Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Kurma Jumbo Puasa


__ADS_3

Alfian semakin khawatir setelah mendengar keterangan dari kepala rombongan jika Rania tidak ada diantara mereka. Karena bingung Alfian berteriak sekuat tenaga memanggil istrinya, "Rani ....!"


Ada suara jawaban tetapi tidak terlihat orangnya, "Ya ... Abang Tuan ada apa?"


Mata Alfian langsung menyapu ke seluruh ruangan kamar hotel. Tidak ada sosok yang di cari tetapi suaranya menggema di seluruh kamar. Bak suara yang datang dari dunia lain yang menyerupai suara istrinya.


Saat Rania datang bulan sering merasakan sakit perut. Dia sering mengompres menggunakan air es yang di masukkan ke dalam botol. Dia malas berjalan untuk mengambil air dingin di kulkas, padahal jaraknya tidak juh dari tempat tidur.


Rania memilih merebahkan tubuhnya di keramik marmer yang dingin karena AC. Baju di buka sampai terlihat perutnya saja. Terasa dingin setelah beberapa saat sampai dia tertidur karena perutnya terasaa nyaman.


Kembali Alfian bertanya dengan suara kkeras, "Sayang jangan buat Abang khawatir. Rani di mana?"


"Hhhhmm ... Abang Tuan berisik banget sih."


Setelah mendengar sekali laki suara Rania, Alfian mulai memperkirakan posisinya sekarang. Langsung berlalari memutari tempat tidur yang berada di dekat dinding di samping lemari. Rania sedang tidur tengkurap di keramik dengan meletakkan perutnya di lantai itu.


"Ya Allah ya Tuhanku ... mengapa Rani tidur di sini?" Alfian langsung menggendong bridal dan di baringkan di tempat tidur.


Rania berteriak dengan kencang, "Aaaaa ... Abang perut Rani dingin saat terkena keramik!"


"Tidak boleh, Sayang. Nanti masuk angin, ini ayo minum jamu yang sudah Abang beli!"


"Bantuin Rani bangun!" Rania berkata dengan manja.


"Iya ayo ... Sayang, istri Abang manja banget."


Alfian membantu Rania bangun dengan memeluk dan membantunya duduk. Membukakan satu botol kecil jamu pereda nyeri yang baru saja di beli, "Ini minumlah!"


Rania tidak langsung meminumnya, dibaca terlebih dahulu nama dan komposisi yang ada di bungkus botol. Alfian tersenyum dan duduk di samping Rania memeluk pinggang, "Jangan khawatir itu produk dari Malaysia dan ada lebel halal di botol."


"Ooo ya Rani minum ya, Bang." Rania langsung meminum satu botol tanpa sisa.


"Mau lagi?"


"Abang Tuan beli berapa botol?"


"Sepuluh, Abang buka lagi kalau mau?"

__ADS_1


"Nanti saja, Rani mau mandi dan pakai pembalut dulu."


"Baiklah, ini pembalutnya." Alfian mengambilkan satu bungkus pembalut dan di berikan pada istrinya.


"Terima kasih."


Rania berjalan dan membawa pembalut ke kamar mandi. Alfian ikut berjalan mengikuti Rania dari belakang sambil membuka kemejanya. Rania menghentikan langkahnya sampai Alfian menabrak tubuh Rania, "Aduuuh ... Abang mau kemana?"


"Abang mau mandi bareng Rani-lah, mau ke mana lagi."


"Apa?" Rania berbalik badan menghadap Alfian.


"Mengapa kaget, bukankah kita setiap hari mandi bareng, Sayang?"


Rania mendorong tubuh Alfian perlahan, menahanya agar tidak mengikuti ke kamar mandi. Takut nanti treveling sendiri saat melihat kurma jumbo. Karena jika sedang haid di larang mengambil tenaganya.


"Memang sih, kita setiap hari mandi bareng dan Abang selalu menyedot tenaga Rani, tetapi Rani sedang haid. Abang dilarang menyedot tenaga Rani untuk sementara."


Alfian mengerucutkan bibirnya karena larangan istrinya. Modusnya dalam beberapa hari ini terpaksa harus berhenti untuk sementara. Terpaksa harus menuruti Rania tidak bisa mandi bareng dan tidak bisa mengajak kurma jumbo bersenang-senang.


