
Alfian berteriak memanggil maminya saat beliau melihat Abah yang di gandeng oleh Rania. Sambil berlari mendekati Mami Mitha dan berkata, "Mami ... dia bukan istri Kakek!"
Mami Mitha memandang suaminya Papi Alfarizi dengan bingung. Sudah bertahun-tahun hanya bisa melihat dari jauh membuat berpikir negatif dengan ayah kandungnya. Kedatangan mendadak ayah kandung juga membuat dia berpikir negatif.
"Lalu siapa gadis yang ada di sebelahnya?" tanya Mami Mitha.
"Dia Rania Kirana," jawab Alfian berbisik di telinga Mami Mitha.
"Abang ... mengapa tidak bilang kalau dia kekasih Abang?" tanya Papi Alfarizi sambil memukul pundak putranya perlahan.
Abah langsung mendatangi Mami Mitha mengulurkan tangannya, "Maafkan Ayah ya Neng, Ayah ...!"
Mami Mitha langsung memeluk ayahnya dengan erat sambil terisak. Abah sampai tidak sempat melanjutkan ucapannya. Kerinduan bertahun-tahun di pendam di dalam hati kini di tumpahkan dengan memeluknya dengan erat.
Papi Alfarizi hanya bisa mengusap istrinya dalam dekapan Abah. Antara kaget dan tidak menyangka dengan kedatangan dua orang yang penting dalam hidup keluarga. Rasa haru dan bahagia melihat kedatangan ayah mertua tanpa di duga.
Mami Mitha semakin tergugu saat Abah beberapa kali mengecup keningnya. Antara bahagia dan rindu yang mendalam membuatnya larut dalam suasana hati. Akhirnya kini terjadi setelah bertahun-tahun ayah mau bertemu dan berkunjung.
Mami Mitha mengerutkan keningnya setelah teringat amanah terakhir Encang Ginanjar sebelum beliau wafat. Jangan temui ayah dan jangan memaksa ayah untuk menyadari kesalahannya. Ayahnya datang bersama Alfian, membuat Mami Mitha curiga ini di paksa datang oleh putranya sendiri.
"Maafkan Ayah yang selalu membuat Neng sedih dan menderita."
Abah juga meneteskan air mata melihat putrinya tergugu. Kesalahan masa lalu dan pelariannya selama bertahun-tahun seolah sangat membuat dadanya sesak. Kata-kata yang di susun saat dalam perjalanan kini hilang dari pikiran.
Seolah lidahnya kelu tidak mampu mengucapkan sepatah katapun. Abah hanya membuka mulutnya tetapi kata-katanya tidak keluar dari mulutnya. Hanya mampu memandang wajah purtinya yang sendu antara bingung, kaget dan bahagia.
Seolah mengerti apa yang ingin di katakan oleh ayahnya, Mami Mitha kembali memeluk ayahnya dengan erat, "tidak perlu mengatakan apapun, Ayah. Semua sudah berlalu yang pasti kami sangat menyayangi Ayah."
Kembali Abah tergugu dan mengeratkan pelukannya pada putrinya, Rania tidak tega melihat orang yang melindunginya dalam satu tahun terakhir tergugu. Dia mendekati Abah dan mengusap pundaknya, "Abah ... yang sabar, ingat kesehatan Abah!"
"Eeee apakah Ayah sakit?" tanya Mami Mitha penasaran.
Alfian mendekati Mami dan Abah menggandeng Rania sambil tersenyum, "Mami ... Papi ayo ajak Kakek duduk dulu!"
__ADS_1
Mami Mitha dan Papi Alarizi mengangguk dan tersenyum. Melirik Alfian yang menggandeng Rania dengan mesra. Papi Alfarizi mengedipkan matanya ikut menarik tangan Mami Mitha untuk bergandengan tangan.
"Mesra banget itu Abang ya Mami. Papi jadi pingin bergoyang," bisik Papi Alfarizi di telinga istrinya.
"Sstt ... jangan mesum di sini nanti Abang dengar bahaya tahu!" Mami Mitha juga ikut berbisik.
"Senjata onta Arab Papi bangun sendiri, yok kita ke kamar!" bisiknya lagi.
Mami Mitha langsung mencapit pinggang Papi Alfarizi. Membuat Papi Alfarizi kaget dan teriak, "Aaauw sakit, Mami!"
"Ada apa Papi?" tanya Alfian cepat.
"Ada kepiting mencapit pinggang Papi."
