Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Kamu Mau Melamar Istriku?


__ADS_3

Juio bingung mencari kotak kecil perhiasan yang awalnya di kantong saku celananya. Dari ruang tamu ke ruang keluarga tetapi tidak di temukan. Julio berlari keluar rumah mendekati motor gedenya yang terparkir di halaman rumah samping mobil angkot yang biasa di pakai Rania mencari nafkah.


Di sekitar motor dan halaman rumah juga tidak di temukan kotak kecil yang berisi perhiasan. Abah datang dari kamar Rania sambil memgerutkan keningnya melihat Julio kelimpungan dari depan halaman rumah sampai ruang tamu dan ruang keluarga, "Kamu cari apa dari tadi mondar-mandir?" tanya Abah heran.


"Kotak perhiasan kecil, Abah. Rencananya untuk mas kawin."


Abah merogoh kantong bajunya menunjukkan kotak kecil, "Kamu cari ini!"


Wajah pucat Julio kembali cerah karena Abah menemukan kotak perhiasan, "Iya Abah betul, di mana menemukan kotak ini?"


"Tadi Abah menemukan di samping motor, Oooo ini untuk mas kawin?"


"Iya Bah, terima masih sudah menemukan ini."


"Sama-sama."


Kecemasan Alfian hilang saat melihat Julio mengambil kotak kecil dari Abah. Rasa lega di hati, takut di undurkan acara akad nikah jika tidak di temukan mas kawin itu. Takut rencananya akan berantakan hanya gara-gara kehilangan kotak yang besarnya hanya segenggaman tangan.


Julio langsung menyerahkan kotak kecil yang berisi perhiasan emas kepada Alfian, "Ini Bang, maaf atas keteledoran gue."


"Ya, lain kali berhati-hatilah!, bisa berantakan semua rencana Abang gara-gara ini." Alfian berbisik di telinga Julio.


"Abang periksa dulu, apakah modelnya sesui dengan yang Abang inginkan?"


"Tidak ada waktu lagi, ayo kita gabung dengan Kakek."


Kini semua duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk acara akad nikah. Tinggal menunggu pengantin wanita datang bergabung. Alfian menunggu dengan gelisah kedatangan pengantin wanita sudah seperempat jam berlalu tak kunjung terlihat batang hidungnya.


Baru saja Alfian duduk, ada suara angkot memasuki halaman rumah. Alfian dan Julio saling pandang, bisa menebak siapa datang, "Bang, apakah itu dua sopir yang naksir Nona Rania?"


"Tidak mungkin, bukankah mereka berangkat hampir bersamaan dengan kita?"

__ADS_1


"Jadi siapa yang datang dong, Bang?"


"Tidak tahu, coba elo lihat sana!"


Julio berdiri ingin melihat tamu yang datang, bersamaan Abah juga berdiri mengikuti Julio keluar rumah. Ada satu angkot yang di parkirkan samping angkot Rania. Dua pemuda turun dari angkot memakai baju setelan jas, membawa seikat bunga. Penampilan tampak berbeda dari saat mereka duduk di kedai bakso tadi.


Abah berjalan dengan langkah panjang mendekati mereka sebelum mereka sampai teras rumah, "Mau ngapain lo Tong kemari?"


"Abah ... apakah kami boleh masuk dulu?" kata Sopir yang menyukai Rania.


"Katakan dulu apa tujuan kalian?"


"Saya mewakili Karjo ingin melamar Neng Rania, Abah?"


Belum sempat Abah menjawab sopir yang bernama Karjo mendekati Abah, "Iya Abah, aku ingin melamar Neng Rania. Lihatlah aku sudah berdandan di salon, membawa bunga, membeli kalung dua puluh gram dan sebentar lagi akan datang seserahan yang baru saja aku beli."


Teman si Karjo langsung menyambung ucapan temannya, "Betul Bah, sebentar lagi ada truk datang membawa peralatan rumah tangga seperti, tempat tidur, televisi, kulkas, sofa, lemari dan masih banyak lagi."


"Kalian ini ...?" Abah mulai terlihat emosi.


Alfian yang dari awal memperhatikan dari pintu langsung berlari mendekati Abah yang mulai emosi. Hatinya sebenarnya juga ikut emosi karena melihat kenekatan mereka. Berlari sambil bergumam lirih, "Ini harus segera di selesaikan sebelum Rania keluar, kalau tidak akan terjadi keributan besar."


