Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Mendadak Lamaran


__ADS_3

Senyum Zain mengembang sambil ikut merentangkan tangan. Kini terbukti tekatnya suatu saat nanti dia akan berlari memeluknya. Bahkan dia memilih berhenti dan Dokter Atha yang berlari mendekatinya.


Dokter Atha langsung memeluknya tanpa memperdulikan orang di sekeklilingnya. Hatinya yang merindu seolah tidak tertahankan lagi. Dalam hati hanya ingin mengekspresikan cinta tanpa di tutup-tutupi lagi.


"Dokter Zain ... I love Yau," ucapnya lirih sambil memeluknya dengan erat.


Zain langsung membalas pelukan itu semakin erat, "Aku juga sangat dan sangat mencintai kamu."


Zain memeluk sambil mengecup kening Dokter Atha beberapa kali. Menciumi harum rambutnya yang terurai panjang. Mulutnya selalu mengembang hati yang berbunga-bunga.


Alfian mendekati Zain dan menggeplak kepalanya. Ada rasa kesal dan bahagia jadi satu karena sahabatnya yang menghilang tanpa bilang.


Zain tidak membalas pukulan pelan Alfian. Dia memilih menarik dan memeluk tubuhnya menjadi berpelukan tiga orang, "Terima kasih, sekarang kita resmi menjadi adik ipar beneran."


Alfian melepaskan pelukannya dan kembali menggeplak kepalanya berkali-kali, "Jangan ngeluncak dulu, uji kelayakan masih belum lulus."


Zain melepaskan pelukan Dokter Atha bergantian menggenggam tangan kanan Dokter Atha dengan erat, "Apa lagi yang harus aku buktikan, apakah pengorbananku hampir satu tahun belum membuktikan cintaku pada Kakakmu?"


"Belum kamu harus menghadapi mereka dulu satu persatu sampai mendapatkan doa restu." Alfian menunjuk rombongan yang dari tadi bersembunyi di dekat pintu keluar bandara.


Zain tergelak melihat ada ke dua orang tua kandung, ke dua orang tua Alfian, Eki Darsono dan Julio. Dia bukannya takut di marahi justru langsung berteriak, "Papi ... Papa ... Zain mau nikah sekarang!"


Mereka bersamaan menggeplak kepala Zain bergantian sambil tertawa bersama. Satu persatu mereka memeluk Zain dan mengucapkan selamat. Tangan Zain hanya memeluk mereka dengan satu tangan saja, yang satu masih menggenggam tangan Dokter Atha.


"Selamat Nak, kami merestui kalian." Mami Mitha memeluk Dokter Atha dengan erat.


"Selamat ... Bro. Sekarang karma cinta sudah menjauh dari elu!" Eki Darsono memeluk Zain dengan erat.


"Kamu ini membuat Mama khawatir aja, kalau hanya pingin menikah mengapa harus membuat drama pergi menuju langit menyongsong jodoh padahal jodohnya ada di rumah Mami Mitha." Mama Rianti memeluk putranya dengan erat.


"Maaf Mama ... Zain harus bisa mendapatkan hatinya dengan perjuangan yang sesungguhnya. Zain sangat mencitai dia, Ma."


Gantian Dokter Harry memeluk putranya dengan penuh bangga, "Papa merestuimu, Nak."


Mereka keluar dari bandara sambil tersenyum bahagia. Alfian melempar kunci mobil kepada Zain, "Kak Atha, Al pulang bareng Mami dan Papi. Al tidak mau lagi jadi sopir Kakak, sekarang Kakak sudah mempunyai sopir pribadi." teriak Alfian mengikuti langkah panjang Papi Alfarizi yang menggandeng Mami Mitha.

__ADS_1


Zain terus saja menautkan dengan sempurna tangan Dokter Atha. Selalu tersenyum dan tersenyum sambil melangkah. Tidak bisa lagi di ungkapkan rasa hati saat ini.


Berdua menggunakan mobil milik Alfian, Dokter Atha dan Zain tidak langsung pulang ke rumah Alfian atau apartemen. Zain membelokkan mobilnya di salah taman kota di daerah Tangerang. Zain ingin menciptakan momen romantis saat ini untuk merayakan cinta yang sudah bersambut.


Kemarin membeli seperangkat perhiasan dari mutiara khas Kalimantan untuk sang kekasih. Berencana untuk oleh-oleh pada awalnya. Sekarang ingin di jadikan sebagai tanda untuk melamar hari ini juga.


Di tengah taman yang Asri, Zain langsung berjongkok di depan Dokter Atha. Menyerahkan seperangkat mutiara, dari kalung, anting dan gelang. "Will you merry me?"


Di taman banyak pengunjung yang datang. Dengan spontan mereka menyemangati Dokter Atha dan berteriak, "Ayo terima!"


