Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Papi Berkunjung


__ADS_3

Hari Sabtu sore ini Neng sedang duduk di ruang keluarga bersama Ibu Ani sedang menyaksikan siaran ulang wawancara Alfarizi Zulkarnain. Neng hanya diam terpaku tanpa ada akspresi di wajahnya. Saat mendengar jawaban yang terakhir dari dia, Neng mengerutkan keningnya dan bergumam sendiri. "Apa maksudnya mohon do'anya saja, PD banget memang ada yang mau dengan si Pohon Pisang seperti dia?"


Ibu Ani yang mendengar suara lirih Neng langsung menjawab, "Itu di tujukan pada Neng Mitha, apakah kamu tidak menyadarinya?"


"Tidak mungkinlah Bu, aku tidak percaya!"


"Neng Mitha tidak percaya lihat saja nanti, apakah aku boleh bertanya?"


"Tanya apa Bu?"


"Apakah dulu selama kamu nikah siri dengan papinya Al dia pernah mengucapkan kata talak?"


Neng menerutkan keningnya, berpikir kata itu tidak pernah sekalipun diucapkan olehnya saat kebersamaannya dahulu selama empat bulan. Neng yang dulu adalah Neng yang polos dan lugu tidak tahu tentang pernikahan ataupun perpisahan. Sudah di tinggal selama lebih dari delapan tahun apakah masih bisa di katakan masih berstatus suami istri.


"Tidak pernah sih Bu." jawab Neng jujur.


"Selama ini aku menilai kamu masih menganggap dia adalah suami kamu, karena kamu selalu mengatakan itu walaupun secara tidak langsung, dan kamu juga tidak pernah bisa berhubungan dengan laki-laki lain."


"Kok Ibu bisa menilai begitu, aku selama ini selalu menghindar dari dia terus sama seperti laki-laki yang mendekatiku; lagi pula Bu, kami sudah berpisah lebih dari delapan tahun, seharusnya langsung jatuh talak dong?"


"Neng Mitha parnah menggugat cerai dari dia?"


"Tidak pernah, Bu."


"Bagaimana kalau dia masih menganggap Neng Mitha istrinya, karena di antara kalian ada Alfian?"


"Entahlah Bu, aku pusing jangan di bahas lagi hal yang tidak penting!"


"Neng Mitha, coba sekali aja dengar nasehat orang tua ini, kamu masih muda bukalah hatimu sedikit saja, sudah waktunya kamu bahagia, dari pada kamu di kejar oleh Pak Rangga Siregar lebih baik balikan!"


"Ogah aah Bu, aku sudah nyaman seperti ini."


"Setidaknya kamu pikirkan untuk kebahagiaan Alfian dong Nak, apa kamu tidak lihat betapa bahagianya putramu saat bersama papinya?"


Neng termenung lagi, jika menyangkut kebahagiaan putranya selalu saja bisa berkorban apa saja. Saat teringat betapa pedihnya dulu hidup satu atap selama empat bulan nyeri dan sakit kembali terasa dalam hati. Teringat perjuangannya membesarkan Alfian seorang diri rasanya tidak memerlukah kehadiran pendamping siapapun termasuk papinya Al.

__ADS_1


"Neng Mitha ...?" Ibu Ani belum sempat melanjutkan nasehatnya datang Ibu Yuni dari ruang tamu menghampiri mereka. "Neng Geulis, ada tamu yang ingin bertemu dengan Bang Alfian."


"Alfian di kamarnya, Bu," jawab Neng tanpa melihat siapa yang datang.


"Baiklah, ayo Nak silahkan masuk!"


"Terima kasih Bu." Suara orang yang tidak asing lagi bagi Neng.


Neng dan Ibu Ani spontan menengok suara bariton yang ada di belakang Ibu Yuni. Ibu Ani langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Neng hanya menatapnya tanpa bisa berkata sepatah katapun.


Dia langsung berjalan mengikuti Ibu Yuni dari belakang berjalan mendekati Neng yang masing termenung, "Terima kasih Neng Geulis." katanya sambil berlalu dan tersenyum manis.


Ibu Yuni dan dia berjalan melewati ruang keluarga menuju tangga, tetapi Alfian datang dan turun dari tangga sambil berlari karena melihat siapa yang datang, "Papiiiiii ...!"


"Hai Nak, Papi sangat merindukan kamu."


"Al juga rindu Papi, apakah Papi tidak merindukan Mami?"


"Sangat ...." Alfarizi melirik Neng sesaat setelah menjawab pertanyaan putranya.


