
Neng hanya mengerutkan keningnya saat di tanya Alfarizi tentang seandainya Marta tinggal bersamanya. Bukan masalah setuju atau tidak setuju, Neng harus mempertimbangkan lebih serius. Gadis yang masih belia itu sudah banyak mengalami cobaan yang sangat berat.
Neng tidak mempermasalahkan tentang biaya hidup atau kebutuhan sehari-hari. Neng mempertimbangkan tentang spikologi dan perkembangan anak yang tumbuh di lingkungan tidak harmonis. Pasti akan lebih sulit untuk merawatnya dari pada anak yang tinggal dengan keluarga yang lengkap.
Neng sudah mengalami sendiri saat merawat Alfian sebelum bertemu dengan papinya. Alfian tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri ketika bersama teman sekolahnya. Dia sering iri karena melihat teman sekolahnya saat ada kegiatan sekolah dengan orang tua yang lengkap.
Alfarizi langsung memeluk pinggang Neng saat dia melamun dan tidak menjawab pertanyaanya, "Tidak perlu di jawab, Honey. Marta sudah menjadi penduduk asli Australia. Dengan resmi dia sudah di adopsi oleh Oma buyutnya." Alfarizi bercerita sambil mengelus pinggang Neng.
Neng hanya mengangguk dan tetap diam seribu bahasa. Masih membayangkan betapa beratnya kehiduppan gadis belia itu. Kehilangan ke dua orang tuanya. Serta tidak bisa merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya yang saat ini ada di rumah sakit jiwa.
"Mami kok melamun lagi, apa yang di pikirkan?"
"Mami hanya memeikirkan gadis itu, dia mungkin lebih berat cobaannya dari Abang Al saat dia kecil, Abang Al hanya merindukan Papi saja, sedangkan Marta tidak mendapatkan kasih sayang dari ke dua orang tuanya."
"Oooo dari tadi Mami melamun memikirkana itu, Papi kira Mami memikirkan tidak mau merawat Marta."
"Papi ini pikirannya negatif aja sih, tidak bagus lo negatif thingking sama istri sendiri." Neng mengerucutkan bibirnya di curigai berpikir ingin menolak merawat Marta.
"Iya maaf, istri Papi memang yang terbaik, Papi selalu belajar hal baik dari Mami."
Seluruh keluarga sedang santai di ruang keluarga sambil bermain dengan Elfa dan Alfian. Ada suara notifikasi ponsel milik Alfarizi, "Mami telpon dari Encang Ginanjar." Alfarizi memberikan ponselnya kepada Neng.
"Papi aja yang angkat, di loud spiker aja, biar Mami juga mendengar suara Encang Ginanjar!"
Afarizi menggeser tombol hijau dan menekan tombol pengeras suara, "Halo Cang, apa kabar?"
"Apakah Al bisa datang ke sini, gawat ini ada perempuan ular dan gatel harta membuat ulah di sini!"
__ADS_1
"Siapa Cang?"
"Mantan istri Ayahmu, dia berusaha masuk rumah Neng, dia mengaku kalau rumah itu miliknya."
"Baik Cang, kami ke sana. Apakah Encang bisa menghubungi Ayah?" tanya Neng dengan khawatir.
"Sudah tetapi tidak di angkat. Nanti Encang hubungi lagi dia."
Sore itu juga Alfarizi dan seluruh keluarga menuju ke villa miliknya. Kebetulan besok hari Sabtu sehingga akan berniat berlibur di sana sampai Minggu sore. Menempuh perjalanan hampir tiga jam sampai tujuan, mereka langsung beristirahat.
"Mami tidak usah terlibat langsung dengan mereka, biar Papi, Junaidi, Surya dan Encang Ginanjar yang akan mengatasinya, ok!"
"Tapi Papi, Mami pingin bertemu dengan mantan ibu tiri."
"Honey perempuan seperti mereka akan sangat melunjak kalau tidak di berikan kejutan sedikit. Mami di rumah saja, nanti Papi rekam agar Mami bisa mengetahuinya."
"Naah gitu, lebih baik Mami merawat diri saja, panggil salon ke sini persiapkan diri untuk nanti malam."
"Eee .. mau ngapain nanti malam?"
"Tidak usah pura-pura, Hari ini Mami sudah selesai datang bulan, kan?. Sudah satu minggu lo Papi tidak bergoyang kangen banget."
