
Dokter Harry langsung melunjur ke rumah Neng setelah mendengar adik angkatnya badannya panas. Kebetulan dia mendapat tugas malam di rumah sakit. Di temani oleh Rianti istrinya datang sambil membawakan sup ayam panas untuk Neng.
"Bagaimana apakah panasnya sudah turun?" tanya Dokter Harry setelah mereka masuk ke kamar Neng.
"Sudah turun sih, tetapi tidak banyak," jawab Alfarizi sambil mengganti kompres.
"Obat apa yang sudah di minum?"
"Obat penurun panas aja tadi jam sepuluh pagi, Bang," jawab Neng dengan lemah.
Dokter harry bukan dokter umum, tetapi tetap saja bisa jika hanya pemeriksaan awal. Dia lebih cenderung memeriksa Neng dari segi traumanya. Lebih memperhatikan masalah dan kejadian akhir-akhir ini yang di alami Neng dan keluarga.
Neng terlalu banyak pikiran dan kelelahan sehingga membuat sistim imunnya menurun. Masalah mantan ibu tiri dan Ayah Asep memang banyak menyita perhatian dan pikiran. Membuat dia drop, panas tinggi dan kecapean.
"Belikan penurun panas dan antibiotik ke apotik. Jika sampai besok juga tidak turun harus periksa darah. Hubungi Abang saja besok, nanti Abang kirim ambulance!"
"Ok sini resepnya, Abang Doni yang akan membelinya." Alfarizi mengambil resep yang di buat oleh Dokter Harry dan keluar kamar untuk memanggil Doni.
Setelah Alfariszi kembali masuk kamar, dia membawa dua menu makan, sup ayam dari Rianti dan bubur yang di buat oleh Ibu Ani, "Honey makan dulu sebelum minum obat, mau makan apa, ini dari Kak Rianti sup ayam atau bubur buatan Ibu?"
"Nanti saja makannya, Pi."
"Harus di paksa sedikit, MItha. Jangan malas!" nasehat Rianti.
"Pahit mulutku, Kak."
Alfarizi menyuapi beberapa sendok bubur dan setengah mangkuk sup ayam dengan telaten. Bersamaan datang obat yang dibeli di apotik Neng selesai makan. Dia langsung minum obat dan beristirahat.
__ADS_1
Rianti membantu Ibu Ani membuatkan sup ayam untuk Neng di dapur. Alfarizi duduk berdua dengan Dokter Harry saat Neng tertidur setelah minum obat, "Bro, apakah kemungkinan Mitha mengalami gejala depresi lagi, tadi pagi saat aku berangkat dia baik-baik saja?" tanya Alfarizi.
"Tidak, dia hanya banyak pikiran dan kecapean saja. Setelah dia menikah dengan kamu berangsur-angsur depresinya sembuh."
"Bagaimana perkembangan mantan ibu tiri Mitha?"
"Sampai sekarang mantan istri ayah masih bersikukuh ingin bertemu ayah. Sampai sekarang juga belum ada jadwal sidang, mungkin minggu depan."
"Penjarakan saja mereka, aku lihat aja kesel dan rasanya ingin nonjok mukanya!"
"Apa lagi aku, rasanya ingin meremas mukanya yang terlihat licik. Aku jadi teringat wajah Sinta saat awal dia membawa pulang Marta yang baru di adopsi."
"Apakah waktu itu kamu tidak menyadari kelicikan dia?"
"Entahlah, saat itu aku selalu saja terfokus pada vonis aku tidak bisa memiliki keturunan. Sehingga tidak memikirkan yang lainnya.
"Sudahlah itu masa lalu, sekarang fokus saja bahagiakan adikku. Dia berhak mendapatkan itu karena sekarang ini dia memberikan keturunan untukmu."
"Kamu sangat beruntung bisa menikah dingan Mitha. Adikku itu banyak sekali kelebihannya."
"Ya sangat, aku sangat bahagia sekarang ini."
Menjelang malam sebelum pulang, Dokter Harry dan Rianti memeriksa kesehatan Neng. Suhu tubuhnya sudah mulai turun dan normal kembali. Hanya saja harus banyak istirahat dan tidak berpikir yang macam-macam.
