
Alfarizi berlari meninggalkan mobilnya menuju TKP setelah mendengar cerita sopir mobil yang ada di depannya. Yang ada di pikirannya adalah gadis kecil yang tidak bersalah dan ibu yang sedang hamil tua. Kemungkinan yang tabrakan itu adalah mantan istrinya membuat hatinya semakin baper.
Sekarang ini emosi Alfarizi sering berubah-ubah sesuai suasana, terkadang lebih mudah terbawa perasaan. Mudah mengeluarkan air mata seperti perasaan seorang wanita. Sambil berlari pikiran Alfarizi semakin kalut dan tidak menentu.
Sampai di TKP terlihat mobil yang ringseng parah terlihat betapa kerasnya tabrakan dua mobil yang disengaja. Salah satu mobil yang ringsek itu sangat dikenalinya. Mobil itu pernah di hadiahkan pada mantan istrinya saat ulang tahun tetapi saat itu dia malah pergi berangkat ke Australia untuk pemotretan.
Kejadian sudah terjadi satu jam lalu yang di lihat Alfarizi hanya ada satu ambulance yang banyak di kerumuni warga. Tidak ada korban gadis kecil di sana, dua orang laki-laki yang di ceritakan sedang mabuk berat juga tidak ada di TKP. Ada dua orang yang akan mengangkat satu kantong jenazah dan pintu ambulance sudah terbuka lebar.
"Tunggu sebentar!" teriak Alfarizi meringsek masuk melewati kerumunan warga yang sedang melihatnya.
"Apakah Anda mengenalnya?" tanya seorang petugas kepada Alfarizi.
"Ya, saya mengenali salah satu miobil yang ringsek itu, boleh saya melihat wajah Jenazah itu?" Alfarizi menunjuk mobil yang hancur tetapi nomor polisi terlihat jelas.
"Tentu saja silahkan!"
Dua petugas itu membantu membuka resleting kantong jenazah yang menutupi korban, "Silahkan Anda lihat!"
"Ya Allah ya Tuhan, Sinta ini benar-benar kamu, Innalilahi wa inna ilaihi rojiun."
Alfarizi langsung terduduk lemas kakinya terasa tak bertulang. Nasib tragisnya harus meninggal dalam keadaan hamil tua. Wajahnya yang terlihat tirus pucat dan tidak terawat membuat orang tidak lagi mengenalnya seperti dulu.
Wartawan langsung mengenali korban setelah melihat Alfarizi melihat jenazahnya. Berita langsung tersebar ke seluruh penjuru negeri. Di televisi, media sosial, media cetak semua mengabarkan atas meninggalnya mantan model dan kecelakaan yang menimpanya.
Ambulance langsung membawa jenazah korban ke rumah sakit terdekat. Alfarizi hanya terpaku sambil terduduk memandang ambulance itu berlalu dengan cepat di sertai suara sirine yang memekikkan telinga. Dengan tangan bergetar Alfarizi menghubungi Surya, Junaidi dan Pak Min untuk datang segera.
Hanya dalam waktu seperempaat jam Surya, Junaidi dan Pak Min datang menghampir tuannya yang terduduk di pinggir trotoar, "Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya Surya khawatir.
"Kamu sudah dengar beritanya?" tanya AlFarizi dengan suara yang lirih.
"Ya Tuan, Sebaiknya Anda pulang saja, saya dan Junaidi yang akan ke rumah sakit, Pak Min yang akan mengantar Anda pulang, naik motor saja karena tidak bisa di tembus dengan mobil masih macet total!"
"Baiklah, ayo pak Min!"
"Mari Tuan!"
Alfarizi di bonceng oleh Pak Min dengan linangan air mata. Ada suara ponsel berbunyi berkali-kali sampai tidak didengarnya. Bayangan suara renyah Marta yang saat ini ada di pelupuk mata.
__ADS_1
Bagaimanapun juga gadis kecil itu tidak tahu tentang persoalan keluarga. dia selalu menjadi korban keegoisan ke dua orang tua kandungnya. Teringat gadis kecil itu terluka parah kembali Alfarizi meneteskan air mata.
Suara ponsel terus berdering tetapi tetap tidak di angkat oleh Alfarizi. Pak Min juga tidak begitu mendengarnya karena konsentrasi menyetir motor mencari celah agar bisa terbebas dari kemacetan. Sampai ponsel berhenti berdering masih saja dia melamun memikirkan Marta.
Ternyata yang menghubungi dari tadi adalah Neng yang sangat khawatir karena dia baru saja melihat berita di televisi tentang kecelakaan itu. Awalnya tidak mengetahui siapa korban dari kecelakaan itu karena wajahnya sengaja di samarkan. Setelah melihat ada tayangan Alfarizi yang di sorot kamera dan mengenali wajah korban langsung tersiar nama korban yang meninggal.
