Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Sesak di Dada


__ADS_3

"Bruuuuk, aduh!" Kertas yang dibawa wanita itu berhamburan jatuh ke lantai.


"Eee maaf Mbak, aku tidak sengaja." kata Surya merasa bersalah, dan membantu ikut merapikan kertas HVS.


"Lihat depan dong Mas kalau jalan jangan meleng, kertasku jadi hamburan, terpaksa aku harus menyusun dari awal lagi!" omel wanita itu dengan kesal.


"Panggil Aku Surya, sebagai tanpa maaf, aku akan membantu menyusun kertas kamu lagi, ayo aku bantu dibawa ke pinggir!"


Wanita itu hanya diam dan mengambil satu persatu kertas yang sudah terhambur di lantai. Surya dengan cepat menbantu mengambil kertas HVS dan dibawanya ke pinggir. Surya juga memandang wajah wanita yang hitam manis tetapi dengan muka yang ditekuk.


"Ayo kita susun dari awal, eee kenalan dulu dong, kamu namanya siapa?"


"Namaku Desi."


"Baiklah Desi, kamu bisa panggil aku Bang Surya, ok!"


Desi hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun, masih merasa kesal dengan orang yang menabraknya. Mereka bahu membahu menyusun kertas dengan cepat dan teliti. Keduanya seperti klop karena merupakan pekerjaan sehari-hari.


"Mengapa kita bisa kompak, apa pekerjaan kamu Desi?" tanya Surya saat mereka selesai merapikan kertas HVS.


"Aku asisten pribadi pemilik butik yang ada di sana!"


"Pantes aja klop, aku juga seorang asisten pribadi, semoga kita jodoh."


"Idih, ngarep banget sih Bang!" Desi menjawab dengan jutek.


"Boleh dong ngarep, aku ini masih jomlo lho!"


"Abang lagi iklan atau promosi?"


"Dua duanya, ha ha ha."


Sebelum meninggalkan mall dan berpamitan dengan Desi, Surya meminta nomor handphone miliknya. Setelah pertemuan itu Surya sering mengirim pesan WA atau vedio call. Walau awalnya Desi enggan menjawab tetapi setelah dua Minggu Surya mulai bisa membuat Desi nyaman untuk berkomunikasi.


Selama dua Minggu ini Surya tiga kali bertemu dengan Desi saat istirahat siang, ketika Surya mendapatkan tugas dari Tuannya untuk mencari informasi tentang mall itu. Membuat mereka semakin dekat dan akrab. Umur mereka tidak jauh berbeda hanya dua tahun lebih tua Surya dan memiliki pekerjaan yang sama membuat mereka semakin kompak saat bertemu.

__ADS_1


Pagi hari ini Alfarizi duduk ternenung di kantor miliknya. Rasa frustasi kini sedang berkecamuk di hatinya karena hampir tiga tahun belum juga bisa menemukan keberadaan Neng dan anaknya. Ada kurir yang mengantar undangan untuk Alfarizi yang diterima langsung oleh Surya.


"Tuan, ada undangan reuni teman SMP Anda malam Minggu besok."


"Aku malas, Surya; aku bingung harus mencari ke mana lagi istri dan anakku."


"Ini bisa menjadi salah satu cara untuk mencari Nona, Tuan!"


"Maksudmu apa?"


"Ada banyak jalan menuju Roma, siapa tahu Anda bisa menemukan Nona melalui reuni itu, karena teman Anda pasti banyak yang berasal dari luar daerah."


"Baiklah, di mana reuni itu diadakan?"


"Di Jakarta Tuan, baik aku masukkan jadwal Anda agar tidak lupa."


Hari Sabtu pagi Alfarizi pulang ke rumah utama. Sudah hampir satu bulan dia tidak pulang ke rumah. Saat masuk pintu rumah disambut dengan pelukan Marta dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis kecil itu sangat merindukan kasih sayang, membuat hati Al terasa nyeri teringat anak kandungnya kemungkinan anak kandungnya merasakan hal yang sama seperti yang Marta rasakan.


"Papa, mengapa sekarang jarang pulang, aku sangat kesepian?"


"Terima kasih Papa, aku sangat merindukan Papa."


"Kapan terakhir Mama pulang ke rumah?"


"Sudah lamaaaaa sekali, aku sampai tidak bisa menghitungnya; Mama hanya VC aja setiap hari, aku bosan." Bibir Marta monyong tanda kesal dan protesl


"Bagaimana kalau Marta tinggal di rumah Oma saja, di sana ada banyak teman untuk bermain?"