Dokter Atha tersenyum menerima lamaran Zain dengan menerima perhiasan mutiara. Sambil mengangguk dan tersenyum, "Yes I do."


Tepuk tangan bergemuruh dari para pengunjung taman. Momen romantis baru saja tercipta. Yang akan di kenang sepanjang masa.


Mendadak melamar yang di lakukan Zain langsung di kirim ke Kalimantan. Mengucapkan terima kasih pada sahabatnya. Karena andil dialah sekarang ini kebahagiaan di rasakan oleh Zain.


Zain langsung menuju apartemen Dokter Atha setelah keluar dari taman. Rasa tidak ingin berpisah lagi yang membuat Zain tidak pulang ke apartemennya sendiri. Padahal hanya menumpang tidur setelah sampai apartemen.


Selama Zain berada di Kalimantan hampir tidak pernah bisa tidur. Selalu rindu dan memikirkan dokter cantiknya. Selalu merindukan dia dan tak pernah pergi dari angannya.


Zain tertidur di sofa ruang tamu Dokter Atha sampai sore hari. Seolah dia telah merapel semua waktu tidurnya saat ini. Tertidur pulas seperti bayi yang baru lahir.


Sore hari Papa Harry menghubungi Dokter Atha karena dari pagi Zain belum juga pulang ke apartemen. Akan menghubungi putranya sendiri sampai sekarang ponsel belum juga aktif. Terpaksa menghubungi Dokter Atha untuk menanyakan di mana dia sekarang.


Zain di tunggu oleh ke dua orang tua di apartemen. Sayangnya sampai sore tidak juga menampakkan batang hidungnya. Membuat ke dua orang tuanya khawatir lagi.


Setelah mendapat kabar Zain masih di apartemen Dokter Atha. Papa Harry dan Mama Rianti sengaja datang ke rumah Alfian. Berniat menemui Papi Alfarizi dan Mami Mitha.


Sore ini juga mereka langsung mendadak melamar Dokter Atha untuk putranya. Tidak ingin menunda lagi walau baru sehari mereka jadian. Mengingat perjuangan dari Zain yang cukup lama orang tua Zain memutuskan akan segera menikahkan mereka segera.


Yang dulu hanya sebagai kakak angkat setelah lamaran resmi dan resmi pula menjadi besan. Lamaran tanpa di ajak calon mempelai laki-laki. Mereka hanya berdua saja dengan niat dan tekat yang tulus.


"Ini mana calon mempelai prianya?" tanya Papi Alfarizi.


"Dia masih tidur di apartemen Atha."

__ADS_1


"Apa ... mereka langsung tinggal di satu apartemen?" tanya Mami Mitha kaget.


"Bukan begitu, tadi Atha bercerita Zian tertidur di sofa saat mereka sedang berbincang. Hampir tiga hari Zain tidak bisa tidur." cerita Mama Rianti.


"Oooo ... kirain!" Papi Alfarizi hanya membulatkan bibirnya.


Membicarakan lamaran hanya antar orang tua saja. Menentukan waktu dan tanggal saat itu juga. Tanpa ada dua calon yang akan di nikahkan.


Alfian datang bergabung dengan dua pasang orang tua yang sedang asyik memperbincangkjan masalah pernikahan. Mereka sangat antusias karena bersatunya putra-putri tercinta. Mereka bahkan sering berselisih saat membicarakan tentang hal yang sepele.


Alfian hanya tersenyum dan bingung saat diminta mendukung dari salah satu usulan mereka yang masih di perdebatkan. Alfian jadi rebutan diantara dua orang tua, "Tunggu ... tunggu dulu, mengapa dua keluarga yang antusias sih, padahal dua mempelainya tidak ada, seperti membicarakan pernikahan semu saja!"


BERSAMBUNG


Ayo Shobat semua mampir di Novel temen author


ini rekomen banget lo sambil menunggu AST up lagi



Rahim Sengketa


Author Asri Faris


Seorang laki-laki muncul di hadapan Ajeng. Tidak amat tampan tetapi teramat mapan. Mengulurkan keinginan yang cukup mencengangkan, tepat di saat Ajeng berada di titik keputus-asaan.


"Mengandung anaknya? Tanpa menikah? Ini gila namanya!" Ayu Rahajeng


"Kamu hanya perlu mengandung anakku, melalui inseminasi, tidak harus berhubungan badan denganku. Tetap terjaga kesucianmu. Nanti lahirannya melalui caesar." Abimanyu Prayogo


Lantas bagaimana nasab anaknya kelak?


Haruskah Ajeng terima?


Gamang, berada dalam dilema, apa ini pertolongan Allah, atau justru ujian-Nya?

__ADS_1


__ADS_2