus saja dia, tapi ingat jangan sampai mencelakai dia. Jangan sampai berurusan dengan polisi, mengerti?"
"Ok ... siap," jawab Julio dan Zain bersamaan.
Julio membawa mobil putri sedangkan Zain mengikuti dari belakang memakai mobilnya sendiri. Waktu menunjukkan hampir tengah malam saat mereka sampai di pemakaman umum. Di sana terlihat sepi dan tidak ada seorangpun yang melintas.
"Bro ... di mana kita meletakkan mobil Putri?" teriak Julio setelah sampai di dekat pintu gerbang pemakaman.
"Sebentar gue lihat situasinya."
Zain turun dari mobilnya mengawasi area sekitar pemakaman yang terlihat sepi. Ada jalan aspal besar di tengah pemakaman dan di tengahnya pohon beringin besar yang rimbun, "Jul ... bawa mobilnya ke bawah pohon beringin itu!"
"Ok tetapi jangan tinggalkan gue, merinding nich gue!"
__ADS_1
"Ha ha ha ...."'