"Dasar mesum."
"Ya sudah, Papi berangkat dulu, jangan lupa nanti malam, I love you."
Alfarizi mengecup bibir Neng sekilas, keluar kamar, sudah di tunggu di dekat gerbang pintu masuk bersama lima anggota kepolisian. Alfarizi berniat memberikan pelajaran dengan membawa polisi. Untuk mmberikan efek jera kepada mantan ibu mertua. Agar dia tidak lagi mengusik keluarganya terutama tentang Ayah Asep.
__ADS_1
Tadi siang Encang sudah datang untuk mengusir mereka. Ada dua laki-laki bertato yang mendampingi Cek Kokom dan Esih. Sehingga Encang kalah jumlah dan tidak berhasil mengusirnya.
Saat Encang meninggalkan mereka, Cek Kokom merasa yakin akan bisa masuk rumah Neng. Rumah yang sekarang ini di bangun menjadi lebih bagus dan lebih modern. Karena Cek kokom membawa pengawal dua laki-laki bertato untuk berjaga-jaga.
Masyarakat yang tinggal di sekitar rumah Neng menjadi kesal dan menggelengkan kepalanya. Masyarakat juga tidak bisa berbuat banyak karena Cek kokom mengatakan ini adalah urusan keluarga. Tidak seorangpun yang boleh ikut campur jika tidak ingin terkena masalah dengan pengawalnya.
Cek Kokom ingin masuk rumah Neng dengan alasan dia juga berhak tinggal di rumah itu karena milik anak tirinya. Mereka mau pergi dari rumah itu asal Ayah Asep mau menemui mereka. Encang Ginanjar menjawab sekarang ini tidak tahu keberadaan Ayah Asep.
Sampai hampir pukul sepuluh malam mereka masih bertahan dan duduk di teras rumah. Masih menunggu Ayah Asep atau Neng datang. Mereka yakin pasti Encang Ginanjar akan menghubungi salah satunya.
Mereka duduk berkumpul di teras sambil membeli makanan ringan dan membeli minuman beralkohol untuk dua pengawal dan kopi untuk Cek Kokom dan Esih. Bercanda dan bergembira sampai mengganggu istirahat masyaratk sekitar. Mereka tidak ada yang perduli padahal waktu sudah semakin malam.
Alfarizi berangkat dengan satu mobil di kawal dengan lima polisi yang memakai tiga motor. Sengaja membunyikan sirine polisi dengan suara yang memekikkan telinga. Agar mereka ciut nyali saat tiba di sana.
Dalam perjalanan Alfarizi memerintahkan Surya untuk membuat surat perjanjian. Untuk berjaga-jaga setelah memberikan mereka pelajaran agar tidak bisa memeras Ayah Asep lagi. Encang Asep yang kesal menginginkan mereka agar masuk penjara untuk beberapa saat.
Rombongan Alfarizi sampai di depan rumah Neng dengan tetap membunyilkkan suara sirine yang sangat kencang. Spontan Cek Kokom dan rombongan berdiri melihat mobil dan tiga motor yang datang. Yang pertama mendatangi mereka adalah polisi yang berseragam, "Permisi Bapak Ibu, selamat malam!" kata salah satu Petugas Polisi.
Mereka saling dorong tidak ada yang berani menjawab sapaan polisi. Dengan ragu-ragu Cek Kokom maju dan menjawab, "Selamat malam, ada apa ya Pak Polisi datang ke rumah kami?"
"Maaf Ibu, kami mendapat laporan ada orang yang membuat keributran dan ingin merebut rumah yang bukan miliknya, apakah itu betul?"
"Tidak Pak Polisi, di sini tidak ada yang merebut rumah. kebetulan rumah ini rumah putri saya. jadi kami berencana menginap di sini, apakah kami salah?" tanya Cek Kokom dengan gugup.
"Ini rumah putri Anda, apakah bisa di buktikan. Tunggu dulu mengapa ini ada botol minuman keras. apakah kalian sedang pesta miras?"
"Ma ... maaf Pak Polisi, ini miras milik yang punya rumah ini, kami hanya di suguhi saja." Cek Kokom mulai gugup dan menjawab asal.
__ADS_1
Alfarizi dan Encang Ginanjar keluar dari mobil. "Maksud Ibu apa, mengatakan miras itu milik yang punya rumah ini?"