Mami Mitha hanya tersenyum tidak menjawab ucapan suaminya. Rania menutup mulutnya hampir saja keceplosan mendengar pertanyaan suaminya. Alfian langsung tersenyum melihat tingkah Rania yanng hampir keceploosan.
Dari tadi fokus dengan Abah tetapi setelah sampai ruang tamu Alfian memperkenalkan secara resmi kepada ke dua orang tuanya, "Mami ... Papi perkenalkan dia Rania Kirana."
"Saya Rani ...." Rania mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Papi Alfarizi dan Mami Mitha bergantian.
"Salam kenal, Bu."
"Eeee jangan panggil Ibu, panggil Mami dan Papi saja seperti Abang Al," jawab Papi Alfarizi sambil tersenyum.
"Iya terima kasih."
Setelah mereka duduk di ruang tamu, Mami Mitha langsung bertanya kepada Afian, "Mengapa datang bersamaan, apakah Abang memaksa Kakek datang berkunjung ke sini?"
Tetapi Abah yang menjawabnya padahal Alfian sudah membuka mulutnya ingin menjawab, "Tidak Neng ... semua atas kemauan Ayah sendiri.
"Bagaimana Abang bisa bertemu dengan Kakek dan sekaligus mengajak pacar Abang ke sini?" tanya Papi Alfarizi.
"Bukan pacar tapi ...!" Rania menjawab hampir keceplosan karena Papi Alfarizi bertanya dengan cepat.
__ADS_1
"Abang akan berterus-terang, Mami ... Papi tetapi jangan marah ya!"
"Jangan salahkan Abang jika kalian ingin marah, marahi saja Ayah semua terjadi karena Ayah."
"Jangan saling mengaku salah lebih baik cerita dulu!" perintah Mami Mitha dengan bijak.
Alfian bercerita dengan terus-terang tentang pertemuan pertamanya dengan Rania satu tahun yang lalu. Perjodohan paksa Rania dengan laki-laki bandot tua. Kejadian berfoto berdua tanpa sehelai benangpun malam itu di kamar Alfian.
Sampai satu tahun menyembunyikan Kejadian itu. Tidak bisa melupakan gadis yang awalnya tidak tahu namanya. Sampai keberhasilan Julio menemukan keberadaan Rania.
Tanpa di duga setelah bertemu dengan gadis yang membuat Alfian tidak pernah bisa move on selama satu tahun. Menemukan ternyata dia tinggal bersama kakek. Alfian langsung bertindak cepat untuk menyatukan keluarga yang lama tidak bersama.
Gantian Abah bercerita dari pertemuan pertamanya dengan Rania sampai di anggap sebagai cucu sendiri. Tinggal berdua, dan menjadi sopir angkot sebagai pengganti. Bahkan bercerita tentang orang yang menyukai Rania.
Abah bercerita tentang Rania yang menganggap Alfian sebagai suami halu. Tentang permintaan agar Alfian langsung menikahi Rania. Dan pernikahan sirri keduanya secara mendadak dan tanpa mengabari.
Abah juga bercerita tentang Ayah Rania yang tidak tahu di mana rimbanya. Tentang niatan Rania yang ingin di nikahkan oleh ayah kandungnya. Bahkan Abah juga bercerita jika Alfian dan Rania belum melakukan malam pertama.
"Bukankah kalian sudah sah, mengapa begitu?" tanya Papi heran.
"Itu amanah dari Ayah sambung Rani sebelum pergi, beliau berpesan jika menikah harus restu ayah kandungnya."
"Nak Rani tahu nama Ayah kandungnya?" tanya Mami Mitha.
"Rani tidak tahu nama lengkapnya, Mami. Hanya nama belakangnya saja bernama Surya.
Papi Alfarizi langsung membelalakkan matanya teringat dengan asisten pribadinya yaitu Surya Budiman. Rania bercerita jika Surya adalah nama belakang. Berarti yang di maksud bukan Surya asisten pribadinya.
"Nama Ibu kamu siapa, Neng Rani?" tanya Abah.
"Ibu Rani bernama Titin Suhartin."
Alfian jadi teringat dengan Julio yang pergi ke villa. Dari kemarin dia tidak mengabarkan perkembangan tentang penyelidikan ayah Rania. Bahkan ponsel sekarang ini tidak aktif saat Alfian mengirim pesan WA.
__ADS_1
Papi Alfarizi kembali berbisik di telinga Mami Mitha, "Mami ... kok bisa ya Abang mengabulkan permintaan istrinya, Papi saja sekarang semakin tidak tahan ingin bergoyang, yok ke kamar sebentar onta Arab sudah tidak tahan nich!"