
Setelah Roy pamit dan kembali ke kontrakan samping Ayah Asep. Alfarizi memerintahkan Junaidi untuk kembali ke villa. Vedio rekaman yang di kirim Roy belum di buka, dia masih membaca kegiatan sehari-hari dari mantan ibu mertua dan adik tirinya.
Cek Kokom dan Esih sekarang ini kehidupannya semakin memprihatinkan. Esih bercerai dengan Rangga Siregar dan pulang kembali ke Bandung. Mendapatkan uang dari Neng untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sampai habis tanpa bekerja.
Sekarang ini ibu dan putrinya sedang bekerja sebagai pengasuh balita tetangganya dan buruh cuci gosok. Hanya rumah pemberian Ayah Asep harta satu-satunya saat ini tetapi tidak memegang sertifikat rumah. Bahkan perabotan mewah milik mereka sudah di jual satu persatu untuk menyambung hidup.
Kebiasaan mereka hidup mewah dan berfoya-foya masih susah di hilangkan sampai saat ini. Cek Kokom sering keluar masuk salon ternama demi menunjang penampilannya. Setali tiga uang, Esih juga selalu berpenampilan layaknya anak orang kaya.
Alfarizi berhenti membaca laporan di ponselnya setelah sampai villa yang di sewa. Sudah di tunggu Neng, Encang Ginanjar dan Dokter Harry di ruang tamu. Mereka menunggu dengan wajah yang khawatir. Terutama Encang Ginanjar yang tidak di pamiti saat adik iparnya itu pulang.
"Bagaimana Papi?"
"Sebentar Honey, Papi ambil dulu di laptop. Kita melihat vedio dari Roy bersama, ok!"
"Iya Pi."
Alfarizi membuka laptopnya setelah diambil di kamar. Di persiapkan di atas meja dan di sambungkan ke ponsel. Dia langsung membuka vedio rekaman percakapan Ayah Asep dan Cek Kokom.
Percakapan itu diawali saat Ayah Asep datang sambil berjalan dengan langkah panjang, "Mau ngapain lagi kemari?"
"Aku tahu Akang bertemu dengan Neng. Mengapa Akang mengingkari perjanjian cerai kita?"
"Akang tidak menemui dia, dia sendiri yang mencari Akang."
"Tetap saja kalian bertemu, ingat Kang saat mengajukan cerai, Aku mengajukan syarat seumur hidup Akang tidak akan bertemu dengan dia, sekali saja Akang ingkar janji aku akan menemui mereka."
"Jangan macam-macam, Akang juga tahu kamu pernah mendekati mereka melalui Esih. Berarti kamu sendiri juga ingkar janji."
Cek Kokom terlihat kaget dan gugup ternyata tidak hanya dirinya yang mengawasi. Mantan suaminya juga mengawasi dirinya. Padahal saat itu berpesan kepaada Esih agar tidak berhubungan langsung dengan putri dari mantan suaminya.
"Baiklah Kang, kita sama-sama salah. Aku berjanji tidak akan mengusik putrimu tetapi berikan surat tanah dan rumah yang Akang pegang, itu angkot berikan kepada Esih. Dan satu lagi Akang harus menghilang dari kehidupan Neng."
"Ok baiklah tunggu di sini!"
__ADS_1
Ayah asep membuka pintu rumah kontrakan dengan cepat. Beliau terlihat menahan amarah, wajahnya sampai memerah. Bahkan pintu yang tadi di buka langsung di banting dengan suara keras.
"Braaaaaak ...!"
Hanya kurang dari lima menit Ayah Asep keluar dengan membawa map warna coklat, "Ini surat tanah, BPKB, dan STNK ambilah!, sekarang cepat minggat dari sini. Jika kamu ada di sekitar keluarga Neng akan Akang gorok leher kalian berdua!"
"Tentu Kang, sebelum sore sebaiknya pergi dari sini agar aku tidak akan meminta sesuatu pada putrimu itu!"
"Dasar wanita jaha*am. Gara-gara kamu hidupku blangsak. Makan tuuuh harta, sebentar lagi aku bisa mendapatkan sepuluh kali lipat gress dari dealer," ucap Ayah lirih tanpa terdengar oleh mantan istri dan anak tirinya sambil tersenyum devil.