Neng langsung menghubungi Alfarizi sampai berkali-kali tetapi tidak di angkat. Kekhawatiran Neng semakin memuncak setelah mengingat sekarang ini Alfarizi emosinya tidak stabil karena ngidam. Akhirnya Neng menghubungi Surya dan mengetahui jika suaminya dalam perjalanan pulang diantar Pak Min menggunakan motor.
Neng langsung berlari ke pintu gerbang menunggu suaminya pulang karena Surya menceritakan semua sebelum berangkat ke rumah sakit. Neng sangat khawatir sekarang ini emosi suaminya sangatlah tidak stabil, "Pak, tolong buka pintu gerbangnya!" perintah Neng dengan cepat.
"Anda mau ke mana Nyonya?" tanya Security.
Belum sempat Neng menjawab ada suara bel motor berbunyi, "Tiiiin ... tiiiin!"
"Papiiii!" teriak Neng meihat ada motor berhenti di depan pintu gerbang.
Security langsung membuka pintu gerbang setelah melihat ada tuannya duduk di jok motor bagian belakang. Alfarizi berlari mendekati Neng sambil merentangkan tangannya. Memeluk Neng dengan erat sambil berlinang air mata.
"Apakah Papi baik-baik saja?" tanya Neng sambil mengusap air mata Alfarizi sambil tersenyum.
"Maaf, bukan maksud menertawakan Papi, sekarang ini Papi terlihat feminin tidak maco lagi seperti dulu, jangan dibahas lagi ayo masuk!"
Sampai di ruang keluarga Alfarizi masih memeluk Neng dengan erat. Yang biasanya Neng bersandar di dada suaminya kini dia menenggelamkan wajahnya di dada Neng. Dengan sengaja wajah itu di gosokkan di antara dua gunung kembar yang tertutup kemeja.
"Papi ... Papi, sedang sedih dan melo mengapa sambil curi kesempatan?"
"Sebentar Mami, biar hilang melonya, Papi ingin maco lagi," jawab Alfarizi sambil mengulangi menggosokkan wajahnya di sana.
Ibu Ani yang sedari dari tadi khawatir berlari mengambil air putih untuk menantunya jadi kaget dan membalikkan badannya, "Eeee maaf Ibu tidak lihat!" teriaknya kaget.
"Ibu ..!" teriak suami istri absurt itu.
Ibu Ani kembali berbalik badan sambil tersenyum, "Ini di minum dulu, kalau mesum di kamar sana!"
"Maaf Bu, ini Papi yang mesum."
Alfarizi langsung minum air putih yang di bawakan oleh Ibu Ani. Emosinya kini sudah mulai stabil dan duduk kembali di sofa ruang keluarga. Bercerita tentang kejadian melihat sendiri jenazah Sinta yang akan dimasukkan ke dalam ambulance.
__ADS_1
Alfarizi juga bercerita tentang rumah tangga Sinta dan Mario. Meninggalnya istri Rangga Siregar yang masih misterius. Alfarizi belum berani menceritakan tentang siapa sebenarnya istri muda dari Rangga Siregar.
"Bagaimana kabar Marta, Rangga dan Dokter Mario setelah kejadian kecelakaan itu, Nak?" tanya Ibu Ani.
"Belum tahu Bu, beritanya masih simpang-siur, kita tunggu kabar dari Surya saja."
"Aa Jun mengapa tidak mampir ke sini Papi, biasanya dia selalu mampir?"
"Jun langsung ke Bandung, mau menyelidiki anak tiri Ayah Asep yang sekarang menjadi istri Rangga Siregar," kata Alfarizi keceplosan tanpa sengaja jujur bercerita tentang mama tiri dari Putri.
"Maksud Papi apa?"
"Apa maksudmu, Nak?"
"Waduh keceplosan!" Alfarizi menutup mulutnya.
BERSAMBUNG
*****
Maaf sHobat numpang promo novel teman ya
rekomen banget lo yok mampir
DUDA VS ANAK PERAWAN
(Santi Suki)
Yusuf, Duda muda dan keren yang beranak satu. Karena kebaikan akhlaknya banyak disukai oleh kaum hawa.
Zulaikha, anak perawan yang masih berseragam OSIS. Bilqis, mahasiswi magang di tempat anaknya sekolah. Sarah, CEO muda yang merupakan atasannya di kantor.
Yusuf, harus membesarkan Asiah seorang diri. Anak gadis kecil yang aktif dengan rasa ingin tahu yang kuat. Kecerdasan dan gaya bicaranya sering membuat orang-orang dibuat mati kutu.
Bagaimana kisah Yusuf dalam membesarkan Asiah. Anak perawan mana yang akan mendapatkan hati Yusuf?
__ADS_1