Sayangnya yang di rindukan hanya melengos tidak berani melihat dan pura-pura tidak mendengar. Neng hanya menyibukkan diri dengan bermain ponsel, Ibu Ani hanya tersenyum melihat Neng yang terlihat cuek tetapi seperti salah tingkah.


"Tentu saja dong; Mami ... Al dan Papi masuk kamar dulu ya?"


Neng hanya menganggukkan kepala tanpa menengok, dia pura-pura konsentrasi di ponsel yang di pegangnya. Alfarizi berjalan digandeng oleh Al berjalan naik tangga. Sedangkan Ibu Ani dan Ibu Yani menahan tawa dan menutup mulutnya agar tidak ikut berkomentar.


"Mengapa menutup mulut begitu, Bu?"


"Itu Neng Mitha, anu ...!" jawab Ibu Yuni.


"Sangat ... Neng Mitha, dia sangat merindukanmu!" gantian Ibu Ani menjawab.


"Apa sih Ibu berdua ini, sudah aaah, aku mau ke kamar!"


"Mau ke kamar siapa Neng Mitha?" celetuk Ibu Yuni.

__ADS_1


"Kamar Al ...?" Ibu Ani tidak melanjutkan ucapannya.


Neng tidak menjawab candaan kedua ibu angkatnya, berlalu meninggalkan mereka tanpa kata. Saat ini hati dan pikirannya tidak bisa diajak berjalan beriingan. Hanya mencoba menggunakan logika agar pikirannya bisa diajak kompromi tidak mengikuti hati.


Sampai di kamar tetap saja Neng merasa gelisah, di kamar sebelah ada orang yang selama ini ingin di lupakannya. Orang yang selalu menbuatnya tidak bisa mengenal laki-laki lain. Dia hanya mondar-mandir di kamarnya tidak tahu harus berbuat apa.


Akhirnya Neng masuk kamar mandi, merendam tubuhnya dengan air hangat dan aroma terapi. Ingin mereleksasi tubuh dan pikirannya bisa tenang. Padahal tadi dia sudah mandi satu jam yang lalu, bahkan dia merendam tubuhnya tanpa membuka baju lengkapnya.


Hampir senja berlalu, Neng masih termenung dan memejamkan matanya di bath-up kamar mandi. Berkali-kali menenangkan pikirannya tetapi tetap saja hatinya gelisah tidak menentu. Rasanya sudah delapan tahun lebih berlalu tetapi seperti baru saja baru saja terjadi.


Di kamar Alfian mereka berbincang, melepas rindu dan bercanda sampai lupa waktu. Walapun berkali-kali Alfarizi melirik pintu berharap Neng datang bergabung, tetapi yang di harapkan tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Rasa rindu yang di pendamnya dalam hati tak kunjung hilang walaupun tadi sudah memandangnya sekejap.


Alfarizi banyak sekali bertanya kepada putranya tentang kegiatan Neng sehari-hari, dari hobi, makanan kesukaan, yang tidak dia suka sampai kebiasaan saat berada di kamar. Dengan polos Alfian menjawab semua pertanyaan papinya dengan jujur. Alfarizi benar-benar mempersiapkan semua hal yang untuk mendekati istrinya kembali.


Setelah sudah banyak mendapatkan informasi dari putranya mengenai Neng, Alfarizi berniat untuk pulang, "Al, ini sudah senja Papi pulang dulu ya!"


"Iya Papi, apakah Papi tidak menemui Mami dulu?"


"Iya dong, Al yang panggil Mami, bilang Papi mau pamit pulang gitu ya!"


"Ayo kita ke kamar Mami, Pi!"


Alfarizi tersenyum simpul saat Alfian mengajaknya ke kamar Neng. Setidaknya bisa masuk ke kamarnya, bisa mencium aroma parfumnya itu sudah sangat membahagiakan. Alfarizi hanya berjalan di belakang putranya sampai dia membukakan pintu.


"Mami ... Mami di mana?"


Alfarizi menghirup bau parfum vanilla kesukaan Neng yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Rasanya seperti mendapatkan durian runtuh hati Alfarizi saat ini. Sayangnya yang wanita yang dicarinya tidak ada di dalam kamar.


"Di mana Mami, Al?"


"Tidak tahu, mungkin di kamar mandi, sebentar Pi, Al panggil dulu!"


"Tok ... tok ...tok!"


"Ya ....!" teriak Neng dari dalam.

__ADS_1


"Mami, Papi mau pamit pulang!"



__ADS_2