"Tidak boleh sama Mama, kemarin Oma sudah ke sini mau ngajak aku,"


"Nanti Papa yang ngomong, setelah istirahat kita kesana, bilang sama Suster untuk mempersiapkan keperluan Marta, ok!"


"Ok Papa, aku sayang Papa." Marta melompat berlari ke kamarnya setelah memeluk Al berkali-kali.


Alfarizi tersenyum melihat Marta yang langsung ceria. Sekarang baru menyadari betapa kesepiannya gadis kecil itu tidak pernah diperhatikan lagi. Rasanya ingin menangis saat kembali mengingat Neng dan anaknya.

__ADS_1


Alfarizi membayangkan bagaimana kehidupan mereka sekarang ini. Hidup hanya berdua yang notabene Neng hanya lulusan SMK. Rasanya dadanya semakin sesak membayangkan Neng dan anaknya hidup serba kekurangan sedangkan dia hidup dalam kemewahan.


Rasa sesak itu semakin besar setelah Al membayangkan seandainya Dia sudah menikah lagi dan memiliki ayah sambung. pikiran Al semakin kalut saat kembali membayangkan anaknya tidak disayang oleh ayah sambungnya. Dan lebih parah lagi saat dia membayangkan anaknya memiliki adik baru.


"Aaaaah, tidak!" Untung teriakan Al tidak ada yang mendengarkan.


Napas Al terengah-engah seperti habis berari berkilo-kilo meter hanya membayangkan Neng dimiliki orang lain. Rasa cinta itu semakin kuat saja tumbuh di hatinya setelah mengetahui kenyataan dia memiliki anak dan mengetahui perselingkuhan istri sahnya. Datang Bibi pembantu mendekati Tuannya yang lama tidak pulang ke rumah.


"Tuan, apakah Anda memerlukan sesuatu?"


"Tidak Bibi, aku hanya ingin bertanya sudah berapa lama Nyonya Sinta tidak pulang?"


"Sudah tiga Minggu, Tuan; katanya sekarang sedang berada di Thailand, ada show di sana."


"Ya sudah, kamu kembali kerja saja!"


Jika mengingat Sinta, emosi Al langsung kembali naik, lebih dari sepuluh tahun bersamanya sikapnya selalu manis. Apapun permintaannya selalu dituruti tetapi ternyata dia berselingkuh entah mulai kapan. Rasanya kepalanya mau pecah memikirkan pengkhianatan Sinta dan belum ditemukannya Neng dan anaknya membuat Al semakin frustasi.


Al kembali bersemangat setelah mengingat memiliki keturunan. Memberi semangat kepada diri sendiri untuk kuat, apapun rintangan dan cobaan akan bertahan dan tetap semangat sampai bisa menemukan istri dan anaknya. Bertahan menahan emosi untuk Sinta sampai terkuak semua kebusukannya dan sampai bisa menemukan Neng dan anaknya.


Setelah mengantar Marta ke rumah oma yaitu orang tua kandung dari Sinta, Al langsung menuju hotel tempat di mana akan diadakan reuni SMP. Berniat ingin mengawasi area hotel berharap bisa menemukan wanita yang telah mengandung anaknya.


Sampai acara dimulai Al tidak menemukan sosok wanita yang selalu di rindukan setiap saat selama tiga tahun terakhir ini. Yang awalnya duduk di kafe yang berada di samping lobi. Kemudian duduk lobi untuk menunggu para temannya saat masih duduk di Sekolah Menengah Pertama.


Satu persatu para teman masa kecil masuk di area yang sudah yang di boking untuk mereka. Al ikut bergabung dan berbincang tetapi Al masih mencari sosok teman akrabnya yang dulu duduk satu bangku yang bercita-cita ingin menjadi dokter. Datang laki-laki yang memakai seragam dokter berlari kecil sambil membuka seragamya mendekati Al.


"Hai Al, apa kabar, apakah kamu lupa sama aku?" katanya langsung memeluknya.


"Harry, kamu benar Harry, waaah cita-cita kamu sudah tercapai sekarang?"


"Yap, aku Harry yang dulu anak kecil yang sering kamu ejek cita-citaku ketinggian."


Promo lagi ya shobat, jangan lupa kepoin di NT, terima kasih


__ADS_1


__ADS_2