Seharian ini Elfa juga ikut rewel karena tidak puas minum ASI karena Neng yang sedang sakit. Elfa yang susah makan akhirnya harus minum susu tambahan, padahal dari lahir Elfa tidak pernah mau minum susu formula. Hari ini Elfa dengan lahap minum susu formula yang di sarankan oleh Dokter Tanti.
Malam hari Alfian, Elfa dan Ibu Ani menemani Neng makan sup ayam buatan Rianti saat Alfarizi sedang meeting online di ruang kerjanya. Alfarizi sedang membicarakan tentang kasus Cek Kokom bersama pengacara dan Surya. Hari Senin nanti sidang pertama akan di laksanakan secara terpisah.
__ADS_1
Tuntutan untuk mereka tidak terlalu berat tetapi cukup membuat mereka jera. Sampai saat ini Cek Kokom belum bisa menghubungi Ayah Asep. Dia memilih di penjara dari pada tidak di pertemukan dengan Ayah Asep.
Encang Ginanjar dan Alfarizi bersikukuh tidak mengabulkan permintaan Cek Kokom. Dengan alasan tidak mengetahui di mana Ayah Asep tinggal. Sehingga ke dua belah pihak tidak ada kesepakatan untuk berdamai.
Roy dan anak buah Surya masih terus mengawasi keseharian Ayah Asep. Beliau masih melakukan aktifitas seperti biasa. Menjalani hidup seperti tanpa beban, ikhlas dan mengikuti jalan hidup yang di pilihnya.
Selesai melakukan meeting, Alfarizi kembali bergabung dengan keluarga di kamar. Merasa lega setelah suhu tubuh istrinya normal kembali. Beristirahat dan merawat Neng sampai badan fit dan sehat seperti sedia kala.
Hari Senin sidang di gelar, dengan menghadirkan saksi para tetangga rumah Neng yang membela Neng dan Alfarizi. Mereka tidak bisa membela diri karena memang membuat keributan saat itu. Bahkan saat sidang mereka masih tidak merasa bersalah dan yakin akan di hukum ringan saja.
Empat tersangka di sidang di tempat yang berbeda. Dalam waktu tiga minggu dan tiga kali sidang mereka di vonis bersalah. Hanya saja hukumannya berbeda-beda sesuai peran masing-masing.
Cek Kokom di hukum satu tahun penjara karena terbukti dia adalah dalang dan yang merencanakan semua. Dia mengakui memang berencana akan merebut rumah milik Neng. Karena dia mendengar isu jika rumah itu akan di berikan kepada Ayah Asep.
Esih di hukum lima bulan penjara karena terbukti membantu ibunya merencanakan perebutan rumah dan terbukti minum alkohol. Dua pengawal di hukum dua tahun penjara karena terbukti positif menggunakan barang terlarang. dua pengawal itu di hukum berat karena terbukti mengancam Encang Ginanjar dan tetangga sebelah rumah Neng.
Setelah satu bulan berlalu mereka di penjara, Alfarizi menghentikan pengawasan terhadap Ayah Asep. Sudah terbukti jika Cek Kokom tidak bisa menghubungi dan menemukan mantan suaminya. Alfarizi dan Neng hanya mengunjungi Ayah Asep secara diam-diam jika ada kesempatan.
Neng sudah mulai ikhlas dan menerima jika ayahnya tidak ingin menemuinya. Ini karena dukungan dari Alfarizi dan kesibukannya di bisnis dan putra-putrinya. Apalagi Alfarizi yang selalu modus dan merayunya setiap ada kesempatan. Seperti siang ini setelah mengajak Neng mengikuti Ayah Asep selama satu jam dia langsung membelokkan mobilnya di sebuah hotel bintang lima.
"Papi, mengapa belok ke hotel, kita pulang saja mumpung masih siang?"
Alfarizi tersenyum devil dan mengusap pipi Neng, "Papi capek mau istirahat sebentar, nanti sore saja ya pulangnya."
Neng mengerutkan keningnya, dia bisa membaca senyum devil suaminya dan bertanya, "Mengapa istirahat harus di hotel?, sepertinya ada udang di balik bakwan deh."
"Iiih Mami, mengapa bisa baca pikiran Papi sih?"
__ADS_1
"Jadi tebakan Mami benar?"
"Iya ... senjata onta arab Papi sudah bangun, dari pada tidak konsentrasi menyetir kita goyang dulu yok!"