"Maaf Abang Tuan, yang sabar ya!" Rania mentowel hidung Alfian sambil tersenyum devil.


Di Bekasi pada hari Senin pagi, Papi Alfarizi membawa mobilnya sendiri saat berangkat ke kantor. Biasanya di antar oleh Doni, tetapi sekarang dia sedang mengatar Raffa berangkat ke sekolah.


Mami Mitha dan Asisten Desi Hari ini menghadiri seminar di Jakarta. Mereka berdua membawa satu mobil untuk lebih amannya diantar oleh sopir. Papi Alfarizi berangkat sekalian mengantar Elfa.


Papi Alfarizi masuk lingkungan mall, hampir bersamaan dengan Surya. Berjalan beriringan melewati pintu khusus dan di bukakan oleh security yang berjaga di depan pintu. Mall belum di buka, hanya karyawan yang masuk satu persatu.


Tanpa di duga ada wanita yang tidak asing bagi Papi Alfarizi dan Surya berlari mendekati mereka sesaat sebelum mereka masuk pintu mall, "Om ... tunggu!" teriaknya.


"Ngapain dia jam segini datang ke mall, Tuan?"


Papi Alfarizi hanya mengangkat bahu sambil tetap berjalan tanpa menunggu dia. Kembali terdengar suara langkah kaki cepat dan teriakan, "Om ... tunggu sebentar!"


Yang menghentikan langkahnya bukan Papi Alfarizi, tetapi Surya, "Ada keperluan apa Nona ke sini?"


"Aku ingin bertanya kepada Om Al tentang Alfian."

__ADS_1


"Apakah Anda sudah membuat janji?"


Kembali wanita itu berlari mengikuti langkah panjang Papi Alfarizi. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Surya, "Om ... apakah Om tahu kemarin Alfian memindahkan mobilku di pemakaman?"


Papi Alfarizi ingin tertawa tetapi di tahannya. Dia teringat saat Putri Siregar berlari terbirit-birit sampai ngompol. Berusaha untuk pura-pura tidak pernah mengetahui kejadian itu, "Kemarin kapan?"


"Minggu lalu, Om."


"Alfian tidak di rumah hari Minggu lalu, bahkan dia sampai sekarang belum pulang."


Putri Siregar terdiam sesaat sambil mengingat ketika mengejar Alfian dan Zain di parkiran. Saat itu mereka menggunakan mobil masing-masing tetapi keluar sambil beriringan. Mencoba mengejar tetapi setelah sampai lampu merah kehilangan jejak.


"Kemarin setelah bertemu di toko perhiasan Alfian dan Zain menuju ke rumah Om."


"Tapi dia tidak ke sini." Papi Alfarizi tetap berjalan dengan langkah panjang saat menjawab pertanyaan Putri Siregar.


"Terus siapa dong yang kemarin memindahkan saya ke pemakaman?"


"Mengapa Nona bertanya kepada Tuan Alfarizi, apakah sebelum Anda menyadari berada di pemakaan, Anda bertemu Tuan Alfarizi?"


"Saya tidak bertemu dengan Om Al, kalau tidak salah bertemu dengan Zain dan Julio."


"Berarti silahkan Anda bertanya dengan mereka!" perintah Surya.


Putri Siregar mengangguk sambil berpikir. Yang di ingatnya saat itu setelah meminum minuman keras dia melajukan mobilnya di depan rumah Alfian. Hanya saja antara sadar dan tidak sadar dia teringat berbincang dengan Julio dan Zain.


"Betul juga, satu lagi tanya dong Om. Sekarang di mana Alfian?"


"Dia ke luar negeri," jawab Papi Alfarizi singkat.


"Apakah dia bekerja atau hanya jalan-jalan saja, Om?"


"Dua-duanya ...."


Putri Siregar tersenyum sambil bertepuk tangan walaupun tidak ada suara. Seperti kebetulan yang menyenangkan. Kemarin ada penawaran pekerjaan mendampingi seorang pengacara yang akan membela warga negara Indonesia yang tersandung kasus di Belanda.


"Kebetulan saya juga mau ke Belanda, di mana Alfian jalan-jalan Om, siapa tahu bisa bertemu di sana?"

__ADS_1


"Waduuh!"


__ADS_2