Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Melahirkan


__ADS_3

Alfarizi menutup mulutnya saat diancam Umi Anna dan Neng utuk pergi ke Antartika. Kekhawatiran tentang istrinya membuat dirinya menjadi bingung dan bertingkah berlebihan. Tidak menyangka malah membuat istri dan ibunya naik pitam dan gagal fokus.


Dokter Maria hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tunggu dulu jangan marah, Nak Al sebaiknya naik dan duduk di belakang kepala Nak Mitha ya!"


"Baik Dok."


Alfarizi naik di brankar tempat tidur dengan membuka dua kakinya. Punggung Neng bersandar di perut Alfarizi. Dan tangan Alfarizi melingkar di pundak istrinya.


"Baaiklah semua sudah siap, Nak Mitha jika rasanya ingin buang air besar, ambil napas panjang kemudian mengejanlah sambil dorong dengan sekuat tenaga, faham?"


"Iya Dok."


Neng mengambil napas karena belum ada tanda-tanda bayinya ingin ke luar. Tangannya memegangi tangan Alfarizi untuk meminta dukungan suaminya, "I love you Honey." bisiknya untuk memberikan dukungan.


"Dok ... rasanya mau ... aaaaaah huf huf!" Napas Neng tersengaal-sengal mengejan dengan spontan tanpa menunggu aba-aba dari Dokter Maria.


"Sabar jangan buru-buru mengejan dulu agar tenaganya tidak sia-sia. tunggu aba-aba Dokter, ok!" perintah Dokter Maria.


"Nak Mitha, ayo semangat, Al beri dukungan istrimu!" nasehat Umi Anna.


"Iya Umi," jawab Alfarizi.


"Dokter, ini mulai lagi rasanya mau ...!" teriak Neng dengan keras.


"Ambil napas panjang dulu ... ya betul dorong!" perintah Dokter Maria.


"Aaaaa .... huuf huf ... istirahat dulu Dok."


Alfarizi mulai ikut semua gerakan Neng karena seolah dia menyatu dengan istrinya. Saat mengejan dengan sekuat tenaga Akfarizi juga ikut mengejan. Neng tanpa sadar karena merasa sakit yang luar biasa mengeluarkan air mata. Alfarizi juga ikut meneteskan air mata.


"Ayo mulai lagi dok!" teriak Neng.


"Ayo Honey semagat, ayo putri Papi cepatlah hadir bersama kami!" Alfarizi memberikan semangat.

__ADS_1


"Tarik napas panjang ok. Bagus ... doroong!" Dokter Maria juga memberikan arahan dengan semangat.


"Aaaaaa ...!"


"Oek ...oek ... oek!" Suara tangisan bayi menggema di seluruh ruangan dengan di sertai ucap syukur.


"Alhamdulillah ...."


Bayi cantik lahir dengan berat badan 2,9 kg panjang 52 centi meter. Rambut hitam lebat dan hidung mancung persis seperti Alfarizi. Sorot matanya juga tidak berbeda dengan papinya, hanya bibir dan senyumnya saja yang mirip dengan maminya.


Sambil menangis tetapi bibir Neng tersenyum saat melihat bayi dengan suara yang keras diangkat dengan kedua tangan Dokter Maria setelah di potong tali pusar nya. Alfarizi mengusap air matanya kemudian mengusap air mata Neng ikut tersenyum. Menciumi seluruh wajah Neng dengan lembut, ada rasa haru, bahagia dan lega setelah putrinya lahir.


"Selamat Nak, kamu memang hebat, Umi sangat bangga terima kasih sudah memberikan cucu perempuan di keluarga kami." Umi Anna mencium pipi Neng dan mengusap pundak Alfarizi .


"Terima kasih Umi, terima kasih Honey, I love you so much, terima kasih telah memberikan perasaan Papi saat ini nano-nano, bahagia terharu khawatir semua ada di dada."


Neng hanya tersenyum sambil mengangguk mengusap tangan Alfarizi yang masih menggenggam tangannya. Air matanya masih mengalir tetapi bibirnya menyunggingkan senyuman manis. Rasa bahagia tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata hanya matanya yang berbinar sebagai ungkapan hatinya.


"Tidak apa-apa Papi, nanti saja kalau kita pindah ruangan."


"Umi keluar dulu mengabarkan berita bahagia pada Alfian dan Ibu Ani."


