
Hampir sampai di rumah Zain, Dokter Atha terbangun dalam posisi dia bersender di bahu Zain. Bergegas dia duduk tegak dan bingung, "Maaf Dok, merepotkan Anda."
"Tidak masalah, aku justru suka. Bersandarlah selalu di bahu dan hatiku."
"Mulai deh ...." Dokter Atha mengerucutkan bibirnya.
Zain hanya nyengir kuda, mulutnya susah sekali tidak merayu jika dekat dengan pujaan hati. Mencoba bersikap seperti biasa lagi setelah melihat dia cemberut.
Sekitar satu kilo lagi sampai di rumah Zain. Sedangkan rumah Papi Alfarizi masih sekitar lima kilo meter lagi, "Dok, apakah bisa aku diantar dulu ke rumah Papi?"
"Tentu bisa. Bagaimana dengan mobilmu?"
"Anda saja yang membawanya."
"Baiklah ...."
Sampai di rumah Papi Alfarizi, Dokter Atha langsung turun tanpa mengucapkan sepatah katapun. Zain menjadi ragu untuk bertanya. Setelah Dokter Atha berjalan beberapa langkah Zain langsung berteriak, "Dok ...!" teriaknya.
"Dokter Atha menghentikan langkahnya, "Anda memanggil aku, Dok?"
"Mau pulang jam berapa nanti aku jemputi lagi?"
"Jam delapan malam." Dokter Atha langsung berbalik badan dan meninggalkan Zain yang sebenarnya ingin bertanya lagi.
Zain masih memandangi Dokter Atha sampai menghilang masuk pintu gerbang rumah milik Papi Alfarizi. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Dokter Atha sekarang ini sering diam dan jarang mengajak Zain berdebat seperti dulu.
Dokter Atha sering tidak membantah tetapi tidak juga menolak saat Zain sering mengajaknya berdebat. Pandangan mata yang terlihat sayu wajahnya yang tegas dan memiliki prinsip yang kuat. Perubahan yang sangat mencolok semenjak Zain agak menjauhinya.
Malam harinya pukul delapan malam Zain menjemput Atha yang sudah berdiri di depan gerbang. Kembali menuju Bogor berdua. Mereka juga tidak banyak berbincang selama dalam perjalanan.
"Aku turun di depan saja!" kata Dokter Atha setelah sampai di depan apartemen miliknya.
"Jadi yang bawa mobil aku lagi nich?"
"Bawa saja, aku malas mengantar Anda." Dokter Atha langsung turun dari mobil dan menyeberang jalan.
Yang banyak berinisiatif adalah Dokter Atha. Zain hanya mengikuti semua apa yang dikatakan dia. Seolah keduanya psangan yang saling melengkapi.
Kesempatan tidak akan datang dua kali. Zain pagi ini membawa sarapan kesukaan Dokter Atha. Berangkat dari rumah lebih cepat agar bisa sarapan bersama di apartemen gadis pujaan hati.
Zain sudah datang di apartemen Dokter Atha. Dia baru bangun tidur bahkan belum mandi. Saat Dokter Atha sedang mandi Zain mempersiapkan sarapan berdua di meja makan.
__ADS_1
Dokter Atha keluar dari kamar sudah rapi dengan seragam kerja. Zain langsung menyambut dengan menarik kursi mempersilahkan dia duduk di kursi, "Duduklah ... ayo sarapan dulu!"
Dokter Atha hanya mengangguk dan duduk sambil tersenyum. Dia memilih diam dan menuruti apa yang dikatakan Zain. Langsung menikmati sarapan yang ada di depannya sambil menunduk.
Zain yang terpana menyuapkan sarapan ke mulut, tatapi matanya terus menatap Dokter Atha. Jika saat berdua hati dan perasaanya tidak bisa di kendalikan. Tatapan penuh cinta sangat terlihat dan di baca.
Sedang asyik dan syahdu menikmati sarapan berdua. Ponsel Zain berdering, panggilan teman dari pulau borneo. Zain langsung menggeser tombol hijau, "Ya halo May!"
" ...."
"Benarkah. May tidak bohong?"
" ...."
"Tentu, pasti itu."
" ...."
"Waaah ... itu yang aku tunggu dari kemarin!"
Zain menjawab sambil melirik wajah Dokter Atha yang terlihat cemberut. Sikapnya yang tadi terlihat bersahaja sekarang terlihat salah tingkah. Bahkan tubuhnya selalu bergerak seolah badan gelisah dan hati gundah gulana.
"Ok aku tunggu!"
" ...."
Ponsel mati bersamaan Dokter Atha selesai sarapan. Dia meminum jus alpukat satu belas tanpa sisa, "Aku sudah selesai, ayo kita berangkat!"
Zain tersenyum dan mengangguk, padahal sarapannya belum habis. Dia langsung mengikuti Dokter Atha keluar apartemen. Turun lift berdua, tetap saja tanpa kata.