Rekaman vedio berpindah kepada Cek Kokom dan Esih setelah Ayah Asep masuk rumah kontrakan. Tiba-tiba datang seorang pemuda bertato mendekati mereka. Pemuda itu langsung mencium pipi Cek Kokom dengan mesra, padahal seharusnya dia cocoknya berpasangan dengan Esih.
Angkot langsung keluar dari halaman ayah Asep bersamaan rekaman vedio selesai. Bersamaan pula Encang Ginanjar mengeluarkan kata-kata makian dengan kesal. Kata kasar yang di keluarkan dari mulutnya tentu saja untuk adik ipar dan mantan istri matre yang baru saja di lihatnya.
Neng hanya menagis terisak setelah melihat kebenaran tentang Ayah Asep. Alfarizi langsung merengkuh dan memeluknya dengan erat. Diapun tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun dari mulutnya.
Encang Ginanjar langsung berdiri dan mendekati Neng dan Alfarizi, "Neg Mitha, jangan khawatir. Kalau di lihat dari ucapannya tadi pasti dia akan pulang ke rumah Encang. Sebaiknya Encang pulang sekarang, kalian pulang saja laki-laki gemblung itu Encang yang akan mengurusnya!"
"Kalian jangan khawatir, semua pasti akan baik-bak saja. Jangan pikirkan wanita jaha*am itu. sebentar lagi palingan dia mamp*s selalu makan uang yang bukan haknya."
Encang Ginanjar dan Ayah Asep sama-sama keras kepala. Pendiriannya tidak bisa di bantah ataupun di tunda. Encang bersikeras pulang ke rumahnya, agar saat Ayah Asep datang beliau sudah sampai rumah.
Dengan terpaksa Junaidi, Lilis dan Julio pulang bersama Encang Ginanjar menggunakan mobil. Neng dan keluarga kembali ke Bekasi setelah Alfian dan rombongan pulang wisata. Pulang dengan perasaan yang tidak menentu.
Saat dalam perjalanan di kamar kabin pesawat, Neng selalu termenung dan melamun. Masih teringat percakapan antara ayahnya dengan mantan ibu tiri. Neng hanya bisa mengambil napas panjang dan berlinang air mata.
Alfarizi yang baru masuk melihat Neng terisak menghadap ke jendela langsung memeluknya dari belakang, "Honey ... mengapa menangis lagi?"
"Tidak apa-apa Pi, hanya teringat Ayah dan Ibu saja."
Alfarizi membalikkan badannya dan memangku istrinya berhadapan. Mengusap air mata yang masih menggenang di pelupuk mata dan menetes di pipi. Berkali-kali mencium matanya yang sembab sambil tersenyum.
"Iiiih Papi tega. Mami jelek ya, mengapa tersenyum begitu?"
__ADS_1
"Mami tetap cantik, tercantik di seluruh dunia malah." Kembali Alfarizi menciumi matanya yang sembab lagi.
"Gombal ... tetapi mengapa tersenyum begitu?"
"Papi tidak menertawakan Mami, Papi teringat Encang Ginanjar."
"Ada apa dengan Encang Ginanjar?"
"Papi tadi mendengar Encang Ginanjar menghubungi dealer, bertanya tentang angkutan kota, sepertinya Beliau sungguh-sungguh akan membelikan sepuluh angkot langsung dari dealer. Teryata Papi dan Encang Ginanjar sebelas dua belas saja."
"Berarti kalau di tambah Ayah dan Abi jadi sebelas, dua belas dan tiga belas dong?"
"Kok gitu Honey, maksudnya apa?"
"Sama-sama jadi Bang Toyib."
"Enak aja, Papi bukan Bang Toyib lagi sekarang."
"Terus jadi siapa?"
"Akang kendang, goyang yok!"
Alfarizi kangsung mencium bibir Neng dengan gairah sebelum dia protes dan bertanya lagi. Neng langsung mendorong Alfarizi saat pasokan oksigennya hampir habis.
"Hhff ... Papi, ini bukan namanya bukan Akang kendang yang bergoyang, tetapi senjata onra arab yang minta bergoyang. dasar mesum."
"Mami tahu aja." Alfarizi kembali beraksi mengajak onta arab bergoyang.
Sambil tangan beraksi, Alfarizi tersenyum devil. Untuk sementara ingin mengalihkan kepedihan hati istrinya dengan mengajak bergoyang. Ini adalah obat yang mujarab menurut Alfarizi agar Neng bisa rileks dan bisa tersenyum kembali.
BERSAMBUNG
__ADS_1