Sampai di samping Julio, Alfian bertanya pura-pura tidak tahu tentang dua orang sopir yang datang dengan penampilan berbeda, "Kakek ... Julio ada apa ini?"


Dengan sengaja Julio menjawab dengan suara keras, "Ini ada yang mau melamar istri Anda, Tuan!" teriaknya sambil menunjuk laki-laki yang bernama Karjo.


Awalnya Alfian megerutkan keningnya saat Julio memanggil dengan sebutan tuan, padahal dari kecil dia selalu memanggil dengan sebutan abang. Dengan cepat dia menyadari siapa yang di hadapi dan teringat ayah dari Julio memanggil papi dengan sebut tuan juga.


Alfian berjalan maju mendekati Karjo dan temannya yang wajahnya terlihat pucat, "Apa maksudnya ini, kamu mau melamar istriku?"


"Aku ti ... tidak tahu kalau ...?" Karjo belum sempat melanjutkan ucapannya, datang truk yang membawa barang elektronik dan peralatan rumah tangga.

__ADS_1


Truk langsung parkir di belakang angkot dengan posisi menghadap ke depan siap untuk menurunkan barang yang sudah di belinya. Alfian dan Julio tersenyum melihat dua orang sopir yang terlihat panik dan bingung dengan datangnya truk. Abah juaga semakin naik pitam setelah truk itu berhenti sempurna dan bersiap menurunkan barang.


"Mengapa kamu gegabah seperti ini Karjo, sekarang ini bagaimana dengan barang-barang yang sudah kamu beli. Seharusnya sebelum bertindak perpikir dulu?" Abah naik pitam melihat teman sesama sopir yang ada di hadapannya.


"A ... aku tidak tahu." Dengan terbata-bata Karjo menjawab.


"Berapa kerugian kamu hah ... aku yang ganti rugi, tetapi setelah ini kalian pergi dari sini!" Alfian mengeluarkan ponsel untuk mentransfer online.


"Tidak perlu, Bang. Ini kesalahan mereka jangan di ganti uangnya!" teriak Abah masih dalam keadaan emosi.


"Biar saja Kakek, Abang tidak mau Rania di salahkan sama mereka."


Wajah dua sopir itu semakin pucat saat melihat Alfian yang tampak emosi dan marah. Sopir truk masih menunggu di samping pintu belakang menunggu perintah di turunkannya barang. Kernet truk sudah berada di atas truk bersiap menurunkan barang.


"Permisi ... mau di turunkan di mana, Bos?" tanya Sopir Truk.


Dua sopir angkot hanya diam saja tanpa berani menjawab. Abah melambaikan tangannya tanda di larang di turunkannya barang. Alfian semakin naik pitam dan bertolak pinggang menatap tajam Karjo yang tidak berani menjawab.


"Kamu tahu bahasa manusia tidak ha?" Alfian mendekati Karjo masih sambil bertolak pinggang.


"Tuan, sabar dulu. Jangan sampai rencana berantakan hanya gara-gara dia, ingat tujuan awal saat ke sini," nasehat Julio sambil menahan Alfian agar tidak maju mendekati Karjo.


"Apa mau kamu sekarang minggat dari sini atau aku laporkan polisi?" Alfian semakin naik pitam ingin menonjok muka Karjo tetapi di tahan oleh Julio agar tidak mendekati Karjo.


Abah juga menahan tubuh Alfian agar tidak terjadi perkelahian di antara mereka, "Cukup Abang, sekarang masuklah, masalah ini Kakek yang akan mengatasinya, Jul ajak Abang masuk rumah sekarang!"


Alfian berjalan mundur karena di tarik paksa oleh Julio. Sopir teman Karjo membisikkan sesuatu kepada Karjo. Kemungkinan mereka mempunyai rencana yang tersembunyi di tandai Karjo mengangguk dan berteriak, "Baiklah aku akan pergi dari sini tetapi aku minta ganti rugi 100 juta cesh!"


BERSAMBUNG


Ayo mampir Shobat di novel teman yang rekomen banget lo, sambil menunggu up AST besok

__ADS_1



__ADS_2