Sampai mobil berhenti di parkiran, Dokter Atha langsung meninggalkan mobil tanpa meminta kunci miliknya. Dia langsung melenggang meninggalkan Zain sendirian. Zain bukannya menyusul Dokter Atha tetapi justru tersenyum dan berseru sendiri, "Yes ... berhasil!"
Berjalan santai sambil bermonolog sendiri, "Tidak bisa di tutup-tutupi lagi, aku tahu kamu cemburu. Tunggu tanggal mainnya, kamu akan berlari memelukku sebentar lagi!"
Kunci mobil Zain letakkan di meja kerja Dokter Atha saat dia tidak berada di ruangannya. Zain sengaja tidak menemuinya lagi seharian ini. Zain lebih memilih berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk sampai sore hari.
Empat hari berlalu tanpa terasa. Empat hari juga Zain tidak sama sekali menampakkan batang hidungnya untuk menemui Dokter Atha. Justru Dokter Atha yang mencuri pandang melewati jendela saat Zain sedang melintas di depan kantornya.
Hari ini Julio pulang dari bulan madu, bertepatan Alfian, Rania dan si Kasep Alashraf pulang ke rumah. Zain sendiri yang mengantar keluarga Alfian. Tanpa di duga Dokter Atha menyusul di belakangnya menggunakan mobilnya sendiri.
Zain hanya tersenyum melihat ada mobil pujaan hati mengikuti dari belakang. Tanpa berani berkomentar atau memberitahukan kepada Alfian. Yang terpenting baginya dia sekarang ini sudah semakin dekat.
__ADS_1
Masuk halaman rumah Alfian hampir bersamaan. Mobil berjajar bersebelahan, yang turun pertama kali adalah Dokter Atha. Dia langsung berlari membukakan pintu Rania dan meraih bayinya, "Si Kasep Al digendong sama Auntie dulu ya!"
Zain tersenyum sambil membukakan pintu untuk Alfian, "Papinya sama Uncle saja biar klop!"
Alfian langsung menggeplak kepala Zain perlahan, "Dasar tukang ngarep!"
Zain hanya tersenyum sambil melirik Dokter Atha yang juga melirik kearahnya. Matanya saling tatap dan mengunci sejenak. Seolah mata itu menunjukkan rasa rindu yang mendalam.
Dokter Atha langsung mengarahkan pandangannya kepada si Kasep Al yang sedang kehausan. Kepalanya digerakkan mencari sesuatu yang diinginkan, "Mami Kasep Al haus nich ... ayo sepat masuk!" celoteh Dokter Atha mengajak berbincang sambil menganggukkan kepala.
Sambil berjalan masuk rumah, Zain dan Alfian mengikuti dari belakang, "Elu tidak ingin seperti gue, Bro. lihatlah Kakak gue sudah pantas juga lo menggendong bayi," bisik Alfian di telinga Zain.
"Gue mau banget ...."
"Kapan itu terjadi?"
"Tunggu saja tanggal mainnya," jawab Zain percaya diri.
Julio dan Bintang datang berlari bergabung masuk rumah. Di rumah di sambut oleh Umi Anna dan Mami Mitha yang sudah menunggu di rumah. Rania langsung masuk kamar untuk memberikan ASI bersama semua para wanita.
Dengan alasan ada keperluan mendadak Zain tidak ikut berbincang. Dia langsung berpamitan sesaat Dokter Atha masuk kamar Rania. Tidak ada yang tahu rencana dan alasan Zain terburu-buru berpamitan.
Setelah satu jam berlalu, di ruang tamu hanya ada Alfian dan Julio sedang berbincang. Dokter Atha turun dari lantai atas terburu-buru sambil melihat sekekliling ruang tamu, "Kalian cuma berdua?" Tanya Dokter Atha.
"Kakak mencari siapa?"
BERSAMBUNG
Ayo mampir Shobat jangan lupa.
ini rekomen banget lo di punya author sendiri sih
Khan, Kamulah jodohku Author Muda Anna
Alhakhan Jose Purnomo 27 tahun adalah seorang laki-laki tampan, dingin dan galak. Dia memiliki trauma saat kecil di culik oleh seorang wanita cantik yang menyukai ayahnya. Dia memimpin perusahaan CEO yang behasil tetapi akan berkeringat dingin dan menggigil saat bertemu atau berhadapan langsung dengan wanita cantik.
Sampai dia bertemu tanpa sengaja dengan seorang wanita berpenampilan tomboy pimpinan panti asuhan bernama Vena Fatmala. Pertemuan keduanya saat Vefe membantu Khan di keroyok oleh perampok di pinggir jalan tol. Hanya bersama dengan Vefe, Khan tidak mengalami trauma karena awalnya menyangka Vefe adalah laki-laki.
Tanpa di sadari Khan jatuh cinta pada Vefe. Hanya saja banyak yang menghalangi cinta mereka karena wanita-wanita cantik yang mengincar harta dan ketampanan Khan. Dan ada perbedaan kesenjangan sosial yang membuat Vefe tidak percaya diri bersama dengan Khan.
__ADS_1
Bagaimana Khan meyakinkan Vefe untuk tetap bersamanya. Apakah Vefe menerima cinta Khan?