"Baik, Umi terima kasih," jawab Alfarizi.


Suster datang dengan menggendong bayi yang masih telanjang dan hanya di lilitkan dengan selimut tebal, "Baby-nya skin to skin dulu ya Bu!"


"Iya Suster," jawab Neng sambil membuka kancing bajunya agar bayinya di baringkan diatas dadanya tanpa terhalang oleh baju.


Sambil meletakkan bayi dada ibunya, suster menjelaskan tentang manfaat skin to skin untuk bayi dan ibu. Skin to skin adalah suatu metode saat bayi baru lahir diletakkan langsung di dada ibu tanpa dihalangi pakaian sehingga kulitnya langsung bersentuhan dengan kulit ibu. Tubuh bayi baru lahir dan sang ibu sama-sama ditutupi selimut hangat dan dibiarkan setidaknya selama satu jam hingga proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD) selesai.


Aktivitas ini dikenal pula dengan nama Metode Kanguru, ini bisa dilakukan sesaat setelah bayi di bersihkan. Selain dilakukan saat bayi baru lahir, hal ini dapat dilakukan kapanpun merasa perlu melakukannya.


"Apa manfaatnya Suster dari skin to skin itu?" tanya Alfarizi penasaran sambil melihat putrinya yang mulai mencari ASI.

__ADS_1


"Skin to skin akan membangun ikatan antara ibu dan bayinaya akan merasa lebih aman dan nyaman. Membantu melancarkan proses memyusui, setelah bayi lahir akan menuntun indra penciuman bayi untuk mencari puncak gunung kembar ibu dengan lebih mudah."


Suster menerangkan hanya sekitar sepuluh menit bayi sudah mendapatkan puncak gunung favorit Alfarizi, "Eeee Mami, itu ... itu mengapa diambil sama putri Papi, itu milik Papi tau!" kata Alfarizi tanpa malu-malu ada suster di sebelahnya.


"Ihhh Papi, malu ada Suter." Neng memukul pundak suaminya sambil mendekap putrinya.


Suster hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa, saya maklum tetapi ingat dengan bayi menyusu kepada ibunya membuat bayi merasa lebih tenang dan nyaman. Bayi juga akan lebih mudah untuk tidur dan tidak rewel, membantu bayi merasa lebih hangat."


"Dengar kata Suster Pi, jangan serakah, mulai sekarang harus bisa berbagi dengan putrinya sendiri." Neng langsung menasehati suaminya karena wajahnya di tekuk dan tidak rela jika tempat favoritnya sekarang ini sedang kuasai dan diambil alih putrinya.


"Satu lagi ini yang paling penting ASI akan meningkatkan sistem imun bayi, kekebalan tubuhnya akan lebih baik dibanding minum susu formula," Nasehat Suster lagi.


"Terima kasih Suster."


Setelah bayi kenyang suster mengambil bayinya untuk mandi dan dipakaikan baju bayi. Neng di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Keluarga masuk ruang rawat inap mengucapkan selamat atas kelahiran putrinya yang kedua.Termasuk Alfian sangat antusias menyambut adik cantiknya yang baru lahir.


"Mami ... Papi, mana Adik Cantiknya Abang Al, mengapa belum ada di sini?"


"Tunggu abang Al, Adik Cantik masih mandi dan ganti baju."


"Ayo Bang, kita ke ruang bayi saja melihat Adik Cantik di sana!" ajak Ibu Ani.


"Iya Nanek, Oma ayo ikut!"


Mereka bertiga keluar dari ruang rawat inap, tinggal Alfarizi yang sedang menyuapi makan istrinya, "Ayo makan Honey, biar tenaganya pulih kembali!"


Neng mengangguk dan teringat tingkah absurt suaminya saat bayi sebelum lahir, "Bagaimana Papi, apakah masih berniat untuk memiliki 11 anak setelah putri kita lahir?"


"Ampun Mami ... Papi kapok melihat mami kesakitan saat melahirkan. Papi tidak mau tambah lagi cukup dua saja. Papi ngeri dan tidak tahan rasanya benar-benar hampir membuat hati Papi lepas dari tempatnya."


"Janji ya jangan minta tambah lagi, jangan juga minta senjata onta arab Papi bergoyang."


"Iya Honey, Eeee tunggu apa maksudnya ...?"

__ADS_1


__ADS_2